
Seperti biasa Juna dan Jeno selalu bergantian masuk ke dalam troli belanjaan Selin bercampur dengan sayuran dan makanan yang mereka beli. Dulu waktu tubuh mereka masih mungil troli itu cukup untuk mereka berdua, tapi karena tubuh mereka sudah semakin besar alhasil mereka saling bergantian, dan sekarang giliran Jeno yang naik troli.
Selama Selin berbelanja Juna dan Jeno tidak henti-hentinya mengobrol dan mengabaikan keadaan sekitar. "Abang?" Ucap Jeno sambil menjilati permen lollipop nya.
"Hmmm," Juna yang sedang sibuk membantu Selin hanya bergumam sebagai jawaban.
"Abang Punya pacar nggak?" Celetuk Jeno yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Abangnya itu, sedangkan Selin hanya geleng-geleng kepala.
"Nggak."
"Aku punya," Jawab Jeno penuh percaya diri.
"Menakjubkan." Jawab Juna malas.
Jeno mengangkat tangannya untuk berhitung. "Aku punya tiga."
"Merepotkan," Juna hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah kembarannya yang hanya berbeda lima menit itu.
"Amel, Hana, Elsa. Aku dijodohkan oleh orang tua mereka."
"Tiga pacar?!. Pantas saja kami sering ngilang pas di rumah Nenek." Pekik Juna sedikit kesal, ia baru menyadari ternyata alasan Jeno sering menghilang karena dia asik bermain dengan wanita dan mengabaikan dirinya yang kesepian.
Jeno mengangguk tanpa rasa bersalah. "Heemm. Soalnya aku ganteng jadi banyak yang suka, mereka berebutan mau maen sama Eno. Terus Eno udah dianggap menantu sama orang tua mereka."
"Terlalu banyak, kamu punya tiga pacar?"
"Tapi kamu nggak boleh punya banyak pacar,"
"Kenapa? Kan Seru banyak pacar,"
"Huuu, nanti kalo sudah besar pasti kamu akan dimarahi oleh ketiga pacar mu itu," Ucap Juna sengak karena tidak terima saudaranya itu malah memilih wanita daripada bermain dengannya.
"Kenapa nggak boleh? Kan Jeno baik hati dan tidak sombong." Jeno menekuk bibirnya kecewa sebenarnya apa yang salah coba, dia hanya bermain tapi wanita-wanita itu langsung menembaknya. Masa dia menolak.
"Dengerin ya.. Orang dewasa itu punya cincin pasangan atau couple, dan kamu hanya bisa memberikannya pada satu wanita saja?"
"Koo, gitu.. Kan Jari Jeno ada lima, masih cukup malahan masih bisa nambah tujuh."
Selin yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka sontak ngakak. "Ahahaha, kamu bisa aja."
Jeno mendengus tidak ingin ditertawakan. "Ndaa.. Ucapan Abang bener nggak?"
Selim tersenyum lembut kemudian mencium kening Juna dan Jeno secara bergantian. "Nanti kamu belajar ke Om Bara ya, Ndaa juga nggak tau pola pikir laki-laki itu kaya gimana. Tapi kalo boleh Bunda mau kasih saran, Kalo Eno mau berteman boleh sama siapa aja kumpulkan teman sebanyak mungkin. Tapi kalo pasangan cukup satu aja carilah yang terbaik."
"Oh gitu ya Ndaa,, berarti Eno harus milih siapa ya? Amel, Hasna atau Elsa?"
Juna memutar bola matanya malas lebih baik dia membantu Bundanya daripada meladeni celotehan Jeno yang menyebalkan.
"Bang?"
"Hmmm."
"Nanti kita ke rumah Nenek lagi ya.." Ucap Jeno penuh permohonan.
"Ngapain?"
"Mau mutusin mereka bertiga biar adil, dan temenan aja."
Juna langsung mendengus pasrah. "Terserah."
