Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
63 : Jemputan Gratis


__ADS_3

Selin merapihkan rambut Juna dan Jeno sebelum berangkat ke sekolah, dia terpana sendiri dengan wajah kedua anaknya yang begitu tampan.


"Ihh anak Bunda ganteng banget seeeh.. Jadi gemesh!!!" Ucap Selin sambil mencubit pipi kedua anaknya yang sangat menggemaskan itu.


"Ihh Ndaa, bedaknya jadi ilang." Protes Jeno tidak terima jika bedak my baby nya berkurang karena disentuh Selin.


Selin terkekeh kemudian berjalan ke arah luar, dia tersentak kaget saat menyadari ada seorang pria yang berdiri tegap di hadapannya. "Ngapain pagi-pagi di sini?!"


"Ya menjemput kamu sama si kembar lah," Jawab Bara santai kemudian berjalan melewati Selin begitu saja.


"Om Ballaaaaa!" Teriak Juna dan Jeno antusias kemudian berlari ke arah Bara.


"Halo jagoan," Bara menekuk lututnya dengan tangan terentang.


Selin mendengus sebal sedikit merasa cemburu melihat Bara tidak usah susah payah untuk membuat si kembar jatuh hati padanya. Apalagi saat Bara menciumi pipi kedua anaknya dengan leluasa, tanpa mendapatkan protes dari Jeno seperti tadi.


"Om ko pagi-pagi udah ada di sini?" Tanya Juna penasaran sambil memperhatikan penampilan Bara yang sudah rapih. Selin ikut mendekat karena dia juga penasaran dengan jawaban yang akan Bara berikan.


Bara beralih menatap Selin yabg terlihat penasaran. "Kan Om mau jemput Bunda kalian terus ngantar kalian ke sekolah." Ucapnya enteng.


Selin langsung membulatkan kedua matanya. "What?"


Bara terkekeh kemudian menarik Ibu dan anak itu agar masuk ke dalam mobilnya. "Udah ayo cepetan!"


*****


Saat sudah tiba di depan TK si kembar mereka malah berdiam diri sejenak. "Aku aja yang anter," Ucap Selin setelah berpikir panjang.


Bara langsung menggeleng tidak setuju. "Bareng-bareng aja, toh ibu-ibu TK taunya mereka anak aku."


Selin menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan, hatinya terasa sakit saat mendengar Bara berbicara seolah-olah si kembar adalah anak orang lain.


"Sel.." Panggil Bara lirih karena Selin malah melamun.


"Eh.. Nggak.. Ayo!" Ucapnya gelagapan saat dipergoki sedang melamun.


Mereka keluar dari mobil secara bersamaan layaknya keluarga bahagia seperti pada umumnya. Setelah sampai di depan pintu Bara dan Selin berjongkok di depan kedua anaknya.


Bara tersenyum hangat dengan tangan mengelus pucuk kepala si kembar. "Yang bener ya sekolahnya, yang cerdas jangan nakal biar bisa bahagiain Bunda kalian, dan bisa membelikan Helikopter.. Helikopter.."


Melihat sikap Bara yang malah bercanda Selin langsung mencubit lengannya keras-keras. "Aduh!!" Pekik Bara kesakitan.


"Apaan sih!" Ucap Selin kesal.

__ADS_1


Melihat interaksi kedua orang tuanya Juna dan Jeno malah terkekeh bahagia.


"Kita berangkat kerja dulu ya sayang, muuaaach!" Ucap Bara berpamitan kepada Si kembar. "Bunda pergi dulu ya," Timpal Selin kemudian memeluk kedua anaknya satu persatu.


******


Saat jarak mereka semakin dekat ke kantor Selin bergerak gelisah di tempat duduknya. Bara yang peka akhirnya menoleh ke arah Selin.


"Kenapa? Mau Pup? Jangan di tahan?" Tanya Bara yang malah membuat Selin semakin kesal.


"Idih siapa yang mau Pup, nggak masuk akal banget sih kamu!" Ucap Selin kesal.


Melihat Selin yang sejak tadi marah-marah Bara hanya menghela nafasnya panjang. "Terus mau apa? Itu keringetan banget?" Tanya Bara meminta penjelasan.


Selin hanya menggeleng dengan tangan yang sejak tadi menggulung ujung bajunya, Selin memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. "Aku turun di sini aja," Ucap Selin dengan sedikit tidak enak.


