
Dengan perasaan yang cukup kesal kepada Bara, Selin mengikuti Syakila ke meja yang berisi banyak makanan. Pandangannya langsung jatuh pada Jus Jeruk yang terlihat menyegarkan, sangat cocok dengan suasana hatinya yang sedang terbakar.
Tanpa berpikir panjang Selin langsung menegak segelas penuh jus Jeruk itu. Selin sedikit mematung karena Jus Jeruk ini rasanya sedikit aneh, tapi berhasil membuatnya ingin minum lagi dan sejenak melupakan kekesalannya pada Bara.
Glek!
Glek!
Glek!
Tanpa Selin sadari sejak tadi banyak orang yang memperhatikan tingkahnya karena merasa kagum dan terpukau dengan kecantikannya. Terutama kaum laki-laki dengan sedikit modus mereka perlahan mendekati Selin dengan dalih ingin minum bersama.
"Ahh.. Segarnya." Ucap Selin sambil tertawa bahagia.
"Emang sesegar itu?"
Selin menoleh ke samping melihat seseorang yang tidak ia kenal menghampirinya. "Emmm, ini jus jeruk yang aneh tapi enak." Ujar Selin dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pria itu tersenyum penuh rasa tanya. "Benarkah?"
"Silahkan coba saja sendiri," Ucapnya acuh dan mulai minum kembali.
"Nama kamu siapa?"
Selin tersenyum samar kemudian menatap wajah pria itu. "Saya Selin dari departemen keuangan."
"Oh pantas saja saya jarang melihat mu," Jawab pria itu dengan senyuman menawan.
"Memangnya Kakak dari bagian apa?"
"Pemasaran."
"Oh iya.."
Berbeda dengan Selin yang sedang menikmati waktunya, saat ini Bara sedang kesal dengan tangan yang terkepal melihat Selin sedang berbincang hangat dengan salah satu karyawannya.
"Saya permisi," Pamit Bara sudah tidak tahan ingin menghampiri Selin.
Alis Bara seketika bertaut saat memperhatikan Selin yang seperti kelimpungan sambil tertawa ringan. Pandangannya langsung jatuh pada gelas yang sedang digenggam oleh Selin.
"Ya ampun, wanita itu sudah minum berapa gelas." Gumam Bara semakin mempercepat langkahnya.
"Bisakah kita bertukar nomor ponsel?"
Selin menggelengkan kepalanya pelan. "Mmm.. Nggak boleh.. Nanti kedua anak ku akan memarahiku karena memberikan nomor sembarangan."
Pria itu terkekeh merasa semakin tertarik dengan Selin. "Wah kamu sudah punya anak?"
Selin tersenyum dan berhasil membuat pria itu membeku. "Emmm.. Juna dan Jeno mereka sangat menggemaskan."
"Ekhemm.. Kalo suami?" Tanyanya penuh harap.
Senyuman di wajah Selin perlahan luntur. "Nggak.. Aku nggak punya suami." Ucapnya dengan tubuh yang hampir limbung.
__ADS_1
Pria itu dengan sigap ingin menahan tubuh Selin agar tidak jatuh ke lantai. Namun, ada yang lebih sigap darinya. Saat ini Selin sudah ada di rengkuhan Bara. Bara menghela nafas panjang merasa kesal karena Selin begitu cantik, dan hal itu mengundang pria-pria menghampirinya.
"Memangnya kalo dia nggak punya suami kamu mau apa?!" Tanya Bara dengan tatapan menusuk.
Pria tadi langsung menegakkan punggungnya. "Pak Bara?!"
Selin mengangkat pandangannya dan tersenyum samar saat melihat Bara sedang menahannya. "Baraaaaa.." Panggilnya dengan mata yang terpejam.
"Silahkan pergi, Saya yang akan menemani Selin." Perintah Bara telak.
"Ba- Baik Pak." Pria itu gelagapan dan langsung bergegas meninggalkan Selin.
Bara memejamkan matanya sejenak kemudian beralih menatap Selin yang saat ini sedang menatapnya. Dengan perlahan Bara menuntun Selin kemudian menggendongnya untuk duduk di salah satu kursi, dia membuka jas miliknya kemudian memakaikannya pada Selin.
Selin tersenyum samar dengan tangan menyentuh pipi Bara dengan satu telunjuknya. "Haii... Bara.."
"Sel, Ayo pulang." Ucap Bara tegas.
Senyuman di wajah Selin langsung pudar berubah menjadi kebencian. "Lepas! Jangan sentuh aku.. Aku nggak mau pulang."
Bara mendengus kesal kemudian menarik gelas di tangan Selin kemudian meneguklknya sampai tandas "Ishh.. Jangan minum jus jeruk aku."
"Sel.. Ini bukan jus jeruk." Ucap Bara lembut.
"Mmmm.. Masa seeh? Kamu pasti bohong kan? Aku nggak percaya sama kamu." Ucap Selin dengan penuh kekecewaan.
Bara kembali menghembuskan nafas kasar dengan penuh rasa sayang dia mengelus kepala Selin. "Huuhh.. Ayo kita pulang."
