
[Flash Back]
Setelah kejadian tidak sengaja di sebuah Kafe, entah kenapa Selin dan Barra sering dipertemukan. Mulai dari Barra yang bergabung dengan dojo Karate Selin, dan entah kebetulan atau tidak Selin selalu diajari oleh Barra yang sudah bersabuk hitam. Sikap Barra yang begitu ramah kepada Selin semakin membuat Selin jatuh hati dan membayangkan hal-hal bahagia bersama Barra.
Selin kira perasaan yang ia miliki bertepuk sebelah tangan, tapi dugaan itu langsung terbantahkan saat acara Wisuda Barra. Selin yang saat itu baru semester tiga datang ke Wisuda Barra dengan sebuket bunga di tangannya. Senyumnya merekah sempurna saat melihat Barra yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.
"Selamat," Ucap Selin sedikit malu-malu dan langsung memberikan sebuket bunga pada Barra.
Barra tersenyum hangat tangannya terulur untuk menyentuh pucuk kepala Selin dengan lembut. "Selin?" Tanya Barra singkat.
"Hmm," Gumam Selin dengan senyuman di wajah cantiknya.
"Apa aku boleh meminta sesuatu dari mu di hari besar ku ini?"
Selin terkekeh dan mengangguk. "Tentu," Jawabnya tanpa berpikir panjang.
"Aku ingin meminta waktumu yang selanjutnya untuk dihabiskan bersama ku."
Deg! Selin membeku di tempat dan menatap Barra tidak mengerti. "Maksudnya?" Tanya Selin memastikan dengan perasaan yang campur aduk.
"Selin maukah kamu menikah dengan ku?" Ucap Barra serius yang berhasil memberhentikan waktu di kehidupan Selin saat itu juga.
Selin membeku dengan pandangan yang terfokus ke arah Barra. Dia sangat syok karena tiba-tiba diajak berumah tangga, Selin kira Barra akan mengajaknya berpacaran tapi ternyata lebih besar dari itu. Barra malah mengajaknya menikah.
Barra menekuk lututnya dan bersimpuh di depan Selin. Sontak hal itu mengundang perhatian banyak Mahasiswa lain yang dibuat patah hati, karena pujaan hati mereka melamar orang lain. Barra mengeluarkan kotan cincin yang kemudian di buka.
"Will you marry me?" Selin menutup mulutnya tidak percaya, pandangannya berubah berkaca-kaca dengan penuh haru.
Tanpa berpikir panjang lagi Selin mengangguk mantap sebagai jawaban. Dia tidak akan menolak pernyataan cinta dari orang yang selama ini dia cintai dan kagumi. Senyum Barra merekah sempurna lalu memasangkan cincin ke jari manis Selin, kemudian menarik Selin ke dalam pelukannya dengan penuh kebahagiaan.
Walaupun Barra sudah melamar Selin dengar lancar tapi hal itu berbanding terbalik dengan proses pernikahan mereka yang tidak mudah. Selin dan Barra harus berjuang mendapatkan restu dari kedua belah keluarga. Terutama dari Ibu Barra yang menentang dengan keras hubungan mereka itu, karena dianggapnya terlalu berani dan meremehkan sebuah pernikahan. Tapi berkat perjuangan Barra yang begitu luar biasa akhirnya pernikahan mereka bisa berlangsung.
__ADS_1
Selin menikah dengan Barra saat masih semester empat. Status Barra yang baru lulus dan Selin yang masih berkuliah tentulah bukan hal yang mudah untuk mereka. Mereka harus sama-sama merendam ego dan saling terbuka satu sama lain. Ditambah permasalahan di luar dugaan yang selalu datang silih berganti membuat hidup mereka semakin berat. Tapi pernikahan sederhana itu juga yang membuat kehidupan mereka bertambah bahagia dan terasa begitu berharga.
Seberat apa pun permasalahan yang mereka hadapi selalu bisa teratasi. Tapi sayangnya kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar. Pernikahan sederhana itu hanya mampu bertahan satu setengah tahun, semuanya berubah menjadi mimpi buruk bagi Selin pada hari dimana Barra mengajaknya bercerai secara tiba-tiba.
Hari itu, Selin menatap tidak percaya hasil tes pack yang menampilkan dua garis biru. Dia memejamkan kedua matanya penuh syukur dengan air nata bahagia yang mengalir deras. Dia kemudian berjalan dengan semangat ke pintu rumah untuk menunggu Barra yang sebentar lagi pulang kerja. Saat sudah melihat Barra turun dari mobil Selin langsung berlari dengan penuh kerinduan.
Greb, Selin memeluk Barra penuh kebahagiaan, harum parfum Barra merasuk ke indra penciumannya penuh ketenangan. Tanpa banyak bicara Barra membalas pelukan Selin seperti itu adalah pelukan terakhir mereka.
Selin terkekeh dan semakin membenamkan tubuhnya di pelukan Barra. Dia tidak tahu jika pelukan yang membahagiakan ini adalah sebuah salam perpisahan dari Barra. Pelukan Selin yang begitu erat perlahan terurai saat tiba-tiba ada seorang wanita yang berjalan perlahan menghampiri mereka, kedua mata Selin langsung membulat saat tiba-tiba tangan Barra menggenggam tangan wanita itu dengan erat.
