Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 23 : Selin yang tersudutkan


__ADS_3

Selin sengaja berangkat ke kantor sangat pagi agar si kembar tidak melihat wajah sembap Selin, dia tidak kuat untuk menjelaskan apa yang terjadi. Sebelum berangkat Selin menyempatkan untuk melihat anaknya terlebih dahulu, senyuman terbit di wajah cantiknya saat melihat kedua anaknya tertidur dengan pulas.


"Untunglah kalian tidak alergi jeruk seperti Ayah kalian," Gumam Selin sambil mengusap kepala Juna dan Jeno penuh rasa sayang.


Selin menengadahkan kepalanya saat membayangkan kedua anaknya kehilangan seorang Ayah, bahkan sebelum mereka sempat dipeluk dan diakui oleh Ayah mereka sendiri. "Sepertinya sudah saatnya Bunda mengatakan status kalian yang sebenarnya pada Bara." Ucap Selin dengan pandangan yang berubah berkaca-kaca.


"Net gue titip anak-anak ya," Ucap Selin sendu saat Anet sedang sibuk memasak persis seperti Ibu rumah tangga sesungguhnya.


"Iya tenang aja, gue nanti yang antar mereka ke sekolah. Sekalian nanti siang mereka ada jadwal pemotretan sama endorse." Ucap Anet acuh tak acuh kepada Selin, padahal jauh di dalam hati dia mengkhawatirkan wanita itu.


"Hmmm, oke. Oh ya Net," Selin tersenyum penuh arti.


Anet mendengus kasar kemudian menatap tajam Selin. "Apalagi! Mau dianter?" Anet tidak habis pikir kenapa Selin selalu saja merepotkan nya.


"Hehehe," Selin tersenyum kikuk.


"Dih gue penasaran kalo nggak ada gue elo bisa hidup sendiri nggak sih. Ayo buruan, nanti mereka keburu bangun!" Walaupun misuh-misuh tapi Anet tetap peduli kepada Selin.


Selin menatap punggung Anet penuh syukur, kemudian memeluknya dari belakang. "Makasih banyak ya Net," Ucap Selin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Udah berisik. Gue tau itumah cuma akal-akalan lo biar gue mau nganter."


"Hahaha, peka banget sih jadi orang." Untuk pertama kalinya Selin tertawa lagi semenjak kejadian kemarin malam.


******


Dengan lemas Selin duduk di atas kursi kerjanya, kepalanya sedikit pening mungkin efek kurang tidur dan terlalu banyak menangis. Rasanya hari ini dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya sendiri.


Syakila yang baru datang langsung menghampiri Selin. "Sel! Pak Bara masuk rumah sakit!" Ucap Syakila heboh.


Selin yang sedang asik meletakkan kepalanya di atas meja perlahan mendongak. "Masa sih?" Jawab Selin malas karena saat ini kepalanya terasa pusing dan tidak tertarik dengan obrolan Syakila.


"Iya.. Katanya percobaan pembunuhan!" Jawab Syakila tidak kalah heboh.

__ADS_1


Deg! Kedua bola mata Selin langsung membulat sempurna. "Percobaan pembunuhan?" Gumam Selin tidak percaya.


"Iya sekarang pihak polisi lagi meriksa barang bukti sama CCTV.. Sekarang CS yang baru itu lagi di interogasi juga, katanya ada satu lagi karyawan yang bakal di interogasi dan diduga pelaku nya."


Selin memijat kepalanya yang semakin pusing dan penuh keheranan. "Apa pelaku?!" Selin menghela nafasnya pasrah sepertinya dia harus bersiap-siap ikut di interogasi. Padahal dia yang membantu Bara tapi kenapa statusnya malah berubah jadi pelaku.


Benar saja tak lama dari itu datang dua orang polisi menghampiri Selin. "Permisi apa anda Nona Selin Sasmaya Aileen yang menyelamatkan Tuan Bara?" Tanya dua orang polisi


Syakila membulatkan matanya dan menarik Selin agar berada dibelakangnya. "Selll!!!" Pekik Syakila syok.


Selin tersenyum samar ke arah Syakila sebagai tanda jangan menghalanginya. "Mmm, dengan saya sendiri." Selin menghela nafasnya panjang kemudian bersiap-siap.


"Tolong ikut kami untuk di interogasi."


Syakila berkaca-kaca dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. "Selin," Panggil Syakila dengan tangan yang mencegah Selin.


