Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 8 : Oh Ternyata


__ADS_3

Selin merapihkan rambut yang di acak-acak Farel dengan sebal. "Kamu ngapain jemput aku. Kamu kan pasti sibuk banget!" Ucap Selin merasa tidak enak.


Farel tersenyum hangat lalu menarik Selin untuk segera masuk ke dalam mobil. "Udah ayo masuk!"


Selin membeku ditempat sebagai penolakan. "Tapi aku udah pesan ojek, nah tuh baru datang." Tunjuk nya pada seorang Bapak-Bapak yang baru saja memarkirkan motornya.


"Gampang itu mah." Ucap Farel tidak sabar karena jarum jam terus berputar ke arah delapan. Farel bergegas menghampiri tukang ojol itu. "Bang nih bayaran nya, tapi maaf penumpangnya saya ambil ya."


Selin tertawa renyah melihat interaksi Farel dan tukang Ojol, dia tidak mengerti kenapa Farel sangat mudah membuatnya tersenyum dan tertawa.


"Ayo cepat masuk," Panggil Farel sudah duduk di kursi kemudi.


Tanpa membuang waktu lagi Selin langsung bergegas dan duduk di samping Farel dengan memakai sabuk pengaman.


"Udah siap tuan puteri," Tanya Farel dengan senyuman receh khasnya.


Selin menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan sikap Farel yang kocak. "Udah-udah, ayo cepetan nanti kamu kesiangan."


Farel menjalankan mobil dengan santai tidak takut kesiangan seperti yang Selin khawatirkan. Ya, tentu saja dia tidak takut kesiangan orang dia sudah menjadi bos muda di perusahaan yang dirintisnya. Berbeda dengan Selin yang masih seorang karyawan.


"Gimana rumahnya nyaman?" Tanya Farel ditengah-tengah keheningan.


"Nyaman, makasih ya Farrel. Aku berhutang budi banget sama kamu."


Bagi Selin, Farel adalah orang yang paling berjasa bagi hidupnya. Farel banyak sekali membantunya, dia membantu melindungi Selin agar tidak terlacak lagi oleh Barra, membantu Selin dalam menjalankan Bisnis Kue nya di Bandung, mencarikan rumah saat Selin ingin pindah, dan mencarikan lowongan pekerjaan saat Selin membutuhkan.


"Aku nggak bantu apa-apa juga," Farel memang seperti itu. Walaupun sikapnya receh dan jail tapi dia adalah orang baik dan tidak suka di puji.


"Mulai-mulai deh kamu merendah, kamu itu udah bantu cariin rumah, cari pekerjaan buat aku. Pokoknya banyak lagi deh," Cerca Selin tidak habis pikir.


"Hehehe, santai aja kali Sel. Toh aku cuma bantu cari aja, kan yang berjuang sama bayarnya kamu bukan aku."


"Ya tetep aja Farrel. Eh btw Kamu nggak kerja?" Tanya Selin penasaran.


"Bos mah bebas dong, kan mau nganter tuan puteri dulu. Kenapa sih kamu nggak mau kerja di kantor aku?" Tanya Farel sedikit kecewa, padahal dia sangat ingin Selin bekerja bersama dengannya.


"Nggak mau! Aku nggak mau punya bos kayak kamu!"


Mendengar jawaban Selin entah kenapa Farel langsung tertawa terbahak-bahak. "Ahahahaha, padahal kalo kamu kerja sama aku, kita bisa pulang sama pergi ke kantor bareng-bareng tahu."


"Nah itu dia, aku malas harus liat wajah kamu terus tiap hari!"


"Ya ampun Sel, kamu itu terlalu jujur deh. Aku jadi tambah suka."


Selin memutar bola matanya malas. "Mulai deh gombalannya keluar."


"Hahaha, Sel aku bahagia banget kamu pindah ke jakarta." Ucapnya yang berhasil membuat Selin membeku.


"Masa sih," Ucap Selin sambil membuang pandangan ke arah jendela.


"Beneran! Biar aku punya bahan bullyan kayak waktu masih kuliah!"

__ADS_1


"Sembarangan," Wajah tersipu Selin langsung berubah cemberut.


Mereka asik mengejek satu sama lain selama diperjalanan sampai tidak terasa jika mereka sudah sampai di kantor Selin.


Farel menoleh ke arah Selin yang sedang sibuk membuka seat belt. "Udah sampai, semangat kerjanya ya."


"Oke. Makasih udah antar ya. Nanti malem kalo santai main aja ke rumah, kita makan malam bareng sama si kembar."


"Pasti, nanti aku calling-calling lagi deh," jawab Farel antusias.


"Siap. Makasih ya udah mau nganterian aku." Ucap Selin kemudian keluar.


Farel mengeluarkan kepalanya dari jendela untuk menggoda Selin. "Siap. Mana ongkosnya," Ucapnya yang berhasil menghentikan langkah Selin.


Selin mendengus sebal. "Nih dua ribu!"


Farel menatap uang dua ribu yang sudah ada dipangkunya. "Sel, aku kalah saing dong sama harga ke Wc."


"Ish ada-ada aja. Aku pergi dulu ya," Teriak Selin yang sudah berjalan pergi.


Farel mengangguk penuh kehangatan, kemudian menjalankan mobilnya untuk pergi.


******


"Hai, kamu karyawan baru disini?" Ucap seseorang yang berhasil membuat Selin menghentikan pekerjaannya yang hampir selesai.


"Iya, kamu karyawan baru juga?" Jawab Selin ramah.


"Aku Selin, salam kenal ya." Tangan Selin terulur kemudian di jabat oleh Syakila.


