
Di perjalanan pulang Bara menatap sendu ke luar jendela. "Ka," Panggil Bara lirik.
"Mmm," Raka hanya membalas dengan gumaman karena dia sibuk menyetir.
"Makasih," Jawab Bara singkat.
Raka tersenyum samar dan menaikan satu alisnya penasaran, "Buat?"
"Udah ngajak ngobrol Farel jadi gue bisa lebih leluasa sama Selin." Bara tahu, Raka bukanlah orang yang asik mengobrol dengan orang lain apalagi membahas hal-hal yang tidak penting. Tapi tadi dia sengaja mengajak Farel mengobrol begitu intens agar Bara bisa lebih leluasa dengan Selin.
Raka itu seperti mempunyai kelebihan bisa menghipnotis lawan bicaranya seolah-olah lupa dengan keadaan sekitar. Walaupun itu terlihat lebay, tapi itulah kelebihan Raka yang bisa Bara nilai.
Raka mengangkat bahunya masa bodoh. "Kenapa makasih segala, kan gue emang mau ngobrol sama Farel."
Bara terkekeh seorang diri. "Jangan pura-pura, gue tau lo nggak mungkin bisa sereceh itu ngajak ngobrol orang lain kalo nggak punya tujuan apa pun."
"Mmm," Raka mangut-manggut membenarkan perkataan Bara.
"Bukannya lo nggak suka Selin?" Tanya Bara penasaran dengan perubahan sikap Raka yang seperti berubah peduli dengan Selin.
"Awalnya sih iya, mungkin efek terlalu sering denger hal-hal negatif tentang Selin dari Kania. Tapi pas udah liat Selin secara langsung, gue malah kebalik jadi nggak suka Kania. Kayaknya semua informasi yang lo dapat tentang Selin dari Kania semuanya bohong," Ucap Raka panjang lebar tidak seperti biasanya.
"Mmm, gue juga sependapat."oppa
Raka menoleh ke arah kaca spion di tengah untuk menatap Bara yang duduk di kursi penumpang. "Menurut gue, lo jangan terlalu deket sama Kania."
"Gue juga lagi ngejauhin dia, aneh aja setiap gue minta informasi dari dia rasanya fake semua."
"Btw lo mirip banget ya sama si kembar."
"Mirip? Jangan ngada-ngada." Bara termenung dengan pikiran yang melayang.
"Dasar nggak peka," Ucap Raka tidak habis pikir.
"Mirip? Bisa jadi sih. Mungkin pas hamil si kembar Selin benci banget sama gue jadinya mirip gue." Ya mungkin itu adalah teori sementara yang bisa Bara percayai.
Raka tertawa menertawakan atasannya yang bodoh di bidang percintaan. "Hahaha, bisa sih."
"Ka mampir dulu di toko Iphone ya," Bara mengabaikan hinaan Raka dan sibuk menscroll layar ponselnya.
"Oke."
******
Selin berjongkok di depan kedua anaknya yang sudah menggunakan seragam TK nya dengan sangat lucu. Hari ini Selin sedang mengantar si kembar bersekolah untuk pertama kalinya.
"Kalian nggak boleh nakal ya?" Tanya Selin tegas.
"Siap Bunda." Jawab Juna dan Jeno kompak.
Selin terkekeh kemudian mencium pipi Juna dan Jeno secara bergantian. "Muach! Muach! Nanti siang Tante Anet yang jemput kalian. Nggak papa kan?"
__ADS_1
"Bunda tenang aja nggak usah khawatir. Kami pasti jadi anak baik dan nggak rewel." Jawab Juna penuh keyakinan.
"Oke bunda berangkat dulu ya. Bye bye!"
*******
Selin duduk di meja kerjanya dengan santai, hari ini dia bisa sedikit santai karena tugasnya sudah banyak yang beres. Dia hendak mengambil pulpen baru dari lacinya, tapi saat dia membuka laci ada barang yang menarik perhatiannya. "Ini milik siapa?" Tanya Selin penasaran Saat melihat paperbag yang kecil sudah ada di lacinya.
Mendengar sedikit keributan Syakila segera menggeser kursinya ke arah Selin. "Coba liat," Syakila menatap paperbag itu penuh perhatian, "Ini milik kamu Sel. Liat aja ada sticky note nya untuk Selin! Noh baca!" Ucap Syakila sambil menunjuk-nunjuk kertas yang tertempel di paperbag.
"Loh aku nggak tau ini dari siapa." Selin semakin dibuat penasaran dengan pengirim paperbag ini.
"Aduh mood banget sih pagi-pagi udah dapet kado. Buka! Buka! Buka!" Teriak Syakila bercampur iri karena dia tidak pernah diperlakukan seperti itu.
"Shtt, jangan berisik ah. Iya ini aku buka." Selin langsung membuka isi paperbag itu tidak kalah penasaran. Kedua bola matanya membulat sempurna saat mengetahui isinya adalah ponsel Iphone.
