
Selin berjalan dengan lemas ke arah tangga darurat untuk menenangkan diri, disepanjang jalan banyak sekali isak tangis yang menemani setiap langkahnya. Disini Selin bukan satu-satunya orang yang menderita dan kehilangan. Berpuluh-puluh keluarga jiga saat ini sedang terpukul dengan kepergian anggota keluarganya.
Bruk! Selin duduk di tangga dengan kepala bersandar ke dinding. "Hiks... Hiks.." Dia membenamkan wajahnya diantara lututnya yang di tekuk.
Suara dering ponsel yang sejak tadi terdengar tidak Selin angkat, saat ini yang dibutuhkannya hanya ketenangan dan usahanya menerima keadaan. Wajah Juna dan Jeno tergambar jelas di matanya, Selin tidak bisa membayangkan kepedihan kedua anaknya yang pastinya akan sangat terluka. Waktu mereka mengenal Bara terlalu singkat, bahkan Bara belum tahu jika Juna dan Jeno adalah anaknya.
"Bagaimana ini... Hik.. Hik.. Maafkan aku.." Ucap Selin terisak degan perasaan bersalah pada Bara dan kedua anaknya.
Deringan ponsel kembali terdengar, dengan lemas Selin mengangkat tangannya dan melihat siapa yang menelpon. Hatinya terhenyak saat mengetahui ternyata yang menelpon adalah kedua anaknya.
"Ndaaa..." Panggil kedua anaknya dengan suara yang lirih.
Selin membekap mulutnya dan menjauhkan ponsel agar tangisnya tidak terdengar. "Hmmm," Gumam Selin sebagai jawaban.
Selin mendengar helaan nafas panjang dari sebrang sana. "Ndaa.. Apa Om Bara ada di pesawat itu?" Ucap Jeno dengan suara parau.
Tangan Selin mengepal dengan air mata yang semakin deras membasahi wajahnya. Lidahnya berubah kelu tidak kuasa mengatakan yang sebenarnya kepada kedua anaknya. "Hiks.. Hiks.." Selin tidak menjawab hanya isak tangisnya saja yang terdengar dan sebagai bukti jika keadaan Bara tidak baik-baik saja.
"Abaaaang!!!" Pekik Jeno di sembarang sana.
Tubuh Selin semakin bergetar, dia membenamkan wajahnya sambil memeluk lutut dengan perasaan kacau dan sesak. "Argh.... Hiks... Hiks.. Heuuuu!! Heuuu!!" Mendengar suara Jeno yang histeris tangis yang sejak tadi Selin tahan pecah begitu saja.
"Maafin Nda... Heuuuuu.. Ndaa minta maaaf... Hiks.. Hiks.." Ucap Selin dengan tubuh gemetar dan terisak penuh kepedihan.
Setelah sedikit tenang, Selin kembali membuka ponselnya dan melihat pesan terakhir dari Bara. Dia tersenyum kecut saat menyadari nomor Bara masih diblokir oleh nya. Lagi-lagi air mata kembali membasahi wajahnya, dengan penuh penyesalan Selin membuka blokiran Bara dan ternyata ada sebuah pesan yang terlambat Selin baca.
"Tunggu aku, sebentar lagi aku pulang."
"Heuuuuu! Pembohong.... Hiks.. Dasar pembohong... Heu heuh heuuu.. Hiks.. Hiks.. Dasar pembohong!" Teriak Selin histeris dengan tangan yang setia meremas bajunya untuk menyalurkan kepedihan.
Tuk! Tuk! Tuk!
Seorang pria duduk di tangga tepat di hadapan Selin, tangannya terulur mengusap kepala Selin dengan lembut. Selin membeku di tempat saat merasakan pucuk kepalanya disentuh oleh seseorang. Perlahan wajahnya terangkat untuk melihat siapa yang berani mengganggunya di situasi seperti ini. Pria dihadapan Selin hanya tersenyum sendu kemudian menarik Selin ke dalam pelukannya.
"Haiii, Apa Kabar?" Sapa Pria itu tidak tahu diri.
*****
Bara duduk dengan perasaan gelisah, hatinya sudah tidak sabar untuk segera pergi. Padahal dia hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk keberangkatannya. "Kak gue mau berangkat sekarang," Celetuk Bara yang berhasil membuat bole mata Raka membulat sempurna.
"Loh, tinggal nunggu beberapa jam lagi juga kita berangkat." Ucap Raka datar dengan hati yang berubah kesal, Bagi Raka sikap Bara sangat kekanakan hanya menunggu beberapa jam lagi dia sudah banyak mengeluh.
__ADS_1
Bara menggeleng tegas kemudian menatap Raka penuh keyakinan. "Nggak ayo sekarang, gue udah nggak sabar ketemu sama Selin."
Raka menghela nafasnya panjang, memangnya Raka siapa sampai-sampai bisa merubah jadwal penerbangan seenaknya. "Kagak segampang itu bambang!"
