
Selin menatap nanar sebuah nomor asing yang mengirim sebuah foto pernikahannya dengan Bara ke WA Group Kantor. Dia tidak habis pikir apa motivasi orang itu mengirim hal-hal tersebut. Sepertinya mulai saat ini dia harus bersiap-siap menerima pandangan kurang nyaman dari semua orang, dan spekulasi spekulasi orang lain yang akan berkomentar sesuka hati tentang pernikahannya. Padahal mereka semua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Selin diam membisu dengan pandangan yang tiba-tiba blur karena kepalanya tiba-tiba pening.
Melihat Selin yang seperti tidak baik-baik saja, Syakila panik sendiri. "Sel! Sel! Kamu nggak papa kan?"tanya nya sambil menepuk-nepuk bahu Selin.
Selin perlahan memijat pelipisnya yang berubah pening. Kemudian dengan dengan nafsu makan yang sudah menghilang, Selin mulai sarapan dengan terpaksa.
Syakila menatap Selin sendu, dia tidak tahu ketakutan apa yang membuat Selin begitu panik saat berita pernikahannya terbongkar. Dia hanya diam tanpa tahu apa-apa untuk menguatkan serta mengingatkan jika dia tidak sendirian. "Yang sabar ya Sel, aku tahu ini nggak mudah buat kamu. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini."
Selin tersenyum samar kemudian mengangguk. "Oke."
Plak!
Selin dan Syakila tersentak saat tiba-tiba tamparan mendarat di wajah Selin. Sontak Syakila langsung berdiri penuh amarah dan kekesalan. Sedangkan Selin hanya diam membisu memahami keadaan, dengan pipi yang perlahan terasa perih.
"Apa yang anda lakukan?!" Bentak Syakila kepada perempuan dihadapannya yang berhasil menarik perhatian semua orang.
Syakila menarik wanita itu agar menjauh dari Selin. Para karyawan yang mendengar keributan berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
"Minggir! Saya nggak ada urusan sama kamu." Wanita itu mendorong Syakila dan berniat menghampiri Selin kembali.
Kedua tangan Selin terkepal merasa lelah dengan keadaan yang selalu di luar kendalinya. Dengan tubuh yang berubah lemas Selin bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan kepada wanita itu.
"Atas dasar apa anda menampar saya?" Tanya Selin dengan tatapan tajamnya.
Wanita itu merogoh tas nya kemudian melempar beberapa foto ke lantai. "Jangan sok suci jadi orang! Berani-beraninya lo gadain suami orang. Dasar wanita jala*g!"
Selin tersenyum kecut melihat beberapa foto yang menampilkan dirinya dan Wira entah diambil oleh siapa. Bisa-bisanya wanita ini tidak tahu jika suaminya sering tebar pesona pada semua orang.
"Sory ya Mbak, saya nggak pernah godain suami anda yang nggak ada manis-manisnya itu!.Yang ada juga suami Mbak yang sering gangguin saya!" Ucap Selin dengan nada suara sedikit meninggi.
"Dasar nggak tahu diri, bukannya mikir malah maki-maki orang lain! Sini lo biar gue beri pelajaran sekali lagi!"
Cepat-cepat Syakila menahan tangan wanita itu. "Yang harusnya mikir itu Mbak bukannya Selin. Datang-datang langsung nampar orang dimana sopan santun nya!"
"Berisik lo! Atau lo juga ikutan suka godain suami orang!"
"Eh jangan sembarangan ya nuduh orang! Asal Mbak tahu suami anda yang kegatelan sama semua cewek di kantor ini! Makanya jadi istri itu yang becus yang bisa ngurus suami, jadi suaminya nggak bakal keliaran karena punya istri yang nggak becus!" Jawab Syakila tidak terima.
Wanita itu semakin tersulut emosi kemudian menjambak rambut Syakila dengan sangat keras. "Kurang ajar!"
"Eh! Eh! Eh! Satpam! Satpam!" Teriak Selin saat wanita bar-bar itu menjambak rambut Syakila tanpa ampun.
