
Drap! Drap! Drap! Selin berlari dengan tergesa-gesa kembali masuk ke dalam kantor. Tuk! Tuk! Tuk! Selin menekan nekan tombol lift yang tidak kunjung terbuka. "Ayolah ayolah!" Gumamnya panik.
Tring! Selin langsung bergegas masuk dengan perasaan yang sudah kacau, dia tahu Bara pasti akan sensitif dengan pengharum ruangan Jeruk bisa-bisa saat ini dia sedang sesak nafas dan bisa jadi pingsan.
Braak!! Tanpa permisi Selin langsung membuka pintu kerja Bara. Selin mencari-cari kehadiran Bara yang belum ditemukan olehnya. Pandangan Selin jatuh pada sebuah pintu yang terletak di ujung ruangan.
Ceklek! Selin membuka pintu yang untungnya tidak dikunci. "Pak Bara!" Teriak Selin berharap mendapat respon dari Bara.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Dengan susah payah Bara membuka kedua matanya dengan nafas yang tercekat.
Selin mengambil sapu kemudian mengait pengharum ruangan yang disimpan di dekat AC. Kemudian melemparnya ke dalam tong sampah dengan penuh kekesalan.
Lalu beralih melirik ke arah Bara, dengan perasaan kalut Selin langsung menghampiri Bara yang sedang tertidur di kasur. "Bapak baik-baik saja?" Tanya Selin dengan tangan yang sibuk menepuk-nepuk wajah Bara.
Merasa Bara tidak meresponnya dengan susah payah Selin menggusur Bara ke samping kemudian menggendongnya, Bruk! Selin membentur dinding tapi untungnya tidak terjatuh. Selin membawa Bara sedikit menggusurnya ke ruangan kerja yang cukup luas.
"Pak, Pak, bangun Pak!" Teriak Selin dengan kedua bola mata yang sudah berkaca-kaca.
Perlahan kedua bola mata Bara terbuka remang-remang dia bisa melihat wajah Selin. "Sel," Panggil Bara lirih kemudian bangkit untuk memeluk Selin. "Aku lelah," Gumam Bara sedikit berbisik kemudian kesadarannya hilang dan tubuhnya
Selin menggoyang-goyangkan tubuh Bara. "Pak bangun! Bangun!" Teriak Selin histeris saat Bara tidak memberikan respon apapun.
"Tolong! Tolong!" Teriak Selin meminta bantuan, tapi sepertinya percuma saja karena ruangan kerja Bara adalah ruangan kedap suara.
"Hiks, hiks, Bara! Pak Bara!" Selin sudah kebingungan harus melakukan apa.
Dengan tergesa dia merogoh saku baju Bara untuk mengambil ponselnya, untungnya ponsel Bara tidak di kunci. Dengan tangan yang gemetar Selin cepat-cepat menghubungi Raka.
"Hiks, hiks, hiks.. Ini aku Selin." Ucap Selin saat sambungan telpon sudah terhubung.
"Pak Bara? Selin?! Ada apa?" Tanya Raka di sebrang sana.
"Pak!!.... Pak Bara! Pak Bara, hiks hiks hiks." Ucap Selin terputus-putus.
"Dimana kamu sekarang?"
"Di ruangan pak Bara."
"Tunggu aku sekarang ke sana."
__ADS_1
Selin mengangguk sambil terisak. "Mmm, cepatlah!"
Selin meletakkan kembali ponselnya kemudian kembali menggoyangkan tubuh Bara. "Kak,, bangun Kak,, Kak Bara.. Aku mohon bangun.. Jangan buat aku cemas seperti ini.. Hiks.. Hiks.."
Brak! Tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan Raka yang tergesa-gesa.
"Bara!!" Teriak Raka kemudian bergegas menghampiri Selon.
"Cepat bawa ke rumah sakit, dia alergi Jeruk!" Ucap Selin.
Tanpa bertanya lagi Raka langsung menggendong Bara dan cepat-cepat membawanya keluar. Selin ikut beranjak dan berlari di belakang Raka untuk menyelamatkan Bara.
Saat sudah tiba di parkiran, Raka langsung memasukan Bara ke kursi penumpang di temani Selin. Raka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"Hiks, hiks, hiks.." Selin memejamkan kedua matanya berdoa kepada tuhan agar Bara baik-baik saja. Tangannya terus-terusan menggenggam tangan Bara penuh keputusasaan.
*******
Selin menunggu dengan gelisah dengan pandangan kosong, saat ini Bara sedang diperiksa oleh dokter di UGD. Perlahan dia mengangkat kedua tangannya yang masih bergetar mungkin karena syok dan panik.
Tuk! Tuk! Tuk! Terdengar suara langkah seseorang yang berjalan menghampiri Selin. "Pak bagaimana keadaan Pak Bara?" Tanya Selin antusias saat Raka datang menghampirinya.
