Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 17 : Aku hanya berhenti memperlihatkannya!


__ADS_3

"Jadi kemana kita sekarang?" Tanya Bara yang sejak tadi yang hanya di balas helaan nafas panjang oleh Selin.


"Kenapa kamu malah terlihat frustasi seperti itu," Bara menaikan satu alisnya keheranan melihat wajah kebingungan Selin.


Selin menghela napasnya panjang, pandanganya tidak beralih dari sisa uang yang di genggamnya. Dengan tenaga yang tersisa Selin mengangkat pandangannya dan menatap Bara lekat-lekat. "Uangnya tinggal sisa segini, kalo naik taksi ke kantor aku nggak bisa pulang, terus kalo naik taksinya ke rumahku Bapak yang nggak bakal bisa pulang." Ucap Selin lirih penuh kebingungan.


Bara terkekeh, ternyata hal itu yang berhasil membuat Selin kebingungan setengah mati sejak tadi. "Pulang saja ke rumah mu," Jawab Bara tegas.


Refleks Selin mengangkat pandangannya dengan cepat "Eh," Selin langsung membeku di tempat merasa keheranan dengan jawaban Bara yang di luar dugaannya.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh, sekarang kita pulang ke rumah mu. Tidak mungkin juga kita pulang ke kantor dengan penampilan seperti ini, setelah sampai di rumahmu aku bisa meminjam uang untuk pulang bukan?" Ucap Bara yang berhasil membuat kedua bola mata Selin berbinar.


Selin menjentikkan jari penuh semangat, ternyata Bara bisa menghasilkan ide cemerlang di tengah kebingungannya. Dia kecewa kepada dirinya sendiri, kenapa hal seperti itu saja tidak terpikirkan oleh otak seksinya malah melamun sejak tadi seperti orang linglung.


"Kenapa dia malah melamun lagi?" Gumam Bara sedikit kesal di dalam hati. "Taksi!" Tanpa berpikir panjang Bara memanggil taksi dan langsung menarik Selin agar mengikutinya.


"Ayo masuk," Perintah Bara yang langsung diangguki oleh Selin.


*****


Selin keluar dari taksi dengan Bara yang mengekor di belakangnya. Dia membuka keset untuk mengambil kunci rumah yang sengaja ia sembunyikan. Semua gerak-gerik Selin tidak luput dari pandangan keheranan Bara yang berdiri di belakangnya.


Selin bergegas masuk ke dalam rumah kemudian merapihkan bantal sopa yang sedikit berantakan. Untung saja hari ini kedua anaknya tidak bermain di ruang tamu jadi Selin tidak malu dengan kondisi rumahnya. "Ayo masuk, silahkan duduk." Ajak Selin pada Bara yang masih berdiri di pintu rumahnya.


Bara mengangguk dan perlahan masuk me dalam rumah minimalis namun terasa hangat dan penuh ketenangan. Bara tersenyum samar saat melihat foto yang besar terpampang di dinding yang memperlihatkan Selin sedang di peluk oleh kedua anaknya. "Rumah mu terasa sepi," Ucap Bara lirih.


Sebenarnya bukan rumah Selin yang terasa sepi, tapi hati Bara lah yang mendadak sepi melihat kehangatan yang begitu memancar dari foto-foto yang menempel di dinding rumah Selin.


Selin yang sedang sibuk membuka sepatunya terkekeh, "Juna dan Jeno sepertinya sudah keluar, mereka ada jadwal pemotretan." Jawabnya kepada Bara.


Bara mengangguk paham atas jawaban Selin, kedua matanya kembali asik berjelajah pada barisan foto yang tertampil di hadapannya, perlahan alisnya terangkat saat menyadari tidak ada satupun foto tentang pernikahan Selin. "Sebenarnya dia menikah lagi atau tidak?" Tiba-tiba muncul pertanyaan di benak Bara.

__ADS_1


"Kenapa poto pernikahan mu tidak di tempel di dinding?"


Deg! Selin membeku di tempatnya, rasanya seluruh tubuhnya berubah menjadi batu dan lidahnya berubah kelu. "Mau minum apa? Nanti aku buatkan?" Jawab Selin pura-pura tidak mendengar pertanyaan Bara.


"Apa saja," Jawab Bara dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Bara terus-terusan bertanya-tanya tentang kehidupan Selin yang sekarang tidak diketahuinya. "Benarkah rumor itu?" Hati Bara berubah sesak mengingat rumor tentang Selin yang mati-matian ia abaikan, banyak rumor yang beredar tentang Selin. Katanya sejak bercerai dengan Bara, Selin berubah menjadi wanita malam dan kedua anak yang Bara temui beberapa hari yang lalu tidak mempunyai Ayah.


