
"Hosh!"
"Hosh!"
"Hosh!"
Deru nafas tidak beraturan bertabrakan dengan udara, Bara mematung dengan tatapan penuh kepedihan. Kepalanya menengadah ke langit untuk menahan air matanya agar tidak menetes. Perlahan pandangannya turun melihat keributan yang sudah dia perbuat. Saat melihat dan mendengarkan lagi tentang kepedihannya di masa lalu perlahan-lahan Bara kehilangan kendali dan tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Bara menatap sendu ke arah pintu lalu ke arah beberapa foto-foto yang berhamburan di lantai. Dia berjalan ke arah foto-foto itu kemudian berjongkok untuk mengambilnya satu persatu sambil tersenyum kecut.
Brak!
Pintu balkon terbuka Bara merogoh sakunya untuk mengeluarkan korek api. Dengan perasaan yang sulit diartikan Bara melemparkan foto itu ke tong sampah. "Aku tidak sudi melihat mu lagi," Ucap Bara kemudian membakar foto itu.
"Hahahahaha," Dia tertawa terbahak-bahak dengan air mata yang perlahan mengalir di pelupuk matanya. Dia menertawakan dirinya sendiri yang begitu menyedihkan, selama ini dia harus menahan segala kekecewaan kepedihan dan amarahnya seorang diri. Tanpa ada satupun yang di sampingnya.
Berjauhan dengan Selin tidak membuatnya baik-baik saja, dia harus berusaha berdamai dengan dirinya sendiri dan memaafkan kesalahan Selin karena di pernikahan itu bukan hanya Bara yang menderita tapi Selin pun juga. Terlintas sedikit keraguan tentang hubungan yang sedang dijalaninya kembali dengan Selin, ada sedikit rasa takut dan trauma jika nantinya hubungan ini akan kembali mengantarkan mereka ke dalam kepedihan.
Perlahan tubuh Bara luruh di lantai, dia duduk lesehan sambil bersandar ke dinding dengan darah yang menetes dari telapak tangannya. "Apa yang harus aku lakukan," Gumamnya lirih dengan pandangan yang perlahan terpejam.
*****
Brak!
Brak!
Brak!
Suara derap langkah seseorang mengacaukan fokus Selin saat sedang bekerja. Perlahan pandangannya terangkat dan menoleh ke sumber suara. Tak lama dari itu Kania datang dengan langkah tergesa-gesa dengan wajah sembap seperti sudah menangis hebat. Selin hanya diam dan memperhatikan gerak-gerik Kania yang sepertinya keluar dari ruangan Bara.
Tak lama dari itu datang Hermin dari divisi sebelah menghampirinya. "Sel!" Panggilnya dengan wajah pucat.
Selin menautkan kedua alisnya penasaran. "Ada apa?"
"Pak Bara berantem hebat sama Mbak Kania, tadi juga suara ada benda pecah!"
Deg! Selin mematung tidak percaya, rasanya tidak mungkin jika Bara marah seperti itu. "Masa sih," Gumam Selin dengan pikiran yang melayang.
Tanpa berpikir lagi Selin langsung bangkit untuk melihat keadaan Bara. Syakila yang sejak tadi hanya diam saja menatap ke arah Selin penuh kekhawatiran. "Mau kemana Sel?" Teriaknya saat Selin pergi begitu saja.
__ADS_1
"Nyari angin bentar." Jawab Selin dengan langkah yang tergesa-gesa.
******
Selin menghela nafas panjang kemudian bersiap untuk mengetuk pintu ruangan Bara. Tapi ketukannya tidak mendapatkan jawaban apapun, dengan memberanikan diri Selin akhirnya membuka pintu ruangan Bara dengan sedikit takut.
"Bara?" Panggilnya saat dia tidak menemukan kehadiran Bara di kursi kebangsaannya. Selin termangu saat melihat kaca berserakan di tengah-tengah berkas dan yang berhasil membuatnya tersentak adalah beberapa tetesan darah Segar yang menetes ke lantai.
Sontak Selin langsung panik dan mencari keberadaan Bara, langkahnya terhenti saat melihat pintu balkon terbuka. Dia langsung bergegas berharap Bara akan berada di sana.
"Bara," Panggilnya dengan nafas yang tercekat. Perasaannya berubah sesak saat melihat Bara duduk tidak berdaya dengan tangan yang bersimbah darah.
Perlahan pandangan Bara terbuka dengan pandangan ke arah Selin. Hening! Mereka hanya saling menatap tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Bara maupun Selin. Setelah beberapa menit hanya mematung akhirnya Selin beranjak untuk mengambil p3k dan menghampiri Bara untuk mengobatinya.
Selin ikut duduk lesehan di samping Bara kemudian dengan perlahan menarik tangan Bara yang terluka untuk diobati. Bara hanya pasrah saja dan membiarkan Selin melakukan apapun semaunya. Hembusan nafas lega keluar dari mulut Bara saat dia merasakan ketenangan yang Selin berikan, padahal wanita itu hanya diam dan mengobati lukanya.
Bara memperhatikan Selin yang tidak menanyakan apapun kepadanya, dia bersikap layaknya orang dewasa yang menunggu pasangannya bercerita tanpa diminta. Tangan Bara terulur untuk mengelus rambut Selin dengan lembut.
