
Tuk! Tuk! Tuk!
Dengan sekuat tenaga Selin memukul paku ke dinding dengan palu yang ada di tangannya. Saat ini dia sedang memasang foto yang menampilkan keluarga kecilnya pada perayaan Father Day kemarin, foto itu simpan di kamar Juna dan Jeno tepat di atas kasur mereka.
"Huuuuh," Selin mengusap sedikit keringat di dahinya kemudian melipat tangannya terlipat di dada dengan pandangan menilai ke arah foto yang sudah tertempel.
Selin menoleh pada kedua anaknya yang sedang menatap foto itu dengan tatapan berbinar. "Kenapa kalian pilih ini sih, kan wajah Bunda nya jelek banget." Ucap Selin kesal karena tidak menang berdebat dengan kedua anaknya.
Juna menggeleng tidak setuju. "Walaupun wajah Bunda lagi kaget, Bunda tetap cantik ko. Malahan malah keliatan lucu," Ucap Juna yang langsung diangguki Jeno penuh persetujuan.
Selin turun dari kasur kemudian menarik pipi Juna dengan kedua tangannya. "Hmmm, kamu udah pintar ngerayuu yaaa." Juna hanya pasrah saja menerima perlakuan seperti itu dari Selin.
Terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, Jeno langsung berlari ke arah jendela untuk melihat siapa yang datang. "Ndaaa! Om Bara udah dateng!" Pekiknya penuh kebahagiaan kemudian berlari ke arah Juna untuk bertos riang bersama.
"Yeay!" Ucap mereka serempak.
Selin hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Semangat banget sih bang?" Sindir Selin dengan senyuman di wajahnya.
"Yang jelas dong, first time jalan-jalan komplit!" Ucap Juna yang berhasil membuat Selin mengerjab-ngerjabkan kedua matanya.
Bruk! Bruk! Bruk! Suara Jeno menuruni tangga dengan penuh semangat di susul Juna di belakangnya yang setia mengawasi.
Setelah kedua anaknya turun, Selin berjalan ke arah jendela untuk melihat Bara yang baru saja keluar dari mobilnya. Merasa ada yang memperhatikan, Bara melambaikan tangannya ke arah Selin. "Iyuh," Selin memutar bola matanya malas kemudian pergi untuk bersiap-siap.
"Barang-barangnya jangan sampai ketinggalan ya," Ucap Selin mengingatkan saat tiba di lantai satu.
Jeno yang sejak tadi membawa perlengkapan pikniknya menjawab. "Iya Nda, ini lagi dimasukin ke mobil."
Selin mengangguk paham kemudian menoleh ke arah Juna yang saat ini sedang memakai sepatu. "Abang, sandwich nya udah di bawa?"
"Udah Bunda." Jawab Juna santai dan langsung menyusul Jeno yang saat ini sudah berada di dalam mobil.
Dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya yang mancung dan tubuh yang di balut kaos dengan kemeja di luarnya, Bara menghampiri Selin yang sedang mengunci pintu rumahnya.
"Masih ada lagi?" Tanya Bara memastikan semua barang sudah di bawa.
"Kayaknya udah deh," Ucap Selin dengan pikiran yang berusaha mengingat-ingat.
Bara mengangguk paham "Eh mau duduk di mana? Masa di belakang emangnya aku sopir?. Udah di depan aja temenin aku, lagian kasian juga si kembar kalo harus desak-desakan sama kamu yang langsing itu." Ucapnya saat Selin bersiap membuka pintu penumpang yang sudah dimasuki Juna dan Jeno.
Selin menatap tajam Bara kemudian dengan sedikit kesal membuka pintu sebelah kemudi. "Hish!!"
********
"Yeay! Berangkat!" Gumam si kembar saat mobil sudah mulai membelah jalanan.
Selin menoleh ke arah Bara yang sedang fokus menyetir. "Kita mau kemana?" Ucapnya penasaran.
