Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 59 : Tragedi Pesawat


__ADS_3

Senyuman sumringah di wajah Selin perlahan luntur dan berganti dengan buliran air mata yang mulai membasahi wajahnya. Selin meraup oksigen banyak-banyak untuk sedikit meringankan rasa sesak di benaknya yang begitu hebat. "Nggak mungkin, nggak mungkin!" Dengan tangan yang gemetar, Selin membuka ponselnya untuk melihat foto tiket yang dikirim Bara.


Deg! Selin membeku dengan lidah yang berubah kelu. Buliran air mata semakin deras keluar dari pelupuk mata Selin saat mengetahui jika nama pesawat di tiket dan yang tertampil di TV sama.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Nggak mungkin..." Selin memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Perlahan tubuhnya luruh ke lantai dengan ponsel yang menampilkan sebuah tiket yang dikirim Bara kemarin sore.


Selin terisak hebat ditengah-tengah orang yang berlalu lalang, setiap orang yang lewat menatapnya iba, hati mereka ikut tersayat dan tidak sedikit dari mereka menghampiri Selin dan berusaha menenangkannya. Namun, usaha semua orang tidak membuahkan apa pun, Selin masih asik menangis dan tenggelam kedalam kepedihan yang begitu hebat.


"Saat bertemu kembali,"


"Apa kita bisa bilang "Apa kabar?" Satu sama lain?.... Atau mungkin "Bagaimana kabar mu saat ini?".... "Apa selama ini kamu menderita?"... Atau "Apakah kamu sangat merindukan ku?" Apakah kita bisa seperti itu Selin?"


Kenangan saat terakhir kalinya Bara menelponnya sebelum berangkat terngiang begitu jelas di benak Selin. Kepalanya mengangguk-angguk seperti orang gila.


"Iya.. Kamu boleh bertanya apa kabar pada ku.. Hiks.. Hiks.. Atau bertanya apakah aku merindukan ku... Hiks.. Hiks.. Please jangan pergi seperti ini.. Aku nggak sanggup... Hiks.. Hiks.." Ucapnya seorang diri sambil memeluk lututnya dengan tubuh yang gemetar hebat.


Bayangan wajah Bara saat menenangkan Selin di hari Father days tertampil begitu jelas di matanya. Dengan tampang menyebalkan dan tidak bersalahnya Bara mengelus pucuk kepala Selin dan tersenyum lebar. "Jangan nangis, kamu kan kuat. Maaf aku terlambat. Sekarang aku sudah datang, semuanya pasti akan baik-baik saja. Ayo kita ke si kembar yang sejak tadi menunggu."


"Hiks... Aku nggak kuat.. Hiks.. Hiks.. Kamu boleh terlambat tapi jangan meninggalkan ku begitu saja.. Kamu pasti baik-baik aja kan Bar!" Gumam Selin pada dirinya sendiri sambil terisak penuh kepedihan.


Pikiran Selin melayang pada saat Bara berpamitan padanya di tepi pantai. Mungkinkah itu adalah perpisahan dan pamitan yang sebenarnya yang diberikan oleh Bara. "Selamat tinggal, dari Bara Kenzo Julian yang dulu sangat pengecut dan tidak bisa melindungi mu, dari dia yang sudah menghancurkan mu berkeping-keping."


"Argghhhh.... Nggak mungkin.. Kenapa kamu selalu meninggalkan ku seenaknya Bar!!"


Wajah tengil Bara yang selalu seenaknya terasa terlihat begitu jelas di hadapan Selin. "Are you okay?" Mungkin sekarang Selin tidak akan mendengar Bara menanyakan keadaannya.


Selin mengangkat pandangannya dan mengusap air matanya dengan sigap, sekarang bukan waktunya menangisi hal yang belum pasti. Bisa saja Bara tidak jadi naik pesawat itu dan sekarang sedang baik-baik saja. "Dia pasti baik-baik saja," Ucap yakin berusaha meyakinkan dirinya sendiri kemudian bangkit dengan segenap tenaga.


"Kamu pasti baik-baik saja. Aku yakin itu.. Hiks.. Hiks.. Hiks.."

__ADS_1


*******


Selin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, bunyi klakson yang diberikan orang lain kepadanya sudah tidak dianggap. Saat ini yang Selin inginkan adalah cepat-cepat tiba di Bandara dan memastikan sendiri apakah Bara ikut menjadi penumpang pesawat yang kecelakaan itu atau tidak. Walaupun sudah sangat jelas jika dilihat dari tiket Bara pasti naik penerbangan tersebut, tapi Selin berharap masih ada sebuah keajaiban yang nyaris tidak mungkin.


