
Raka menatap nanar bajunya yang sudah tidak berbentuk itu, dengan sedikit kesal dia membuka bajunya begitu saja. Dia sudah tidak memperdulikan pemandangan gratis yang dia berikan untuk Anet yang membuatnya kesal setengah mati. Bukannya berterimakasih dan memujinya, dengan tidak tahu malu Anet malah mengejeknya.
Dari kejauhan Anet melotot tidak percaya melihat pemandangan di hadapannya, Raka bertelanjang dada yang anehnya malah semakin terlihat tampan. "Eh, ngapain baju lo di buka! Mau pamer badan!" Teriak Anet histeris.
Raka mengabaikan suara anet yang begitu berisik kemudian dengan sekuat tenaga melemparkan kemejanya tepat di depan Anet. "Berisik! Ambil baju nya. Kita cepetan pergi!" Ucap Raka dengan kesabaran yang sudah semakin menipis.
Anet menutup hidungnya dengan satu tangan, kemudian tangan yang lain meraih baju Raka yang sudah tergeletak di atas aspal dengan menjijikan. Anet menahan nafasnya kemudian cepat-cepat berjalan ke arah bagasi untuk melemparkan bajunya. Untungnya di sana ada kantung kresek, akhirnya Anet bisa tenang karena muntahannya akan aman dan tidak mengotori mobil mahal Raka.
Raka cepat-cepat mengendong Helen kemudian membaringkannya di meja penumpang. Dengan sedikit kesal Raka kembali duduk di kursi kemudi kemudian menyemprot tubuhnya dengan parfum yang sangat banyak.
Ceklek! Dengan perlahan Anet duduk di samping Bara kemudian membuang pandangannya ke arah lain, karena tidak tahan melihat pemandangan luar biasa di sampingnya. Yang pastinya dia tidak mau menerima pandangan menusuk Raka yang sangat tajam melebihi silet si biang gosip.
"Nih pake!" Anet membuka jaketnya dan menyerahkannya pada Raka.
"Nggak liat aku lagi nyetir, bantu pakein!" Jawab Raka Sarkas. Akhirnya dengan berat hati, Anet mulai membantu memakaikan jaket Raka.
Setelah cukup nyaman, Raka menoleh ke arah Anet. "Dia siapa?"
"Temen." Jawab Anet singkat sudah malas disudutkan terus-terusan. Padahal kalo tidak ikhlas Raka tidak usah sok-sokan jadi pahlawan yang akhirnya malah membuatnya merasa bersalah.
Raka menaikan satu alisnya meminta penjelasan lebih. "Temen?"
Anet menghela nafasnya jengah sepertinya menjadi pendiam bukan dirinya banget. "Iya emang kenapa?" Anet menoleh ke arah Raka dan membalas tatapan tajamnya.
Sekarang giliran Raka yang memalingkan pandangannya. "Nggak."
"Btw makasi ya," Ucap Anet menurunkan sedikit gengsinya.
__ADS_1
Raka tersenyum samar akhirnya wanita tidak tahu diri itu berterima kasih padanya. "Hmmm." Gumam Raka sebagai jawaban.
Anet mulai merebahkan tubuhnya ke sandaran kursi senyaman mungkin. Pandangannya lurus dengan tatapan menerawang. "Dia itu temen sekaligus fotografer gue di kerjaan. Kayaknya dia mabuk kaya gini karena tau pacarnya selingkuh deh, biasanya dia anak baik. Gue aja nggak nyangka dia bisa terdampar di tempat laknat itu."
Raka mengangguk sebagai jawaban, entah kenapa telinganya selalu bersedia mendengar celotehan Anet yang kadang menimbulkan kekesalan di hatinya.
Karena menyebutkan kata Fotografer hal itu membuat Anet kembali mengingat pekerjaannya yang membuatnya pusing tujuh keliling. "Hadeeeh, mana besok ada pemotretan lagi. Lo punya kenalan fotografer nggak? Gue butuh banget buat besok." Anet menoleh ke arah Raka penuh permohonan.
Raka berpikir sejenak. "Hmm, nggak yakin sih. Mana ada fotografer yang mau di boking dadakan."
"Hmmm, gue juga tahu." Anet mengangguk setuju, mencari seorang fotografer itu tidak semudah mencari tukang bakso yang berjajar di pinggir jalan.
"Mmm," Anet berpikir sejenak menimang-nimang ucapannya. "Btw lo punya kamera nggak?. Gue mau pinjem, kayaknya besok gue yang harus turun tangan ambil gambar. Tapi kamera gue nggak di bawa, mana besok harus pagi banget. Mana sempet, tapi kalo nggak punya nggak papa sih, kayaknya lo emang nggak punya kan." Ucap Anet dengan seenak jidat menyimpulkan sendiri padahal Raka tidak di beri space untuk menjawab.
