
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Bara berjalan ke arah Selin kemudian berjongkok di depannya. Pria itu mengelus rambut Selin dengan perasaan bersalah, karena lagi-lagi membuat Selin bersedih.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Selin masih menangis.
"Maafin aku," Ucap Bara kemudian membawa Selin ke dalam pelukannya yang hangat.
Selin mengangguk kemudian memeluk Bara erat, membenamkan wajahnya yang dipenuhi dengan air mata. "Heuuuuh.. Heuuuh..."
Puk! Puk! Puk!
Bara menepuk-nepuk bahu Selin dengan perasaan sedikit lega. Memang benar harusnya dia tetap menanggung semua konsekuensi perbuatannya tanpa fokus menyalahkan orang lain. Harusnya sekarang dia fokus dengan kebahagiaan si kembar saja.
******
Saat ini keadaan sudah sedikit membaik, Selin dan Bara sedang duduk di taman dengan keadaan hening. Bara menoleh ke arah Selin, saat di rasa wanita itu sudah cukup tenang Bara memulai pembicaraan.
"Kita beli es krim ya?" Tanya Bara sekaligus ajakan.
Selin menggeleng sambil mendengus sebal, sebenarnya dia masih ingin marah tapi gerakan tubuh dan hatinya tidak bisa diajak kompromi. Hatinya terlalu cepat luluh jika di dekat Bara.
Bara tersenyum gemas kemudian berjongkok di depan Selin. "Mau nya apa hmm?"
"Nggak mau apa pun," Ucap Selin masih ketus.
"Kamu tau nggak?" Tanya Bara yang berhasil membuat Selin penasaran.
"Apa?"
"Tanggal nikah Ibu sama Ayah kamu sama tau," Ucap Bara dengan tampang polosnya.
Selin sedikit melamun kemudian memukul bahu Bara kesal, "Dih apaan sih." Ucapnya sambil membuang pandangan untuk menahan senyumnya.
Bara terkekeh bangga karena sudah berhasil membuat wanita di hadapannya tertawa. "Senyumnya nggak usah di tahan-tahan kali."
"Nggak! Nggak ada yang senyum," Kedua bola mata Selin membulat sempurna tidak terima di tuduh tersenyum.
"Iya-iya.. Yu kembali ke kamar. Kasian si kembar di kamar."
__ADS_1
"Yuuu.. Tapi mau beli eskrim dulu."
"Boleeh.." Bara menggeleng-gelengkan kepalanya heran, perasaan baru beberapa menit yang lalu wanita itu berkata tidak mau apapun dengan wajah yang cemberut.
Bara bangun kemudian mulai berjalan, tapi saat menoleh ke samping ternyata Selin tidak ada. Dan benar saja wanita itu masih duduk santai di kursi sambil meregangkan kedua tangannya. "Gendong...." Rengekannya manja.
"Ya ampuun," Bara sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah ibu dua anak itu. Walaupun sedikit heran Bara tetap menuruti kemauan Selin dan berjongkok di hadapannya. "Ayo naik."
"Hehehe," Selin tertawa pelan kemudian naik ke punggung Bara.
"Mau beli rasa apa?" Tanya Bara saat mereka sudah berada di dalam toko es krim.
"Rasa Strawbery!!" Jawab Selin dengan pandangan berbinar-binar ke arah Es Krim Strawbery.
Bara langsung mengangguk dan memesan. "Hmmm.. Nanti kita ajak si kembar jalan-jalan sore yu."
"Boleh."
******
Bara berjalan di taman sambil mendorong kursi roda Juna, sedangkan Selin menggendong Jeno. Mereka duduk di taman seperti bertamasya dan mengabaikan keadaan Juna yang masih ditempeli selang infusan.
Si kembar tidur di pangkuan Selin sambil berceloteh panjang lebar, sungguh pemandangan yang dapat membuat siapapun menghangat. Saat keluarga kecil itu sedang asik bercengkrama, Bara malah dibuat gelisah dengan pikirannya sendiri.
"Daddy, are you oke?" Ucap Juna sambil menatap Bara serius.
"Oke." Jawab Bara cepat.
Bara termenung saat baru sadar barusan Juna memanggilnya dengan sebutan Daddy. "Eh.. Daddy?" Tanya Bara dengan suara yang sesak menahan haru.
"Yes.. Kenapa kamu nggak suka dipanggil Daddy."
"Oh god, i am verry happy son!" Ucap Bara kemudian memeluk si kembar dengan penuh haru.
Selin menengadahkan kepalanya karena menahan tangis, kemudian menggeser duduknya dan ikut berpelukan penuh syukur dengan ketiga pria yang sangat ia sayangi. Akhirnya, hari yang selama ini Selin nanti-nantikan datang juga.
Bara menciumi pucuk kepala Juna dan Jeno dengan pandangan yang berkaca-kaca dan tidak terasa air mata sudah membasahi kedua pipinya. "Terimakasih ya tuhan, karena sudah memberikan kesempatan yang luar biasa ini." Gumam Bara di dalam hati.
