
Anet keluar dari kamar mandi dan ikut menyusul Raka dan Helen yang sudah masuk kamar. Dasar ya dua manusia itu malah enak-enakan tidur di saat Anet harus membereskan kekacauan yang baru saja terjadi.
Kedua bola mata Anet mendelik tajam saat melihat pemandangan Raka sedang di peluk manja oleh Helen di atas ranjang. "Dih, keterlaluan emang si Helen. Udah dibantuin malah meluk-meluk segala lagi. Ini lagi si Raka, bukannya nolak malah diem aja. Nyari kesempatan dalam kesempitan banget tuh orang," Protes Anet kesal.
Bruk! Anet merebahkan tubuhnya di samping Raka, niatannya untuk tidur di sopa gagal begitu saja karena dia tidak bisa membiarkan dua manusia ini tidur di kasur yang sama. Bisa-bisa jika mereka dibiarkan bersama Raka malah khilaf dan menyakiti Helen. Memikirkannya saja sudah membuat Anet bergidik ngeri.
Raka sedikit terganggu dengan celotehan Anet yang sangat tidak nyaman di telinga nya. "Katanya mau tidur di sopa?" Tanya Raka dengan suara parau.
"Mana bisa gue diem aja, liat kalian mesra-mesraan kaya gini!. Awas ya lo jangan nyari-nyari kesempatan!" Ucap Anet ketus dengan urat leher yang sudah menegang.
Raka mendengus sebal karena selalu saja di salahkan, padahal yang disini yang tersiksa adalah Raka. Dia harus reka berbagi kasurnya dan rela di peluk-peluk hanya agar bisa tidur di kasur miliknya sendiri. "Coba liat kesini, siapa yang menderita?. Aku udah berbaik hati berbagi kasur kalian yang malah kelewatan." Jawabnya.
Akhirnya Anet mengalah toh ucapan Raka memang tidak ada yang salah. Dia tidur membelakangi Raka dan perlahan memejamkan matanya. "Gue tidur disini!" Ujarnya minta ijin.
"Hmm, terserah." Jawab Raka dengan mata yang terpejam.
Anet merebahkan tubuhnya di samping Raka dengan posisi membelakangi nya. Susah payah Anet memejamkan matanya untuk tidur tapi rasa kantuk tidak kunjung datang juga. Helaan nafas keluar dari mulutnya akhirnya dia memilih untuk membuka mata. Memperhatikan setiap detail kamar raka yang di dominasi oleh warna abu-abu sangat mencerminkan Raka sekali.
Setelah beberapa kembali terdengar suara nafas saling bersautan di belakangnya, yang menandakan jika dua manusia di belakangnya sudah tidur. Anet bangun dari duduknya dan memperhatikan posisi Helen dan Raka yang sudah semakin gila. Dengan leluasa Helen memeluk Raka dengan erat sedangkan yang di peluk hanya diam saja menikmati rezeki nomplok. "Ckk!" Anet mendengus sebal kemudian melepaskan pelukan Helen dengan paksa dari tubuh Raka. Guling yang digunakannya digunakan untuk membatasi antara Raka dan Helen.
Prok! Prok! Prok! Anet tersenyum bangga saat sudah berhasil memisahkan dua sejoli yang meresahkan itu. Dia kembali merebahkan tubuhnya ke kasur dengan perasaan lebih lega. Tapi tidak lama dari itu suara orang yang bergerak di kasur kembali menyulut emosinya, baru saja mereka di pisahkan oleh guling masa sekarang sudah saling berpelukan lagi.
Dengan perasaan kesal Anet membalikan tubuhnya ke arah Raka, jantungnya langsung berhenti berdetak saat mengetahui ternyata sekarang tubuh Raka mengarah ke arahnya dan sedang menatapnya lekat-lekat. "Kenapa kaya kepergok maling gitu? Kamu cemburu ya liat aku di peluk-peluk cewek lain?" Tanya Raka polos dengan raut sedikit menggoda.
__ADS_1
"Cemburu pala lu peang!" Teriak Anet kesal kemudian mengangkat tangannya untuk menampar lengan Raka, namun sebelum niatannya berjalan lancar Raka lebih dulu menahan tangan Anet kemudian menarik Anet ke dalam pelukannya. "Woy!! Gila lu ya!!" Pekik Anet berusaha melepaskan diri, tapi sayangnya tenaganga kalah dari Raka. "Shhht, berisik udah malam cepat tidur." Ucap Raka dengan mata yang sudah terpejam, Raka berharap perbuatannya ini bisa membuat Anet berhenti bergerak-gerak tidak jelas dan mengganggu waktu tidurnya yang begitu berharga.
