
Selin asik memperhatikan kedua anaknya yang sedang asik bermain PS. Sampai-sampai dia lupa perutnya sejak tadi sudah keroncongan. "Haha," Dia terkekeh saat melihat wajah kesal Jeno karena kalah tanding dari Juna.
"Makan dulu," Ucap Bara menyodorkan sepiring nasi goreng kepadanya.
Selin mengedipkan matanya memperhatikan nasi goreng di hadapannya kemudian menengadah untuk melihat siapa yang memberikan itu kepadanya. Selin tersenyum samar kemudian menerima sepiring nasi goreng itu. Selin memperhatikan beberapa potong sosis dan sayuran yang tercampur menjadi satu.
Helaan nafas sendu keluar dari mulut Selin. Dia tersenyum kecut kemudian mulai memakan nasi goreng buatan Bara. "Rasanya masih sama," Gumam Selin di dalam hati menikmati nasi goreng yang dulu menjadi makanan favoritnya. Kepalanya nya tertunduk berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.
"Mau kemana?" Tanya Bara saat Selin bangkit dari sopa.
"Mau ke meja makan," Ucapnya sambil berjalan tertatih-tatih ke arah meja makan.
Grep!
Bara memegang bahu Selin kemudian membantunya berjalan ke meja makan. Tanpa menunggu lagi Selin kembali memasukan nasi ke dalam mulutnya. "Enak," Gumam Selin di dalam hati dengan perasaan sendu.
Dulu Selin saat menyukai Nasi Goreng buatan Bara, selama menikah dengan Bara menu sarapan pagi Selin adalah Nasi Goreng. Dan tanpa disangka hari ini dia akan kembali makan masakan Bara sekaligus membawanya mengenang masa-masa yang membahagiakan sekaligus menyesakkan.
"Selamat pagi," Ucap Selin sambil memeluk Bara dari belakang.
Bara yang sedang memasak Nasi Goreng terkekeh kemudian menoleh pada Selin yang muncul dari arah ketiaknya. "Awas kena katel, panas cinta. Sana bersihkan dulu badan mu, nanti kita sarapan."
"Nyawaku belum kumpul semua. Ini lagi mengumpulkan nyawa sama stok energi." Jawab Selin dengan mata yang terpejam dan mempererat pelukannya.
"Astaga!!" Pekik Bara saat tiba-tiba Selin melompat ke punggungnya dengan tangan melingkar di leher Bara.
Selin terkikik penuh kebahagiaan karena sudah membuat Bara terkejut. Bara menghela nafasnya berat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya dia harus berhenti sementara dan mengurus bayi besarnya yang saat ini sedang bergelantungan di punggungnya.
Bara mematikan kompor kemudian berjalan ke arah meja untuk meletakkan Selin di sana. Dia membalikan badan dengan wajah cemberut ke arah Selin pura-pura marah. "Kamu ini bahaya tau main-main di depan kompor! Gimana kalo tadi aku nggak sigap terus kamu jatuh, atau pas kamu melompat malah kena kompor. Itu bahaya Selin," Ucap Bara dengan tangan terlipat di depan dada.
Bukannya takut Selin malah terkikik kemudian meletakkan kepalanya di dada Bara, perlahan kedua matanya tertutup penuh ketenangan. Di dekat Bara selalu membuatnya tenang dan nyaman. Tanpa di minta Bara balas memeluk Selin penuh kasih sayang. "Ada apa? Ada masalah?" Tanya Bara penuh selidik.
__ADS_1
"Nggak. Mau aya jahilin suami yang lagi masak." Ucap Selin penuh ketenangan kemudian membalas pelukan Bara.
"Are you okay?" Selin tersentak saat tangannya di sentuh oleh Bara, ternyata sejak tadi Selin hanya melamun sambil teringat masa lalu.
"Ya aku baik-baik saja," Ucapnya singkat kembali makan dengan lahap.
Bara menatap Selin sendu berharap wanita dihadapannya akan bercerita panjang lebar tentang perasaannya saat ini, bukannya memilih bungkam dan pura-pura baik-baik saja.
"Om Laka lama banget sih," Ucap Jeno sudah kesal karena pertandingan Bara dan Anet belum di mulai.