"Waw Iphone!" Pekik Syakila histeris bercampur takjub, rasanya dia ingin sekali menjadi Selin yang pagi-pagi sudah mendapatkan rezeki.
"Ini dari siapa?" Gumam Selin dengan kepala yang sedikit pening.
"Udah pakek aja anggap aja rezeki turun dari langit."
Selin merenung sejenak, "Ohh kayaknya ini dari Farel temen aku. Dasar anak itu, padahal nggak perlu di kirim ke kantor."
"Farel siapa Farel?" Tanya Syakila penasaran
"Ada deh," Selin tersenyum samar kemudian menghidupkan ponsel barunya.
"Eh iya Pak!" Selin cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya dan menyusul Raka yang cara jalannya secepat kilat.
"Nanti kumpulan, ada hal yang mau di bahas."
"Baik Pak," Selin mengangguk paham.
"Punya ponsel baru itu pakek, biar saya nggak kerepotan harus nyamperin kamu kalo ada info." Ucap Raka sambil berlalu meninggalkannya.
Selin mematung di tempat. "Eh, ko dia tau aku punya hp baru?"
*****
"Kalian harus lebih cermat memperhatikan alur pengaliran dana. Banyak sekali oknum-oknum yang bermain rapih untuk menggelapkan dana perusahaan dengan kepentingan yang tidak mencolok dan menyimpang. Padahal banyak sekali penyimpangan di dalam nya!" Saat ini Raka memimpin rapat karena Bara sedang beristirahat di ruangan kerjanya.
"Baik pak," Jawab tim rahasia serempak.
"Silahkan kalian berdiskusi." Perintah Bara yang langsung disetujui banyak orang.
"Kamu Selin ya?" Tanya orang disebelah Selin.
"Eh iya." Jawab Selin kemudian mengulurkan tangan.
"Aku Lupi. Semoga kita bisa bekerja sama ya."
__ADS_1
"Mmm," Selin tersenyum hangat.
"Menurut kamu dari laporan ini apa sih yang aneh?" Lupi memperhatikan laporan keuangan di tangan Selin.
Selin menghela nafasnya sedikit frustasi. "Jujur aku bingung, semuanya rapih dan balance. Semuanya kebutuhan pokok, dan nggak ada pengeluaran yang nggak penting. Malah perusahaan ini rajin beramal seperti ke panti asuhan dan banyak lagi."
"Haaah, sudah ku duga pekerjaan ini tidak semudah yang kita bayangkan." Selin mengangguk mantaf sebagai jawaban.
Tuk! Tuk! Tuk! Selin mengetuk-ngetuk ponselnya ke meja dengan pikiran yang sedang sibuk. "Beramal, beramal, beramal." Gumam Selin terus menerus.
"Panti asuhan?"
"Aku tahu!!!!" Teriak Selin dan langsung menjadi pusat perhatian semua orang.
"Selin?" Tanya Raka penasaran.
"Aku tahu, Pelakunya menggelapkan dana dengan cara sering mengeluarkan dana kemanusiaan. Karena perusahaan tidak pernah mengecek apakah dana itu tersalurkan atau tidak, apakah dana yang di salurkan sesuai nominal dengan yang perusahaan lakukan. Saya rasa penggelapan dengan cara ini paling kecil resiko nya. Dia bisa membuat tim sendiri dan bersekongkol dengan tim nya, karena di perusahaan ini hanya dana kemanusiaan yang tidak pernah diawasi."
Raka tersenyum bangga akhirnya salah satu dari timnya akhirnya menyadari. "Oke! Rapat malam ini kita tutup. Jawaban Selin sangat tepat, bersiaplah untuk mencari pelakunya besok."
"Silahkan bersiap-siap pulang!" Ucap Raka sebagai perintah kemudian beranjak keluar.
"Kerja bagus Selin." Lupi menepuk-nepuk pundak Selin bangga.
"Mantap! Aku duluan!" Pamit rekan selin yang lain.
"Mmm terimakasih atas kerjasamanya."
Selin mengangguk sopan kemudian bersiap membereskan peralatannya. Saat sudah selesai Selin bergegas keluar tapi di jalan dia berpapasan dengan Sopian atau biasa disebut Iyan, dia CS baru di perusahaan ini.
"Eh mbak belum pulang." Tanya Iyan ramah.
"Iya ad rapat dadakan."
Pandangan Selin tertuju pada pengharum ruangan rasa Jeruk yang ada di tangan Sopian. "Eh, mau kemana Yan?"
"Mau ganti pengharum ruangan, Pak Bara nginep di kantornya sekarang lagi tidur."
Selin manggut-manggut lalu melanjutkan langkahnya."Oh gitu ya, yaudah aku duluan."
Saat tiba di parkiran Selin menghela nafas panjang. "Haah, lelahnya."
Langkahnya langsung terhenti saat teringat dengan pengharum ruangan yang dibawa untuk Bafa. "Jeruk?"
"Jeruk!!" Pekik Selin saat syok saat baru ingat jika Bara alergi terhadap Jeruk.
"Bara!!!"
******
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)
__ADS_1