"Selin.." Panggil seseorang yang membuat momen haru itu sedikit berakhir.
"Kau!" Ucap Selin penuh amarah dengan tangan yang terkepal. "Mau apa kamu kesini! Pergi!!!" Teriak Selin dan langsung bangkit dari duduknya.
Bara mematung saat melihat kehadiran Kania yang diawasi oleh polisi. Melihat Selin yang emosi, Bara langsung meraih tangan wanita itu agar duduk kembali.
__ADS_1
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Bara dingin sambil berusaha menenangkan Selin.
"Mau apa lo kesini?! Sana pergi, gue nggak mai liat tampang nggak berdosa lo!!" Teriak Selin dengan penuh amarah.
"Bundaa.." Juna memegang tangan Selin agar tidak terlalu terbawa emosi.
Kani menangis dengan perasaan yang putus asa. "Hiks.. Hiks.. Sel aku cuma mau minta maaf sama kalian.. Hiks.."
"Dimana sih rasa malu lo, lo hampir kehilangan anak gue hah!. Gara-gara perbuatan gila lo!! Harunya kalo lo nggak suka sama gue ya sakitin gue aja, jangan anak-anak. Sekarang lo pergi dari sini!" Ucap Selin tegas dengan bahu yang di tahan oleh Bara.
"Sel.. Tolong maafin aku, aku nggak berniat mohon sama kamu buat cabut gugatan itu. Tapi aku mohon maafin aku, setiap malem aku nggak pernah bisa tenang dan nggak bisa istirahat.. Hiks.. Hiks.."
Memang benar, sejak kejadian itu Kania seperti orang gila yang setiap saat seperti dihantui oleh kejadian itu yang diputar secara terus-terusan di kepalanya. "Aku udah kayak orang gila, yang terus-terusan dihantui sama perbuatan aku sendiri. Hiks.. Juna tante minta maaf.."
"Udah Juna maafin." Jawab Juna yang berhasil membuat semua orang membisu.
"Juna..." Panggil Selin lirih.
Juna tersenyum hangat kemudian menarik Selin agar duduk kembali. "Bunda.. Aku udah maafin tante Kania, toh sekarang aku udah biasa-biasa aja."
Selin mengusap kedua pipinya yang sudah di basahi oleh air mata. "Abang nggak ngertiin perasaan Bunda yang menderita liat Abang koma?"
Jeno yang awalnya diam saja mulai angkat bicara. "Nda.. Kan kata Ndaa juga kita harus memaafkan. Toh dari kejadian ini ada hikmahnya juga. Akhirnya setelah sekian lama Daddy bisa tahu kita anaknya, Asalkan Ndaa tahu dari dulu kita nunggu kejadian ini, dan akhirnya semuanya terwujud akibat perbuatan itu."
Juna mengangguk setuju atas perkataan kembarannya. "Bunda.. Maafin tante Kania ya, biar dia bisa melewati masa hukumannya dengan tenang. Juna yakin Bunda adalah orang yang baik.."
Selin dibuat semakin sedih dan bersyukur atas kedewasaan pemikiran kedua anaknya, kemudian dengan penuh baru Selin memeluk mereka berdua. "Hiks.. Hiks.. Hiks.. Maafin Bunda ya.."
"Sel.." Panggil Kania lirih berharap Selin akan membuka sedikit hatinya.
Selin menghela nafasnya panjang, dengan penuh suport daei Bara dan kedua anaknya, dengan berat hati Selin menjawab. "Kan.. Kamu kita maafin, tapi tolong kalo kamu udah bebas jangan muncul di hadapan kami lagi."
Kania menutup mulutnya tidak percaya dengan air nata yang begitu deras. "Makasih Sel.." Setelah semuanya selesai, polisi kembali membawa Kania untuk segera pergi.
"Mari Bu, terimakasih atas kerjasamanya." Pamit para polisi.
Bara yang sejak tadi diam dan memberikan ruang sebesar-besarnya untuk Juna dan Jeno, membuatnya semakin terharu dan bersyukur. Ternyata selama ini Selin memang Ibu yang hebat, yang bisa membimbing anaknya dengan luar bisa. Bada bertekad di dalam hati untuk mencintai, melindungi, dan menyayangi mereka bertiga. Bahkan lebih besar daripada dia menyayangi dirinya sendiri.
"Kalian anak-anak Daddy yang luar biasa, kamu juga seorang Ibu yang keren Sel.." Ucap Bara kemudian saling berpelukan penuh haru.
******
Sebentar lagi tamat loh gusy 🤗ðŸ¤
__ADS_1
Dukung karya ini dengan memberikan Like, Vite, Komen dan Share ke temen-temen kalian. Agar karya ini bisa dinikmati oleh orang banyak yupp.. :)