
Wira duduk di bangku kebesarannya menunggu berita menggembirakan yang sudah ia buat sendiri. Walaupun sebenarnya dia sedikit kesal karena rencananya untuk mencelakai Bara gagal karena Selin. Tapi hal itu akan menguntungkannya jika Selin tersudutkan menjadi korban.
Wira berani memilih Selin untuk dijadikan kambing hitam karena dia terlihat lemah dan tidak mempunyai orang dibelakangnya yang akan mendukungnya. Di tambah sikap kurang ajarnya yang tidak tergoda dengan rayuannya membuat Wira tambah kesal. Selain itu Selin menjadi salah satu anggota tim rahasia yang sedang menyelidiki penggelapan dana yang dilakukan olehnya. Semua itu membuat Wira yakin jika Selin cocok untuk di jadikan kambing hitam.
Andai saja wanita itu sedikit berbaik hati padanya. Mungkin Wira akan sedikit berbaik hati pada Selin. "Wanita cantik yang malang," Gumam Wira dengan seringai di wajahnya.
Tuk! Tuk! Tuk! Wira mengetuk-ngetuk pulpennya ke meja dengan pandangan lurus ke arah Foto Selin dan Bara. Terlihat di foto itu Bara sedang menyuapi Selin saat berada di restoran. "Huuuu, keluarga bahagia."
Wira membuka komputer miliknya untuk melihat cuplikan CCTV saat Selin sedang membantu Bara. "Lagi-lagi wanita itu, kenapa dia tidak pernah mempunyai rasa takut sedikit pun!"
"Jangan salahkan aku jika kamu akan menjadi korban, kamu sangat cocok dijadikan korban atas kejadian semua ini. Apalagi saat kebenaran tentang pernikahannya terbongkar.. Pyuuuusss! Beritanya akan sangat menguntungkan untuk ku." Wira terkekeh penuh kemenangan.
Wira menatap foto Selin yang diam-diam dia ambil saat sedang di Mall. "Hahahahaha, sebentar lagi perusahaan ini akan menjadi milik ku kembali." Wira tersenyum penuh kemenangan. "Kasihan sekali wanita malang ini, makanya jangan menghalangi jalanku."
Wira memejamkan matanya tenang sambil menunggu kabar menyenangkan dari bawahannya. "Gimana? Selin udah jadi tersangka belum?" Tanya Wira dengan kedua mata yang masih terpejam.
Karyawan yang baru datang itu menatap Wira dengan penuh ketakutan. "Pak Raka datang ke ruangan interogasi," Ucap Karyawan itu penuh ketakutan.
Wira langsung tersentak dan melempar pas bunga di ruangannya. "Apa?! Bukannya kalian udah mengirim orang untuk mencegah Raka keluar dari Rumah sakit. Dasar nggak becus!" Hardik Wira penuh kemarahan.
Wira mengacak kepalanya frustasi semua rencana busuknya tidak berjalan dengan mulus. Padahal dia susah payah melaporkan ke pihak polisi agar dia tidak dicurigai. "Ngurus satu orang aja lu nggak becus, semua rencana kita nggak ada satupun yang berjalan mulus!"
Karyawan di hadapan Wira menelan ludahnya penuh ketakutan. "Pokoknya ubah semua bukti agar mengarah pada Selin! Kalau perlu liris berita tentang hubungan Selin dan Bara!" Ucap Wira tidak mau tau.
"Cepat!" Teriak Raka saat karyawan itu masih diam ditempatnya.
"Baik Pak!"
******
Selin duduk termenung di meja kerjanya, dia mengabaikan tatapan semua orang yang sejak tadi memperhatikannya penasaran. Sepertinya Selin tidak akan pulang sebelum karyawan lain pulang, dia terlalu lelah di tatap sebagai seorang penjahat oleh orang lain. Tapi Selin juga malas untuk menjelaskan semua yang terjadi, biarlah waktu yang menjelaskan jika dia tidak bersalah.
"Sel minum ini dulu," Ucap Syakila memberikan sekotak susu pada Selin.
"Ngapain kalian disini?! Bubar-bubar di sini bukan tontonan!" Teriak Syakila membubarkan para Karyawan yang sejak tadi berkumpul.
__ADS_1
Selin tersenyum samar penuh syukur ke arah Syakila. Setidaknya di tengah-tengah kehidupannya yang berat ini dia masih dikaruniai teman-teman di sampingnya yang selalu membantunya dalam keadaan apa pun tanpa pamrih. "Kila, makasih ya."