Anet yang sedang bermain ponsel menoleh ke arah Jeno. "Emang dia mau ke sini?"
Bara berjalan ke ruang tengah dan duduk di samping Juna yang baru selesai bermain. "Iya. Dia mau ngasih baju ganti saya."
"Hiliih manja banget. Padahal cuma mau maen Ps doang harus ganti baju dulu." Protes Anet karena Bara terus mengulur waktu untuk bertanding.
"Seharian saya berkeringat Anet, gerah di tempeli koala yang manja." Ucapnya yang berhasil membuat Selin tersedak di meja makan.
"Uhuuk!
"Punya manjaaaaaaa banget," Jawab Bara sambil lirik-lirik ke arah Selin.
"Siapa namanya?" Tanya Jeno masih penasaran.
Bara terkekeh kemudian pura-pura berpikir. "Emmmm, Aileen."
Jeno menekuk bibirnya kecewa. "Ko nggak di bawa ke sini sih?"
"Diba... Awww!" Pekik Bara saat tiba-tiba Selin sudah berada di belakangnya dan saat ini sedang mencubit bahunya dengan keras.
"Jangan ngobrol terus ya berisik, Bunda jadi pusing." Lerai Selin kemudian duduk di sopa seperti semula dengan tatapan ketus ke arah Bara. Bisa-bisanya Bara menyebutnya Koala, padahal wajahnya sangat cantik begini.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga." Bara bergegas membuka pintu.
"Lama woooy!" Teriak Anet saat Raka melewatinya.
"Ini Pak," Ucap Raka memberikan paper Bag pada Bara. "Santai aja kak," Jawab Bara tidak enak di sebut Bapak.
"So iyeh banget jadi orang. Itumah kode kalo dia mau naik jabatan Bang!" Timpal Anet asal ceplos.
"Net! Berisik, jail banget jadi orang." Timpal Selin kesal melihat Anet tidak sopan pada atasannya. Sedangkan Raka hanya memasang wajah datar tanpa terusik oleh ucapan Anet sedikit pun.
Bara terkekeh kemudian berjalan ke arah toilet. "Om ganti baju dulu ya."
******
Akhirnya pertandingan yang di tunggu-tunggu sudah mulai. Sejak tadi Bara memimpin permainan balap motor, dan hal itu berhasil membuat si kembar gencar untuk menyemangati Anet.
"Ayooo Bos!! Bos!! Bos!!" Teriak Jeno histeris menyemangati Anet.
Sedangkan Anet hanya mendengus sebal sambil sesekali melirik ke arah Bara penuh kekesalan. Bara hanya tersenyum penuh kebanggaan dan tidak mengalah sedikitpun pada Anet. Saat yang lain masih heboh, Juna malah fokus pada Bara, dia memperhatikan trik dan gerak-gerik Bara yang menurutnya keren dan bertekad untuk menjadikan Bara motornya dalam bermain PS.
Tanpa di sadari Selin ikut terhanyut ke dalam permainan tentunya mendukung Anet sebagai pemenang. Namun, sayangnya Bara terlalu hebat untuk di kalahkan. Memang pria itu serba bisa, masak bisa, Bisnis bisa, main game apalagi, mungkin satu-satunya yang Bara tidak bisa adalah menghargai perempuan. Selin terkekeh ketika pemikirannya malah menjurus ke sana.
"Yaaaah," Helaan nafas kecewa dari Juna dan Jeno saat Bara menyelip Anet.
Selin terkekeh melihat kedua anaknya, kemudian beralih menatap Bara yang penuh semangat. Jika dilihat-lihat saat ini Bara seperti sedang mengeluarkan semuanya kemampuannya untuk membuat kedua anaknya kagum. Selin hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum sendu. Pemandangan di depannya membuat Selin berharap sesuatu yang tidak pasti, andai saja dulu Bara tidak meninggalkannya begitu saja. Mungkin pemandangan Juna dan Jeno bermain di dekat Bara adalah pemandangan yang bisa Selin lihat setiap hari. "Andai saja," Gumam Selin sambil tertawa samar.
*******
Yeay Author Update dua Bab ya... Happy Reading
__ADS_1
Yuk ramaikan kolom komentar biar author tambah semangat.
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)