
Bara bersandar pada sandaran sopa dengan tatapan sendu ke arah dua brankar yang ditempati Selin dan Juna secara berdampingan. Bara memejamkan matanya untuk mengumpulkan energinya yang menguap, tadi siang Selin yang dikira sedang tertidur pulas ternyata pingsan karena kelelahan dan rasa cemas yang sangat tinggi. Untungnya ada Anet yang bisa mengamankan Jeno saat dia harus mengurus Selin dan Juna yang ternyata beres operasi.
Bara kembali membuka matanya saat mendengar grasak grusuk dari arah Selin. Dengan sigap dia bergegas menghampiri Selin kemudian menarik kursi untuk duduk. Terlihat keringat dingin membasahi dahinya, sepertinya wanita itu sedang mengigau dengan air mata yang keluar dari pelupuk matanya yang berhasil membuat Bara ikut merasa pilu.
"Sel..." Bara menyentuh wajah Selin lembut berharap wanita itu akan segera bangun.
Bara menghela nafas lega saat mata Selin perlahan terbuka. Dia tersenyum hangat kemudian mengecup dahi Selin penuh kelembutan. "Selamat Sore," Ucap Bara penuh kelembutan.
Selin menatap Bara penuh tanda tanya pandangannya jatuh pada selang infusan yang menempel dengan tangannya. "Aku kenapa Bar," Tanya Selin dengan suara parau.
"Kamu nggak kenapa-napa baru bangun tidur aja." Jawab Bara santai.
Selin mengangguk paham dengan perasaan yang terasa sesak dan sakit. Dia berpikir sejenak penyebab perasaan kurang nyaman itu. "Juna!!!" Pekik Selin hendak bangun saat ingatannya sudah kembali.
Tubuh selih bergetar ketakutan dan khawatir, dia takut Juna akan meninggalkannya saat dia tertidur pulas. Melihat keadaan Selin yang menyedihkan Bara langsung duduk di kasur dan memegang kedua bahu wanita yang dia cintai itu. "Shhtt.. Dia lagi istirahat." Bara menoleh ke arah Juna yang langsung diikuti oleh Selin.
"Hiks.. Hiks.. Aku takut.. Bar.. Aku takut.. Heuuu... Heuuu..." Selin terisak di atas kasurnya.
Bara menengadahkan kepalanya agar tidak ikut menangis dengan penuh kelembutan dia membawa Selin ke dalam pelukannya. "Shuutt, jangan kenceng-kenceng nangisnya. Juna lagi istirahat, kata dokter dia baik-baik aja ko."
Selin mengangguk paham, "Ya ampun, ko bisa-bisanya aku tidur di situasi kaya gini hiks.." Sesalnya.
"Nggak papa, kamu kan butuh istirahat. Tenang aja semuanya udah aku urus."
"Hmmm," Selin bergumam sebagai jawaban.
Beberapa saat mereka hanya diam membisu dengan pikiran yang melayang. Tangan Bara tidam henti-hentinya mengelus kepala Selin penuh kasih sayang, dan Selin bersandar di dada bidang Bara dengan pandangan lurus ke arah Juna yang masih terbaring kaku.
Bara melerai pelukan dengan tatapan ke arah Selin. "Makan dulu."
__ADS_1
Selin menggeleng lemah. "Nanti aja, aku belum lapar."
"Sel...." Panggil Bara penuh ketegasan.
Selin menghela nafas panjang kemudian mengangguk, kalian tahu sendiri Bara adalah oleh yang paling tidak bisa ditolak. "Emm, iya iya."
Bara tersenyum samar kemudian bersiap-siap agar Selin bisa makan. Selin tersenyum samar sambil memperhatikan penampilan Bara yang terlihat kelahan bahkan pria itu belum sempat mengganti baju kerjanya. Kemeja yang di gulung sampai sikut dengan dasi yang sudah menghilang entah kemana, dan rambut yang sedikit acak-acakan dan sorot mata yang sirat akan keleahan.
"Jeno kemana?"
"Nyari mainan sama Raka," Bara menjawab sambil membawa nampan yang berisi makanan ke meja kasur Selin.
"Raka datang kesini juga?"
"Mmm," Bara mengangguk.
"Padahal nggak usah repot-repot."