"Makasih buat apa sih Lin, ayo cepat minum susunya terus buruan pulang. Pasti kami kelelahan banget kan?"
"Makasih buat susunya lah, jangan GR." Selin terkekeh santai.
"Ishh, menyebalkan." Ucap Syakila pura-pura kesal.
Selin menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu dengan perubahan sikap Syakila yang menurutnya menggemaskan.
Ting!
Selin menatap ponsel barunya yang tergeletak di atas meja, kedua matanya menyipit heran saat melihat pesan masuk dari Bara. Perasaan dia belum menyimpan nomor siapapun, tapi kenapa nomor Bara sudah tersimpan sendiri ke ponselnya. Dengan sedikit ragu Selin meraih ponselnya.
Pak Bara
[Kamu baik-baik saja?]
Selin hanya mematung enggan untuk membalas pesan yang baru masuk ke ponselnya itu. Dia mematikan kembali ponselnya lalu menyimpannya ke saku.
******
Selin menatap heran karena nama Raka tertulis di layar ponselnya. Ia merasa aneh karena Raka menelponnya di saat bukan Jam kerja. Hati Selin menjadi was-was takut ada berita atau tugas susulan untuknya, padahal Selin sudah tidak kuat ingin merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Pak Raka," Gumam Selin kemudian mengangkat panggilan itu. "Halo Pak Raka?" Sapa Selin sopan.
"Ndaaa! Bunda!" Selin menjauhkan ponselnya untuk memastikan siapa yang menelponnya. Dia bertanya-tanya kenapa suara Juna dan Jeno bisa terdengar.
"Juna? Jeno?" Panggil Selin memastikan.
"Iya Ndaa ini kita, Nda lagi apa?" Selin menghela nafasnya pelan ternyata dia tidak berhalusinasi mendengar suara anak-anaknya.
"Bunda lagi nyetir sayang, baru keluar dari kantor. Kenapa kalian pakai hp Pak Raka?" Selidik Selin dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ndaa ini kita, kita lagi sama Pak Laka."
__ADS_1
Selin menepikan mobilnya ke pinggir jalan karena ingin fokus berbincang dengan kedua anaknya. "Loh bukannya kalian sama Tante Anet?" Selin semakin dibuat kebingungan.
"Iya Tante Anet juga ada, katanya Pak Laka mau nebeng ke si Bos buat ke Rumah Sakit." Selin manggut-manggut paham sekarang dia menjadi lega karena Anet masih bersama kedua anak nya.
"Ndaa ternyata Pak Bala di rawat, kita boleh kan ikut menjenguk sekalian nganter Pak Laka?"
Selin mematung rasanya dia kehabisan kata-kata untuk menjawab, hanya ada helaan nafas yang keluar dari mulutnya. Dia memijat keningnya yang terasa pening, Selin kebingungan harus bereaksi seperi apa.
"Bun mendingan Bunda susul kita, biar pulangnya kita sama Bunda. Kasihan bos Anet wajahnya udah lelah banget."
Selin akhirnya pasrah, benar jiga saat ini Anet pasti sudah sangat kelelahan, di tambah lagi dia tidak mempunyai hak untuk menghalangi Juna dan Jeno bertemu dengan Ayah mereka sendiri. Apalagi saat ini mereka pasti penasaran sekaligus khawatir dengan keadaan Bara, ya namanya insting anak terhadap orang tuanya pasti kuat.
"Oke, Bunda jemput kalian." Akhirnya Selin mengiyakan ajakan mereka.
Terdengar suara kegirangan dari sebrang sana. "Ndaaa jangan lupa Es Krim strawbery ya!"
Selin terkekeh ternyata di situasi saat ini Jeno masih ingat dengan Es Krim kesukaannya. "Iya, iya."
"Oke Nda Babay!" Ucap Jeno kemudian mematikan sambungan telpon.
Setelah panggilan terputus Selin cepat-cepat mengirim pesan pada Anet.
^^^To: CEO Paus^^^
^^^[Net lo ngapain cerita sama mereka?]^^^
From : CEO Paus
[Kagak ya sorry, itumah atasan busuk lo yang ngasih tau mereka. Si kulkas dua pintu bukan gue!]
Setelah membaca pesan dari Anet mau tidak mau Selin memang harus menjemput Juna dan Jeno, dan mempersiapkan diri untuk melihat keadaan Bara yang sebenarnya sejak tadi dia khawatirkan. Hanya saja Selin memendamnya seorang diri.
******
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)
__ADS_1