Selin tersenyum samar kemudian melepaskan genggaman Syakila ditangannya, lalu berjalan mengikuti polisi yang menghampirinya. Para Karyawan menatap Selin dengan tatapan yang tidak menyangka, iba, tapi banyak juga yang merasa puas. Mereka heboh berbisik-bisik saat Selin berjalan melewati mereka.


*****


Terdengar helaan nafas dari sebrang sana. "Sel lo tenang aja, gue yakin di sana ada bukti CCTV kalaupun nanti lo di fitnah gue Juna sama Jeno pasti bakal bantu lo. Lo harus percaya sama kita bertiga, apalagi sama anak-anak lo yang genius itu. Mendingan sekarang lo masuk dan ceritain semua yang terjadi, jangan takut Sel. Kalaupun nanti lo yang tersudutkan, gue janji bakal nyari pengacara yang terhebat buat bantu lo." Ucap Anet berusaha menenangkan Selin.


Selin mengangguk paham, semua keberanian dan ketenangannya yang awalnya menguap mulai datang kembali. "Makasih ya Net, gue bersyukur banget bisa kenal sama lo. Gue tutup dulu ya, tolong jaga anak-anak."


Selin merapihkan penampilannya, kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan interogasi dengan penuh percaya diri. "Ingat Sel lo nggak sendirian!" Gumam Selin di dalam hati berusaha menyemangati dirinya sendiri.


******


Selin duduk dengan santai menunggu gilirannya untuk diinterogasi, ternyata percakapannya dengan Anet memberi efek yang positif bagi dirinya. Sepertinya andai saja dia tidak berbincang dulu dengan Anet saat ini pasti Selin sedang menangis terisak meratapi takdirnya yang begitu menyedihkan.


Akhirnya giliran Selin pun tiba seorang polisi dengan laptop di hadapannya menatap Selin dengan serius. "Apakah anda ada di lokasi saat kejadian itu terjadi." Tanya polisi itu penuh selidik.


"Iya." Jawab Selin mantap.

__ADS_1


"Bisa ceritakan sedikit kronologisnya."


Selin menghela nafasnya bersiap-siap berbicara. "Saat itu saya belum pulang karena ada jadwal rapat dengan beberapa rekan kerja saya, jika anda tidak percaya silahkan tanyakan ke Pak Raka orang kepercayaan Pak Bara, karena beliau sendiri yang memimpin rapatnya. Setelah rapat selesai saya bersiap-siap pulang, lalu berpapasan dengan Iyan yang membawa pengharum ruangan rasa jeruk. Katanya dia ingin memasang pengharum saat Pak Bara sedang tertidur di ruangan nya."


"Pak Sopian apakah yang di katakan saudari Selin benar?"


"Benar Pak, sebelum masuk ke ruangan Pak Bara saya berpapasan dengan Ibu Selin."


Polisi itu manggut-manggut paham kemudian beralih menatap Selin kembali. "Terus saat berpapasan anda mengabaikan Pak Sopian begitu saja? Tanpa mencegahnya?"


"Awalnya saya mengabaikan hal itu dan bergegas pulang, tapi waktu di parkiran saya baru ingat jika Pak Bara alergi Jeruk termasuk pengharum yang mengandung Jeruk. Lalu saya bergegas dan membantu Pak Bara yang sudah tidak sadarkan diri. Lalu saya menelpon Pak Raka dan kami membawa Pak Bara langsung ke rumah sakit."


"Baik, nanti saya akan mewawancarai Pak Raka jiga, tapi sekarang beliau sedang sibuk dengan pekerjaannya."


Selin mengangguk paham.


Polisi itu meletakkan tangannya di meja sebagai tumpuan kemudian menatap Selin dengan sangat menusuk. "Dari mana anda tahu jika Pak Bara alergi Jeruk?"


Deg!! Selin membeku di tempat bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia hatus mengatakan jika Bara adalah mantan suaminya, bisa-bisa seisi kantor heboh dengan fakta itu dan pastinya Selin akan merasa kurang nyaman bekerja lagi di sini. Selin meremas rok span nya dengan penuh kebingungan.


"Saudara Selin?" Panggil Polisi itu karena selin tidak kunjung menjawab.


"Sa saya.."


"Iyaa??"


"Sa.. Saya.." Keringat dingin mulai bermunculan membasahi dahi Selin yang terasa kegerahan.


"Sa saya.. Mantan.."


Braak!


*****

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2