******
Matahari mulai mengintip dari tirai-tirai yang ternyata sudah terbuka, Selin mengucek matanya dengan perlahan kemudian membuka matanya dengan kesadaran yang semakin terkumpul. Pandangannya langsung jatuh pada bantal disebelahnya yang ternyata sudah kosong. Dia tersenyum sendu dengan perasaan sedikit kehilangan. Mungkin saat ini Bara sudah pulang dan entah kapan mereka akan kembali bertemu.
Selin turun dari kasur dan mulai mencoba berjalan, ternyata pergelangan kakinya sudah membaik. Setelah selesai membersihkan diri dia mengecek kamar Juna dan Jeno yang ternyata sudah kosong, sepertinya mereka sedang menonton TV di bawah karena hari ini mereka libur sekolah. Saat menuruni tangga bau sedap sebuah masakan tercium olehnya, Selin semakin penasaran dan mempercepat langkahnya.
Hening! Ternyata keadaan di lantai santai satu tidak jauh berbeda dengan lantai dua. "Juna Jeno!" Panggil Selin dengan perasaan sedikit khawatir karena di pagi buta begini kedua anaknya entah sudah berangkat kemana.
"Hahahaha, Om besok kita lari lagi ya. Tadi Selu banget!"
"Iya, nanti kita olahraga bareng lagi ya."
Juna tersenyum hangat kemudian cepat-cepat bangkir dan mengelap keringat di dahinya. "Kita baru pulang lari pagi Nda, sama Om Bara." Jawab Juna dengan wajah yang terlihat ceria.
Selin menghela nafasnya serba bingung, awalnya dia ingin mengomel karena sejak ada Bara di rumah kedua anaknya sangat jarang minta ijin untuk melakukan sesuatu. Tapi melihat kedua anaknya yang terlihat begitu bahagia akhirnya Selin mengurungkan niat nya.
"Ndaa,, Eno capek banget. Enda tahu nggak, tadi kita di kejar-kejar sama cewek-cewek yang lagi joging. Kayaknya mereka terpesona sama ketampanan kita, malah ibu-ibu komplek ada yang minta foto sama kita bertiga." Ucap Jeno antusias menceritakan pengalamannya.
Memang semenjak mereka kembali ke Jakarta Selin belum sempat mengajak kedua anaknya joging di pagi hari. Jadi wajar saja saat ini kedua anaknya begitu antusias. "Wah serius?. Kenapa kalian nggak ngajak Bunda, kan Bunda juga mau olahraga."
"Kan Nda lagi sakit, nanti kalo udah sembuh kita joging bareng ya Nda.." Timpal Jeno dengan kedua mata yang berbinar.
__ADS_1
Selin tersenyum hangat kemudian mengelus kepala Juna dan Jeno yang sudah basah karena keringat. "Yasudah, ayo cepetan mandi. Badan kalian udah bau keringat."
"Siap Ndaa," Jawab mereka serempak dan langsung masuk ke dalam rumah.
Setelah kedua anaknya masuk Selin beralih menatap ke arah Bara yang sedang asik memejamkan matanya sambil membaringkan tubuhnya ke lantai. "Enak ya pagi-pagi udah tebar pesona ke penghuni kompleks!" Ucap Selin sedikit kesal.
Bara tersenyum gemas dengan kedua mata yang masih terpejam, sebenarnya sejak tadi Bara sudah menunggu gilirannya di omeli oleh Selin. Bara cepat-cepat bangun dan balas menatap Selin yang sedang duduk di kursi terasnya. "Aku nggak tebar pesona loh, emang aku nya aja yang udah mempunyai pesona mega bintang sejak lahir." Jawab Bara sambil terkekeh.
Selin membuang pandangannya ke arah lain. "Dihh, pede amat jadi orang!" Ucapnya berdecak sebal.
Bara semakin melebarkan senyumnya dan bangkit untuk berjongkok tepat di depan Selin. "Cie yang lagi cemburu," Goda Bara sambil menoleh pucak hidung Selin.
"Idih nggak ya!! Aduh kenapa nyentuh hidung ku sih!!.. Tangan kamu kotor tau, penuh debu sama keringat. Jorok banget sih!" Omel Selin misuh-misuh di tempat duduknya.
"Nggak papa ada bakteri di hidung biar kamu jerawatan, jadi pagi-pagi nggak cantik banget kaya gini." Bisik Bara kemudian cepat-cepat mengacir ke dalam rumah karena tidak mau menerima amukan Selin lagi.
"Heiiii!!" Teriak Selin penuh kekesalan, tapi tidak lama dari itu senyuman terbit di wajahnya.
******
Yuk komentar sebanyak-banyaknya biar author tambah semangat. Maaf kemarin nggak update, mood authornya ambyar sama kurang sehat :(
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)
__ADS_1