
"Siapa yang waktu itu Tes DNA?" Tanya Raka sambil bersandar di sandaran kursi.
"Kania," Bara menghela nafas panjang dengan pandangan menerawang.
Raka langsung bangun dan menatap Bara tajam, Raka tidak mengerti bagaimana bisa Bara percaya kepada Kania yang jelas-jelas sudah serong berbohong. "Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Mendengar makian Raka, Bara hanya tersenyum samar tanpa berkomentar. Toh memang dia merasa dirinya bodoh, dia terlalu takut untuk mencoba ulang jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dia takut jika harapannya melambung dan dijatuhkan seketika.
Melihat raut Bara yang menyedihkan Raka menurunkan nada bicaranya. "Bisa-bisanya lo percaya sama dia," Ucap Raka lirih.
"Stop Ka, jangan buat gue berharap. Gue juga pengennya mereka anak gue."
"Nggak mau tau kalian harus tes DNA lagi." Ucap Raka tegas.
"Gila lo ya, itu juga gue udah ngelanggar aturan. Tes DNA sembunyi-sembunyi. Gue ngajak si kembar potong rambut, terus rambut mereka gue bawa." Ucap Bara sewot.
Raka berdecak kesal. "Ckk!! Bodoh! Lo teman gue yang paling bodoh!"
"Huuuh, pergi lo gue mau istirahat." Bara kembali merebahkan tubuhnya dengan pikiran yang berkecamuk.
"Bar terus kalo sebenernya mereka anak lo, lo mau gimana?" Tanya Raka yang berhasil membuat Bara membeku sejenak kemudian bangkit untuk duduk.
Raka berjalan dan kemudian duduk di samping Bara yang sedang mematung. "Ckk! Gue nggak mau sobat gue yang bodoh ini menyesal. Cari kebenaran sebelum terlambat, jangan percaya sama Kania."
Puk! Puk! Puk!
Raka menepuk bahu Bara kemudian bersiap pergi. "Gue duluan," Pamitnya kemudian berjalan.
"Makan lo! Jangan lupa!" Teriak Raka saat sudah di luar.
"Hmmm."
*****
Selin menatap kesal jam tangan yang melingkar indah di tangannya, sudah sore tapi Bara sulit di hubungi dan tak kunjung datang menjemputnya. Mana semalam pria itu tidak menghubunginya sama sekali.
Anet yang baru keluar dari dapur menatap Selin aneh, "Kenapa bete gitu?"
Dengan pandangan yang berkaca-kaca Selin menoleh pada Anet. "Bara nggak bisa dihubungi."
"Yaudah gue antar aja," Tawar Anet yang langsung dibalas anggukan oleh Selin.
"Hmmm."
"Emangnya dia bilang mau jemput?"
"Nggak juga."
"Isshh..." Anet menggeleng-gelengkan kepalanya heran. "Udah berangkat aja sekarang takut telat," Lanjutnya yang hanya di balas anggukan oleh Selin.
__ADS_1
Mereka berjalan keluar kemudian langsung masuk ke dalam mobil. Anet menoleh sejenak pada Selin, "Udah jangan cemberut, udah dandan cakep juga."
Selin mendengus sebal kemudian memicingkan matanya saat baru menyadari ada yang aneh dari penampilan Anet. "Mata lo kenapa pada bengkak gitu," Tanya Selin kaget.
Anet tersenyum kecut."Mario selingkuh."
"What!! Gimana bisa!"
"Udah, udah. Nggak perlu bahas itu nggak penting, sekarang mending kita cepet-cepet berangkat."
Selin memijat pelipisnya yang terasa pening. "Hmmm.. Yang sabar ya Net."
*****
"Kenapa telat," Tanya Syakila dengan wajah yang terlihat putus asa.
"Hehehe," Selin hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Huuuh, aku takut kamu nggak datang terus aku nggak ada temen. Acaranya udah mulai tau."
"Emang Pak Baranya udah dateng gitu?" Tanya Selin pura-pura biasa saja.
"Udah.. Tadi Pak Bara datang sama Bu Kania." Ucap Syakila yang berhasil menghentikan langkah Selin.
"Btw ko baju kamu nggak asing ya," Ucap Syakila dengan tatapan menilai.
"Maksudnya?"
"Mmmm nanti lagi aja di cek nya, yo masuk," Ucap Selin lirih.
