
Bugh!!!
Dengan penuh murka Farel melayangkan pukulan tepat di wajah tampan Bara. Tubuh Bara terhuyung mundur kebelakang, tapi tidak sampai tersungkur karena pria itu masih bisa menahan tubuhnya.
Bara tersenyum kecut dengan tangan yang terulur untuk mengusap darah segar yang menetes dari sudut bibirnya. "Apa? Mau ribut?" Ucap Bara santai belum tersulut emosi.
Bugh!!!
Farel tidak menggubris perkataan Bara dan kembali melayangkan pukulan. "Kekuatan lo cuma segitu doang?" Bara mengangkat pandangannya dengan senyum mengejek.
Melihat wajah Bara yang congah semakin membuat emosi Farel terbakar. "Lo harus tanggung jawab atas kecelakaan Juna!"
Bugh!
"Ini pukulan buat kepedihan Selin selama ini!
"Ini karna lo nggak becus jaga mereka!!"
Bara hanya pasrah menerima luapan emosi Farel yang begitu menggebu-gebu, dia paham betul saat ini Farel sedang marah dengan keadaan Juna, dan dia perlu meluapkan emosinya. Tapi jika di pikir-pikir disini bukan hanya Farel yang marah, Bara pun tiga kali lebih marah dari pada Farel. Selain marah dengan keadaan Juna, Bara pun harus menerima kenyataan jika selama ini dia dibohongi.
Bara menahan tangan Farel yang akan dilayangkan ke tubuhnya, dan dalam sekejap Bara sudah bangun dan membalas pukulan yang dari tadi ia dapatkan.
Bugh!!
Bara melayangkan pukulan yang langsung membuat tubuh Farel terhuyung dan tersungkur. "Itu buat lo yang udah nutupin kenyataan dari gue!"
Farel tersenyum dengan derah segar yang membasahi mulutnya. "Jadi sekarang lo udah tau?!"
"Iya brengsek! Gara-gara kalian nitupi semuanya gue baru tau sekarang! Gue tahu saat anak gue hampir meninggal!! Lo puas hah?!!" Teriak Bara dengan penuh emosi.
Farel bangkit dengan tatapan jijik ke arah Bara. "Telat Bar!! Lo tau telat nggak!! Harusnya waktu pertama kali liat mereka lo langsung sadar. Bukan malah nuduh Selin yang nggak-nggak!"
"Lo pikir gue malaikat yang bisa tau segalanya hah! Gue manusia biasa brengsek!!"
"Halah alasan!!... Dasar baj*ngan! Lo nggak becus ngurus Selin sama anak-anaknya. Lo pantas menyesal atas kebodohan lo!! Karena udah ninggalin Selin!"
Tangan Bara kembali terkepal tidak terima dengan semua perkataan Farel. Bugh!!
__ADS_1
"Jangan asal kalo ngomong!" Teriak Bara dengan saraf yang semakin menegang.
Sekarang gikiran Farel yang pasrah dan membiarkan Bara meluapkan emosinya. "Kalo nggak becus gue ambil lagi mereka dari lo!"
Bugh!
"Lo nggak berhak ngambil mereka dari gue!" Bara mengeratkan tangannya di kerah kemeja Farel. "Kenapa lo ngaku-ngaku jadi ayah mereka!"
Dengan satu telunjuknya Farel menakan-nekan bahu Bara dengan penuh emosi. "Karena lo to*ol! Bapak macam apa yang nggak sadar pas liat anaknya!!. Jangan pernah deketin mereka lagi! Kehadiran lo cuma bikin mereka menderita!!"
Bara menghela nafas panjang. "Lo pikir ini salah gue semua hah! Lo juga salah kenapa ngaku-ngaku jadi Ayah mereka!"
"Lo masih bisa nyalahin orang lain?! Dimana lo saat Selin mau bilang kalo dia hamil?! Dimana lo saat Selin harus nanggung malu karena dianggap wanita aneh-aneh! Dimana lo saat dia ngelahirin, saat dia ngurus Juna dan Jeno! Lo kepikiran ke sana nggak?!"
Bara membeku dengan cekalan di kemeja Farel yang sedikit melonggar, semua ucapan Farel berhasil membuat Bara semakin bersalah.
"Dan bahkan sampai sampai kemarin masih ngira Juna dan Jeno hasil hubungan gelap! Dasar brengsek ya lo! Lo nggak pantes buat mereka!!!