Bara langsung menoleh ke arah Selin tidak terima. "Eh kenapa? Ya di depan lah ini sebentar lagi sampai."


"Nggak! Nggak mau! Gimana kalo ada karyawan lain yang liat kita berduaan coba!"


Bara mengangkat kedua bahunya masa bodoh. "Ya gapapa bagus dong!"


Selin menggeleng tegas. "Nggak! Nggak mau atau kita putus nih!"


"Wih kapan jadiannya?" Tanya Bara dengan tatapan menggoda.


"Eh! Eh! Eh! Iya-iya ini di turunin, jangan pakek acara ancaman-ancaman dong! Apalagi putus segala. Kita jadian baru beberapa hari Beb!" Ucap Bara ketakutan. Memang benar setelah kejadian itu Bara memutuskan untuk mengajak Selin jadian, dan ternyata diterima.


Selin memutar bola matanya malas."Bodoamat! Siapa suruh nggak pernah nurut!"


"Huuh," Bara hanya bisa menghela nafas kemudian memarkirkan mobil ke pinggir jalan.


Wajah kesal Selin langsung berubah sumringah saat Bara menuruti permintaannya. Tanpa banyak wacana lagi Selin langsung keluar dari mobil dan menatap aneh ke arah Bara yang tidak melajukan mobilnya lagi.


"Kenapa nggak maju," Ucap Selin sambil mengintip dari jendela.


"Kamu duluan aja, aku perhatiin dari belakang takut ada apa-apa." Ucap Bara enteng yang entah kenapa berhasil membuat jantung Selin berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Idih, apaan sih." Ucap Selin dengan senyuman yang mati-matian ia tahan.


*****


Cling!

__ADS_1


Selin menghela nafas pasrah saat lift yang ditunggunya sejak tadi sudah penuh. Namun tiba-tiba suara bariton terdengar di telinganya.


"Saya ingin menggunakan lift ini tolong kalian keluar semuanya." Ucap Bara tidak menerima bantahan.


"Orang kaya mah bebas," Gumam Selin di dalam hati.


"Baik Pak!" Ucap para karyawan di dalam lift dan langsung berhamburan pergi, begitupun dengan Selin yang berniat untuk melangkah pergi.


"Saudara Selin, kenapa and pergi begitu saja?"


"Eh, saya Pak?"


"Iya siapa lagi, memang yanv na cepat masuk ke sini saya ingin mendengar laporan keuangan yang belum saya terima." Jawab Bara serius sambil menatap jam tangannya.


Selin memutar bola matanya malas, kenapa pagi-pagi Bara harus memintanya untuk berpikir keras. "Ishh!" Rengek Selin pelan tapi tetap menuruti perintah atasannya.


Selin berdiri di samping Bara dan bersiap memaparkan laporannya dengan ponsel di tangannya. "Berdasarkan data terakhir.." Ucapan Selin langsung terhenti saat Bara malah memasukannya ke dalam Jas dan memeluknya dengan hangat. "Eh," Pekik Selin sedikit terperanjat.


"Kangenn," Ucap Bara manja.


Selin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ih apaan sih, ini di kantor!"


"Kan nggak ada yang liat," Jawab Bara santai dan malah mengeratkan pelukannya pada Selin.


"Ya tetep aja harus profesional!" Selin masih setia protes tapi saat ini dia sudah membalas pelukan Bara.


"Kan aku bos nya, udah jangan protes!" Jawab Bara dengan mata yang terpejam penuh kebahagiaan.


"Terserah kamu deh," Selin terkekeh samar.


"Hari ini pasti melelahkan, jadi aku butuh pasokan energi yang banyak." Bisik Bara tepat di telinga Selin.


Refleks Selin menjauhkan kepalanya karena merasa geli. Selin beralih menatap layar lift. "Udah mau sampai, awas!" Ucapnya dan langsung mendorong Bara menjauh.


Bara terkekeh kemudian menatap Selin lekat-lekat. "Kerjanya yang semangat ya." Ucap Bara kemudian mendaratkan kecupan singkat di dahi Selin.


Selin sedikit membeku dengan rona merah di kedua pipinya. "Mmm, kamu juga." Jawabnya salah tingkah kemudian bergegas ke luar lift.


"Permisi Pak!" Pamit Selin sopan kemudian cepat-cepat pergi.


Bara tersenyum sumringah penuh kebahagiaan. "Aduh udah kangen lagi aja," Gumamnya tidak masuk akal.


******

__ADS_1


Happy Reading!


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2