
Selin duduk di tepi ranjang dengan tangan memegang hair dryer untuk mengeringkan kepala Juna dan Jeno secara bergantian. Sedangkan kedua anaknya duduk lesehan tepat di bawahnya.
"Bunda?" Juna menengadahkan kepala untuk melihat wajah Selin.
"Iya sayang." Jawab Selin sembari mengeringkan rambut Jeno yang masih basah.
"Minggu depan ada acara Fathers Day." Ucap Juna lirih yang berhasil membuat Selin mematung seketika.
Selin termenung lalu mematikan hair dryer di tangannya, dia turun dari ranjang kemudian duduk di hadapan kedua anaknya. "Terus gimana?" Tanya Selin dengan perasaan was-was.
Juna menghela nafasnya panjang kemudian menatap lembut Selin. "Konsep acaranya murid-murid harus tampil sama Ayah mereka, tadi siang pendaftaran terakhirnya."
Selin tidak berkomentar dengan tatapan sendu ke arah Juna dan Jeno, penuh penyesalan, kebingungan, dan sakit hati.
Jeno bisa melihat raut kebingungan Bundanya yang begitu ketara. "Tadi Eno daftar, kita tampil sama Om Bara. Soalnya Om Bara nawarin diri buat kita, tapi Nda tenang aja. Kalo Nda nggak kasih ijin kita nggak papa ko nggak tampil. Kita nggak usah sekolah aja, toh nggak bakalan belajar kan? Bener nggak Nda." Jeno meraih tangan Selin kemudian menggenggamnya erat.
Selin tersenyum hangat tangannya terulur untuk mengusap kepala kedua anaknya secara bergantian. "Kalo Om Bara emang udah nawarin diri, Nda setuju-setuju aja ko." Jawab Selin yakin.
Sontak Juna dan Jeno langsung berpandangan. "Beneran boleh Nda?!!!!" Pekik mereka kegiranga.
Selin terkekeh melihat raut kebahagiaan kedua anaknya yang begitu terpancar. Pantas saja beberapa minggu ini Selin melihat raut kesedihan dari kedua anaknya, namun dengan bodohnya Selin malah acuh tak acuh dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya. "Mmm," Selin mengangguk sebagai jawaban.
Juna dan Jeno langsung berhamburan memeluk Selin. "Makasih Bunda!!"
Dengan sepenuh hati Selin membalas pelukan kedua anaknya yang berhasil membuatnya berkaca-kaca.
Jeno sedikit merai pelukannya kemudian menengadah untuk menatap Selin. "Nda besok pulang sekolah kita mau latihan sama Om Bara boleh kan?"
Selin mengangguk. "Boleh, tapi kalian jangan nakal ya. Nanti kalo sempat Bunda nyusul kalian." Gantian Selin menatap kedua anaknya dengan serius.
"Bunda mau nanya, kalian udah lama kan dapet pengumuman ini? Kenapa baru bilang sama Bunda sekarang?"
"Mmmm, soalnya..." Juna dan Jeno saling senggol berharap jika saudaranya akan menjawab pertanyaan Selin yang begitu sulit dari soal CPNS.
Karena kedua anaknya hanya diam saja dan tidak menjawab akhirnya Selin angkat bicara kembali. "Lain kali ada masalah apapun kalian harus bilang ya?. Nda nggak mau ada hal yang kalian tutupin dari Nda. Di dunia ini Nda cuma punya kalian, Ndaa mau apapun yang membuat kalian bingung dan sedih. Kalian harus langsung kasih tau Bunda.. Oke?"
Mereka mengangguk serempak dengan tatapan penuh penyesalan. "Iya Nda, maafin kita yaa!!" Ucap Juna dan Jeno dengan pandangan berkaca-kaca.
Selin terkekeh kemudian mengangkat jari kelingkingnya. "Janji ya?"
"Janji!!"
******
Selin menatap ponselnya nanar, sejak tadi dia bertanya-tanya jika saat ini dia menelpon Bara adalah pilihan yang tepat atau bukan. Bruk! Selin merebahkan tubuhnya ke kasur penuh kepasrahan, tanpa sengaja ternyata jari-jarinya yang mungil tidak sengaja menekan tombol panggil pada layar chat Bara yang sejak tadi Selin tatap.
"Halo, udah kangen aja kamu sama aku?" Ucap Bara diseberang sana.
Selin tersentak saat mendengar suara Bara, kedua matanya terpejam rapat menyesali perbuatan bodohnya yang malah menelpon Bara.
"Mmmm," Selin hanya bergumam bingung harus bicara apa sama Bara.
Dari sebrang sana Bara yang baru keluar dari kamar mandi merebahkan tubuhnya dan bersandar pada dinding kasur. "Kenapa ada masalah, kamu keseleo lagi? Lapar? Atau kenapa?" Tanya Bara sedikit cemas, karena Selin tidak mungkin menelponnya jika tidak ada hal-hal yang penting.
__ADS_1
"Aku baik-baik aja ko."
"Syukur deh kalo baik-baik aja. Ternyata cuma aku yang nggak baik-baik aja." Ucap Bara terkekeh.
Selin memutar bola matanya malas. "Emang kamu kenapa?"
"Aku rindu orang yang lagi dengerin suara ku lewat telpon."
"Bar," Panggil Selin lirih.
"Iya?"
Selin merebahkan kepalanya di atas bantal dengan nyaman. "Kamu mau tampil sama si kembar di acara sekolah nya?"
"Ya mau dong, kita mau karate bareng-bareng. Pasti semua orang terpesona dan ibu-ibu di sana langsung klepek-klepek liat aku sama si kembar tampil."
