Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 14 : Mobil Mogok


__ADS_3

"Ngehh.." Rasa pegal yang menjulur di tubuhnya mengusik tidur lelap Selin. Perlahan kedua matanya terbuka, terlihat wajah Bara yang sedang tertidur begitu lelap tidak terlalu jauh dari Selin.


Selin bangun dari tidur nya dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah Bara, perlahan tangannya terulur untuk menyentuh wajah Bara yang begitu damai. Selin tersentak saat kesadarannya sudah kembali, untung saja tangannya belum sampai menyentuh wajah Bara.


Grep. Sebelum Selin menarik tangannya lebih dulu tangannya di genggam hangat oleh Bara. Perlahan kedua bola mata Bara terbuka, dia tersenyum hangat lalu dengan perlahan menarik Selin ke dalam pelukannya. Bara memeluk Selin penuh kerinduan rasanya hatinya begitu tenang dan bahagia.


"Aku sangat merindukan mu," Gumam Bara parau.


Bruk! Bara tersentak saat tubuhnya membentur lantai. Kedua bola matanya terbuka mencari-cari keberadaan Selin yang sudah tidak ada. Dia tersenyum kecut saat menyadari jika kebahagiaannya adalah sebuah mimpi. Bara menghela nafasnya berat lalu beranjak dari tempatnya untuk pulang.


******


"Sel kamu kenapa kaya ngantuk banget gitu," Ucap Syakila keheranan melihat wajah Selin tidak segar seperti biasa.


"Mmm," Selin bingung harus menjawab apa karena tidak mungkin dia menceritakan tentang pekerjaan investigasi rahasianya.


Pluk! Tanpa permisi seseorang menaruh segelas kopi di meja Selin. "Kopi bisa menahan kantuk," Ucap Wira yang berhasil membuat Selin mendelik sebal.


Para karyawan saling berbisik melihat Wira menghampiri meja kerja Selin. "Terimakasih," Ucap Selin singkat agar Wira cepat-cepat pergi dari mejanya. Tanpa Selin sadari dari kejauhan ada karyawan yang mengambil foto mereka.


Wira tersenyum kemenangan tangannya terulur untuk menyentuh kepala Selin tapi untungnya Selin mengelak. "Tolong pergi saya sedang sibuk," Ucap Selin dengan tangan yang sudah terkepal erat.


Akhirnya Wira pergi juga, hembusan nafas penuh kekesalan keluar dari mulut Selin. Dia beralih menatap Syakila yang sedang bengong di sampingnya. "Hei!" Ucap Selin pada Syakila yang sejak tadi membeku di tempat.


Syakila tersentak dari lamunannya kemudian menatap Selin penuh antusias. "Eh,, Pak Wira deketin kamu? Wah harus hati-hati kamu Lin! Dia itu pemain wanita, setiap ada karyawan baru yang cantik pasti langsung di deketin!" Ucap Syakila heboh.


Selin menghela nafasnya frustasi. "Aku juga bingung harus gimana, dia ganggu terus. Padahal sikap aku udah jelas-jelas nolak dia!" Ucap Selin penuh kekesalan.


Tring! Suara notifikasi ponsel Selin menghentikan percakapan mereka. Selin meraih ponselnya yang tergeletak di meja, kedua bola matanya berbinar bahagia saat melihat group Investigasinya. Yang menginformasikan jika malam ini tidak ada kumpulan.

__ADS_1


"Ada apa bahagia banget kaya dapet notif gajih aja!" Syakila ikut tersenyum melihat wajah Selin yang langsung berbinar bahagia.


Selin terkekeh mendengar ucapan Syakila. "Ada deh, jangan kepo!" Bisik Selin yang berhasil mengundang gelak tawa mereka berdua. "Hahahaha."


******


Selin berjalan semangat ke arah parkiran mobil, senyuman tidak luntur dari wajah cantiknya. Karena setelah beberapa hari pulang larut terus karena sibuk dengan pekerjaan rahasia, akhirnya setelah hampir satu minggu ini dia bisa pulang cepat.


Tanpa sengaja Selin berpapasan dengan Bara yang sudah lama tidak ia lihat, terakhir kali Seli melihat Bara waktu malam pertama tugas rahasianya. Setelah malam itu Selin tidak pernah melihat wajah Bara di kantor, mungkin Bara sedang sibuk dengan perusahaan yang lain.


Selin membungkuk sebagai penghormatan pada atasan, tapi Bara sama sekali tidak menoleh ke arah Selin dan sibuk mengobrol dengan Kania dengan serius. Entah kenapa melihat sikap Bara yang sepertinya mengabaikannya membuat hati selin kesal. Padahal harusnya dia sangat bahagia, karena dia yang meminta Bara untuk bersikap tidak mengenalinya.


