Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 45 : Menjemput si kembar


__ADS_3

Sudah beberapa hari keadaan kantor berjalan seperti semula, dan Selin sudah kembali masuk dengan keadaan sehat. "Sel, tolong kasih laporan keuangan ke Pak Raka." Ucap Syakila pada Selin.


"Oke," Selin mengangguk paham kemudian mencetak laporan keuangan yang sudah dikerjakannya.


Sebelum masuk ke dalam ruangan Raka, Selin merapihkan penampilannya lebih dulu dan saat dirasa sudah rapih barulah dia mengetuk pintu. Tuk! Tuk! Tuk! Selin mengetuk pintu Raka dengan sopan.


"Silahkan masuk," Terdengar sautan penuh perijinan dari dalam sana.


Selin melenggang dengan sopan kemudian mendekati meja Raka yang si empu nya sedang sibuk dengan komputer dihadapannya. "Pak ini laporan yang bapak minta," Ucap Selin sambil menyerahkan map di tangannya.


Raka mengangguk singkat kemudian menunjuk meja di sampingnya. "Simpan saja di sini," Ucapnya dengan pandangan masih fokus pada komputer di hadapannya.


Tuk! Selin meletakan map nya dan bersiap undur diri. "Baik Pak saya permisi," Ucap Selin dengan perasaan yang sudah tidak kuat untuk keluar.


"Oh iya, besok kita makan malam bersama." Ujar Raka singkat yang berhasil membuat Selin keheranan.


Kita? Sebenarnya yang di maksud kita oleh Raka itu siapa, tidak mungkin jika merajuk pada dirinya dan Raka yang sudah jelas tidak ada sangkut pautnya. "Kita siapa Pak?"


Raka menghela nafasnya panjang. "Agen rahasia," Dia menghentikan pekerjaannya kemudian menoleh ke arah Selin penuh selidik. "Kamu nggak baca chat group ya?"


"Hehehe," Selin menggaruk tengkuknya dengan rasa malu yang sedikit menghampiri hatinya, sepertinya saat ini dia harus bersiap mendengar ucapan Raka yang super pedas.


"Hmm, jangan lupa ya." Jawab Raka yang berhasil membuat Selin keheranan.


"Eh dia nggak marah?"


"Baik Pak," Jawab Selin kemudian bergegas keluar ruangan.


*******


"Lagi ngelamunin apa hayo???!" Goda Selin pada Syakila yang bukannya bekerja tapi malah ngelamun.


"Ih ngagetin aja," Timpal Syakila dengan wajah yang lumayan kusut.


Selin mendudukkan pantatnya di kursinya dengan tenang. "Abis dari tadi ngelamun aja, emang persiapan buat rapat nanti sama si Bos udah beres?"


Syakila menghela nafasnya berat kemudian menatap Selin nanar. "Nah itu dia, rapatnya diundur."


Selin menautkan kedua alisnya keheranan. "Tumben banget diundur, emang ada hal sepenting apa sih?"


"Nggak tahu, pokoknya selama satu minggu ke depan Pak Bara jadwalnya kosong, paling kalo ada juga sampai jam 10 siangan. Coba kamu bayangkan, berarti semua pekerjaan kita berarti harus beres sebelum jam 10 pagi yang pastinya hetic banget, mikirin nya aja aku udah pusing." Syakila merebahkan kepalanya di atas meja dengan lemas.

__ADS_1


"Hmmm," Selin merenung sejenak. Setahu dia Bara tidak akan merubah jadwalnya apalagi mengosongkan jadwalnya jika tidak ada hal yang benar-benar sangat penting.


Tiba-tiba raut murung Syakila berubah ceria lalu mendorong kursinya agar berdekatan dengan Selin. "Eh btw sebagai mantan istrinya kamu tahu nggak sekarang hal penting apa yang lagi dikerjakan Pak Bara." Bisik Syakila pelan karena tidak ingin orang lain mendengarnya.


Sontak Selin menggeplak lengan Syakila pelan. "Jangan ngawur ya, mana mungkin aku tahu. Udah deh jangan di bawa pusing, wajar aja Pak Bara sibuk cabang nya ada dimana-mana. Toh ada pak Raka juga yang pastinya menghandle semuanya."


Sykaila tersenyum kikuk. "Hmmm, tapi aku benar-benar penasaran hal apa sing yang ngebuat Pak Bara sibuk selama seminggu."


Selin memutar bola matanya malas kemudian memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. "Hmm, kalo aku tahu mah udah di kasih tau dari tadi." Tapi di hati kecilnya, Selin juga ikut bertanya-tanya. "Dia sibuk apa sih, sampai-sampai menelantarkan para Karyawan yang nggak berdosa?"


******


Sudah sejak tadi Bara memarkirkan mobilnya di halaman Taman kanak-kanak, mengunggu penuh excited kepulangan Juna dan Jeno yang membuatnya tidak bisa tidur sepanjang malam saking tidak sabarnya. Entah sudah berapa kali Bara memperhatikan jam di tangannya yang enggan menunjuk angka setengah sebelas. Bara menghela nafasnya panjang kemudian kembali merebahkan kepalanya ke stir.


Tring! Tring! Tring! Akhirnya suara bel sudah berbunyi. Kedua bola mata Bara langsung berbinar penuh kebahagiaan, tanpa menunggu lagi dia langsung keluar dengan kaca mata hitam yang sudah bertengger di hidungnya yang paripurna. Tanpa disadari saat ini Bara sedang menjadi pusat perhatian para Ibu-Ibu yang sedang menjemput anak mereka masing-masing.