Tapi hati Bara masih menolak mentah-mentah rumor itu, Bara sangat mengenal Selin dia tidak mungkin melakukan hal itu seburuk apa pun keadaan yang menimpanya. Tapi kenapa keadaan seolah-olah menuntun Bara untuk mempercayai rumor itu. Bara menceraikan Selin dengan harapan hidup Selin akan berubah menjadi lebih bahagia di banding saat bersamanya, bukan malah berubah hancur seperti ini.


Di tempat lain Selin sibuk menetralkan debaran jantungnya yang berdetak begitu cepat, tubuhnya berubah gemetar dengan keringat yang membasahi dahinya. "Haaah," Dia menghela nafas berat lalu cepat-cepat mengusap dahinya dengan tisu.


"Kamu bisa kamu pasti bisa melewati ini Selin," Gumam Selin pada dirinya sendiri. Selin berusaha menguatkan dirinya sendiri dan bergegas membuat secangkir kopi untuk Bara.


Selin cepat-cepat menghampiri Bara dengan nampan kopi di tangannya. Tak lupa senyuman palsu penuh ketenangan menghiasi wajah cantiknya.


Tuk! Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Bara sedang menggenggam pigura yang berisi foto dirinya dan kedua anaknya. Entah kenapa pemandangan itu langsung membuat Selin ingin menangis sejadi-jadinya di tempatnya berdiri. Kriiiiet! Selin menggenggam nampan dengan kuat, dengan perasaan sesak dia kembali berjalan ke arah Bara.


Tuk!


Bara meletakkan pigura foto di tangannya ke tempat semula, perlahan pandangannya terangkat ke arah Selin dengan perasaan sendu dan penuh tanda tanya. "Siapa suami mu?" Tanya Bara yang berhasil membuat Selin tercekat.


"Apa peduli mu?" Hanya itu kalimat yang berhasil keluar dari mulut Selin.


Bara mengacak surai rambutnya sedikit frustasi, "Aku sangat peduli Selin, tolong jawab aku dengan benar." Ucap Bara sedikit meninggi.


Tes!


Perlahan air mata lolos dari pelupuk mata Selin, dengan tubuh yang sedikit bergetar Selin membalas pandangan Bara ke arahnya. "Sejak kapan kamu memperdulikan ku hah?! Sejak kapan?!" Bentak Selin dengan air mata yang sudah bercucuran membasahi wajahnya.


"Asal kamu tahu tidak ada sedetik pun di hidupku tidak peduli padamu, aku hanya berhenti memperlihatkan nya," Jawab Bara dengan pandangan sendunya.

__ADS_1


Selin menengadahkan pandangannya, "Hiks, hiks. Jangan bercanda! Kalo kamu benar-benar peduli sama aku, kamu nggak mungkin mengkhianati aku Bar!"


"Sel, aku tahu aku salah. Semua yang terjadi di masa lalu karena aku ingin melindungi kamu dari ibu ku, aku pura-pura berselingkuh untuk ngeluarin kamu dari ikatan pernikahan kita yang setiap hari membuat mu menangis tanpa sepengetahuan ku!"


Selin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. "Hiks, hiks, aku nggak percaya."


Bara menatap Selin penuh kepedihan. "Kamu boleh nggak percaya sama aku, tapi tolong jawab satu pertanyaan ku. Apa kamu menikah lagi?" Tanya Bara dengan perasaan was-was di hatinya.


Selin menggeleng sebagai jawaban. Helaan nafas lega keluar dari mulut Bara, akhirnya kesempatan luas terbentang di hadapannya walaupun di sisi lain dia harus menerima kenyataan jika Juna dan Jeno lahir tanpa memiliki ayah.


Selin cepat-cepat merogoh saku bajunya, "Pergi! Ini uang untuk mu!"


"Sel," Panggil Bara lirih tidak ingin beranjak.


"Kenapa?! Sekarang kamu udah puas kan liat aku menderita?!. Sebaiknya kamu pergi dan jangan datang lagi ke rumah ini!" Usir Selin dengan perasaan hancur.


"Baik-baik aku pulang sekarang juga, tapi tolong jawab aku!" Pinta Bara penuh permohonan yang hanya di balas helaan nafas oleh Selin.


"Apakah kamu merindukan ku?"


Deg!


Selin hanya diam membisu dengan kedua mata yang tenggelam dalam pandangan Bara.


Bara meraih tangan Selin dan menggenggamnya erat.


"Sel..... Aku," Ucap Bara terhenti.


"Sangat merindukan mu." Lanjut Bara lirih.


******

__ADS_1


Gimana perasaan kalian pas baca Bab ini? :'(


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Baca juga karya author yang lainnya :)


__ADS_2