
Saat menyadari jika tubuhnya tidak apa-apa, Selin bisa lebih rileks dan perlahan melonggarkan tangannya di baju Bara. Perlahan matanya terbuka dengan Bara yang setia menatapnya dengan tatapan hangat. Bara tersenyum hangat ke arah Selin penuh ketenangan, tangannya terulur untuk mengambil rumput kering dari rambut Selin. Sedangkan Selin hanya membeku di tempat dengan pandangan terkunci di mata Bara yang begitu bening dan syarat akan kasih sayang.
"Ndaa!!"
"Bundaaa!"
Pekik Juna dan Jeno sambil berlarian ke arah Selin. Selin tersentak dari lamunannya kemudian bersiap untuk bangkit dari tubuh Bara, namun dengan sigap Bara meraih tangan Selin kemudian membaringkan Selin di sampingnya dengan kepala menengadah ke atas langit. "Indah bukan?" Bisik Bara tepat di telinga Selin.
Selin menatap langit sore yang memberikan efek tenang sampai-sampai dia lupa jika kedua anaknya sudah berada di hadapannya. "Shtt!" Bara menaruh telunjuknya di depan mulut sebagai isyarat agar Juna dan Jeno tidak berisik.
Juna dan Jeno mengangguk paham kemudian menatap Bundanya yang terlihat baik-baik saja. Bara tersenyum hangat ke arah si kembar, kemudian merogoh mengambil satu kaca mata yang di belinya tadi yang di selipkan di leher kausnya kemudian memakaikannya pada Selin.
Puk! Puk! Bara menepuk-nepuk tanah di sampingnya agar si kembar ikut berbaring bersama melihat langit senja yang begitu menghangatkan. "Indah nggak?" Tanya Bara dengan tangan dilipat di belakang lehernya sebagai bantalan.
"Indaaah," Jawab Jeno dengan pandangan yang mempesona.
"Bunda kenapa langit sore berwarna jingga?" Tanya Juna yang langsung di jawab oleh Bara dengan sangat jelas dan rinci. Mulailah dari sana perbincangan random di mulai, mereka berbincang santai seperti keluarga bahagia sambil menikmati senja di sore hari.
******
Saat langit sudah mulai menggelap mereka beranjak dari halaman belakang kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Jeno naik di leher Bara sedangkan Juna dituntunnya hangat, Selin tersenyum melihat pemandangan di depan wajahnya yang terasa menghangatkan hatinya. Selin memberhentikan langkahnya dengan pandangan lurus ke arah punggung tiga pria yang berada di hadapannya.
Tanpa sengaja Selin memperhatikan lengan kiri Bara sedikit berdarah karena berbenturan dengan batu yang cukup keras, saat menyelamatkannya dari tabrakan Juna.
"Om besok kita main lagi ya?" Ajak Jeno dengan wajah yang masih bersemangat.
Bara mengangguk. "Oke, kita bermain sambil latihan karate oke. Setuju nggak?"
__ADS_1
"Setuju, kita nggak boleh membuang-buang waktu percuma. Nyamain gerakan itu nggak mudah." Timpal Juna setuju.
Dengan perlahan Bara menurunkan Jeno. "Oke. Ayo kalian cepetan mandi, Om mau pulang."
Mereka mengangguk paham, "Bye Om, hati-hati di jalan."
"Okay!! Babay jagoan! Ayo cepetan masuk!" Ucap Bara dan langsung berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di luar.
Grep! Langkah Bara terhenti saat lengannya di genggam oleh seseorang.
"Obati dulu luka di tangan mu," Ucap Selin serius.
Bara menoleh ke arah Selin dengan tatapan hangat. "Baiklah."
*******
"Shhht," Bara pura-pura mendengus kesakitan saat Selin menempelkan kasa berisi alkohol ke lengannya.
Bara terkekeh, "Aku nggak pura-pura ko, emang tangan aku perih. Coba kamu bayangin tangan ku yang mungil ini menangkap tubuhmu yang gendut sambil berguling-guling di tanah. Bagaimana nggak sakit coba?" Ucapnya penuh drama.
