Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 69 : Janji yang tertunda


__ADS_3

Selin termenung di dalam kamarnya dengan baju yang sudah siap untuk ke luar karena Bara mengajaknya mencari gaun untuk pesta yang akan di adakan oleh perusahaan. Selin menatap penampilannya di cermin yang terlihat tidak bersemangat. Setelah apa yang diucapkan Kania, dia dipenuhi rasa gelisah yang terus menghantuinya, memikirkan yang tidak-tidak tentang Bara.


Hati Selin berubah sesak dengan pandangan yang berkaca-kaca saat membayangkan hubungan Bara dan Kania yang tidak diketahuinya. "Arghhh.." Ucapnya kesal dengan tangan yang sibuk mengacak-acak rambutnya sendiri.


Drttt.. Drtt.. Drrt..


Terlihat nama Bara tertampil di layar ponselnya, dengan cepat Selin mengangkat panggilan itu.


"Hallo.." Ucap Selin langsung beranjak dari tempatnya karena sepertinya Bara sudah berada di bawah.


"Sel.. Maaf ya kita batal keluar..."


Deg! Langkah Selin terhenti dengan perasaan yang sesak dan pandangan yang berkaca-kaca. Dia terdiam sejenak menghela nafas dalam-dalam.


"Ada rapat dadakan.." Lanjut Bara karena Selin tidak menjawabnya. Terdengar helaan nafas berat dari sebrang sana."Kamu nggak marah kan?"


"Nggak papa santai aja lagian aku juga belum siap-siap, semangat. Semoga rapatnya lancar." Ucap Selin dengan perasaan kecewanya yang sengaja ia tahan.


"Hmmm makasih ya, aku pesenin sekarang. Nanti langsung di kirim ke rumah kamu, besok jangan lupa datang ya." Ucap Bara penuh rasa bersalah.


"Iya." Jawab Selin singkat.


"Iyaa sebentar.." Teriak Bara pada karyawan yang memanggilnya.


"Matiin aja," Ucap Selin ketus.


"Oke..."


"Iya siap."


"Byee.. Love You.."


"Hmmm.."


Tut!


Bruk! Selin langsung merebahkan dirinya di kasur dan membenamkan wajahnya di atas bantal.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Hiks.."


******


Bara mematikan panggilannya dengan perasaan tidak enak pada Selin, tapi mau bagaimana lagi banyak hal yang harus ia urus dan kontrol sendiri.


"Pak temanya mau pakai yang mana?" Tanya salah pekerjanya.


"Yang ini saja, Tunggu ya. Oh ya Mbak Hera ada dimana ya?" Bara memilih asal kemudian memutar pandangannya.


"Lagi cek Konsumsi Pak," Jawab salah seorang karyawannya.


"Saya ke sana dulu ya ada perlu," Pamit Bara untuk segera menemui Hera.

__ADS_1


"Hera.." Panggil Bara.


"Iya Pak."


"Tolong pesankan dress untuk Selin ya, nanti alamatnya saya kirim." Ucap Bara serius.


Hera mengangguk paham kemudian menyodorkan ponselnya pada pada Bara. "Modelnya mau seperti apa ya Pak?"


"Terserah kamu, saya percaya selera kamu bagus. Pilihkan warna navy ya biar seragam dengan pakaian saya."


"Baik Pak," Hera mengangguk paham.


"Oke sip, saya pergi dulu. Jangan lupa ya.." Ucap Bara kemudian beranjak untuk melanjutkan pekerjaannya.


Dari kejauhan ternyata Kania memperhatikan interaksi Bara dengan Hera dengan penuh rasa penasaran. Setelah Bara pergi, Kania langsung bergegas menghampiri Hera.


"Pak Bara bilang apa sama kamu?" Tanya Kania dengan tangan yang terlipat di depan dada.


"Anu.. Nggak Bu." Hera bergerak gelisah dengan perasaan tidak enak.


"Jangan bohong ya kamu! Dari tadi saya memperhatikan kalian!" Ucap Kania tegas dengan tatapan tegasnya yang menusuk.


"Mmm.. Ini Bu.."


"Ini apa?!"


"Pak Bara minta saya buat beli dress nya Mbak Selin." Ucap Hera lirih.


"Mmm.." Dengan terpaksa Hera menyodorkan ponsel miliknya.


"Pokoknya saya nggak mau tahu pesankan juga untuk saya, harus persis sama Selin!. Paham kamu?" Bentak Kania.


"Tapi Bu.."


