
Setelah sekitar hampir dua jam akhirnya Selin bisa di tenangkan. Bara tidak menyangka Selin akan menangis selama itu sampai-sampai matanya bengkak di tambah wajah yang lebam, pokoknya wajah Selin hampir mirip cilok yang di jual di depan gang kesukaan Juna dan Jeno. Mungkin efek jarang menangis, jadinya sekali menangis dia tidak bisa berhenti.
Bara menggaruk tengkuknya tak gatal, sedikit menyesal karena sudah menjahili Selin sehingga membuatnya menangis hebat.
"Aku lapar," Ucap Selin lirih.
Bara mengangguk paham dan bersiap untuk menggendong Selin menuju ruangannya. "Iya ayo kita pesan makanan tapi obati dulu luka mu."
"Oke."
Bara meneliti penampilan Selin, yang untungnya memakai celana span panjang dan baju kemeja berlengan panjang, jadi dia tidak perlu khawatir tubuh Selin akan terekspos bebas saat berada di gendongannya.
"Ayo naik!" Ucap Bara sambil berjongkok di depan Selin.
"Hati-hati jangan sampai jatuh," Perlahan Selin naik ke punggung Bara sedikit tidak percaya.
Bara terkekeh merasa di hina oleh Selin, padahal tubuhnya sangat bugar. Menggendong Selin tidak akan membuatkan kelimpungan sedikit pun. "Jangan remehkan kekuatan ku," Ucap Bara sedikit kesal.
Selin berada di gendongan Bara dengan nyaman, seperti kola yang bergelayutan pada induknya. "Kita mau kemana?" Bisik Selin saat Bara menuju lantai atas bukannya dasar.
"Ke ruangan ku," Ucapnya singkat.
"Tapi aku lapar," Ucap Selin sambil mengerutkan dahinya kecewa.
"Iya nanti kita pesan."
Selin menghela nafas kecewa. "Nggak mau, aku mau makan angkringan."
Bara melirik sejenak ke arah Selin, memang wajah memelas Selin selalu berhasil meluluhkan hatinya. "Hmm, iya kita obati dulu lukamu. Setelah itu makan kemudian ke rumah sakit."
"Aku tidak mau ke rumah sakit," Ucapnya dengan menggeleng-gelengkan kepala.
"Hmmm." Bara bergumam singkat, lihat saja walaupun tanpa persetujuan Selin, Bara akan tetap membawanya ke Rumah Sakit.
******
"Tahan yaa," Bara selonjoran di atas lantai dengan Selin yang duduk di kursi berhadapan dengannya.
Selin mengangguk singkat dengan perasaan was-was, saat ini Bara sedang memijat kakinya yang keseleo. Selin cukup yakin dengan kemampuan Bara dalam mengobati tulang yang terkilir, karena pengalamannya di dunia Karate membuatnya familiar dengan cedera tulang dan bisa mengobatinya.
Selin meremas ujung bajunya menahan rasa sakit saat Bara meluruskan kakinya walaupun dengan perlahan. Setelah selesai, Bara mengoleskan salep kemudian membalut kaki Selin dengan telaten.
"Terimakasih," Ucap Selin sambil memperhatikan Bara yang sedang serius.
"Hmmm," Bara bergumam sambil manggut-manggut sebagai jawaban.
Bara menatap bangga kaki Selin yang sudah ia obati. Baginya mengobati orang yang terkilir adalah sebuah karya yang harus diabadikan. Bara merogoh saku bajunya kemudian memfoto kaki Selin yang sudah terbalut dengan rapih. Selin hanya terkekeh melihat kebiasaan Bara yang ternyata masih belum berubah. "Mau pesan apa?" Tanya Bara saat membuka aplikasi pesan makanan.
__ADS_1
"Mau makan langsung di pinggir jalan," Selin mendengus sebal karena Bara tidak paham juga.
Bara menghela nafas berat kemudian menatap Selin dengan serius. "Dengan keadaan seperti ini? Kakimu terkilir Selin!"
"Iya.. Memangnya kenapa? Penampilanku yang seperti ini tidak membuatku malu. Lagi pula aku nggak akan jalan sendiri, Kan ada kamu yang gendong aku," Ucapnya santai.
"Hmm, baiklah aku ganti baju dulu." Akhirnya Bara hanya bisa mengalah, kemudian berlalu ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya agar terasa nyaman. Karena tidak mungkin dia berjalan sambil menggendong bayi besar dengan memakai jas dan kemeja.
******
Bara keluar dengan pakaian yang sudah siap, dia menggunakan kaos santai dengan tangan pendek dan celana jeans selutut. Selin mengerjap-ngerjap matanya kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain, karena tidak ingin terpesona dengan Bara yang begitu menarik.
Bara terkekeh saat menyadari Selin sedang berusaha mengabaikannya. Dia berjalan ke arah mejanya kemudian membuka laci untuk mengambil topi yang disimpan di sana.
"Di luar panas," Ucap Bara sambil memakaikan topi kepada Selin. "Di luar silau," Ucapnya lagi kemudian memakaikan kacamata hitam kepada Selin.
Selin seperti bocah yang pasrah saja saat didandani oleh orang tuanya. Setelah selesai mendandani Selin, Bara kemudian menggendong Selin kembali lalu berjalan ke luar ruangan.
Mereka mengabaikan tatapan heran para karyawan yang masih stay di kantor, mereka santai saja tanpa memperdulikan komentar orang lain. Toh memang Bara sedang membantu Selin karena tidak bisa berjalan. Ya, walaupun penampilan mereka cukup mencolok karena sama-sama memakai kaca mata hitam dan topi putih.