Raka menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Anet. "Belum juga di jawab udah menyimpulkan sendiri, emang lo bisa gitu ngambil gambar?" Tanya Raka sedikit mengejek.
Raka bisa melihat pandangan Anet yang terlihat sendu dan seperti banyak pikiran. "Susah nggak ngejalanin Paus Entertainment?" Tanya Raka sedikit penasaran
"Lumayan sih, tantangan banget buat gue. Tapi gue enjoy dan menikmatinya." Ucap Anet dengan senyuman menghiasi wajahnya.
Raka mangut-manggut paham. "Hmm, gitu ya syukur deh.. Nggak ada niatan kerja di tempat lain gitu?"
"Sejauh ini nggak, gue itu bukan tipe orang yang mau di suruh-suruh sama orang lain. Lo juga tau sikap gue kaya gimana, egois, kasar dan seenaknya. Mana ada bos yang mau punya karyawan kayak gue, selain itu juga gue nggak mau pura-pura baik dan jaga image. Gue itu orangnya bebas," Jawab Anet sedikit miris membayangkan kehidupannya selama ini.
"Hmmm," Gumam Raka setuju. Jika dilihat-lihat orang seperti Anet mana mau di suruh-suruh orang lain. Bisa-bisa orang yang menyuruhnya di ajak adu jotos.
Anet menoleh ke arah Raka serius. "Coba deh kali-kali kerja bebas kaya gue. Pasti ada kebahagiaan tersendiri, oh ya lo keluarga broken home bukan? Kalo misalkan iya, lo bisa gabung di paus entertainment. Selama ini gue ngumpulin anak-anak yang korban broken home atau yang bandel-bandel lainnya, terus gue latih mereka jadi model atau fotografer biar bisa cari duit sendiri, kaya Helen gitu."
__ADS_1
Raka menoleh ke arah Anet tidak percaya, rasanya hatinya sedikit terenyuh dengan cerita yang baru saja Anet ceritakan. Dia tidak menyangka wanita bar-bar seperti Anet ternyata memiliki hati mulia. "Emangnya kamu bisa ngelatih orang?" Tanya Raka sedikit mengejek.
"Kagak sih, tapi gue nyoba aja. Kalo udah mentok banget baru deh nyewa orang buat ngelatih anak-anak gue."
"Hmm, jadi bisa di bilang paus entertainment itu khusus orang-orang korban broken home gitu?" Raka mulai merasa nyaman berbincang random dengan Anet di tengah malam. Biasanya mana mau dia kepo dengan kehidupan orang.
Anet mengangguk antusias. "Hmm, bisa dibilang gitu. Pokoknya gue berusaha ngulurin tangan ke mereka-mereka yang kehilangan arah di hidupnya. Ya tapi gini resikonya, kerja sama anak bandel gue harus siap-siap kecewa dan bayar pinalti setiap saat. Karena nggak mudah ngatur mereka, apalagi kalo ada maslah kaya gini." Ucap Anet sendi.
"Dasar anak muda jaman sekarang, masalah cinta aja bisa langsung hilang kontrol." Ucap Raka yang langsung mendapat tatapan tidak setuju Anet.
"Gue paham sih kenapa lo berpikiran kaya gitu, bagi mereka yang nggak ngerasain perihnya hidup ya pasti pandangannya mirip kaya lo. Tapi asal lo tahu, bagi beberapa orang yang mendapatkan kekecewaan dari keluarganya, mendapatkan cinta dan kasih sayang dari pasangannya adalah satu-satunya harapan mereka, satu-satunya harapan mereka bisa tersenyum dan bahagia. Dan saat satu-satunya kebahagiaannya hilang, pyuuuuuus!!! Dunia seakan hancur," Ucap Anet terkekeh miris.
"Kamu juga kaya gitu?"
Anet membeku tidak percaya kemudian menoleh ke arah Raka. "Kaya gitu gimana?"
"Kamu udah punya pasangan yang menjadi dunia baru mu?" Ucap Raka yang terasa ambigu.
Anet berfikir sejenak. "Mmm, kayaknya ada."
"Syukur deh," Jawab Raka yang entah kenapa ada sedikit perasaan tidak nyaman di hatinya.
******
Jangan nilai orang lain dari covernya gais, buktinya Anet. Di tengah-tengah sikapnya yang bar-bar hatinya masih memiliki kemuliaan loh, mau bantu orang.
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)
__ADS_1