Bara menoleh ke arah Selin sebentar lalu mengangkat bahunya acuh. "Rahasia dong, pokoknya nggak akan mengecewakan."
__ADS_1
"Hmmm," Selin memejamkan matanya kemudian membuang pandangannya ke arah jendela.
Bara menoleh ke arah gambar bensin yang sudah harus di isi. "Aku lupa belum beli bensin, kita mampir dulu ya."
"Oke." Selin hanya mengangguk sebagai jawaban dengan pandangan ke arah luar.
Tak lama dari itu mobil terparkir di tempat pengisian Bensin, Bara keluar tergesa sampai-sampai lupa jika dompetnya ketinggalan di dalam mobil.
"Tolong ambilin uang di dompet itu ada di dashboard." Kepala Bara melongo ke dalam jendela.
Selin sedikit kaget saat tiba-tiba kepala Bara muncul di jendela. "Hmmm," Selin bergumam dengan sedikit kesal kemudian mengambil dompet Bara. Tanpa meminta persetujuan Bara dia langsung membuka dompet itu.
Selin membeku kemudian menatap Bara meminta penjelasan. Ternyata Bara masih menyimpan foto pernikahan mereka di dalam dompet mahalnya, sesuatu yang bahkan tidak terbayangkan jika Bara masih menyimpan foto itu.
Bara menautkan kedua alisnya berusaha memahami apa yang membuat Selin termenung seperti itu. "Ada apa?" Tanya Bara sedikit pemasaran.
Pluk! Dengan cepat Selin menutup dompet Bara kemudian memberikannya pada Bara. "Eh nggak, ini ambil aja sendiri." Ucap Selin gelagapan kemudian pura-pura mengantuk.
******
"Aku besok pergi, tapi pengen diantar sama kalian." Ucap Bara di tengah perjalanan.
"Jangan ngelunjak deh ah," Jawab Selin dengan mata terpejam. Selin bangun kemudian menoleh ke kursi belakang untuk melihat kedua anaknya yang sama-sama tertidur.
Bara mengikuti arah pandang Selin sambil terkekeh. "Mereka mirip banget sama kamu, suka tidur di mobil," Ujar Bara sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Selin tidak menjawab dan mulai memakan snack yang dibelikan oleh Bara. "Aku cuma bercanda. Aku diantar sama anak-anak kantor, kamu harus ikut juga ya." Ucap Bara penuh permohonan.
"Yang nganter aku ke bandara gajihnya bakal di naikin loh." Celetuk Bara yang langsung membuat Selin tersedak.
"Uhuk!!... Mmm... Aku pikir-pikir dulu." Ucapnya yang langsung berhasil mengundang gelak tawa Bara.
"Hahahaha, ternyata wanita sangat menyukai uang." Ucap Bara sambil tersenyum dan diikuti kekehan pelan oleh Selin.
"Enak lo ini, aaaa!" Perintahnya pada Bara untuk membuka mulut. Bara memakan pemberian Selin dan mengangguk-angguk setuju.
*****
"Om lempar ke sini!"
"Ahahahaha!"
Selin terusik dari tidurnya, tangannya terulur untuk mengucek matanya yang sejak tadi terpejam. Bersamaan dengan matanya yang perlahan terbuka Selin mendengar suara riuh ombak membentur karang. Selin tidak menyangka ternyata Bara membawa mereka ke sebuah pantai.
Selin duduk tegap dengan tatapan ke luar jendela melihat kedua anaknya yang sedang asik bermain bola dengan Bara. Senyuman hangat terbit di wajah Selin, melihat pemandangan Bara dengan kedua anaknya membuat hatinya terasa menghangat. Dilihat dari kejauhan Juna dan Jeno sangat persis seperti Bara, Selin tidak mengerti kenapa sampai sekarang Bara tidak menyadari jika mereka adalah anaknya.
"Apa sesulit itu menyadari mereka adalah anak mu, apa prasangka buruk mu tentangku begitu kuat sampai-sampai tidak pernah sekalipun kamu berpikir jika mereka anak mu?" Gumam Selin di dalam hati.