"Jangan paksa aku, aku mau nyari Syakila." Selin turun dari kursi kemudian berjalan gontai.
"Kenapa nyamperin aku? Bukannya kamu lagi sibuk sama Kania? Kamu sayang sama dia kan?" Ucap Selin lirih.
"Jangan ngelantur. Aku sayangnya cuma sama kamu."
"Hahaha.. Dasar pembohong." Ucap Selin dengan pandangan yabg berubah berkaca-kaca.
Puk! Puk! Puk! Selin memukul-mukul dada bidang Bara dengan penuh kekesalan.
"Kamu beliin dia gaun yang sama kayak aku, kamu ngejemput dia sedangkan aku nggak hiks.. Hiks.. Hiks.."
Bara pasrah saja di pukul oleh Selin, tangannya menyentuh kedua bahu Selin. "Ya ampun jangan nangis aku minta maaf, ayo kita pulang ya." Ucapnya dan langsung menggendong Selin.
Selin terlonjak kaget. "Bar turunin aku."
"Suut!! Kalo kamu gerak-gerak nanti disamperin monster!" Bisik Bara yang berhasil membuat Selij terdiam.
"Monster?! Ii takuut!"
Bara terkekeh saat Selin mengeratkan pelukannya di tubuhnya. "Jangan takut kan ada aku, kamu percaya sama aku kan?"
"Mmmm.."
Bara berjalan santai tanpa memperdulikan tatapan iri dari semua orang, dia berjalan ke arah Raka untuk berpamitan.
__ADS_1
"Ka gue duluan dulu ya.."
Pandangan Raka langsung jatuh pada Selin yabg sedang berada di gendongan Bara. "Selin kenapa?"
"Dia salah minum."
Raka mengangguk paham kemudian menelpon satpam untuk menyiapkan mobil. "Oke hati-hati."
****
Bara tersenyum hangat melihat Selin memejamkab kedua matanya. Dengan perlahan dia menurunkan Selin di kursi dekat pos satpam. "Tunggu dulu di sini ya?"
"Mmmm..."
"Pak tolong bawa mobil saya," Ucap Bara pada satpam yang sudah siap sejak tadi, dan tidak lama dari itu mobil langsung datang ke hadapan mereka.
Bara menghampiri Selin yang sedang memeluk lutunya dengan mata yang terpejam. "Sel.. Sel.. Ayo bangun kita pulang."
Perlahan mata Selin terbuka dan menatap Bara dengan tatapan tidak suka. "Lepas kamu siapa?" Ucapnya menarik tangannya.
"Aku Bara Sel.." Ucap Bara lirih.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Jahat! Jahat! Jahat! Aku benci kamu!!" Ucap Selin sambil memukul-mukul bahu Bara.
Bara termenung melihat Selin yang tiba-tiba menangis. "Iya iya kamu boleh benci aku, tapi please jangan nangis ya." Ucap Bara sambil berusaha meraih tangan Selin.
"Kamu selingkuh sama si Kania itu kan?!"
"Nggak! Nggaak. Aku sumpah nggak pernah selingkuh.. Soal dress ini kayaknya dia yang pesan sendiri.. Pokoknya aku nggak tau sumpah.." Ucap Bara pasrah.
"Jangan bohong!!!"
Bara menyentuh kedua bahu Selin dengan tatapan berusaha meyakinkan. "Nggak Baby, aku nggak bohong. Aku sayang nya cuma sama kamu, maafin kemarin aku sibuk. Maaf ya?" Ucapnya kemudian menarik Selin ke dalam pelukannya.
"Hiks.. Hiks.. Hikss.." Selin terisak dengan tubuh yabg bergetar.
"Maafin aku.." Ucap Bara penuh sesak.
Bara melerai pelukan mereka kemudian menatap Selin. "Iii gemesnyaa..." Ucapnya kemudian memeluk Selin lagi. "Aku rindu banget sama kamu.." Bisik Bara lirik.
"Bohong!!!" Jawab Selin dengan mata yang terpejam.
"Ayo tidur.." Bara mengelus punggung Selin untuk menenangkannya.
Tiba-tiba Selin menjauhkan tubuhnya dari Bara. "Hooeek!! Hoeeek!! Hoeeek!!"
"Sel..." Ucap Bara dengan tatapan tidak percaya karena sekarang bajunya sudah dipenuhi muntah Selin.
"Aku ngantuk Bar.." Ucap Selin tidak tau malu kemudian tertidur.
"Eh.. Eh.. Eh.." Bara sedikit kewalahan saat Selin tertidur begitu saja, dengan perlahan dia menyenderkan Selin pada tiang.
Bara menatap tajam Para petugas keamanan yang sedang terkikik menertawainya. "Haaah.." Bara menghela nafasnya panjang kemudian mengeluarkan ponsel untuk meminta bantuan Raka agar membawakan baju ganti.
__ADS_1
*****
Selamat menunaikan ibadah puasa :) Kalian mau buka sama apa nih?