Raka menghela nafasnya berat kemudian duduk di samping Selin."Nyawanya terselamatkan berkat mu. Terimakasih Selin."
Raka menatap sendu ke arah Selin, dia lebih memilih diam dan membiarkan Selin lebih tenang. "Kamu mau menjenguknya sebentar sebelum pulang?" Tanya Raka saat Selin sudah lebih tenang.
"Dia pasti lagi tidur ya?" Tanya Selin dengan pandangan menerawang.
"Iya." Ucap Raka sambil mengangguk.
Selin menatap jam tangan di lengannya yang sudah menunjukan pukul dua belas malam. "Sebaiknya aku langsung pulang, sudah malam."
"Mari aku antar," Tawar Raka sigap.
"Tidak usah, temani saja Pak Bara. Dia sepertinya tidak ada yang menunggu," Jawab Selin kemudian beranjak dari tempat duduk.
Raka tersenyum kecut melihat penolakan Selin, dia cepat-cepat menyusul Selin yang sudah berjalan ke luar. "Santai saja. Disini banyak perawat, lagi pula mobilmu masih di kantor kan?" Ucap Raka panjang lebar berbeda sekali dengan Raka yang biasanya.
"Aku bisa naik taksi." Jawab Selin singkat.
__ADS_1
"Sudahlah jangan banyak membantah. Aku akan mengantar mu pulang."
Tuk! Selin menghentikan langkahnya kemudian menatap Raka sedikit keheranan. "Mmm, terimakasih." Karena malas berdebat akhirnya Selin menerima tawaran Raka.
******
Sepanjang jalan Selin hanya diam membisu dengan pikiran yang melayang entah kemana. Perlahan tangannya terangkat lalu diperhatikan lekat-lekat. "Haah," Selin menghela nafas penuh syukur karena Bara baik-baik saja.
"Sejak kapan kamu tahu Pak Bara alergi jeruk?" Ucap Raka memulai percakapan.
Selin menoleh ke arah luar dengan tatapan sendu. "Mmm, entahlah pak." Jawabnya sedikit malas. Selin tidak habis pikir kenapa disaat seperti ini sifat Raka malah berubah menjadi bawel dan banyak bicara.
"Berkat mu nyawa Pak Bara bisa di selamatkan, mungkin jika telat sedikit saja dia akan.."
"Akan apa?! Aku yakin dia akan baik-baik saja, aku yakin walaupun bukan aku dia pasti akan diselamatkan." Jawab Selin tegas dengan suara yang sedikit meninggi. Selin menutup kedua mulutnya dia hampir lupa yang sedang diajak bicara itu adalah Raka atasan super dingin dan kejamnya di kantor. "Mmm, maaf Pak. Saya terbawa suasana," Gumam Selin penuh penyesalan.
Raka terkekeh maklum. "Kamu takut kehilangannya bukan?"
Selin tertegun saat mendengar pertanyaan Raka yang ia pun tidak tahu jawabannya. "Benarkah aku takut kehilangannya?" Gumam Selin bertanya pada dirinya sendiri.
*****
Selin keluar dari mobil Raka dengan lesu. Dari kejauhan dia sudah melihat Anet yang mondar mandir di balik pintu sedang menunggunya.
"Gila ya jam segini baru pulang!" Ucap Anet dengan kekesalan yang sudah memuncak. Rencana marahnya luntur begitu saja saat melihat penampilan Selin yang kacau. "Eh Sel, lo nggak papa?" Tanya Anet penuh kekhawatiran.
Ditanya seperti itu air mata yang sudah berhenti keluar perlahan keluar lagi dari pelupuk mata Selin. "Hiks, hiks, Bara Net, Bara." Ucap Selin dan langsung memeluk Anet.
Anet mematung di tempat dengan tangan yang mengelus-elus punggung Selin. "Bara kenapa?"
"Dia keracunan. Gue nggak bisa bayangin kalo dia meninggal. Terus Juna sama Jeno nggak punya Ayah. Hiks, hiks, hiks."
Anet menatap sahabatnya sendu. "Jangan ngomong yang aneh-aneh, gimana keadaanya sekarang?"
"Dia udah ke Rumah Sakit sekarang baik-baik aja."
Anet menghapus air mata di wajah sahabatnya dan menarik Selin menuju meja makan. "Ayo makan dulu," Ucapnya.
Selin mengangguk dan mulai memakan di hadapannya sambil terisak, Karena merasa ada yang memperhatikannya Anet bergegas keluar rumah. Terlihat Raka sejak tadi belum beranjak dari rumah Selin. "Pulang aja, Selin aman sama gue." Ucap Anet ketus. Raka mengangguk paham lalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
******
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)