"Bersandar lah padaku," Gumam Bara lirih dengan tatapan lurus ke arah Selin.
"Aku lebih berat dari yang kamu kira," Jawab Selin dengan tatapan sendu.
Selin tersenyum lega saat raut Bara sudah bersahabat seperti semula, tanpa menunggu lama dia langsung beringsut kemudian memeluk Bara yang tentunya langsung di sambut. Mereka berpelukan dengan perasaan saling menenangkan, tidak ada perbincangan apapun hanya saling membisu dan menikmati ketenangan yang mereka rasakan.
******
Selin termangu di meja kerjanya dengan pikiran yang berkecamuk di benaknya. Dia menyesali kenapa tadi dia tidak bertanya apa yang sudah terjadi dan malah so dewasa dan tidak bertanya apa pun kepada Bara. Akhirnya sekarang dia menjadi over tingking sendiri.
"Gimana keadaan si Bos?" Tanya Syakila penasaran.
Selin hanya menggeleng lemah kemudian membenamkan wajahnya di tumpukan tangannya sendiri menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskan nya dengan perlahan.
"Sel, lo di panggil tuh." Ucap seorang Karyawan yang menghampirinya.
Dengan malas Selin mengangkat kepalanya dan duduk seperti semula. "Sama siapa?"
"Sama Mak Lampir."
Selin memutar bola matanya malas kemudian menggendong tumpukan berkas di mejanyan. "Shhhhht, haaaaah."
__ADS_1
"Permisi." Ucap Selin sopan dan langsung masuk ke dalam ruangan. Ternyata kehadirannya memang sudah ditunggu-tunggu oleh Kania.
"Duduk!" Perintah Kania dengan tatapan tidak bersahabat. "Mana laporan yang saya minta," Lanjut Kania dengan suara ketus.
Dengan wajah datar Selin langsung memberikan beberpa berkas pada Kania. Kania mengangguk-angguk saat membaca laporan Selin. "Bagus, ternyata kamu memang bisa diarahkan dalam urusan pekerjaan. Tapi sayangnya tidak dalam percintaan." Ucap Kania mulai mengganti topik pembicaraan.
Selin hanya terkekeh samar dan belum ada niatan untuk menyanggah.
"Kenapa sampai saat ini kamu masih gencar merayu Bara! Ingat kamu tidak berhak dan tidak pantas ada di sampingnya!"
Rasanya Selin ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat raut marah Kania yang begitu ketara. "Merayu? Tolong jaga ucapan mu!" Ucap Selin dengan tatapan yang menusuk.
Kania menatap Selin dengan tatapan tidak suka. "Bara berhak mendapatkan yang sepadan dan lebih baik darimu."
Masa bodoh dengan apa yang Kania ucapkan, saat ini Selin hanya ingin pergi dan tidak melihat wajah wanita menyebalkan itu. "Permisi." Selin beranjak dan bersiap pergi.
"Apa kamu pikir hubungan kalian akan berjalan dengan lancar, kamu yakin Bara tidak akan meninggalkan mu lagi?" Ucap Kania yang berhasil menghentikan langkah Selin.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Selin berbalik badan kemudian menghampiri Kania, tangannya terulur untuk untuk membersihkan debu di bahu kameja Kania. "Urus saja hidup anda sendiri yang sampai saat ini tidak ada yang mendampingi. Jika perlu saya bisa membuat kelas privat untuk belajar merayu orang lain!" Bisik Selin yang berhasil membuat Kania melotot penuh amarah.
Grep! Kania mencekal lengan Selin kemudian menjauhkan tangan itu dari baju mahalnya. "Sembarangan!"
Selin tersenyum penuh kemenangan. "Kamu hebat dalam pekerjaan tapi menyedihkan dalam percintaan!" Ucap Selin membalikan keadaan.
"Jangan bangga dulu, kamu yakin Bara menyukaimu seutuhnya. Kamu masih ingat kenapa Bara telat menghadiri Father days? Dia datang kepada ku lebih dulu, aku adalah nomor satu dan kamu? Hahahaha Nomor sekian. Memangnya kamu yakin selama lima taun tanpa kehadiran mu dia tidak berbuat macam-macam dengan ku? Dasar wanita bodoh!" Ucap Kania dengan sangat puas karena dia bisa melihat perubahan raut wajah Selin yang berubah menjadi keruh dan membisu.
"Jangan bangga hanya karena Bara baik pada mu. Karena dia tidak baik hanya kepadamu saja, dia juga sangat baik padaku. Jadi berhenti seolah-olah memiliki dirinya seutuhnya."
"Bicaralah semau mu, karena kamu pun pasti tahu siapa pemilik hatinya. Yang pastinya bukan kamu!" Ucap Selin kemudian menjauhkan tubuhnya dari Kania. "Permisi, saya tidak ingin menghamburkan waktu saya hanya untuk mengobrol dengan wanita yang tidak berkualitas seperti anda!" Selin langsung bergegas keluar meninggalkan Kania yang sedang menahan emosi.
******
Happy Reading!
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)