"Kamu cakep banget Sel, kalo aku jadi laki-laki kayaknya aku udah jatuh cinta." Celetuk Syakila yang berhasil membuat Selin terkekeh.
"Bisa aja kamu."
Saat Selin masuk dia langsung dihampiri oleh Kania yang berhasil membuat Selin semakin kesal. Selin mengerjab-ngerjab matanya memperhatikan gaun Kania yang sama persis seperti yang dia pakai.
"Hai.. Baru datang nunggu pangeran jemput ya. Maaf ya pangerannya di pinjem dulu sama gue." Ucap Kania dengan tampang penuh kemenangan.
Selin masih membeku di tempat dan enggan untuk berkomentar apapun.
"Oooppss, baju kita sama dong. Udah gue bilang, dia baik sama perhatiannya bukan sama lo doang, ini juga gue dibeliin malah tadi dijemput."
"Sel.. Baju kalian.." Ucap Syakila yang sejak tadi juga ikut memperhatikan.
Selin menghela nafas dengan tangan yang terkepal. "Jangan terlalu bangga deh, modal ngancem-ngancem juga bangga, aku tau Bara nggak mungkin ngelakuin itu semua kalo kamu nggak licik dan menjebaknya."
"Ahahaha.. Mau sampai kapan kepedean diri lo itu ada hah?!"
"Mau sampai kapan kamu ngejar-ngejar orang yang nggak pernah lirik ke kamu. Emang nggak sakit?" Jawab Selin telak.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Ucap Kania bersiap melayangkang tamparannya.
Syakila langsung heboh. "Wowowo.. Mbak tolong jaga sikap."
"Lanjutkan halusinasi mu, saya permisi." Ucap Selin kemudian beranjak keluar.
"Sel.. Mau kemana."
"Ke toilet jangan ikut dulu." Ucap Selin kemudian melanjutkan langkahnya.
Selin menatap tampilannya di cermin. Dia menengadah dengan tangan yang terkepal penuh kesakitan. Selin membuka laci yang untungnya terdapat gunting di sana.
Sret!
Sret!
Sret!
Dengan yakin dia menggunting dres panjang miliknya dan disulap menjadi dres pendek yang indah. Lengan tangan yang awalnya panjang sampai siku Selin gunting dengan penuh kekesalan hingga baju itu menampilkan bahunya yang indah. Ternyata hoby menonton fashion show di youtube bermanfaat juga untuknya.
Selin menghela nafas panjang dengan perasaan yang hancur, jujur saja dia sakit hati dengan fakta yang dia ketahui. Dia sakit hati dengan sikap Bara yang masih peduli kepada Kania, dengan embel-embel jika Bara menganggap Kania sebagai adik kandungnya.
"Aku tidak akan menyerah di rendahkan seperti itu."
******
Tuk! Tuk! Tuk!
Selin berjalan penuh percaya diri masuk ke dalam pesta yang sudah mulai, saat kedatangannya sura ricuhnya pesta berubah hening seketika ketika kedatangan Selin. Mereka menatap Selin dengan tatapan penuh kekaguman karena penampilan Selin sangat cantik dan menawan.
Begitupun dengan Bara yang langsung mematung di tempat melihat penampilan Selin yang menurutnya memang selalu cantik. Bara menghela nafasnya berat, ternyata panggilannya sejak tadi tidak diangkat karena Selin sudah datang ke pestanya. Dengan penuh semangat Bara melangkah untuk menghampiri Selin yang sekarang menjadi pusat perhatian semua orang.
"Pak Bara perkenalkan saya dari perusahaan.."
Bara menghela nafas kecewa saat langkahnya terhenti saat ada orang yang menghalanginya, mau tidak mau dia mengurungkan niatannya untuk menghampiri Selin dengan tatapan yang masih saling beradu tatap dengan Selin. Bara menjawab setiap pertanyaan kliennya dengan pandangan yang masih memperhatikan Selin dari kejauhan, Bara bisa melihat ada tatapan terluka dan kecewa yang Selin tampilkan.
"Sel maaf.." Gumam Bara lirih.
"Eh iya apa Pak?" Tanya klien di hadapannya.
"Tidak.. Jadi gimana rencana kedepannya?"
Dari kejauhan pandangan Selin sudah berkaca-kaca karena Bara tak kunjung menghampirinya. "Woy kenapa ngelamun? Ayo kita makan makanan yang keliatannya enak banget!"
"Hmmm.. Yuu!" Selin mengangguk setuju.
*****
Happy Reading!
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)