Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 28 : Wanita Bernama Nemo


__ADS_3

Dengan perasaan sendu Selin mengeluarkan beberapa Es Krim dari kantung plastik yang di bawanya. Kemudian memberikannya pada Jeno. "Ayo makannya sambil duduk," Perintah Selin pada Jeno agar kembali duduk di sopa.


Selin menghampiri Raka dan Anet kemudian memberikan mereka Es Krim. Raka dan Anet menerima pemberian Selin tanpa banyak protes, setelah selesai dengan mereka. Selin beralih menatap Bara yang masih termenung entah memikirkan apa.


Tuk! Tuk! Tuk! Selin berjalan ke arah Bara kemudian membuka cup Es Krim rasa strawbery yang dulu disukainya, Tapi mungkin saja sekarang dia sudah tidak menyukainya. "Mau Es Krim Pak?"


Perlahan Bara mendongak menatap Selin dengan tatapan yang sulit diartikan, dia menghela nafasnya berat kemudian menerima pemberian Selin dengan senang hati. "Terimakasih," Gumam Bara kemudian mulai memakan Es Krim pemberian dari Selin.


*******


Saat ini mereka sedang menonton TV bersama-sama, seolah-olah tidak ada masalah apa pun yang terjadi diantara mereka. Selin sibuk mengupas buah dengan santai, Bara dan Raka sibuk mengobrol sedangkan Anet sedang berjelajah di alam mimpi.


"Nda di sekolah ada yang suka sama Abang." Ucap Jeno serius yang berhasil menarik perhatian banyak orang.


Kedua mata Selin langsung berbinar dan menatap Juna penuh arti, kemudian menoleh lagi ke arah Jeno. "Wah terus gimana?"


Jeno menghela nafasnya berat kemudian merebahkan kepalanya ke pangkuan Selin. "Terus dia nangis karena Abang kan jutek banget, terus Eno berusaha ngehibur dia. Tapi dia malah kesel sama Eno," Jeno menekuk alisnya sedikit kesal.


Selin mengelus-elus kepala Jeno penuh kasih sayang. "Emang Eno bilang apa sama orang itu, eh kalo boleh tau siapa namanya?"


"Eno nggak tau nama dia siapa, tapi Eno manggilnya Nemo soalnya ranselnya bentuk ikan Nemo." Ucap Jeno yang berhasil menarik perhatian Raka dan Bara yang sejak tadi pura-pura tidak mendengarkan.


Selin geleng-geleng kepala. "Eno bilang apa sama dia?"


"Eno bilang gini, Nemo jangan sedih kalo Abang nggak suka sama Nemo. Nemo suka aja sama Eno kan muka kita mirip." Selin mengerjap-ngerjapkan matanya menahan senyum yang terbit di wajahnya.


"Terus dia nangis dia malah tambah kenceng Nda. Kan Eno jadi kasihan," Lanjut n àJeno lirih.

__ADS_1


Anet yang sejak tadi tidur ternyata terusik dengan cerita Jeno. "Ahahaha, Itumah ceweknya aja pilih-pilih. Udah cewe kaya gitumah jangan di deketin, apaan cuma mau deket-deket sama yang ganteng."


Jeno menatap tajam Anet tidak terima. "Tapi kan Eno juga ganteng, kenapa dia nggak mau deketin Eno!. Terus pas si Nemo udah nangis, Eno deketin dia terus bilang gini 'Kamu kenapa nggak suka Eno?' terus kata dia, dia sukanya sama Juna."


"Padahal Juna sama Eno kan mirip kenapa dia nggak mau, terus dia jawab. Katanya Eno sama Juna nggak mirip, Eno itu gendut caby terus banyak ngomong bikin dia pusing, kalo Juna itu tirus ganteng kaya pangeran-pangeran di negeri dongeng."


Anet menegakkan punggungnya kemudian menatap Jeno penuh arti. "Parah itu cewek. Eno nanti tunjukin siapa si Nemo itu, biar bos jitak kepalanya. Bisa-bisanya dia body shaming dan bilang Eno jelek." Ucap Anet kesal.


Selin menatap Anet tajam dia tidak terima jika anaknya dihasut hal yang tidak-tidak. "Ish Net, jangan ngajarin yang aneh-aneh dong."