"Ya ampun dia siapa? Anaknya yang mana? Kalo anaknya laki-laki udah aku jodohin deh sama anak aku."


"Ganteng banget ya tuhan, jadi lupa sama suami yang di rumah."


"Kalo gini ceritanya, makin semangat deh menjemput anak-anak ku."


Perbincangan para ibu-ibu tentang dirinya Bara abaikan begitu saja, karena saat ini dia sedang fokus mengedarkan pandangannya untuk menemukan keberadaan Juna dan Jeno yang belum terlihat. Senyuman merekah terbit di wajah Bara, saat akhirnya menemukan dua orang bocah yang sedang duduk berdampingan dengan wajah di tekuk bosan seperti sedang menunggu jemputan yang entah kapan akan datang.


"Om Bala!!" Pekik Jeno penuh antusias dengan wajah yang sudah kembali ceria.


"Om serius jemput kita?" Tanya Juna tidak percaya jika Bara yang super sibuk menempati janjinya.


Bara mengangguk antusias kemudian berjongkok tepat di tepat keduanya. "Ya iya dong, kan Om punya janji pada kalian dan seorang pria sejati adalah dia yang menempati janjinya. Betul nggak?"


"Betul!!!" Jawab mereka serentak.


"Yaudah, ayo kita pulang." Ajak Bara tidak ingin berlama-lama di tatap lapar oleh para Ibu-Ibu yang berada di sekitarnya.


"Mmmm," Juna dan Jeno mengangguk serempak kemudian menggenggam tangan Bara erat.


Bara sedikit mematung saat merasakan tangan-tangan mungil dan lembut itu menggenggam erat tangannya. Pandangannya jatuh pada kedua tangannya yang terasa hangat. "Lets go!" Ucap Bara dengan perasaan yang entah kenapa terasa pedih, Bara tersenyum sendu kemudian membalas genggaman si kembar dengan kebahagiaan yang membuncah. Sepertinya mengosongkan jadwal selama sepuluh hari sangat worth it dengan kebahagiaan yang Juna dan Jeno berikan.


******


Bara memperhatikan Juna dan Jeno yang sejak tadi melamun dari kaca spion. "What happened? Kenapa kalian terlihat murung." Tanya Bara penasaran, dia tidak ingin jika dirinyalah penyebab kemurungan kedua anak itu.

__ADS_1


Juna menghela nafasnya berat kemudian menatap nanar Bara dari kaca spion. "Hmmm, sebentar lagi di sekolah hari Ayah." Ucapnya Sendu.


Bara mematung dengan perasaan yang entah kenapa berubah sesak. Dia bertanya-tanya kenapa mereka sedih harusnya bagi anak kecil hari perayaan di sekolah adalah hal yang paling membahagiakan. "Waw menarik, terus kenapa kalian murung?"


Jeno yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Hmm, semua temen temen Eno udah daftarin diri buat nanti mau tampil apa sama Ayah mereka. Tinggal Eno dan Abang yang belum daftar," Jawab Jeno dengan pandangan yang sudah berkaca-kaca. Melihat adiknya yang murung cepat-cepat Juna menggenggam tangan Jeno untuk menyalurkan ketenangan.


Bara menautkan kedua alisnya heran. "Loh kenapa nggak daftar."


"Kan kita nggak punya ayah kaya temen-temen yang lain."


Ckit!! Bara menginjak pedal rem secara tiba-tiba yang membuat mereka sedikit terhuyung ke depan. "Aduh maaf, barusan ada kucing lewat." Ucap Bara berbohong kemudian melajukan mobilnya kembali.


"Ya tuhan, kenapa hatiku terasa semakin sesak." Gumam Bara dengan pandangannya yang tiba-tiba berubah berkaca-kaca.


Bara menghela nafasnya kemudian bertanya kembali. "Kalian udah bilang sama Bunda belum?"


Jeno menggeleng lemas. "Belum, kami nggak mau bikin Bunda kepikiran apalagi kemarin Nda sakit."


"Kalau misalkan Ayah kalian ada, Kalian mau nampilin apa?" Tanya Bara dengan tenggorokan yang terasa tercekat.


"Karate," Jawab mereka serempak.


Bara terkekeh kemudian menoleh ke arah Juna dan Jeno. "Kalo tampilnya sama Om mau nggak?"


"Yang bener?!" Tanya mereka dengan kedua mata yang berbinar.


"Tapi Om kan sibuk, Dad Farel juga pasti sibuk. Kayaknya kita bolos aja deh," Senyuman itu luntur begitu saja dari wajah Juna.


Bara menggeleng tidak setuju. "Kata siapa Om sibuk? Om itu bos nya jadi kalian nggak usah khawatir oke. Kalian tinggal minta ijin sama Bunda, Om pasti bisa nanti kita latihan bareng-bareng oke?!"


Jeno dan Juna langsung bertatapan penuh kegirangan. "Yeeee!!! Janji ya Om!"


"Janji," Dengan senyuman di wajahnya Bara mengulurkan kelingkingnya ke arah si kembar.


Raut kesedihan dari kedua bocah itu langsung menguap entah kemana. "Hehehehe, Om Eno mau beli Es Krim strawbery dulu sebelum pulang ya!"


"Oke jagoan!"


******


Yeay! Si kembar mau tampil!!

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2