"Apaan sih lebay banget. Tapi Bar," Ada sedikit ketakutan yang terlintas di benak Selin. Dia takut jika Bara hanya memberikan janji palsu pada Juna dan Jeno, yang tentu saja jika Bara mengkhianatinya hati kedua anaknya pasti sangat sedih.
"Apa?"
"Orang-orang bakal anggap kamu Ayah mereka, pasti bakal rumit. Aku takut orang tua di sana kenal kamu siapa dan keadaan jadi rumit." Di satu sisi Selin tidak ingin membuat kedua anaknya bersedih, tapi di sisi lain juga dia tidak ingin membuat orang berasumsi tentang Ayah si kembar. Ya, walaupun Bara memang Ayah kedua anaknya. Tapi tetap saja, situasi saat ini tidak mudah diceritakan pada siapapun.
Bara bisa menangkap raut kekhawatiran dan kebingungan Selin yang pastinya sangat menderita karena keadaan. Andai saja Bara tahu siapa Ayah Juna dan Jeno, Bara akan memukulinya habis-habisan. Karena dia sudah tega menelantarkan Selin dan kedua anaknya yang tidak berdosa. "Udah nggak usah khawatir sama hal-hal yang nggak pasti. Kamu percaya aja sama aku, toh kalo orang-orang anggap aku Ayah mereka aku bakal seneng banget." Ucap Bara berusaha memberi ketenangan.
Selin tersenyum samar entah kenapa perkataan Bara berhasil membuat hatinya lebih tenang. "Jangan bercanda deh," Protes Selin kesal karena di situasi seperti ini dia masih berani bercanda.
"Serius Selin. Kalo kamu emang peduli sama apa yang orang lain katakan, yasudah kita wujudkan aja ekspektasi orang-orang."
"Maksudnya?" Selin membeku di tempat.
Selin tersenyum kecut. "Ternyata dari dulu kamu nggak pernah berubah ya, selalu mudah untuk mengajak nikah orang lain dan hal itu berbanding lurus juga dengan ngajak cerainya."
"Sel bukan gitu maksud aku," Bara mengacak rambutnya frustasi.
"Jangan bercanda terlalu berlebihan Bar, pernikahan bukan ajang komedi dan memenuhi ekspektasi orang-orang. Kalo gitu aku tutup dulu ya, tolong jaga anak-anak."
Bara memejamkan matanya sejenak. "Maaf Sel, aku nggak bermaksud. Tanpa kamu minta juga aku pasti bakal melindungi mereka berdua. Aku jatuh cinta sama kamu udah sepaket sama mereka berdua jadi bonusnya, ibarat buy one get two."
"Brengsek!"
Tawa Bara seketika pecah. "Hahahaha, gitu dong marah. Jangan malah dingin terus kata-katanya bijak. Jujur aku ngerasa merinding Sel," Ucap Bara penuh kejujuran.
Selin mendengus sebal penuh kekesalan. "Hmmm, bodoamat."
"Kamu lagi apa?"
"Tiduran!"
"Coba kamu buka laci deh,"
"Laci apa?"
"Laci di meja rias kamu,"
__ADS_1
"Ada apa? Ada barang yang ketinggalan?" Selin menautkan kedua alisnya kebingungan kemudian bangkit dari ranjang menuju meja riasnya.
"Buka aja," Perintah Bara yang berhasil membuat Selin semakin penasaran.
Sreet! Kedua bola mata Selin membulat sempurna saat melihat laci yang awalnya berisi sisir sudah di sulap menjadi toko coklat, lacinya sudah di sulap menjadi terisi berbagai macam coklat yang sudah memenuhi lacinya. "Kamu mau bikin aku diabetes? Ini banyak banget Bara, udah mirip mau buka toko online."
"Ahahaha, bukannya berterimakasih malah ngomel-ngomel. Dodol yah kamu," Bara tidak habis pikir respon Selin malah seperti itu.
"Idih," Jujur sebenarnya di dalam hati, Selin bahagia dan kegirangan. Karena akhirnya dia bisa memakan Cokelat lagi yang beberapa tahun terakhir dia lupakan.
"Kamu masih suka cokelat?"
"Udah nggak," Selin kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
"Masa sih?"
"Bener. Aku udah banyak berubah, waktu lima tahun itu adalah waktu yang sangat cukup untuk manusia berubah."
"Kalo perasaan kamu sama aku berubah juga?"
Selin membeku, memang Bara selalu berhasil membuatnya mati kutu. "Semua dalam hidupku sudah berubah, termasuk perasaan." Ucap Selin lirih.
"Baiklah kalo memang perasaan mu bisa berubah, aku akab merubahnya menjadi kembali mencintai ku."
Selin hanga tersenyum kecut. "Berisik, aku mau tidur. Aku tutup!"
"Eh, eh, eh jangan dulu."
"Apalagi sih!"
"Kamu tahu nggak persamaan kamu sama cita-cita apa?"
"Nggak tahu dan nggak mau tahu!"
"Sama-sama harus di kejar dan diperjuangkan!"
"Basi!! Modal nyari ke Bah Google aja udah sok narsis!"
"Ahahahahaha,"
"Kamu tahu nggak perbedaan......."
"Nggak..."
"Berisik!"
"Basi!"
"Hahahaha,"
Mereka hanyut dalam perbincangan hangat sampai-sampai tanpa terasa Selin sudah masuk ke dalam alam mimpi dengan tenang. Begitupun Bara diseberang sana sudah memejamkan kedua matanya dengan senyuman menghiasi wajahnya.
*******
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)