Juna yang sejak tadi jadi topik pembicaraan akhirnya angkat suara. "Iya Eno udah jangan sedih, kan kata abang juga cewek kaya gitumah jangan diladeni. Di jutekin salah di baikin salah, udah biarin aja nanti dia juga capek sendiri." Ucap Juna seperti ABG umur 17 tahun.


Selin mengangguk setuju. "Iya Eno nggak usah sedih bagi Bunda kalian sama-sama ganteng ko, ingat kalo Eno berbuat baik sama orang yaudah aja jangan ngarepin balasan, nanti juga Eno pasti bakal dapet balasan kebaikan walaupun bukan dari orang itu."


Saat mendengarkan ucapan Selin, Bara refleks menghentikan aktivitasnya. Dia tersenyum takjub dengan kesabaran Selin mendidik kedua anaknya.


"Tapi Bun perempuan zaman sekarang itu ngelunjak, kita baik dikit aja udah di bilang suka." Protes dirinya tidak terima disudutkan.


Raka manggut-manggut setuju kemudian angkat bicara. "Saya setuju Jun, apalagi sekarang itu banyak perempuan yang bar-bar, sekalinya ngomong ngegas kaya mobil Ferrari." Ucap Raka merasa puas sambil melirik ke arah Anet.


Kedua bola mata Anet membulat sempurna penuh kekesalan ke arah Raka. "Apa lo liat-liat gue!"


Selin geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya. "Anet, nggak sopan ih."


Anet mendengus sebal tapi tidak ada niatan untuk membantah Selin. "Rasain!" Gumam Raka di dalam hati penuh kemenangan.


Selin tidak habis pikir kenapa Anet bisa sangat tidak sopan kepada Raka, padahal di kantor Raka adalah atasan killer yang sangat dihormati oleh seluruh karyawan. "Maafin Anet ya Pak, dia sebenarnya baik ko."

__ADS_1


Samar-samar senyuman terbit di wajah Raka, akhirnya ada orang yang memarahi wanita bar-bar yang selalu tidak sopan kepadanya.


Setelah permasalahan selesai Selin kembali melanjutkan aktivitasnya mengupas buah. "Jeno ini makan buahnya," Ucapnya sambil memberikan sepiring buah-buahan.


"Ini," Selin menyodorkan sepiring buah-buahan segar ke arah Bara yabg sejak tadi sibuk dengan Raka.


"Makasih," Bara menerima pemberian Selin tanpa ragu.


Suasana yang awalnya sepi berubah menjadi ceria berkat kehadiran Selin dan kawan-kawan. Jika di pikir-pikir mereka bertamu tidak ada canggung-canggungnya sama sekali. Mereka asik mengobrol sampai-sampai melupakan orang sakit yang harusnya mereka hibur.


******


"Kita tidak bisa membiarkan masalah ini terlalu berlarut-larut, karena semua bukti sudah ada sebaiknya kita bergerak cepat agar tidak ada lagi karyawan yang dijadikan kambing hitam seperti Selin." Ucap Bara serius.


Raka mengangguk setuju kemudian menoleh ke arah Selin dan kedua anaknya yang entah sejak kapan sudah terlelap di sopa. "Hmmm, besok Bapak sudah bisa keluar bukan?"


Bara mengangguk sebagai jawaban. "Iya. Kita harus cepat-cepat menyelesaikan masalah di perusahaan cabang, aku sudah terlalu lama mengabaikan keadaan di pusat. Untung saja Kania bisa diandalkan," Bara menghela nafasnya panjang dengan pandangan yang menerawang.


Raka tersenyum samar penuh arti. "Kerja Kania memang bagus, andai saja hal itu selaras dengan kepribadiannya."


Bara bisa melihat raut tidak suka Raka terhadap Kania. Tapi bagaimanapun juga Bara harua objektif sebagai atasan. Selin menoleh ke arah Selin yabg ternyata sudah tertidur, tanpa ia sadari senyuman penuh kehangatan terbit di wajah Bara. "Tidak ada wanita yang sempurna Ka. Bagaimana keadaan Selin di kantor?" Ucap Bara lirih.


"Buruk. Semua orang menyudutkan Selin dengan tatapannya."


Bara mengangguk paham, sesuai dugaannya pasti Selin adalah orang yang paling menderita atas kejadian ini. Helaan nafas keluar dari mulut Bara. "Haaah, kita tidak boleh membuang-buang waktu aku tidak ingin menyakiti Selin terus-terusan." Bara menatap Selin sendu penuh rasa bersalah.


******

__ADS_1


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2