Selin menghela nafas jengah kemudian menatap tajam Bara. "Aku nggak gendut ya!... Cuma gembrot aja."
Sontak Bara tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, bisa aja." Dengan tangan yang refleks mengacak-acak kepala Selin gemas.
"Jangan sentuh-sentuh aku. Tangan kamu kotor tahu!" Selin mendengus sebal, dengan sengaja dia menekan-nekan luka Bara dengan keras. Sedangkan Bara malah tertawa terbahak-bahak melihat raut kesal Selin yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kenapa kamu nggak bilang kalo mau jemput si kembar?" Tanya Selin sambil sibuk membalut luka Bara.
__ADS_1
"Aku terlalu excited sampai-sampai lupa ngabarin kamu." Jawab Bara sejujur-jujurnya.
Selin menatap lengan Bara yang sudah di balut dengan rapih kemudian melepaskan sentuhannya di tangan Bara. "Kenapa kamu serius nepatin janji kamu sih, padahal nggak usah repot-repot apalagi mengabaikan pekerjaan mu di perusahaan. Sampai-sampai para karyawan kelabakan." Ucap Selin berisi curahan hatinya.
"Kan ada Raka yang menghandle semuanya. Atau jangan-jangan kamu kesal karena nggak bisa liat aku di kantor?" Tanya Bara dengan tatapan menggoda.
"Apaan sih nggak lucu!" Ucap Selin kemudian bersiap pergi. Namun, tangan Bara lebih dulu menahan tangan Selin sehingga Selin kembali duduk di hadapannya. Bara tersenyum hangat kemudian menggenggam kedua tangan Selin erat.
"Selin?" Ucap Bara dengan pandangan lurus ke arah Selin.
"Hmmm," Gumam Selin sebagai jawaban.
"Kamu pikir selama ini aku berjuang setengah mati untuk mencapai kesuksesan buat apa?. Jawabannya apalagi jika bukan untuk bahagia, aku ingin bisa menghabiskan waktu sepuasnya dengan orang-orang yang berharga di hidupku dengan leluasa tanpa dibayang-bayangi pekerjaan. Menikmati kebahagiaan sesuka hati, dan asal kamu tahu letak kebahagiaan ku itu ada di kamu, Juna dan Jeno."
Selin hanya menghela nafas lirih tanpa berkomentar apapun.
"Jadi, tolong pahami sikap egois ku yang mengabaikan semuanya untuk kalian. Aku yang saat ini ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan orang-orang yang aku sayangi. Walaupun hanya sebatas pemenuhan janji pada si kembar. Tapi aku benar-benar ingin menepati janji ku itu."
Selin menatap Bara dengan nanar. "Apa hak mu meletakan kebahagiaan pada kami? Kamu nggak pantas untuk itu." Ucapnya lirih.
Bara memejamkan kedua matanya sejenak. "Aku tahu, aku adalah manusia yang paling tidak tahu malu. Tapi tolong, kalo nggak bisa mengijinkan ku setiap saat, setidaknya selama seminggu ini. Karena beberapa minggu ke depan, aku akan terbang ke Amerika. Jadi aku mohon, tolong ijinkan aku bersama kedua anak mu itu beberapa hari ke depan saja."
Selin membeku di tempat dengan perasaan sesak, mendengar kabar Bara akan pergi entah kenapa hatinya merasa tidak rela. "Baiklah, terserah kamu. Setidaknya kamu harus belajar menepati janji mu itu, agar tidak ada orang yang bernasib sama dengan ku, yang hidupnya hancur karena seorang pria yang dicintainya mengingkari janji dan meninggalkannya begitu saja." Jawab Selin kemudian menarik tangannya dari genggaman Bara. Tanpa menoleh sedikit pun, Selin berlenggang pergi ke dalam rumahnya.
Bara menatap punggung Selin nanar yang semakin tidak terlihat. "Maafkan aku," Gumam Bara penuh penyesalan.
*******
__ADS_1
Yah begitulah, gengs!!
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)