"Nggak ada tapi-tapian! Awas aja kalo nggak nurut, tahu rasa kamu!!"


"Hmm.. Siap Bu." Akhirnya Hera hanya bisa mengangguk pasrah.


*****


Tok!


Tok!


Tok!


Ketukan di pintu membangunkan Selin dari tidurnya. "Ngeeeuuhh." Selin bangkit dari tidurnya kemudian berjalan lunglai untuk membuka pintu.


"Sel... " Panggil Selin saat pintu terbuka dengan pandangan yang sedang menilai penampilan Selin yang sepertinya tidak baik-baik saja.


"Eh.. Farel. Kapan kamu ke sini?" Tanya Selin dengan suara yang parau.

__ADS_1


Farel menghela nafas dengan tangan yang terlipat, dia memperhatikan make up yang sudah acak-acakan di wajah Selin. "Kamu kenapa sembap gitu?"


"Nggak kenapa-kenapa." Selin mengeleng lemah.


Farel mengangguk pasrah dan tidak ingin terlalu mengintrogasi Selin. "Anak-anak kemana?"


"Biasa." Jawab Selin sambil berjalan menuju wastafel untuk cuci muka.


Seperti biasanya Farel selalu mengekor dari belakang. "Udah makan?" Tanya Farel yang hanya di balas gelengan lemah oleh Selin.


"Iss.. Ayo pakek jaket kita keluar sekarang."


Selin menggeleng. "Nggak mau, ngapain."


"Udah buruan," Farel langsung menarik tangan Selin agar masuk kembali ke dalam kamarnya.


*******


"Mau kemanaaaa?" Tanya Selin saat sudah duduk nyaman di motor miliknya sendiri, tapi tentunya yang membawanya adalah Farel.


"Beli mie ayam." Teriak Farel karena keadaan jalan sedang ricuh.


"Waah.. Mie Ayam yang biasa ya." Pekik Selin dengan pandangan yang langsung berbinar.


Farel terkekeh mendengar keantusiasan Selin. "Oke."


Saat sudah sampai Selin cepat-cepat turun dengan semangat dan langsung mencari tempat duduk, sedangkan Farel memesan makanan terlebih dulu. Dari pada bosan Selin membuka ponselnya dan langsung berselancar di media sosial untuk melihat status orang lain. Tapi hal itu malah membuat raut cerah Selin langsung berubah keruh, Selin menatap nanar ponselnya yang menampilkan Bara sedang mengobati luka Kania dengan telaten. Selin menengadah agar air matanya tidak keluar, melihat hal itu hatinya merasa bergejolak dan tidak rela. Bagaimana bisa Bara membatalkan acaranya dengan Selin dan malah berduaan dengan Kania.


"Kenapa mukanya muram gitu," Tanya Farel saat menghampiri Selin.


"Nggak." Selin sedikit tersentak kemudian meletakkan ponselnya di atas meja.


"Coba liat," Tanpa meminta persetujuan Farel langsung mengambil ponsel Selin dan rahangnya langsung mengeras. "Kamu masih peduli sama dia?" Tanya Farel dengan tatapan tak percaya.


Selin bergerak gelisah di tempat duduknya dengan perasaan bersalah kepada Farel. Dia tidak ingin mengecewakan Farel yang jelas-jelas sangat baik padanya, tapi bagaimanapun hati tidak bisa dipaksakan. Mau sebaik apapun Farel ternyata hatinya malah lebih memilih Bara yang jelas-jelas sudah menyakitinya dan mengecewakannya. Malah jika bisa dibilang hubungan Selin dan Bara sedang tidak baik-baik saja. Mereka saling memilih diam padahal ada banyak hal yang harus di diskusikan.


Selin menghela nafas panjang mengumpulkan oksigen untuk berkata yang sejujurnya pada Farel. "Kita udah balikan." Jawab Selin lirih dengan kepalanya yang tertunduk.


"Uhuk!.." Farel langsung tersedak kemudian menatap Selin dengan tatapan yang terluka. "Jadi lamaran aku kamu anggap apa?"


"Maaf..." Jawab Selin dengan suara parau menahan tangis.


Farel membuang pandangannya kemudian bersiap pergi. "Hmmm.. Aku mau beli minum dulu." Ucapnya kemudian berjalan ke luar.


Selin menatap nanar punggul Farel yang semakin menjauh. "Maaf Rel.." Gumamnya lirih dengan perasaan bersalah.


******


Happy Reading!


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2