Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 77 : Deep Talk


__ADS_3

Raka berjalan menghampiri Selin yang sedang menatapnya kaget. "Udah pesan Ojek? Atau mau naik taksi?" Ucapnya sambil duduk di samping Selin.


"Mau istirahat dulu aja Pak," Jawab Selin sedikit terkekeh.


Raka ikut terkekeh, tidak bosan-bosannya wanita itu memanggilnya dengan sebutan Bapak. Padahal entah sidah berapa kali Raka mengingatkannya untuk memanggilnya Raka saja, tanpa embel-embel apapun. Tapi sepertinya hal itu sangat susah dilakukan oleh Selin, mungkin wajah judes saat di kantor selalu membayangi-bayanginya.


"Jangan panggil Bapak, atau Pak. Kan kata saya juga panggilnya Raka aja."


Selin memukul pelan dahinya karena terus-terusan lupa dan Refleks memanggil Raka dengan sebutan Bapak. "Hehehe.. Iya-iya."


"Kalo diliat-liat kamu lebih sopan sama saya ketimbang sama Pak Bara, padahal jabatan dia lebih tinggi loh."


"Hehehe, nggak tau bawaannya canggung aja." Selin tertawa jika dipikir-pikir benar juga, malahan sikapnya ke Bara sering tidak sopan. Untung saja Bara baik hati sehingga sampai saat ini Selin belum ditendang dari perusahaan.


"Padahal aku udah sering main ke rumah kamu loh Sel," Ucap Raka mengingatkan jika hubungan mereka harusnya sudah bisa santai.


"Mmmm, nanti mau aku coba. Soalnya Pak Raka, eh kamu berwibawa banget sama kiler soal pekerjaan."


"Ahahahaha," Raka tidak menahan tawanya, bukannya tersinggung Raka malah ingin tertawa.


Selin sedikit merasa aneh saat melihat wajah Raka yang biasanya kaku berubah jadi ceria. "Eh.. Ternyata bisa senyum juga ya." Gumam Selin aneh.


"Iya kenapa?" Ucap Raka memastikan ucapan Selin.


"Nggak."


Raka mengalihkan pandangannya ke depan. "Kayaknya aku berwibawa di mata kamu aja Sel, di mata orang lain apalagi Anet aku biasa aja. Malah bocah itu nggak sopan banget sama aku."


"Ahahaha, tolong dimaklum ya. Sebenernya dia baik banget orangnya," Selin tahu sekali bagaimana kurang ajarnya Anet pada Raka.


Raka mengangguk setuju. "Iya sih kayaknya, entah kenapa aku juga ngerasain ketulusan hatinya."


"Dia itu baik banget Pak, dulu keluarganya broken home. Pertama kali aku ketemu dia, waktu dia mau loncat dari roof top kampus." Mungkin belum diceritakan bagaimana pertemuan Anet dan Selin, ya begitulah mereka dipertemukan dalam keadaan yang kurang baik.


Raka langsung tertegun dan beralih menatap Selin. "Bunuh diri?" Raka tidak menyangka jika Anet yang terlihat keras pernah ingin bunuh diri.


"Mmmm.. Keluarganya sibuk sama kerja, dia cari perhatian gitu. Tapi untungnya aku datang," Ucapnya dengan tatapan nanar.


Raka mengangguk paham dengan tatapan menerawang. "Hmmm."

__ADS_1


"Tapi sekarang dia udah jauh lebih baik, bahkan dia selalu membantu orang-orang yang dulu ada diposisi sama kaya dia, dia cariin pekerjaan, dan bersikap seolah-olah jadi keluarga mereka."


"Hmm, ternyata bocah itu cukup dewasa juga." Ucap Raka sedikit bangga.


Selin menatap Raka dengan tatapan serius. "Anet bagi ku udah kaya saudara sendiri, jadi tolong jaga dia ya."


Raka tertegun. "Eh maksudnya."


"Nggak usah ngelak, aku tau ko perasaan Pak Raka ke Anet, pasti ada perasaan khusu kan?" Ucap Selin penuh selidik.


Raka merenung sejenak. "Mmm.. Entahlah.. Mungkin karena aku nggak pernah dikasarin sama direndahin sama orang aja, dan dia orang yang pertama yang kurang ajar sama aku. Jadinya gitu."


Selin tersenyum lebar, "Aku setuju kalo Anet sama Pak Raka," Ucap Selin semangat.


"Kita cuma akrab biasa aja ko Sel," Raka terkekeh pelan.


"Bulan depan dia mau pindah ke luar kota," Ucap Selin yang berhasil membuat Raka tertegun.


Raka bersandar dengan tangan yang tertaut. "Oh ya?" Ucap Raka berusaha menetralkan mimik wajahnya.


