
Bara sedang sibuk memperhatikan persiapan Pesta yang akan dilakukan besok, dengan perasaan rindu kepada Selin yang menyiksa batinnya. Bara menghela nafas panjang dengan pikiran yang melayang.
"Pak Mbak Kania tadi hampir celaka." Ucap seorang Karyawan yang menghampirinya.
Bara menautkan kedua alisnya dengan perasaan heran. "Celaka gimana?"
"Dia tersiram air panas." Ucap Karyawan itu.
Bara geleng-geleng heran dengan Kania yang tidak henti-hentinya membuat ulah. "Hmm.. Baiklah sana ke sana."
Bara berjalan untuk bertemu dengan Kania, bagaimanapun juga Kania sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Jadi, sekesal apapun Bara masih peduli kepadanya. "Kenapa?" Tanya Bara langsung duduk di samping Kania.
"Nggak." Ucap Kania acuh sambil membuang pandangan.
"Sini, mana yang luka nya." Bara meraih tangan Kania dan menggeser lengan bajunya hingga memperlihatkan lengannya yang sedikit merah.
Dengan perasaan sedikit kesal Bara mulai mengobati luka Kania dengan mengoleskan salep dengan telaten.
Kania termenung melihat ketulusan Bara, setelah semua yang dia lakukan ternyata Bara masih peduli kepadanya. Ada sedikit perasaan bersalah karena dia dengan sengaja menumpahkan air panas pada tangannya, tapi saat teringat Selin. Rasa kesal dan serakah untuk memiliki Bara kembali memenuhi benaknya. "Kaak," Panggil Kania kemudian mengambil ponselnya untuk merekam video saat Bara mengobati lukanya.
"Hmmm," Gumam Bara sebagai jawaban.
"Aku minta maaf," Ucap Kania lirih.
Bara mengangguk kemudian melepaskan tangan Kania yang sudah selesai di obati. "Jangan di ulangi."
"Tapi aku tetep nggak suka sama Selin," Ucap Kania yang berhasil membuat Bara termenung sejenak.
"Terserah, tapi jangan pernah usik Selin. Atau kamu tanggung akibatnya sendiri." Ucap Bara kemudian bersiap beranjak.
"Kenapa Kakak datang," Tanya Kania.
"Aku sudah menganggap kamu sebagai adik ku sendiri, tapi kalo kamu berulah lagi. Aku tidak akan pernah menanggap mu sedikit pun."
Kania membuang pandangannya dengan penuh rasa sakit, lagi-lagi Selin yang menghalangi kebahagiaannya. "Kenapa Kakak sangat menyukai Selin, padahal semua yang dia punya, aku memilikinya bahkan lebih baik."
Bara meraih kedua bahu Kania dan menatapnya dalam. "Kan.. Ketika kita jatuh cinta kepada orang lain karena fisiknya suatu saat kita pasti akan bosan, tapi jika kita jatuh cinta kepada hatinya semakin lama hubungan itu semakin besar pula rasa cinta dan kekaguman kita. Kamu tidak harus seperti Selin, lakukan hal-hal yang baik. Aku yakin pasti akan ada orang yang mencintai mu melebihi kamu mencintai diri sendiri."
Kania menggeleng tidak terima dengan semua yang Bara ucapkan.
Bara menghela nafas kasar, merasa bingung harus dengan cara apa menyadarkan Kania. "Aku minta maaf karena kemarin terlalu emosi." Ucap Bara kembali duduk seperti semula.
__ADS_1
"Kak, kalo Kakak bener-bener mau minta maaf. Besok harus jemput aku." Ucap Kania telak.
"Tapi.." Bara dibuat kebingungan.
"Yaudah aku nggak maafin."
Akhirnya Bara mengangguk. "Hmmm. Oke.. Tapi kamu nggak boleh usik Selin lagi."
"Iyaa.." Jawab Kania dengan senyuman penuh arti.
******
"Maaf.." Ucap Selin lirih saat Farel sudah berada di hadapnnya lagi
"Nggak papa, santai aja. Aku tahu perasaan emang nggak bisa dipaksakan." Ucap Farel santa kemudian mulai memakan pesanannya.
"Kenapa diam aja, kamu nggak usah ngerasa bersalah. Aku sudah terbiasa," Farel menghentikan kegiatan makannya kemudian menatap Selin yang terlihat tambah murung.
