
Anet yang sudah selesai mencari udara segar dari luar masuk kembali di dalam ruangan. Pandangannya langsung jatuh pada Selin yang tertidur pulas dengan kedua anaknya sama-sama tidur dengan paha Selin sebagai bantal mereka.
"Ko malah pada tidur sih," Ucap Anet yang langsung menarik perhatian Bara dan Eaka yang sedang serius berdiskusi.
"Net jangan dibangunin kasihan, Selin pasti kecapean dia baru tidur." Cegah Bara saat melihat Anet yang bersiap membangunkan mereka.
Anet melipat kedua tangannya di depan dada serba salah. "Tapi udah malem masa nginep di sini, terus tidurnya di kursi pasti besoknya dia badannya pegel." Anet tahu hari ini adalah hari yang cukup berat untuk Selin, dia ingin setidaknya Selin bisa tidur dengan nyaman untuk saat ini.
Bara paham dengan maksud baik Anet, tapi dia tidak tega jika harus membangunkan orang yang terlihat sangat kelelahan. "Raka tolong pindahin Selin ke kasur saya."
Selin menatap Bara tajam. "Eh jangan macam-macam ya," Peringat Anet saat Raka akan menggendong Selin.
Bara terkekeh. "Emangnya dengan kondisi aku yang kaya gini bisa apa Net, lagian kasihan apalagi dia harus nyetir," Tambah Bara berharap Anet akan satu pemikiran dengannya.
Anet memutar bola matanya malas. "Kalo kasihan makanya jaga diri baik-baik, udah tua masih aja nyusahin banyak orang."
Raka yang sejak tadi sudah jengah dengan perilsku Anet akhirnya angkat bicara. "Anet!"
"Nggak papa, santai aja Ka." Bara sudah mengenal Anet cukup lama, bahkan sebelum dia menikah dengan Selin. Jadi Bara sudah sangat paham denhan sikap Anet yang kasar padahal dia sangat peduli dan bertanggung jawab terhadap orang-orang di sekelilingnya.
"Juna sama Jeno aku bawa pulang aja, kasian besok mereka sekolah kasian mereka tidur di kursi." Akhirnya Anet menerima saran dari Bara.
"Yaudah tolong mintain kasur ke suster aja," Ujar Bara yang langsung dibalas gelengan mantap dari Anet.
"Nggak, mereka pulang aja. Toh mereka bakal tidur di mobil juga." Anet menggulung baju kemejanya lalu berjongkok untuk bersiap menggendong Jeno.
"Mau ngapain?" Raka memperhatikan gerak gerik Anet penuh tanda tanya.
"Ya mau gendong Jeno lah," Anet mendengus sebal, bisa-bisanya pria itu bertanya hal tidak penting. Jelas-jelas Anet sedang berusaha membawa Jeno ke dalam gendongannya.
"Terus Juna gimana?"
"Ya gendong lah sama lo, heran jadi laki nggak banget!"
Raka memejamkan matanya berharap stok kesabarannya masih tersisa. "Minta tolong ke apa kek, bisanya ngomel-ngomel aja jadi betina!"
"Heh apa lo bilang!"
__ADS_1
Bara terkekeh melihat adu cek-cok di hadapannya. Sudah lama rasanya tidak melihat Raka terbawa emosi saat menghadapi perempuan, biasanya dia sangat dingin dan mengabaikan keadaan sekitarnya. "Loh ko jadi berantem, udah malem nih."
Dua manusia itu langsung berhenti berkata lagi. Saat ini mereka sama-sama sibuk membawa si kembar ke dalam gendongan mereka masing-masing. Saat sudah berhasil mengendong Jeno, Anet meminta ijin untuk pulang pada Bara. Kemudian berjalan berdampingan dengan Raka ke luar Rumah Sakit.
Mereka hanya diam membisu tanpa berniat berbincang sedikitpun. Raka sedikit mendekati Anet kemudian mengambil kunci mobil yang berada di genggamannya. Refleks Anet membuka mulutnya untung mengomel, tapi tertutup kembali karena sudah lelah harus beradu cekcok dengan Raka.
Setelah mendapatkan kunci, Raka cepat-cepat membuka mobil dan memasukan Juna ke jok penumpang dengan perlahan. Setelah selesai, Raka kemudian membantu Anet meletakkan Jeno dengan nyaman.
"Mau kemana lo?" Tanya Anet saat melihat Raka masuk ke dalam kursi kemudi.
"Berisik, ayo cepetan masuk." Ucap Raka pada Anet yang masih berdiri di luar.
