Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 57 : Ayo kita Menikah


__ADS_3

Mood Sejak kepergian Bara kebiasaan Selin menjadi sedikit berubah, setiap pulang kerja Selin akan datang ke kamar Juna dan Jeno kemudian duduk termenung dengan tatapan lurus ke arah foto Bara bersama dirinya dan kedua anaknya. Selin bersandar ke sandaran kursi kemudian memejamkan matanya.


Sebulan ini Selin menjadi rajin melihat keadaan cuaca, termenung, dan menunggu snap Instagram atau WA Bara yang sayangnya tidak pernah muncul. Sebulan ini Selin merasakan kehampaan dan rasa sesak persis seperti dulu saat dia berpisah dengan Bara, hanya saja sekarang tidak bercampur dengan benci.


"Ada apa dengan ku," Gumam Selin dengan mata yang terpejam.


"Sel," Selin terperanjat saat lengannya di sentuh oleh seseorang. Saat kedua matanya terbuka wajah Farel sudah tersuguh di depannya. "Farel?.. Sejak kapan kamu ke sini?" Tanya Selin penasaran karena setahunya Farel sedang ada tugas di luar kota.


Farel hanya tersenyum kecut kemudian duduk di kasur berhadapan dengan Selin. "Hmmm.. Kamu kenapa dari tadi aku panggil-panggil dari bawah nggak ada sautan. Tau-taunya lagi melamun di sini. Ngelamunin apa sih?" Tanya Farel penuh tanda tanya.


Selin terkekeh kemudian membenarkan duduknya menjadi bersila di atas kursi. "Hihihi.. Nggak, capek aja." Jawab Selin lirih sambil menatap ke arah jendela.


Farel sudah mengenal Selin sejak lama, jadi dia tahu kalo saat ini Selin sedang banyak pikiran. "Si kembar di mana?" Tanya Farel mengganti topik pembicaraan.


Jawab Selin sambil tersenyum hangat ke arah Farel. "Mereka ada jadwal pemotretan."


"Ya ampun keren banget sih," Farel ikut terkekeh membayangkan Juna dan Jeno saat ini sedang pemotretan.


Selin beranjak kemudian berjalan mendekati Farel. "Ayo turun, aku buatin coffe." Ucapnya kemudian sedikit mematung saat melihat wajah cerah Farel. "Iii ganteng banget siiihhh, qaaamuuu!" Pekik Selin saat baru menyadari jika sahabatnya mempunyai wajah yang sangat tampan.


Farel hanya memutar bola matanya malas kemudian bangkit dari tempat duduk, raut Farel langsung berubah keruh saat tidak sengaja foto yang tertempel di dinding. "Kalian di foto bareng?" Ucapnya dengan tatapan lurus ke arah Foto Bara.


Selin menghela nafasnya panjang kemudian mengikuti arah pandang Farel yang terlihat kecewa. "Eh iya.. Kemarin ada acara Fathers Day." Jawab Selin enteng tidak ingin merespon rasa kekecewaan Farel.


Farel menatap Selin lurus. "Bara udah tau kalo mereka anaknya."


Selin hanya tersenyum sendu kemudian menggeleng lemah. Farel menghela nafas kecewa kemudian berjalan lebih dulu melewati Selin, entah sampai kapan Selin akan menyembunyikan fakta tentang kedua anaknya. Bukannya ingin ikut campur tentang pernikahan Selin, tapi Farel sudah lelah melihat penderitaan Selin dan kedua anaknya yang tanpa ujung.


Selin memejamkan kedua matanya penuh kebingungan, dia tahu saat ini Farel pasti sedang kecewa padanya. Tapi Selin benar-benar belum siap jika harus mengatakan yang sesungguhnya pada Bara..


"Kapan pulang?" Tanya Selin saat menyusul Farel yang saat ini sedang merajuk di tempat makan.


"Barusan," Jawabnya singkat sambil memainkan ponselnya.


Selin membulatkan matanya. "Langsung datang ke sini?!" Ucapnya tidak percaya.


Farel menghela nafasnya berat kemudian meletakan ponselnya. Sepertinya merajuk saat ini bukan pilihan yang baik. "Emmm, mampir dulu ke rumah bentar." Ucapnya sambil bersandar ke kursi.

__ADS_1


"Ya ampuun.. Kamu capek nggak sih?" Ucap Selin sambil duduk di samping Farel.


Farel memejamkan matanya sambil bersandar. "Capek lah, tapi kalo di rumah nggak bisa istirahat."


"Why?"


"Soalnya nggak tenang karena kangen sama kamu," Jawab Farel sambil terkekeh.


"Issh, Hahahaha.. nggak lucu." Jawab Selin sambil tertawa lepas.


Farel mendengus sebal. "Serius Sel, ngapain bohong coba."


"Iya iya.. Udah makan belum?"


"Belum," Jawab Farel santai kemudian mulai meminum coffe pemberian Selin.


