
Bara memarkirkan mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan. Dia sengaja tidak mampir ke kafe untuk membeli Es Krim, tapi lebih memilih ke mall agar lebih lama menghabiskan waktu bersama Juna dan Jeno. Bara cepat-cepat keluar kemudian membukakan pintu untuk si kembar.
"Om ganti baju?" Tanya Jeno yang ternyata memperhatikan baju Bara yang awalnya menggunakan Jas sudah berganti menjadi kaus putih, tapi masih menggunakan celana bawahan jas.
"Heheh iya, biar nyaman. Kan kita ke sini mau senang-senang. Tas nya simpan aja di mobil ya." Perintah Bara pada si kembar.
"Oke Om." Juna dan Jeno mengangguk setuju.
Mereka berjalan berdampingan dengan tangan saling bertautan, senyuman tidak pernah luntur dari wajah mereka bertiga. Terkadang mereka tertawa dengan hal-hal kecil yang di ceritakan oleh Jeno yang sejak tadi tidak berhenti berbicara. "Parah banget kan Om?" Tanya Jeno saat cerita panjang lebar nya sudah selesai.
"Iya parah banget," Jawab Bara ramah. "Eh, kita beli kacamata kembaran yu?" Bara menghentikan langkahnya di depan toko kacamata yang menarik perhatiannya.
"Baaang?" Jeno menoleh ke arah Juna meminta persetujuan.
"Ayo," Juna mengangguk setuju untuk memberikan persetujuan.
"Yeeeeey!" Pekik Jeno kegirangan kemudian menarik Bara dan Juna agar segera masuk ke dalam toko.
Jeno dengan iseng mengambil kaca mata bercorak macam yang kebesaran di wajahnya. "Om gimana bagus ga?"
Bara terkekeh namun enggan melarang Jeno. "Waw ganteng banget!! Aura kamu terpancar ke mana-mana!" Jawab Bara sambil menahan senyumnya.
Juna yang sejak tadi menghilang entah kemana datang kembali dengan empat kaca mata di kedua tangannya. "Aku pilih ini untuk kita berempat, kalo nggak mau yang ini aku nggak mau ikut seragaman!" Ucap Juna telak.
Bara dan Jeno saling bertatapan dengan senyuman yang mereka tahan, mereka tidak kuat melihat raut Juna yang begitu datar dan minim ekspresi. "Selera kamu bagus juga nak," Ucap Bara gemas kemudian mengacak-acak rambut Juna gemas.
Juna mematung sejenak perlahan kepalanya terangkat untuk memperhatikan wajah Bara dengan pandangan sulit di artikan. "Ada apa?" Tanya Bara keheranan karena tatapan penuh arti Juna.
Juna mengangkat bahu acuh kemudian berjalan ke arah kasir. "Abang kamu kenapa?" Tanya Bara penasaran karena menyadari perubahan raut Juna.
"Mungkin Abang lapar Om," Jawab Jeno asal.
Bara mengangguk polis. "Mm, bisa jadi. Ayo Eno kita cepet-cepet cari toko Es Krim takut abang kamu tambah bete."
"Oke Om."
*****
"Om udah bilang belum sama Bunda, kalo Om yang jemput kita." Tanya Juna saat mereka sedang menikmati Es Krim strawbery.
Bara menautkan kedua alisnya berusaha berpikir. "Loh kan Bunda kalian juga udah tahu kalo Om kena hukuman harus jemput kalian."
__ADS_1
Juna mendengus pelan. "Buruan Om bilang ke Bunda, Om nggak tahu ya kalo Bunda itu pelupa." Ucapnya penuh nasihat.
"Hahaha, masa sih?. Aduh tadi Om nggak sempet chat Bunda kalian. Tapi kalo sama Anet udah bilang." Bara cepat-cepat mengeluarkan ponselnyam
"Hisssh, kacau-kacau!" Jeno menggeleng-gelengkan kepalanya "Cepetan Om telpon Nda, takut dia tambah marah."
"Yaudah kita foto aja bertiga, terus Om kirim ke Bunda gimana?"
"Boleh," Jawab Juna dan Jeno menyetujui ide Bara.
Mereka bertiga mengangkat satu tangan membentuk Vis. "Satu, dua, tiga!" Ucap Bara memberi aba-aba.
"Cheers!!"
*****
Ting!
Selin menghentikan pekerjaannya kemudian menoleh ke arah ponselnya yang berbunyi. Saat membuka ponsel sontak kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat foto yang dikirimkan Bara padanya. Sebuah Foto yang menampilkan tiga pria tampan dengan kacamata hitam bertengger di hidung mereka yang mancung dengan tangan mengangkat Es Krim tinggi-tinggi.
"Loh kenapa Bara bisa sama mereka," Gumam Selin tidak percaya. Refleks Selin menutup mulutnya kaget, "Jangan bilang Bara ngosongin jadwalnya untuk menjemput kedua anaknya."
"Mau kemana?" Tanya Syakila saat Selin beranjak dari tempat duduknya.
Selin kembali membuka ponselnya kemudian menekan tombol Video Call pada Bara.