Masa bodoh dengan sikap Bara yang mengabaikannya, Selin lebih baik fokus dengan acara pulang nya. Dia sengaja tidak memberitahu si kembar untuk memberikan suprise kepada mereka. Dengan semangat dia menekan pedal gas untuk mempercepat kecepatan mobilnya.


Saat sedang asik-asiknya mengendarai mobil sambil mendengarkan musik. Drek! Tiba-tiba mobil yang ditumpanginya mendadak berhenti. "Loh," Selin panik dan kembali menekan pedal gasnya.


"Huuuh," Selin menghela nafasnya panjang dengan malas dia membuka pintu untuk mengecek apa yang terjadi. Blam! Selin menatap pintu mobil dengan penuh emosi.


Selin menggulung lengan kemejanya sampai siku dan bersiap membuka mesin mobil. "Mmmmmm Ngeuuuuh!" Selin mengerahkan seluruh tenaga nya.


Kepulan asap hitam keluar saat Selin berhasil membukanya. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Selin terbatuk batu karena asap yang tidak sengaja menghirup asap yang begitu pekat. Dia berjongkok dengan kaki yang lemas bingung harus melakukan apa, akhirnya ide cemerlang keluar dari otak seksinya, dengan cepat tangannya terulur untuk meraih ponselnya berharap akan mendapat bantuan.


Tit! Tit! Tit! Kekesalannya semakin bertambah saat mengetahui ponselnya kehabisan baterai kemudian mati. Kedua bola mata Selin langsung berubah berkaca-kaca dia sudah bingung harus melakukan apa. Hari sudah semakin gelap, tempat mobilnya mogok jauh dari perkampungan di tambah suasana jalanan yang mendadak sepi.


"Ya ampun aku gimana nanti pulang," Gumam Selin penuh keputusasaan.


Selin berjalan lemas masuk kembali ke dalam mobilnya, kedua tangannya dilipat di atas setir dengan kepala yang dibenamkan diantara lengannya. "Apa yang harus aku lakukan," Ulang Selin lirih. Kedua mata Selin perlahan terpejam dan dengan cepat membawanya ke alam mimpi.


*****

__ADS_1


Tuk! Tuk! Tuk! Selin tersentak saat tiba-tiba kaca mobilnya ada yang mengetuk dari luar.


Selin mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya"Bara," Panggilnya lirih kemudian cepat-cepat menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa?" Tanya Bara dingin.


"Mobilnya mogok," Jawab Selin habis-habisan menahan tangisnya.


Bara menghela napasnya dengan raut yang tidak bisa di baca. Kemudian berjalan tanpa permisi untuk memperbaiki mobil Selin. Melihat Bara yang bersiap-siap akan membuka mobilnya Selin cepat-cepat keluar dari mobil untuk membantu Bara.


"Pegang ini," Bara memberikan jas yang di pakainya pada Selin. Lalu membuka dua kancing kemejanya dengan lengan kemeja yang sudah di gulung sampai siku.


Selin hanya terdiam dan mengikuti semua yang Bara ucapkan. Selin memejamkan matanya penuh rasa syukur karena tuhan menitipkan Bara untuk membantunya. Dia menyesali perkataannya beberapa hari yang lalu, dia melarang Bara untuk membantunya padahal saat ini pun Selin masih membutuhkan pertolongan Bara.


Bara menghentikan pekerjaannya dan menoleh ke arah Selin yang sepertinya sedang melamun. "Kenapa nggak nelpon bengkel?" Ucap Bara kesal sekaligus khawatir.


"Hp nya abis baterai," Jawab Selin dengan kepala yang tertunduk merasa bersalah.


Bara menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Selin lekat-lekat. "Kenapa nggak bawa power bank?! Gimana kalo kejadian kaya gini terulang lagi dan nggak ada yang bantu kamu? Ini jakarta Sel! Banyak orang jahat di luar sana! Kalo kamu nggak mau di bantu sama aku, seenggaknya urus hidup kamu dengan baik. Jangan buat aku khawatir," Ucap Bara penuh kekesalan bercampur khawatir.


Bara tersentak dengan perkataannya sendiri sepertinya dia lepas kontrol dan mengomel bebas kepada Selin, Bara membuang pandangan lalu kembali sibuk dengan aktivitasnya. Selin membeku ditempatnya dia tidak menyangka jika Bara akan memarahinya dan berbicara seperti itu, entah kenapa bukannya marah hati Selin malah menghangat.


"Masuklah diluar dingin," Perintah Bara tegas tidak ada penolakan.


"Mm, Bapak bawa ponsel kan. Bapak nggak usah susah-susah memperbaikinya sendiri panggil bengkel aja," Ucap Selin memberanikan diri, sebenarnya di dalam hati ia ingin tertawa karena memanggil Bara dengan sebutan Bapak.


Mendengar ucapan Selin Bara langsung mengeluarkan tatapan tajamnya. "Masuk!" Perintahnya tegas lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Selin menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa mengering, mau tidak mau dia harus mendengarkan perintah Bara dan kembali masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2