__ADS_1
"Aaaa!" Pekik Syakila. Kemudian dia membalas wanita itu. "Rasain!!"
"Kila! Udah-udah!" Selin berusaha memisahkan mereka.
Melihat Selin mendekat, wanita itu langsung beralih kepada Selin kemudian mendorongnya dengan kuat! "Sini lo ja*lay!"
Bruk!
Selin tersungkur ke lantai dengan keras.
"Selin!!!!" Teriak Syakila kaget.
Para karyawan yang menonton ikut terkejut dengan apa yang mereka lihat. Tidak lama dari itu satpam datang dan mengamankan wanita bar-bar itu. "Heh lepasin! Gue nggak ada urusan sama lo!" Teriaknya saat Satpam menarik tubuhnya.
"Ada apa ini?" Ucap Bara yang berhasil menjadi pusat perhatian, Bara mengepalkan tangannya saat melihat Selin tersungkur dengan keadaan yang kacau. "Siapa yang sudah membuat keributan di sini!"
Bara berjalan ke arah Selin kemudian membantu Selin untuk bangkit. Selin menerima bantuan Bara tanpa banyak protes, saat ini tubuhnya terasa sangat lemas dan pening.
"Tolong amankan mereka dan panggil semua karyawan untuk datang ke sini!" Teriak Bara yang langsung dipahami Raka.
*****
Bara mengumpulkan semua karyawannya dan mulai bicara. "Saya tidak terima ada orang luar yang menyakiti karyawan saya!" Ucap Bara serius dengan tatapan yang membuat seluruh karyawannya bergidik ngeri.
Wira yang terasa tersindir langsung angkat bicara. "Maafkan istri saya Pak, lain kali saya akan memperingatinya!"
Wira mengepalkan kedua tangannya penuh amarah tapi bagaimanapun juga saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Sel," Panggil Wira lirih.
Selin hanya diam membisu tanpa berniat menoleh ke arah Wira. "Tolong jelaskan kepada istri anda jika Selin tidak pernah sekalipun mendekati atau menggoda Bapak!" Timpal Syakila mewakili isi hati Selin.
"Tentu," Ucap Wira lirih.
Bara menoleh ke arah Selin dengan tatapan iba kemudian mulai angkat bicara. "Saya anggap kesalahpahaman ini selesai, jika di luar anda menyerang karyawan saya lagi saya tidak akan segan-segan melaporkan perbuatan anda." Peringat Bara kepada istri Wira yang entah sejak kapan menjadi pendiam.
"Selain itu, saya sengaja mengumpulkan semua karyawan untuk mengumumkan sesuatu yang krusial dan penting. Beberapa bulan kebelakang saya membuat tim khusus untuk mencari pelaku yang korupsi di perusahaan ini. Dan berimbas pada kesejahteraan karyawan." Lanjut Bara.
Wira tersentak dengan wajah yang berubah pucat pasi.
Bara tersenyum samar saat melihat wajah panik Wira yang begitu ketara. "Berkat kerja sama tim ini, akhirnya saya sudah menemukan pelaku tersebut. Dan orang nya adalah pria yang duduk di depan saya!" Ucap Bara dengan pandangan lurus ke arah Wira.
Para karyawan langsung heboh tidak percaya. Keadaan sedikit ricuh karena banyak karyawan yang berbisik-bisik.
Wira bangkit dari duduknya. "Apa yang Bapak katakan, jangan hanya masalah keributan ini anda bisa menuduh saya seenaknya." Bantah Wira tidan terima.
__ADS_1
Plak! Dengan santai Bara melempar beberapa foto dan berkas-berkas.
Bara terkekeh miris atas sikap Wira. "Menuduh apa maksud mu? Saya berkata sesuai bukti yang saya temukan, selama hampir 10 tahun anda menggelapkan dana perusahaan sampai nyaris bangkrut dengan alasan sumbangan sosial ke panti asuhan."