"Hiks... Hiks.. Hiks.." Tubuh Selin bergetar hebat dengan perasaan sesak yang memenuhi benaknya.


Setelah tiba di Bandara Selin berlari dengan sekuat tenaga agar bisa cepat-cepat memastikan keadaan Bara yang sesungguhnya. "Permisi Mbak, saya ingin meminta data yang naik pesawat xxxxxx .." Ucap Selin berusaha setenang mungkin padahal hati dan pikirannya sudah sangat terguncang.


"Maaf informasi tentang penumpang tidak bisa dibocorkan sembarangan, apa keluarga anda ada yang menjadi penumpang pesawat tersebut."


"Bukan begitu Mbak tapi.." Lidah Selin berubah kelu dengan air mata yang terus-terusan membanjiri wajahnya, Selin menunduk dengan lidah yang terasa berat berucap kembali.


"Maaf Mbak, jika ada saudara yang menjadi penumpang tolong berikan bukti buktinya."


Selin memijat pelipisnya frustasi dia tidak tahu bukti apa yang harus diberikan, toh memang hubungannya dengan Bara tidak jelas. "Huuuh, ya tuhan." Gumam Selin dengan mata terpejam.


"Permisi. Saya minta data anak Saya, saya ibunya. Ini buktinya." Ucap seorang perempuan yang suaranya tidak asing.


"Selin?! Kenapa kamu ada disini?" Merasa namanya dipanggil Meta menoleh ke arah Selin.


"Mmm, ini data yang ibu minta." Ucap seorang pramugari bagian tiket.


"Ada urusan apa kamu di sini? sana pergi!" Ucap Meta dengan urat wajah yang sudah mengeras.


"Tante, saya hanya ingin memastikan jika Bara baik-baik saja," Selin melangkah sedikit dekat ke arah Meta mantan ibu mertuanya.


"Punya hak apa kamu!" Bentak Meta dengan tangan yang terkepal.


Kania yang ternyata sejak tadi di samping Meta berusaha menenangkan. "Tante, sekarang bukan waktunya untuk memarahi Selin."

__ADS_1


"Makasih Kania," Gumam Selin lirih dengan tatapan tidak percaya pada Kania, dia heran di situasi yang seperti wajah Kania masih terlihat santai.


Meta mengabaikan keadaan Selin dan memperhatikan data penumpang yang tertampil di layar. "Ya Tuhan, Bara!!!!.. Argh... Arghh.. Anak ku!!!" Pekik Meta histeris dengan tubuh yang hampir ambruk untunglah ada Kania yang sigap menahan tubuhnya.


Saat melihat respon Meta yang seperti itu, prasangka buruknya semakin menjadi-jadi. "Bar..." Panggil Selin lirih kemudian menengadah untuk menahan air matanya agar tidak keluar.


"Tante! Tante!" Ucap Kania panik saat Meta terkulai lemas.


"Tante," Selin sigap ikut membantu Kania.


"Minggir, jangan sentuh saya! Andai saja dia tidak pernah mengenalmu, pasti Bara tidak akan pergi dari rumah dan membenci Ibunya sendiri, dasar wanita tidak tahu diri!" Bentak Meta tidak sudi di sentuh Selin.


Selin hanya diam pasrah di tempat, dia tidak punya tenaga untuk membantah setiap ucapan yang Meta keluarkan. Sebagai seorang Ibu, Selin sangat paham perasaan Meta yang pastinya sangat terpukul.


"Tante ayo kita pergi, Biar bawahan ku yang mengeceknya. Tante harus menenangkan diri dulu, aku yakin Bara akan baik-baik saja." Ucap Kania yang diangguki oleh Meta kemudian berlalu dari hadapan Selin.


Selepas kepergian Meta Selin membuka galeri ponselnya. "Mbak, saya mohon. Ini bukti kartu pernikahan kita, dia adalah mantan suami saya. Dan ini bukti chat terakhir yang dia berikan, saya mohon Mbak." Ucap Selin masih berusaha melihat data penumpang.


"Dari data yang kami punya, Saudara Bara Kenzo Julian menjadi penumpang dalam pesawat xxxxxx dan kemungkinan menjadi korban dalam kecelakaan pesawat tersebut."


Selin memejamkan matanya bersama tubuhnya yang semakin bergetar, dia terisak penuh kepedihan. Bagaimanapun hatinya berusaha menyangkal, tetap saja realita menamparnya begitu hebat.


"Yang tabah ya Mbak, Kami ikut berbela sungkawa."


"Ini pasti mimpi," Ucap Selin lirih masih menolak kenyataan.


*******


yuu tahlilan bareng2

__ADS_1


Up lagi, buat Readers tercinta ...


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2