******
Anet sudah selesai membersihkan tubuhnya kemudian berjalan santai untuk tidur dengan si kembar. Kedua bola matanya membulat saat melihat Raka tidur di samping ranjang, Anet kira saat ini Raka sudah pergi. "Eh ko ikut tidur juga," Tanya Anet ketus.
Raka sudah malas mendengar omelan Anet, kemudian memejamkan kedua matanya. "Kamu aja yang tidur di sopa, besok saya ada rapat harus fit!"
Baiklah untuk saat ini Anet sedikit berbaik hati, apalagi dia melihat raut kelelahan dari wajah Raka begitu jelas. Untungnya kasur si kembar lumayan lebar cukup untuk menampung empat orang. Anet berjalan ke sisi kasur yang lain kemudian merebahkan tubuhnya. "Bersihin badan dikit napa!" Ucap Anet pelan, tak lama dari itu Raka bangkit dari tidurnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
*****
Perlahan tangan Selin terangkat untuk menyentuh wajah Bara. "Bagaimana keadaan mu? Sudah membaik?" Ucap Selin lirih.
Yang di tanya hanya mengangguk sebagai jawaban. Selin tersenyum samar kemudian menarik tangannya kembali. "Tolong jangan terlihat menyedihkan seperti kemarin, aku tidak suka mengkhawatirkan orang yang ku benci."
Bara hanya menutup matanya sesaat sebagai jawaban.
"Kamu harus baik-baik saja setiap saat, agar aku tidak merasa bersalah saat ingin memaki mu." Ucap Selin yang lagi-lagi hanya di balas anggukan oleh Bara.
"Terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawa ku," Akhirnya Bara angkat bicara.
Selin tersenyum kecut. "Jangan hanya berterimakasih, aku pantas mendapatkan hadiah."
Bara terkekeh samar. "Memangnya kamu mau hadiah apa? Jangan minta yang mahal-mahal ya."
"Mmm, mungkin nanti aku pikirkan dulu. Aku pasti akan meminta hadiah itu." Ucap Selin dan kedua mata yang menutup dan terbuka secara bergantian.
__ADS_1
"Baiklah, hubungi aku saat kamu sudah berhasil memikirkannya. Aku pasti akan memberikannya," Jawab Bara lirih dengan pandangan yang tidak pernah beralih dari Selin.
Selin tersenyum samar. "Benarkah? Aku sedikit ragu."
Bara hanya menghela nafasnya, tangannya terulur untuk mengelus kepala Selin. "Apakah kamu merindukan ku?"
Selin berpikir sejenak. "Entahlah, tapi terkadang wajahmu terlintas di benakku, dan jika hal itu terjadi terkadang aku ingin berada di pelukanmu."
Bara mengangguk paham. "Ternyata selama ini hanya aku yang selalu merindukan mu setiap saat. Sampai-sampai rasanya terasa sesak, dan sangat frustasi. Setelah kejadian itu, aku berusaha mencari mu untuk meminta maaf dan menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Tapi sayangnya aku tidak pernah menemukan mu," Selin tidak berkomentar apa pun menunggu Bara melanjutkan ucapannya.
"Setiap hari aku selalu berdoa agar bisa bertemu dengan mu dengan tidak sengaja. Tapi sepertinya alam pun bekerja sama agar kita tidak bertemu," Senyuman penuh kepedihan terbit di wajah Bara.
"Hari dimana kita bertemu, adalah hari terkabulnya doa-doa ku yang setiap hari ku panjatkan. Rasanya tidak percaya tuhan akan mendengarkan doa-doa ku itu. Hari itu, Aku sangat bahagia bertemu denganmu sampai rasanya nyaris gila."
"Benarkah? Aku tidak percaya," Ucap Selin dengan kedua mata yang sudah kembali terpejam.
"Kamu nggak usah percaya. Yang harus kamu lakukan adalah muncul di hadapanku setiap saat," Jawab Bara penuh harap.
Selin terkekeh penuh arti. "Aku tidak akan melakukan hal menyebalkan seperti itu."
"Baiklah, aku yang akan menemukanmu dimana pun kamu berada." Jawab Bara serius.
"Lakukanlah jika kamu bisa," Jawab Selin pelan.
"Jadi sekarang aku sudah mempunyai ijin untuk menemui mu kapan pun?"
"Hmmm, lakukanlah jika bisa."
"Baiklah, dengan senang hati."
Selin tersenyum samar kemudian mendekat ke arah Bara, tangannya terulur untuk memeluk Bara penuh kerinduan. Tidak harus menunggu lama, Bara membalas pelukan Selin tak kalah erat.
"Walaupun aku tahu ini hanya mimpi, setidaknya aku bisa berbahagia lewat khayalanku sendiri." Gumam Selin di dalam hati dengan air mata yang mengalir dari matanya.
*****
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)
__ADS_1