"Jika merasa tidak adil silahkan cari pengacara untuk membuktikan anda tidak bersalah, karena saya sudah mengirim kasus ini ke pengadilan. Selain itu anda di tuntut perencanaan pembunuhan," Ucap Bara yang berhasil membuat semua karyawan tersentak.
"Tidak! Saya tidak melakukan itu!" Bantah Wira tegas dengan suara meninggi.
"Jangan mengelak, Raka tolong putar bukti videonya!" Perintah Bara pada Raka untuk menampilkan Video Wira yang sedang mengancam Sofiyan untuk memasang pengharum jeruk di ruangan Bara.
"Bagaimana masih bisa mengelak?!" Tanya Bara saat melihat Wira mati kutu di tempat duduknya.
"Awalnya saya tidak ingin membuat semua karyawan tahu tentang semua ini. Tapi saya tidak bisa jika karyawan saya dijadikan kambing hitam atas kejahatan yang anda lakukan!"
Selin menatap sendu ke arah Bara, dia tidak menyangka tuhan akan mengirimkan seseorang untuk membersihkan namanya.
"Mulai saat ini jika ada karyawan yang menyudutkan karyawan lain atas hal tidak mendasar akan saya pecat! Saya tidak butuh karyawan yang seperti itu, yang saya butuhkan adalah para karyawan yang bekerja dengan hati, saling menghormati sesama karyawan yang lain dan tentunya jujur."
Para karyawan diam membisu terhanyut dengan setiap ucapan yang dilontarkan Bara.
"Raka silahkan bawa mereka," Ucap Bara agar Raka cepat-cepat membawa Wira dan istrinya pergi dari ruangan.
Bara melipat kedua tangannya di atas meja penuh wibawa. "Hari ini saya ingin mengumumkan beberapa hal, yang pertama saya berikan bonus kepada tim khusus yang sudah menyusut kasus ini hingga tuntas." Ucap Bara yang langsung disambut tepuk tangan kegirangan oleh semua orang.
"Yang kedua, karena penggelapan dana sudah di temukan maka gajih karyawan akan saya naikan." Sontak para Karyawan langsung ricuh dan kegirangan.
Bara menghela nafasnya panjang kemudian melanjutkan. "Yang ketiga, saya tidak tahu siapa yang mengirim informasi tentang masalah pribadi saya," Perlahan Selin mengangkat pandangannya dan menatap Bara.
"Saya harap group perusahaan bukan dipergunakan untuk menggunjing dan mengumbar masalah pribadi. Untuk saat ini masih bisa saya maafkan, tapi untuk kedepannya jangan harap."
Para Karyawan mengangguk paham dengan perasaan sedikit bersalah terhadap Selin.
"Yang ke empat, informasi tentang pernikahan saya itu benar adanya. Jadi berhenti berspekulasi yang tidak-tidak. Saya tidak ingin mantan istri saya tidak nyaman bekerja di sini, karena dia bisa bekerja di sini dengan jerih payahnya sendiri."
Selin membeku di tempat dengan pandangan yang berubah berkaca-kaca, dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Apakah dia harus bahagia? Karena Bara mengakui statusnya. Atau sedih? Karena informasi pribadinya sudah diketahui banyak orang.
Bara menatap ke arah Selin dengan tatapan yang sangat lembut. Semua orang di sana bisa merasakan kasih sayang Bara yang begitu besar terhadap Selin. "Yang kelima, saya ingin berterimakasih kepada mantan istri saya karena dia sudah menyelamatkan nyawa saya, padahal saya tahu di lubuk hatinya yang terdalam dia sangat membenci saya."
Para Karyawan membeku dengan perasaan sesak ikut merasakan yang Selin dan Bara rasakan. Selin menatap Bara dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sel, terimakasih banyak!" Ucap Bara kemudian membungkukkan badannya kepada Selin penuh rasa terimakasih.
******
__ADS_1
Ya ampun Bara, bikin Author jadi Baper :'(
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)