
Anet berjalan ke arah Raka yang tertidur nyenyak di sopa. "Hadeeh, bisa-bisanya dia tidur belum ngapa-ngapain." Ucap Anet sambil memperhatikan penampilan Raka yang terlihat sangat kelelahan bahkan kaus kakinya masih belum di lepaskan.
Anet mengangkat kakinya untuk menggoyangkan tubuh Raka, tapi sepertinya perilakunya sangat tidak sopan. Akhirnya dengan terpaksa dia duduk di karpet tepat di bawah sopa dekat Raka. "Woi!! Woi!! Bangun woi!! Gempa! Gempa! Gempa!" Teriak Anet tepat di telinga Bara yang sepertinya sudah mau pecah.
Sruk!
Anet langsung mematung saat Raka langsung menoleh kepadanya dengan tiba-tiba. Matanya mengerjap-ngerjap saat merasakan hembusan nafas Raka yang begitu dekat dengan wajahnya, berbeda dengan Anet yang langsung mematung Raka malah tersenyum samar dengan wajah mereka yang sangat dekat. Pandangan mereka saling terkunci terhanyut satu sama lain.
Tuk! Raka menyentuh dahi Anet dengan satu telunjuknya kemudian mendorong kepala Anet agar menjauh dari wajah nya. "Berisik," Gumam Raka mengomentari teriakan Anet yang nyaris seperti sound sistem hajatan.
Anet meneguk saliva nya canggung kemudian membuang wajahnya ke arah lain. "Nggak pulang? Inget ya lo nggak bisa tidur di kamar si kembar! Ada Bara di sana." Ucap Anet penuh kekesalan padahal sebelumnya dia berniat untum membangunkan Raka kemudian menyuruhnya makan, tapi kenapa malah omelan yang keluar dari mulutnya.
Raka tersenyum samar kemudian bangun. "Hmmm, siapa yang mau nginep juga." Jawab Raka seadanya sambil sibuk mengumpulkan nyawanya yang masih berkeliaran.
Anet berjalan ke arah meja makan kemudian membawa sepiring nasi yang sudah disiapkannya tadi.
"Noh makan! Lo kaya mayat banget! Nggak lucu kalo besok lo mati disini gara-gara belum makan, terus rumah ini jadi angker. Big No!!!" Omel Anet kemudian menyodorkannya pada Raka.
Raka menerima pemberian Anet tapi belum ada niatan untuk mulai memakannya. Karena Raka hanya diam saja, Anet kembali mendengus sebal. "Buruan makan!"
"Hmmm," Gumam Raka kemudian menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
Anet bangkit dari duduknya kemudian dia membawa semua pekerjaannya ke atas meja. Dia membuka laptop dan tanpa menunggu lama langsung hanyut dalam pekerjannya.
Raka memperhatikan raut wajah Anet yang begitu serius bercampur frustasi, jika dilihat dari rautnya sepertinya pekerjaannya kurang berjalan lancar. "Ngapain? So sibuk banget?" Ledek Raka dengan nada yang datar.
Anet mendengus sebal karena konsentrasinya menjadi buyar. "Pakek nanya, liat aja sendiri itu mata jangan di jadiin aksesoris aja!" Jawab Anet dengan suara tinggi.
__ADS_1
Raka menggeleng-gelengkan kepalanya dia tidak menyangka ternyata di dunia ini ada wanita seperti Anet. Semoga saja di dunia ini orang yang seperti Anet hanya ada satu, jika spesies seperti itu dikembangbiakkan sepertinya dunia akan hancur.
Drrrt, drrt, drtt. Anet merogoh saku bajunya untuk mengeluarkan ponselnya yang bergetar. "Ya! Halo ada apa?" Tanya Anet to the poin saat telpon sudah tersambung.
Saat mendengar jawaban dari sebrang sana refleks dia menghela nafas berat kemudian memijat pelipisnya yang terasa pening. "Gimana? Masa nggak bisa sih?. Kita udah deal kan tempo hari, mana klien udah bayar setengah nya." Ucap Anet frustasi karena modelnya membatalkan perjanjian secara sepihak.
"Lo dimana? Bram! Bram?!" Teriak Anet saat tidak mendapatkan jawaban lagi.
"Apa!! Mabuk?" Teriak Anet yang berhasil menarik perhatian Raka. Sebenarnya Raka tidak ingin mencuri dengar atau ikut campur, tapi suara Anet sangat melengking jadi mustahil dia tidak mendengarkannya.
"Oke gue sekarang ke sana, kirim alamatnya." Ucap Anet langsung memutuskan panggilan. Dug! Dug! Dug! Anet membentur-benturkan kepalanya ke meja. "Isss dasar anak itu!" Rengek penuh kekesalan.