"Siapa dia?" Tanya Selin karena tidak ingin salah paham.
"Dia Kania, aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa berhenti menyukai dan jatuh cinta padanya." Ucap Barra serius dengan tatapan lurus ke arah Selin.
Selin seketika membeku dengan perasaan sesak yang memenuhi hatinya. Pandangannya berubah buram karena buliran bening memenuhi pandangannya.
Selin tersenyum kecut sambil melangkah mendekat ke arah Barra. "Kamu bercanda kan? Bagaimana bisa?" Ucapnya tidak percaya.
Selin menghela napasnya berat. "Aa.. Akk.. aku tidak percaya kamu melakukan hal ini kepada ku. Kamu khilaf kan? Aku akan memaafkan mu, jangan tinggalkan aku ya, hmm?" Ucap Selin dan meraih tangan Barra penuh permohonan.
Bats! Barra menghentakkan tangan Selin kasar dan beralih memeluk Kania di depan Selin tanpa ragu. "Apa aku harus melakukan hal yang lebih dari ini di hadapan mu, agar kau melepaskan ku?" Tanya Barra tidak memperdulikan perasaan Selin yang sedang terluka. Selin tersentak dengan sikap Barra yang tidak seperti biasanya, hatinya masih tidak percaya Barra akan mengkhianatinya.
Plak! Selin menampar Barra dengan cukup keras. Dia berlari ke dalam rumah dengan perasaan hancur. Tes pack yang bertanda dua garis biru di lempar begitu saja ke dalam tong sampah.
Selin menyambar ponsel di nakas untuk menghubungi Farel sahabatnya.
"Farrel, Farrel!. Hiks, hiks, hiks." Ucap Selin histeris saat panggilan terhubung. "Tolong ke rumah dan bawa aku pergi. Aku mohon... Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Hari itu tidak pernah Selin lupakan sedikit pun. Bayangan tentang kejadian itu selalu memutar di kepalanya dan membayang-bayangi Selin setiap saat. Pengkhianatan Barra yang merusak kehidupannya yang tidak bisa Selin maafkan maupun lupakan hingga sampai sekarang.
*****
__ADS_1
Selin menghela napasnya berat saat tiba-tiba dia teringat dengan kejadian di masa lalu yang ingin dilupakannya. Dengan semangat yang sedikit luntur dia berjalan ke meja makan dengan dua gelas susu di atas nampan.
"Abang sama Jeno jangan nakal ya pas lagi pemotretan, jangan bikin tante Anet kewalahan." Ucap Selin sambil memperhatikan kedua anaknya yang sedang meminum susu dengan menggemaskan.
Hari ini Juna dan Jeno ada jadwal pemotretan, berkat ketampanan dan kecerdasan mereka. Banyak sekali tawaran pekerjaan yang mereka dapatkan. Bahkan penghasilan Juna dan Jeno lebih besar berkali-kali lipat dibanding Selin.
"Siap Bunda!" Ucap Mereka serempak.
Selin terkekeh dan meletakkan kepalanya ke atas meja sambil memperhatikan dua anak kembarnya yang semakin menggemaskan. Entah kenapa perasaan Selin menjadi melow dan malas untuk bekerja, padahal ini adalah hari pertama nya. Dia malas pergi dan ingin bermalas-malasan sambil menatap wajah si kembar yang begitu tampan.
"Nda males kerja ya?" Ucap Jeno dengan tatapan lurus ke arah Selin yang sedang melamun.
"Udah setengah delapan Bun, nanti telat. Kayak anak kecil aja maunya malas-malasan." Timpal Juna tidak mau kalah.
Selin terkekeh lalu beranjak untuk memeluk kedua buah hatinya yang sangat ia sayangi. "Bang, Bunda titip Jeno ya jangan dijahili."
"Siap Bun," Jawab Juna tegas di dalam pelukan Selin.
"Muach, muach. Bunda pamit ya," Pamit Selin pada kedua anak kesayangannya.
Selin sudah ada di tepi jalan untuk menunggu tukang ojek yang dipesannya lewat ponsel.
Tin! Tin!
Tidak lama dari itu sebuah klakson mobil menarik perhatiannya. Selin mengangkat kepalanya saat ada mobil yang berhenti dihadapannya. Refleks dia menutup mulutnya tidak percaya. "Farel? Loh ko kamu kesini, nggak kerja?" Tanya Selin bercampur bahagia karena pagi-pagi dia sudah melihat pria tampan untuk ketiga kalinya.
Farel berlari kecil kehadapan Selin dan tersenyum hangat, tangannya terulur untuk menyentuh pucuk kepala Selin penuh kerinduan. "Sengaja, kan aku mau ngantar tuan putri kerja di hari pertamanya." Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Selin gemas.
"Ih rambut aku acak-acakan tahu!" Protes Selin jengah.
*******
__ADS_1
Jangan baca aja ya, pencet tombol favorit, vote dan like nya juga :)