Di tempat lain Bara terkekeh bahagia saat melihat ponselnya menampilkan panggilan Video Call Selin yang belum dia angkat. "Bunda kalian menelpon!" Ucap Bara sambil memperlihatkan ponselnya dengan bangga ke arah si kembar.
Jeno tepuk tangan penuh antusias kemudian mengusap layar ponsel Bara untuk mengangkat panggilan Selin. Bara mengangkat ponselnya ke arah depan agar mereka bertiga bisa melihat wajah Selin, saat panggilannya sudah tersambung terlihat wajah kesal Selin dari sebrang sana.
"Ko kalian bisa sama Om Bara, kenapa nggak bilang dulu sama Nda?" Omel Selin tanpa basa basi.
"Dari tadi Eno wa Nda tapi nggak di bales-bales, coba buka aja kalo nggak percaya." Jawab Jeno tidak terima disalahkan.
Bara ikut nimbrung angkat bicara. "Bukannya kamu udah tahu ya, kalo aku kalah dan harus jemput mereka selama satu minggu."
Terlihat dari sebrang sana Selin sedang merutuki dirinya sendiri. "Hmmm, tapi tetep aja kan aku kira cuma bercanda. Terus tante Anet kemana?"
"Tante Anet lagi sakit Nda.." Jawab Jeno merasa sedikit kesal karena artinya Selin sama sekali tidak membuka WhatsApp group mereka.
"Hmmm," Selin bergumam dengan wajahnya yang terlihat kusutm
__ADS_1
"Bunda kenapa capek banget ya kerjanya?" Tanya Juna tidak tega melihat raut kelelahan Bundanya.
"Iya Nda capek, gara-gara Bos Nda menghilang entah kemana!"
Bara terkekeh menerima sindiran Selin yang jelas-jelas untuknya. "Yasudah kamu fokus aja kerja biar Bos mu yang menyebalkan itu cepat kaya."
Selin berdecak sebal kemudian beralih pada dua anak tersayang nya. "Kalian jangan nakal ya, jangan susahin Om Bara. Eh susahin aja, sampai-sampai dia kewalahan dan melambaikan tangan ke kamera."
"Hahaha, siap Nda."
"Nda tutup dulu ya, Babay."
******
Selin keluar dari mobil, setibanya di halaman depan terdengar gelak tawa dari arah halaman belakang. Apa mungkin jam segini Bara masih belum pulang? Karena tidak ingin di buat mati penasaran akhirnya dia bergegas ke halaman belakang untuk melihat penyebab kedua anaknya tertawa begitu kencang.
Selin mematung di tempat saat melihat raut penuh kebahagiaan Juna dan Jeno yang sedang diajarkan naik sepeda oleh Bara. Rasanya sudah lama dia tidak bisa melihat raut kebahagiaan kedua anaknya itu, rasa bersalah mulai memenuhi benak Selin karena akhir-akhir ini dia sangat jarang menghabiskan waktu bersama kedua anaknya. Dia terlalu sibuk dengan hidupnya sendiri, dia terlalu sibuk ingin di pahami oleh orang lain, sampai lupa jika di lain sisi ada kedua anaknya yang sedang menahan semua rasa kesepian mereka dan berusaha keras menjadi orang dewasa di umur mereka yang sangat muda.
Selin menengadah ke langit untuk menahan air mata penyesalannya agar tidak menetes. "Ndaaa!!!" Teriak Jeno penuh kegirangan kemudian mengayuh sepeda ke arah Selin dengan kecepatan tinggi.
Selin tersenyum hangat kemudian melambaikan tangan ke arah Jeno penuh kehangatan. Juna tersentak saat menyadari jika Jeno tidak bisa mengerem sepedanya sedangkan sepeda itu mengarah tepat ke arah Selin. "Bunda awaaaaaaas!!!" Teriak Juna sambil berlari kencang ke arah Selin.
"Ndaaaa!!!" Pekik Jeno panik karena tidak bisa memberhentikan sepeda nya.
Sedangkan yang di panggil sejak tadi hanya tersenyum hangat dengan pikiran yang melayang tanpa memperhatikan keadaan sekitar yang membahayakan dirinya.
Bruuuukk!!!
Kraaasaak!!
Selin tersentak saat merasakan tubuhnya berguling di tanah, kedua matanya terpejam dan enggan untuk terbuka. "Hosh, hosh, hosh." Tubuh selin bergetar dengan nafas yang berhembus kasar.
"Are you okay?" Tanya seseorang dengan nafas tersenggal-senggal dengan tangan merengkuh Selin erat di atas rumput.
Selin belum membuka matanya, tangan masih setia memeras baju Bara dengan sangat erat bercampur gemetar karena syok. Puk! Puk! Puk! Bara menepuk-nepuk bahu Selin lembut dengan senyuman hangat menghiasi wajahnya.
"Its okay, kamu baik-baik saja." Ucap Bara berusaha memberikan ketenangan.
"Hari yang sempurna," Gumam Bara sambil menatap langit Sore yang begitu menyejukkan, dengan orang-orang yang sangat ia cintai berada di samping dan di dalam pelukannya.
******
__ADS_1
Aduh Eno, Bunda nya jangan di tabrak dong kasian. Hehehe.
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)