"Asalkan lo tahu yang nabrak Juna itu Kania pacar lo tersayang!!"
"Mikir lo!! Lo udah jadi seorang ayah!! Kalo lo nggak sanggup! Gue yang siap gantiin lo!!. Pergi dari mereka Bar!! Kehadiran lo cuma buat mereka menderita!!" Ucap Farel kemudian berjalan meninggalkan Bara yang sedang merenung penuh kepedihan.
*****
Farel menghela nafas panjang saat sudah tiba di depan kamar Juna. Dia meringis karena satu pukulan Bara yang ternyata begitu luar biasa, padahal pria itu hanya memukulnya beberapa kali tapi tulangnya nyaris bergeser.
"Daddy!!" Terdengar panggilan Jeno yang membuyarkan lamunannya. Ternyata pintu di depannya sudah terbuka tanpa ia buka.
Dengan sedikit malu karena tampangnya Farel masih berani untuk menggendong Jeno dan membawanya masuk ke dalam. Farel bisa melihat raut terkejut Selin saat memperhatikan penampilannya yang sedikit mengenaskan.
"Farel..." Panggil wanita itu lirih dengan penuh tanda tanya.
Bugh!
Anet datang dari belakang dan melayangkan pukulan pada punggung Farel yang berhasil membuatnya meringis. "Wajah lo kenapa bonyok kaya begitu? Lo maling ya!" Celetuknya enteng.
"Sembarangan kalo ngomong, itu bisa nggak nada bicaranya diperhalus sedikit. Ini rumah sakit Net!" Ucap Farel kesal kemudian merebahkan tubuhnya di sopa.
__ADS_1
Bruuk!
Selin yang sedang di dekat Juna bangkit untuk menghampiri Farel. "Kamu kenapa?" Tanya Selin penuh kekhawatiran.
"Biasa anak laki-laki."
Selin memejamkan matanya sedikit kesal. "Please, kamu bukan anak lagi. Sana cuci tangan dulu nanti aku bersihin."
Melihat raut Selin yang tidak bersahabat, Farel langsung bangkit untuk membersihkan dirinya sesuai intruksi Selin. "Siap Nona."
Sekarang mereka sedang duduk bersebelahan, dengan telaten Selin membersihkan bekas darah dan mengobati luka Farel. "Kamu berantem sama siapa sih?"
"Tadi di jalan ketemu sama orang mabok, dan tiba-tiba pukul aku. Ya aku pukul lagi aja.." Jawab Farel enteng.
"Jangan bercanda deh, aku nggak percaya!"
Farel terkekeh melihat raut marah Selin yabg begitu menggemaskan. "Serius, ayo dong katanya mau ngobatin."
"Hmmm," Akhirnya Selin hanya menghela nafas panjang sudah lelah mengintrogasi Farel yang sejak tadi tidak berkata jujur.
Tanpa Selin sadari Bara yang sejak tadi berdiri di depan pintu mengurungkan niatnya saat melihat pemandangan keluarga kecil di hadapannya, awalnya hendak masuk kembali mengurungkan niatnya dan memilih duduk di bangku tunggu sambil mendengarkan suara gelak tawa yang berasal dari dalam ruangan.
Hatinya terasa semakin hancur saat menyadari jika kehadiran Farel bisa menghibur keadaan Selin yang begitu terpuruk, berbanding terbalik saat bersama dengan dirinya suasana selalu dingin dan sedih. Pria itu hanya tersenyum kecut dan merasakan setiap kepedihan yang awalnya bersumber dari kebodohannya.
Ceklek!
Pintu terbuka dan menampilkan Anet yang menatap Bara syok karena penampilannya. "Bara kamu kenapa..." ucap
"Shttt!!.. Jangan berisik Net. Aku mau pulang dulu." Ucap Bara dan langsung melenggang begitu saja meninggalkan Anet yang sedang menatapnya iba.
Bara menghela nafasnya panjang kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Raka. "Ka.. Tolong ambilin barang-barang gue dari kamar Juna. Gue mau ke kantor polisi." Ucap Bara dengan nada yang sangat dingin.
*****
Hallo gais? Apa kabar nih?.
Dukung karya ini dengan memberikan Like, Vite, Komen dan Share ke temen-temen kalian. Agar karya ini bisa dinikmati oleh orang banyak yupp.. :)
__ADS_1