Dug! Dug! Dug! Anet membeku ketika kepalanya tidak lagi membentur meja melainkan sesuatu yang lebih empuk. Perlahan pandangannya terangkat, hatinya terasa menghangat saat menyadari ternyata Raka meletakkan tangannya di atas meja agar dirinya tidak terlalu kesakitan.
"Ada apa? Jangan seperti itu. Nanti otakmu tambah geser." Ucap Raka datar yang berhasil membuat Anet tersulut emosi kekesalan.
Tanpa menjawab ledekan Raka, Anet langsung bangkit dan menyambar kunci mobilnya. "Mau kemana?" Cegah Raka sambil mencekal tangan wanita di depannya.
"Kemana?" Raka cepat bangkit lalu menghalangi Anet agar tidak pergi.
Anet menghela nafasnya jengah dengan sikap Raka. "Mau jemput temen!" Teriaknya.
"Net! Ini udah jam berapa?" Raka meraih kepala Anet lalu mengarahkannya ke jam dinding.
Anet memutar bola matanya malas. "Berisik! Peduli apa lo sama gue!" Tanpa bisa di cegah Anet melengos begitu saja melewati Raka.
Raka berjalan menyusul Anet kemudian merampas kunci mobilnya. "Aku antar!"
__ADS_1
"Apaan sihh! Nggak!" Teriak Anet jengah.
"Aku antar!" Raka masih teguh pada pendiriannya kemudian menarik Aner ke arah pintu penumpang di samping kursi kemudi.
Anet enggak masuk dan masih mematung di tampat. "Nggak!"
Raka membuka pintu mobil lalu menatap Anet lekat-lekat. "Aku antar, ayo!!!" Ucap Raka tidak menerima bantahan.
Anet membalas tatapan Raka yang begitu mengintimidasi, sepertinya sampai kapan pun dia tidak akan bisa menolak apa yang di perintahkan Raka. Dengan terpaksa akhirnya Anet masuk ke dalam mobil. "Puas lo!" Hardik Anet pada Raka yang masih berada di luar.
*****
Selin bergerak gelisah di tempat tidurnya, tubuhnya terasa panas disertai nyeri di seluruh tubuhnya mungkin karena efek obatnya sudah hilang. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dengan susah payah dia membuka mata dan bangun agar posisinya duduk.
"Aduh," Gumam Selin saat merasakan kepalanya begitu pening. Selin memijat kepalanya sejenak untuk menghilangkan rasa pening yang begitu hebat. Saat ini dia membutuhkan segelas air minum dan obat yang lupa dia bawa di lantai satu.
Dengan perlahan dia beringsut ke tepi ranjang untuk bergegas ke lantai satu. "***," Baru saja kakinya menyentuh lantai dia sudah meringis kesakitan, karena posisi kaki Selin yang limbung tubuhnya tidak bisa tertopang sempurna, yang mengakibatkan tubuhnya terhuyung ke depan.
Bruk! Tubuh Selin membentur lantai cukup keras. "Hiks, hiks, hiks." Air mata putus asa keluar membasahi wajahnya. "Aneeeet! Aneeet!" Panggil Selin dengan tubuh yang bergetar karena lemas dan menangis. "Hiks.. Hiks.. Hiks.." Selin menekuk lututnya kemudian memeluknya erat. Dia sudah lelah harus menyusahkan orang lain tapi kenapa keadaan selalu membuatnya kesusahan.
Saat ini dia hanya bisa berdiam, jaraknya dengan kasur sudah cukup jauh. Rasanya hanya untuk menggapai kasur saja dia sudah tidak sanggup. "Hiks, hiks, hiks.." Selin menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar dari luar.
Selin membuka matanya lebar-lebar saat merasakan tubuhnya terangkat ke udara karena di rengkuh oleh seseorang. Mungkin karena sibuk menangis dia sampai tidak menyadari kehadiran Bara yang sudah masuk ke kamar nya. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Bara merebahkan tubuh Selin di kasur kemudian menyelimutinya.
"Kenapa kamu tidak memanggil ku malah menyebut nama orang lain, padahal jelas-jelas aku berada disini untuk kamu repotkan." Gumam Bara dengan suaranya yang lembut tepat di telinga Selin.
Karena kepalanya terlalu sakit Selin memilih untuk memejamkan matanya, terasa keningnya di sentuh oleh tangan Bara yang begitu hangat dan lembut. "Panas," Gumam Bara beserta hilangnya sentuhan di keningnya.
__ADS_1
******
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)