"Mau makan apa, aku buatin?" Ujar Selin sambil beranjak, namun tangannya lebih dulu di tahan oleh Farel sehingga kembali duduk di posisi semula.


Srek! Selin duduk di kursi semula kemudian menatap Farel sebal.


"Udah duduk aja aku yang buat," Ucap Farel dan langsung beranjak. Selin bersiap membuka mulutnya untuk protes tapi Farel lebih dulu meletakkan telunjuknya di depan mulut Selin. "Sut! Jangan banyak protes." Perintah Farel tidak menerima bantahan.


Farel mengangkat dua bungkus Mie Instan ke hadapan Selin dengan tatapan berbinar. "Kalo mie goreng gimana?"


Sontak Selin tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, kalo masak mie nggak usah pake appron kali. Tinggal rebus aja."


"Kan Mie goreng spesial!" Dengus Farel tidak suka diremehkan.


Selin menggelengkan kepalanya pasrah kemudian beranjak untuk merebahkan tubuhnya ke sopa. "Hmm, yaudah terserah. Aku tunggu di depan TV mau rebahan dulu."


******


Setelah memakan mie spesial buatan Farel, Selin selonjoran di depan TV dengan Farel yang sedang tidur di pangkuannya. Selin terkekeh melihat sahabatnya yang sekarang sedang terlelap. "Uuuu.. Kasihan kelelahan banget eksekutif muda yang satu ini." Ucap Selin sambil terkekeh dengan tangan asik mencubit-cubit pipi Farel yang ditumbuhi bulu-bulu halus karena belum sempat bercukur.


Farel membuka matanya dengan tampang sebal. "Sakit tahu."


Selin hanya terkekeh dan berusaha meraih masker yang tidak jauh darinya. "Mau di masker nggak, itu ada di bawah meja."

__ADS_1


"Boleh," Farel menatap Selin yabg sedang sibuk dan kembali merebahkan tubuhnya pasrah.


Puk! Puk! Puk! Selin menepuk-nepuk wajah Farel denfan cairan yang tidak diketahui olehnya.


"Diem ya jangan banyak ngomong, sama gerak!" Peringat Selin lalu mulai mengoleskan masker ke wajah Farel dengan telaten.


"Hmmm," Gumam Farel nyaman menikmati sensasi dingin yang merasuk di kulit wajahnya.


"Bara pernah di maskerin nggak sama kamu." Celetuk Farel yang berhasil membuat Selin membeku sejenak. "Dulu pernah, sekarangmah nggak lah ngapain." Jawab Selin sambil berusaha membuang Bara dari pikirannya, dia sudah lelah di buat galau memikirkan Bara selama hampir satu bulan.


"Selin," Panggil Farel dengan mata yang masih terpejam.


"Hmm," Selin bergumam sebagai jawaban.


"Kenapa nggak bilang ke aku kalo kamu dapet masalah di kantor," Ucap Farel Serius, sedangkan yang ditanya hanya menghela nafas panjang dan melanjutkan acara maskernya. "Kenapa nggak bilang sama aku kalo kaki kamu keseleo?" Timpal Farel lagi.


Selin kembali menghela nafas kemudian menyimpan mangkuk maskernya ke meja di sampingnya dengan tatapan lurus pada Farel. "Kan kamu sibuk Rel, toh aku juga nggak papa."


"Sel.." Panggil Farel lagi.


"Apa lagi? Kan kata aku juga jangan banyak bicara, nanti maskernya rusak." Protes Selin merasa kesal karena Farel tidak mendengarkan ucapannya.


"Boleh nggak aku jadi orang pertama yang kamu hubungin kalo ada masalah?" Ucapnya dengan mata yang perlahan terbuka.


Selin mematung sejenak kemudian bersiap pergi. "Sut jangan banyak ngomong, kan lagi maskeran!"


Grep! Farel dengan sigap bangun kemudian menatap duduk bersila tepat di hadapan Selin. "Kayaknya aku nggak bakal sanggup lagi."


Selin menautkan alisnya tidak paham. "Nggak sanggup kenapa?" Ucapnya sambil cengengesan.


"Aku nggak bisa ngebayangin kalo kamu deket-deketan sama cowo lain."


Deg! Selin membeku di tempat dengan mata yang di membulat. "Mak..sudnya?" Ucapnya dengan terbata.


"Sel please jangan pura-pura nggak tahu kalo aku punya perasaan sama kamu," Farel meraih tangan Selin kemudian menggenggamnya hangat "Sel, ayo kita menikah." Lanjut Farel dengan penuh keseriusan.


*****

__ADS_1


Author itu bukannya nggak mau update dua bab atau lebih, tapi aneh aja gitu kalo misalkan update lebih daei satu Bab, Bab yang pertamanya itu like nya suka sedikit di banding Bab keduanya. Heran kan? Sama author juga... Wkwkwk


Happy Reading Gais!


__ADS_2