Selin menaikan satu alisnya heran karena Bara tidak keluar daei gedung tapi malah masuk ke parkiran. "Kenapa ke parkiran?"
"Ya naik mobil." Jawabnya santai.
"Nggak! Aku nggak mau naik mobil."
"Pokoknya nggak mau naik mobil!" Tolak Selin tegas.
Bara menghela nafasnya kecewa tapi dia tidak berani membantah. Sepertinya saat ini Selin sedang balas dendam kepadanya karena kejahilannya yang sudah membuat Selin menangis hampir dua jam. "Hmmmm, baiklah."
Selin mengacung-ngacungkan kakinya kegirangan di gendongan Bara mirip dengan anak kecil. Kedua bola mata Selin berbinar saat melihat tukang Es Krim di pinggir jalan. "Mau ice cream!" Teriak Selin yang langsung di balas anggukan oleh Bara.
"Mau rasa apa?" Tanya Bara sambil memperhatikan deretan Es Krim.
"Rasa strawbery," Jawab Selin mantap.
Tukang Es Krim ikut tersenyum melihat interaksi Selin dan Bara yang menggemaskan. Bahkan tanpa mereka sadari banyak orang yang memperhatikan mereka dengan tatapan iri. Seolah-olah mereka adalah pasangan yang sangat beruntung dan saling menyayangi satu sama lain. Padahal kalian tahu bukan, status mereka dan hubungan mereka serumit apa?.
"Kita cari tempat duduk dulu ya," Ajak Bara saat Selin menjilati Es Krim saat pangkuannya.
Selin menggeleng mantap. "Nggak mau, aku udah lapar banget biar cepat-cepat sampai." Ucapnya tidak sabar datang ke tempat makan.
"Kalo lapar banget kenapa sok-sokan nolak naik mobil." Omel Bara lirih namun masih bisa terdengar oleh Selin.
"Ko nggas! Nggak ikhlas ya!"
Bara menghentikan langkahnya kemudian mengambil nafas dalam-dalam. "Ikhlass!!!" Ucap Bara penuh penekanan.
__ADS_1
Selin terkikik tanpa Bara ketahui. "Yaudah! Ayo cepat!"
"Hus kuda!! Hiyaaa!!"
Bara geleng-geleng kepala dengan sikap Selin, bahkan saat ini dia ragu jika wanita di gendongannya sudah memiliki dua orang anak yang sangat menggemaskan. Tingkahnya seperti ABG labil yang sedang merajuk pada pacarnya.
"Aaaa," Perintah Selin sambil menyodorkan Es Krim ke mulut Bara.
"Aaa," Bara membuka mulutnya dan langsung menerima pemberian Selin.
"Enak nggak?" Tanya Selin memastikan.
"Lumayan," Gumamnya sambil menikmati Es Krim Strawbery kesukaannya.
"Aku mau makan pecel lele," Ucap Selin yang langsung menghentikan langkah Bara.
Bara memejamkan kedua matanya berharap stok kesabarannya seluas samudra. Dia yakin saat ini Selin sedang kegirangan karena sudah berhasil mengerjai nya. "Kenapa nggak bilang dari tadi pecel lele kan sebelah sana," Ucap Bara lemah. Masalahnya angkringan pecel lele berbeda arah dengan tempatnya sekarang.
"Ya nggak papa, makan mie ayam dulu aja. Nanti kita balik ke arah sana, lagian jam segini mereka pasti belum buka." Ucap Selin tanpa rasa bersalah.
Pandangan Bara jatuh pada kaki Selin yang terbalut kasa. "Hmmm," Gumam Bara mengiyakan keinginan Selin.
Selin tersenyum penuh kemenangan, dia tahu Bara tidak mungkin menolak permintaannya. Perlahan senyuman itu luntur saat suasana ini mengingatkannya pada masa-masa bangku kuliah dulu, saat Bara selalu sabar menghadapi rajukan dan permintaannya yang aneh-aneh.
"Pak Mie ayamnya dua porsi sama Jus jeruk 1 Jus Alpukat 2," Pesan Bara kemudian mendudukkan Selin di sebuah kursi.
"Alpukat dua buat siapa?" Tanya Selin penasaran.
"Ya buat aku lah, kamu pikir gendong kamu ke sini nggak pakek tenaga?" Ucapnya sedikit sinis tapi dengan tatapan lembut.
"Hilih lebay," Selin mengedikan bahu acuh.
Tukang Mie ayam menoleh ke arah Bara. "Pacarnya kenapa Mas?"
"Bukan pacar Mas, tapi istri."
Selin yang sedang tertawa membeku di tempat kemudian menatap Bara tajam. Sekarang giliran Bara yang mengedikan bahu acuh.
"Oh istri," Gumam Tukang Mie Ayam sambil tersenyum.
Bara tahu si Emang Mie Ayam itu bertanya tentang keadaan Selin yang terlihat tidak baik-baik saja. "Biasa dia berantem sama kucing pasar," Ucap Bara asal untuk menjawab rasa penasaran tukang Mie Ayam itu.
"Idih jangan asal ngomong!" Bentak Selin kesal.
Tukang Mie Ayam itu terkekeh. "Mungkin dia lagi ngidam Pak, jadi pengen di gendong-gendong sama saya. Biasa modus pengen deket-deket." Timpal Bara santai seolah ucapannya adalah hal yang wajar.
******
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)