Selin ikut menghela nafas panjang, rasanya tidak rela jika harus berjauhan dengan Anet. Bagaimanapun juga Anet sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri. "Hmmm. Dia butuh tempat baru buat lupain mantannya."


"Semoga dia berhasil." Gumam Raka dengan perasaan tidak rela, pandangan Raka jatuh pada coklat yang sedang digenggam Selin. "Itu coklat dari Bara ya?"


"Ternyata dia bisa manis juga," Ucap Raka sedikit terkekeh.


"Dia emang manis banget orangnya," Ada secercah kerinduan saat ia memikirkan Bara.


"Dia manisnya sama kamu aja Sel, depan orang lain dia dingin banget."


Selin menegakkan punggungnya. "Masa sih?"


"Beneran. Dia itu orang gila yang pernah aku kenal, dan sebab itu aku rela kerja sama dia." Ucap Raka dengan tatapan menerawang.


Selin semakin dibuat kebingungan. "Gila?"


"Dia itu gila kerja, dulu waktu aku pertamakali ketemu sama dia, nggak hari tanpa kerja. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala liat bocah itu, awalnya aku sangka dia gila kerja sama gila harta... Ternyata dia gila karena kamu Sel."


"Karena aku?"

__ADS_1


Raka menggeser duduknya agar menghadap Selin. "Hmm.. Kamu tau nggak kenapa dia gila kerja kaya gitu. Dia punya impian punya banyak perusahaan dengan harapan suatu saat kamu bakalan ngelamar kerja disana, dia gila kerja supaya waktu ketemu sama kamu dia udah sukses dan bisa bahagiaain kamu, dia gila kerja supaya punya kekuatan buat ngelindungin kamu Sel."


"Huuuuuh," Selin sedikit tertegun dengan pandangan yang sedikit berkaca-kaca. "Benarkah?" Gumamnya di dalam hati. Apakah hidup Bara juga selama ini menderita?.


"Nggak kepikiran kan? Dan ternyata impian bocah itu tercapai juga, asalkan kamu tau. Waktu dia pertama kali ketemu lagi sama kamu, dia minum sepanjang malam karena ngerasa gundah."


Genggaman Selin di coklat itu semakin mengerat, rasanya lidahnya terlalu kelu untuk ikut berkomentar.


"Gundah buat ngejar kamu lagi, atau merelakan kamu karena kamu sudah punya keluarga kecil dan berhak bahagia." Ucap Raka yang berhasil membuat hati Selin semakin sesak.


"Kalo selama ini kamu nganggap cuma hidup kamu aja yang tersiksa karena perceraian itu, kamu salah. Dia juga sama-sama menderita Sel, aku bisa liat hampir setiap hati dia menyesali keputusan bodohnya itu. Aku berharap kamu memaklumi dia, karena kepintarannya berada di bawah rata-rata." Ucap Raka yang berhasil membuat Selin tertawa.


"Ahahahaha," Selin tertawa dengan air mata yang sedikit menetes. Dia kebingungan harus bangga atau sedih mendengar fakta yang baru saja Raka ucapkan.


"Bener kan? Karena cuma orang bodoh yang pura-pura selingkuh buat melepaskan orang yang dicintainya." Selin mengangguk dengan senyuman kecut.


"Sel.." Panggil Raka lirih.


"Hmmm.."


"Mau kapan kamu jujur sama Bara kalo Juna dan Jeno anak dia," Ucap Raka yang berhasil membuat Selin tercekat.


"Nggak usah kaget, sejak awal aku udah tau."


Selin menatap Raka dengan tatapan kaget.


"Sel.. Si Bara itu terlalu bodoh buat menyadari kalo Juna sama Jeno anaknya, aku yakin dia pasti sangat bahagia kalo tau sikembar adalah anaknya." Raka menghela nafas panjang kemudian melanjutkan sedangkan Selin hanya menunduk pilu. "Berhenti untuk saling menyakiti Sel, kalian berhak bahagia. Si bodoh juga berhak bahagia."


Selin mengangguk haru, ternyata dia masih dipertemukan dengan orang baik seperti Rkaa. "Mmm.. Aku boleh nggak manggilnya Kak Raka?"


Raka terkekeh. "Mmmm, not bad."


"Makasih Kak.." Ucap Selin dengan senyuman tulus.


"Sama-sama adik Selin."


******


Saya Author yang so sibuk mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri kepada Readers tercinta.

__ADS_1


تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ وَجْعَلْنَا اللَّهُ وَ اِيَّكُمْ مِنَالْعَائِدِين وَالْفَائِزِين


Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, wa ja’alanallahu wa iyyakum minal aidzin wal faidzin..🙏🏻😇✨


__ADS_2