Farel tersenyum hangat kemudian menggenggam tangan Selin dengan penuh kehangatan. "Kalo ada masalah jangan sungkan-sungkan cerita sama aku. Kalo dia masih bersikap kurang ajar jangan sungkan-sungkan cerita, aku adalah orang pertama yang akan menghajar nya."
"Emmmm," Selin tersenyum hangat kemudian mengangguk.
"Kalo dia masih kaya gitu, aku masih sangat terbuka untuk menyambut mu." Ucap Farel sambil terkekeh.
"Loh ko nangis," Ucap Farel kaget kemudian bangkit untuk duduk di samping Selin.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Aa aku.. Bersyukur punya orang baik kaya kamu di sisi aku. Makasih banyak Farel," Ucap Selin dengan tubuh yang bergetar.
Farel menatap Selin dengan tatapan sulit diartikan. "Sel.. Kebaikan kamu masih jauh lebih besar dari ini."
"Kamu sudah menyelamatkan nyawa seorang anak muda yang depresi dan nyaris bunuh diri, kamu sudah memperbaiki hubungan anak ini dengan kedua orang tuanya. Kebaikan ku nggak sebanding dengan kebaikan mu kepada ku." Lanjut Farel.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Maaf karena nggak bisa ngebales perasaan kamu yang sangat tulus. Aku memang bodoh, hiks.. Hiks.."
Farel menepuk-nepuk bahu Selin penuh kasih sayang. "Ishh jangan nangis.. Mama aku dari kemarin nanyain kamu terus tau. Katanya kenapa jarang datang sama si kembar." Ucap Farel berusaha mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya saat ini perasaan Farel pun sedang hancur, ingin rasanya dia menangis bersama-sama dengan Selin.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. Iya nanti kita main.." Ucap Selin di sela-sela tangisnya.
"Aku tau kamu nangis bukan karena aku aja kan? Yaudah nangis aja keluarin semua yang kamu rasakan, kamu wanita tangguh yang pernah aku temui." Ucap Farel dengan perasaan yang sakit, hatinya terasa sesak saat melihat Selin begitu mencintai orang lain dan bukan dirinya.
"Hiks.. Hiks.." Farel menarik kepala Selin untuk bersandar di bahunya.
__ADS_1
Puk!
Puk!
Puk!
"Sel aku berharap kamu bahagia, jangan sakiti diri kamu terus menerus ya." Ucap Farel dengan tatapan menerawang.
"Mmmm.." Gumam Selin.
"Wanita hebat.." Gumam Farel dengan tangan menggenggam Selin hangat.
Drttt... Drrttt... Drttt..
Farel menoleh ke ponsel Selin yang bergetar di atas meja dan terlihat nama Bara tertampil di sana. Karena tidak mau mengganggu Selin yang sepertinya masih sangat kesal pada Bara, cepat-cepat Farel mematikan ponsel Selin dengan satu tangannya.
*****
Bara menatap ponselnya nanar karena tidak satupun panggilannya diangkat oleh Selin, padahal saat ini Bara sangat merindukan wanita itu.
"Huuuuh," Bara merebahkan tubuhnya di kasur dengan tatapan menerawang ke arah langit-langit.
"Bengong aja, Nih hasil Foto studio lo sama Selin." Tidak ada angin tidak ada hujan, Raka datang ke ruangan Bara dan meletakkan beberapa lembar foto di meja.
Bara langsung bangkit dari tidurnya dan mengambil foto itu dengan sumringah.
"Juna dan Jeno mirip lo banget Bar. Lo nggak curiga gitu mereka anak lo?" Ucap Raka kesal sendiri.
"Hmmm." Bara tersenyum kecut dengan perasaan sesak.
"Malah sunyam senyum kaya orang stres lo." Ucap Raka kesal.
Bara menghela nafas dengan perasaan sesak, dia mentap gambar ditangannya dengan tatapan nanar dan menerawang. "Waktu pertama gue liat Juna dan Jeno gue ngerasain getaran yang aneh di hati gue. Tanpa semua orang ketahui, gue diem-diem tes DNA mereka. Tapi sayang... hasilnya bukan. Mereka anak Farel."
"Apa?!!! jangan bercanda ya Lo!" Ucap Raka tidak menyangka, dia masih tidak terima dengan fakta yang Bara beberkan.
Bara tersenyum kecut. "Hmm.. please jangan dulu ngungkit-ngungkit itu."
"Sabar ya bro!" Ucap Raka dengan perasaan yang mengatakan jika ada sesuatu yang tidak beres.
******
__ADS_1
Happy Reading!
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)