"Mmmm," Selin mengangguk kemudian mulai menyantap makanannya ditemani Bara yang setia menjadi pelayannya.
*****
Selin terkekeh saat Bara ketiduran dengan kepala yang bersandar di kasur Selin, dia bertanya-tanya kenapa Bara tidak bertanya tentang kebenaran Juna dan Jeno. "Apa dia nggak peduli sama sekali.." Gumam Selin sabil menyentuh rambut Bara yang acak-acakan.
"Om Bara!!"
Tiba-tiba pintu terbuka disusul dengan suara melengking Jeno, Bara yang awalnya terlelap perlahan membuka matanya dan langsung excited saat melihat Jeno sedang berlarian ke arahnya. Selin hanya menggeleng pelan saat melihat interaksi Jeno dan Ayahnya itu.
"Wah dikasih apa sama Om Raka?"
__ADS_1
"Ice cream kesukaan Eno!" Ucap Jeno penuh semangat sambil mengangkat kantung kresek yang dipenuhi Ice cream.
Mereka bertos ria. "Mantap, kasih Bunda satu ya. Om mau ngobrol dulu sama Om Raka." Bara menatap Raka penuh arti.
Jeno mengangguk paham kemudian naik ke atas Brankar Selin dengan satu kantung kresek ice cream.
Bara terkekeh kemudian mengacak-acak pucuk kepala anak itu. "Eno jangan nakal ya, temenin Bunda." Ucap Bara yang langsung diangguki bocah itu.
"Aku keluar dulu ya." Pamitnya pada Selin.
Selin mengangguk dengan perasaan sedikit bertanya-tanya. Tapi yasudahlah, sebaiknya dia fokus pada Jeno yang sekarang sedanf berada di sampingnya yang terlihat baik-baik saja. Padahal Selin sangat tahu anak cerdas itu sedang menahan habis-habisan perasaan sedihnya melihat kembarannya terbaring lesu di rumah sakit. Selin bisa melihat raut kehilangan bercampur amarah yang mengisi sorot pandang Jeno. Tapi anak itu masih bisa bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. "Maafkan Nda ya Nak..." gumam Selin di dalam hati.
Bara memberikan isyarat kepada Raka untuk mengikutinya ke luar, sesampainya di roof top Bara menatap Raka dengan penuh arti tentunya dengan perasaan yang sudah tidak karuan.
Bara menghela nafas panjang. "Huuuuuuh.. Gimana Kak?"
Raka merogoh saku Jasnya kemudian memberikan sebuah berkas kepada Bara. Berkas yang berisi hasil tes DNA. Sebenarnya kepergian Raka dan Jeno bukan tanpa arti, mereka diam-diam membawa Jeno untuk tes DNA untuk memastikan siapa ayah Juna dan Jeno yang sebenarnya. "Ini hasilnya.."
Bara mematung di tempat tangannya terasa berat untuk menerima berkas pemberian Raka. Disatu sisi dia takut jika Ayah sikembar itu memang bukan dirinya, tapi jika bukan kenapa Selin memintanya untuk mendonorkan darah alih-alih ke ayah kandungnya. Atau mungkin darahnya dan sikembar hanya kebetulan cocok dan Selin berinisiatif untuk meminta bantuannya.
Tapi disis lain Bara juga sedikit takut dengan kenyataan jika Juna dan Jeno adalah anaknya. Bukannya karena tidak bahagia, tapi jika hal itu benar rasa bersalah yang akan Bara rasakan entah akan sebsar apa. Dan mungkin hal itu juga akan menimbulkan kekecewaan yang sangat dalam kepada Selin yang telah menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi tetap saja, diantara dua kemungkinan itu Bara masih berharap jika Juna dan Jeno adalah anak kandungnya.
Tangan Bara terangkat untuk menerima berkas pemberian Raka. Dengan perasaan yang tidak karuan Bara membuka map putih itu lalu mengeluarkan kertas yang terlipat rapih di dalamnya.
Melihat Bara yang mematung dengan pandangan berkaca-kaca, Raka melangkah kepada Bara. "Bar.. Lo baik-baik aja?"
"Gue mau sendiri dulu," Ucapnya sambil mengangguk lirih.
Raka mengangguk paham kemudian menepuk bahu Bara untuk menyalurkan kekuaran. "Semangat bro, gue mau ke Selin sama anak-anak."
__ADS_1
******