"Semoga kita jadi temen dekat ya, soalnya orang-orang disini agak jutek." Bisik Syakila pelan.


Selin sedikit terkekeh, "Oke, semoga kita jadi rekan yang solid ya."


Syakila menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Selin. "Kamu apply kerja disini sejak kapan?" Tanya nya dengan tingkat kepo level dewa.


"Sekitar satu bulan yang lalu, dan minggu kemarin baru ada panggilan."


Syakila mengangguk-angguk paham. "Kamu beruntung banget ya."


Kedua alis Selin terangkat, "Beruntung? Emangnya gimana?"


"Ya kamu masuk pas perusahaan ini udah di akusisi sama perusahaan yang lebih baik dalam segalanya, biasanya gajih juga suka telat. Tapi semenjak diakusisi gajih nya sekarang lancar jaya kaya jalan tol."


"Huuh, syukur deh kalo gitu. Kalo boleh tahu, perusahaan ini diakusisi sama perusahaan mana?"


"Masih rahasia Sel. Nanti siang peresmian nya."


"Wah serius, kita pulang lebih awal dong?" Tanya Selin dengan wajah yabg berbinar.


"Iya katanya pulang lebih awal. Iri banget sih sama kamu, udah cantik, masuk kerja di waktu yang tepat, dan sekarang hari pertama kamu kerja langsung libur. Bener-bener hoki kamu," Ucap Syakila merasa iri.

__ADS_1


Salin terkekeh kemudian berbisik, "Ahihihi, kamu bisa aja. Makanya baik-baik sama aku, biar ketularan hoki!"


Syakila tertawa pelan "Kan ini juga lagi proses," Jawabnya tegas.


"Hahaha," Biasanya Selin tidak mudah menerima kehadiran orang baru apalagi sampai bercanda, tapi entah kenapa dengan Syakila hatinya langsung merasa cocok dan nyaman.


*****


"Hadirin yang berbahagia, akhirnya acara yang kita tunggu-tunggu sudah tiba. Perusahaan yang kemarin kita rahasiakan, akhirnya pada hari ini akan kita umumkan. Baik untuk mempersingkat waktu kita panggil Bapak Barra Kenzo Julian untuk naik ke atas podium!" Ucap MC yang berhasil membuat rasa penasaran para karyawan terjawab sudah. Ternyata Ailian Corp yang mengakusisi perusahaan tempat mereka bekerja.


Prok! Prok! Prok!


Ailian Corp, adalah perusahaan terkenal yang bergerak di bidang manufaktur, mulai dari alat komunikasi, transportasi dan alat elektronik lainnya. Produk dari perusahaan ini sudah tidak diragukan lagi, bahkan beberapa perusahaan tingkat dunia mengekspor barang-barang dari perusahaan ini.


Ketika semua orang sedang bersuka cita, Selin malah membeku di tempat dengan pandangan lurus ke arah Barra yang sedang sambutan di atas podium. Usaha Selin untuk menghindari Barra rasanya hancur begitu saja, bagaimana bisa dengan penuh kesadaran Selin bekerja di perusahaan orang yang sangat dibencinya. Walaupun belum tentu juga mereka akan sering bertemu apalagi Selin adalah karyawan biasa, tapi Selin benar-benar ingin hidup tanpa di bayang-bayangi oleh kehadiran Barra sedikit pun.


"Wah gila! Kita diakusisi sama Ailian Corp!, Eh Sel kamu kenapa?" Ucap Syakila saat melihat Selin yang melamun dengan wajah pucat dan penuh keringat.


Sentuhan Syakila di tangan Selin berhasil membuyarkan lamunannya. "Nggak papa, aku nggak enak badan kayaknya. Aku permisi ke toilet dulu," Ucap Selin tergesa dengan pandangan yang berkaca-kaca.


Dengan tubuh yang berubah lemas, Selin bergegas menuju toilet untuk menenangkan perasaannya.


Crash! Crash! Crash!


Selin mencuci wajahnya dengan tergesa kemudian menatap tampilannya di cermin. Dia tidak mengerti lagi dengan keadaan yang selalu menarik nya ke arah Barra, hati Selin yang masih rapuh belum siap bila harus kembali melihat Barra atau pun mendengar namanya di sebut.


"Why! Why! Why! Kenapa harus dia!" Ucap Selin penuh keputusasaan.


Celek!


Selin menoleh ke arah pintu yang baru saja di buka oleh seseorang. Kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat orang yang masuk. "Kania?!"


*****


Beberapa bulan yang lalu di sebuah kamar.


"Bang lagi apa, kok kaya sibuk banget?!" Tanya Jeno saat melihat Juna yang sedang fokus dengan laptop di pangkuannya.


"Abang lagi ngirim email ke Dady Farel," Jawab Juna singkat dan kembali fokus.


Jeno mengerutkan dahinya berpikir keras. "Email apa?"


"Email lowongan pekerjaan untuk Bunda," Gumam Juna di dalam hati yang tentu saja tidak terdengar oleh Jeno. "Ada deh," Ucap Juna dengan senyuman misterius terlukis di wajahnya.


*ditempat lain.


Tring!


Farel mengerutkan dahinya saat ada email masuk yang tidak diketahui pengirimnya. Karena penasaran dia cepat-cepat mengecek email itu. Kedua matanya langsung berbinar bahagia, "Wah kayaknya perusahaan ini bagus apalagi deket sama kantor ku, aku kirim ke Selin ah!"


******

__ADS_1


Kalian sudah tahu kan siapa dalang dibalik semuanya?


__ADS_2