Selin keluar dari mobil, pandangannya langsung jatuh pada keranjang makanan yang sudah ditata rapi di atas karpet piknik. "Ternyata mereka memang bisa diandalkan," Gumamnya sambil duduk tenang di atas karpet.
__ADS_1
Dari kejauhan Jeno berlarian ke arah Selin. "Nda.. Udah bangun?" Tanya nya dengan nafas terputus-putus.
Selin tersenyum lebar kemudian mengangguk. "Kenapa Nda nggak di bangunin?"
Jeno memilih duduk di samping Selin untuk beristirahat. "Om Bara yang ngelarang, katanya Nda kelelahan jadi kasian mending istirahat aja." Mendengar ucapan Jeno, Selin sedikit tertegun sambil menatap Bara dan Juna yang sekarang sedang berjalan menghampirinya.
"Eh, udah bangun?" Tanya Bara pelan lalu duduk selonjoran di depan Selin.
"Udah tahu masih aja nanya," Gumam Selin ketus seperti biasanya.
Bara menggeleng-gelengkan kepalanya tidak paham dengan sikap wanita. "Ketus banget."
"Kamu juga kemarin-kemarin ketus. Hari ini aja berubah lagi, dasar labil." Ucap Selin dengan tatapan menerawang.
"Bukan labil tapi pilihan," Ucap Bara kemudian merebahkan tubuhnya di atas pasir.
Selin menghela nafasnya panjang lalu beralih menatap Juna dan Jeno yang hanya diam saja melihat adu cekcok di hadapannya. "Makan dulu ya," Ucap Selin sambil mengeluarkan sandwich dari keranjang.
Juna dan Jeno langsung menerimanya tanpa bantahan dan mulai memakannya dengan semangat. "Emmm yummy!" Pekik mereka kegirangan dengan kepala yang di goyang-goyang kan.
"Makan dulu," Ucap Selin sambil menarik tangan Bara untuk bangun.
"Gimana kalo kita main lomba lari!" Celetuk Juna disela-sela acara makannya.
Sontak Selin langsung menggeleng tidak setuju. "Ya pasti Om Bara yang menang lah!"
Juna menggeleng tidak setuju. "Bukan lomba lari biasa Bun. Tapi sambil gendong orang lain."
"Jangan aneh-aneh ah." Ucap Selin sambil mulai memakan sandwich bagiannya.
"Ihh nggak aneh-aneh Nda.. Nda gendong Abang, Om Bala gendong Eno." Bela Jeno agar Selin menyetujui ide Abangnya.
Bara yang sejak tadi diam mulai angkat bicara. "Yang kalah ada hukumannya nggak?" Tanya nya dengan tatapan penuh arti ke arah Selin.
"Yang kalah di ceburin!" Pekik mereka kompak.
"Nggak! Nggak!. Nda nggak mau basah-basahan." Tolak Selin tegas.
Bara menatap Selin dengan tatapan merendahkan. "Udah Bunda kalian nggak usah diajakin kan dia lemah."
"Heh! Sembarangan kalo ngomong. Siapa yang lemah coba!" Pekik Selin tidak terima dengan tatapan tajam ke arah Bara.
"Yaudah kalo nggak lemah buktiin dong!"
Selin menghela nafasnya panjang menyesali kebodohannya yang terpancing oleh Bara. "Oke! Siapa takut!" Ucap Selin yakin, dia tidak ingin harga dirinya tercoreng di depan kedua anaknya yang menggemaskan.
Selin dan Bara saling bertatapan dengan tatapan tajam dan penuh persaingan. "Deal!!" Ucap mereka serempak.
******
__ADS_1
Happy New Year Readers ku tercinta. Semoga di tahun ini makin banyak kebaikan-kebaikan yang datang di kehidupan kita. Peluk jauh dari Author untuk kalian semua.
Boleh ketik resolusi kalian di tahun ini di kolom komentar ya, Author bahagia banget loh baca-baca komentar kalian. Love you All!!