"Nggak mau tau!" Bara semakin menatap Raka penuh permohonan.
"Heuuuhh!" Raka mendengus kesal kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Lo emang sahabat laknat yang bisa diandalkan," Ucap Bara penuh kepuasan dengan senyuman bangga di wajahnya.
"Berisik!"
******
"Kita transit?" Tanya Bara kecewa saat pesawat yang ditumpanginya tidak langsung ke Jakarta.
"Hmmm," Raka hanya bergumam dengan mata yang terpejam.
"Ko nggak bilang sih! Tau gitu mending pake pesawat yang tadi aja." Ucap Bara menyudutkan.
Raka menegakkan punggungnya kemudian menatap sinis Bara. "Brisik! Banyak komen aja kaya cewek. Tadi siapa suruh misuh-misuh pengen cepat berangkat pake pesawat apapun, padahal jauh-jauh hari gue udah nyiapin penerbangan yang terbaik."
"Lebay!"
"Makanya Wedding! Lo pasti ngerasain sensasi pengen cepet-cepet pulang!" Omel Bara tidak mah kalah.
Raka memutar bola matanya malas. "Sadar diri Bos, status lo apa. Duda!"
Bara terkekeh. "Apalah arti sebuah status!"
Raka siap-siap merapihkan bajunya. "Mau turun dulu nggak?"
"Nggak. Gue lagi galau.. Selin blokir no gue!" Ucap Bara sambil menutup wajahnya dengan lengan.
"Lebay! Gue mau turun dulu!" Ucap Raka yang hanya dibalas anggukan oleh Bara.
******
"Bar," Panggil Raka saat sudah kembali ke pesawat.
"Hmmm." Jawab Bara malas.
__ADS_1
"Liat ini!"
Dengan malas Bara membuka matanya dan memperhatikan layar ponsel milik Raka. Deg! Bara termenung seketikam
"Yang bener Ka?!" Tanya Bara tidak percaya. Raka mengangguk samar sebagai jawaban.
"Huuh!" Bara mengacak rambutnya frustasi kemudian kembali merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Mereka pasti cemas banget apalagi Selin." Gumam Bara dengan pandangan menerawang. "Udah hubungi mereka?" Sambung Bara.
"Udah.. Tapi jaringan buruk. Pesawat ini juga delay beberapa menit." Ucap Raka yang berhasil membuat Bara semakin terlihat frustasi. "Tenang Bar, lo udah lolos dari maut."
Bara terkekeh. "Gue baik-baik aja ko. Yang gue khawatirkan itu Selin, wanita itu sekarang pasti lagi nangis hebat."
"Pd banget sih jadi orang," Raka tidak habis pikir tentang kepedean Bara yang setinggi gunung everest itu.
Bara menatap nanar ke luar jendela. "Walaupun dia ketus sama gue, tapi gue yakin hatinya masih milik gue seutuhnya." Ucapnya penuh keyakinan.
******
Setelah sampai ke Bandara Bara bergegas keluar semua koper di serahkan pada Raka untuk diurus, kecuali paspor agar dia bisa keluar. Dengan langkah tergesa-gesa Bara berlarian saat tiba di Bandara. Langkahnya terhenti saat melihat namanya bersama orang lain sudah terpampang sebagai korban kecelakaan pesawat xxxx, sebelum pulang rumah ke Selin. Bara ingin memastikan dulu keberadaan wanita itu.
Bara kembali bergegas ke petugas CCTV untuk melihat seorang wanita pujaan hatinya, siapa tahu dia masih berada di Bandara. Dan benar saja, hati Bara langsung mencelos saat melihat seorang wanita yang menangis seorang diri di tangga yang sepi.
"Makasih Pak," Ucapnya pada pegawai.
Keringat mulai membasahi wajah Bara, dia berlari secepat mungkin untuk bertemu dengan Selin. Bara tidak bisa membayangkan hancur apa keadaan Selin sekarang. "Hosh! Hosh! Hosh!" Bara berhenti sejenak saat pasokan nafasnya sudah sangat menipis. Untungnya jarak antara dirinya dan Selin tidak terlalu jauh.
Tuk! Tuk! Tuk!
Bara berjalan perlahan menaiki tangga dengan tenaga yang tersisa, langkahnya terhenti dengan pandangan yang berkaca-kaca saat mendengar isak tangis Selin yang sekarang sudah bisa ia dengar. Akhirnya, Bara mempercepat langkahnya agar bisa cepat-cepat menghampiri Selin yang sedang menangis.
Tuk! Tuk! Tuk!
Bara berjalan perlahan ke arah Selin, perlahan tangannya terulur untuk mengelus pucuk kepala wanita yang sangat dicintainya. Bara menengadahkan kepalanya agar air matanya tidak ikut menangis, dia menekuk lututnya duduk lesehan di bawah Selin kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya dengan penuh kelegaan.
******
Yuu, Vote Yuuu!!
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)
__ADS_1