__ADS_1
Selin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan senyuman yang tidak luntur dari wajah cantiknya.
"Ndaa, belanjaan nya udah cukup belum?" Tanya Juna memperhatikan tubuhnya yang sudah di timbun makanan.
"Sebentar, Nda mau cek dulu." Selin membuka catatannya kemudian mengecek dengan Juna. "Udah udah lengkap, kalian tunggu di depan aja ya. Nda mau bayar dulu jangan kemana-mana. Eno turutin Abang ya?"
"Siap Ndaa!"
"Okay," Mereka bertos kemudian berpisah.
*****
Selin keluar dengan tangan yang dipenuhi kantung plastik.
"Bun, dari tadi Eno ngerengek mau Permen kapas." Ucap Juna yang langsung diangguki Selin.
"Boleh sayang. Uangnya ada nggak?"
"Ada."
"Yaudah ayo Bunda antar," Selin hendak berjalan ke arah tukang permen kapas tapi Juna meraih tangannya.
"Nggak papa Nda.. sama Abang aja."
"Oke, Bunda tunggu disini ya."
Tanpa mereka sadari diseberang sana ada sebuah mobil yang memperhatikan interaksi keluarga yang bahagia itu. "Pemandangan yang mengharukan harusnya kalian memeluk Bunda kalian itu untuk perpisahan. Dasar Anak-anak yang malang, tenang aja aku siap buat jadi pengganti Bunda kalian. Selamat tinggal Selin," Kania tersenyum penuh kemenangan kemudian bersiap Menginjak pedal gas nya.
Brem! Brem! Brem!
Juna dan Jeno berjalan berdampingan dengan tangan yang saling tertaut, Jeno menoleh sejenak ke arah Juna abangnya yang sangat dewasa dan selalu ada untuknya. Mereka berjalan berdampingan dengan penuh ceria.
Juna yang sedang asik menunggu permen kapas curiga dengan mobil yang datang dari kejauhan dengan kecepatan mengarah pada Bundanya yang sedang berdiri di tengah lapang.
Drap! Drap! Drap!
Juna merasakan feeling yang buruk dan langsung berlari sekuat tenaga berharap bisa menarik Bundanya atau jika tidak bisa, dia siap untuk menghadang mobil itu agar Bundanya baik-baik saja tanpa memperdulikan keselamatannya. Bagi Juna, Selin adalah manusia paling berharga di dunia ini bahkan nyawanya tidak ada artinya.
"Bunda!" Teriak Juna sekeras mungkin.
"Abang mau kemana!" Jeno berteriak kaget karena tiba-tiba Berlari.
Bruk!
Jeno tersentak saat melihat mobil yang melaju kencang ke arah Juna yang sedang berlari.
"Ndaaaa!!! Abang!!"
Merasa ada yang memanggil Selin mengangkat pandangannya dengan penuh semangat, ia kira Juna dan Jeno sedang berlarian seperti biasa ke arahnya. Namun, pemandangan yang disuguhkan jauh dari itu.
Pluk!
Ponsel di tangan Selin jatuh begitu sajam
Bruuugg!!
Bruk!!
Ckiiiittt!!
__ADS_1
"Abang!! Juna!!" Teriak Selin saat melihat anak kesayangannya terpental dengan keras ditabrak oleh mobil yang tidak ia kenal.
Drap!
Drap!
Drap!
"Ke kenapa jadi Juna..." Tubuh Kania bergetar ketakutan syok karena malah Juna yang dia tabrak. Dengan keringat yang membanjiri wajahnya, wanita memutar mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Breeem!!
Selin berlari dengan perasaan sesak dan air mata yang membanjiri wajahnya, hatinya dipenuhi dengan rasa sesak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dengan penuh kehati-hatian dia memeluk Juna yang sudah bersimbah darah.
"Uhuukk!!"
"Ya ampun sayang!!" Tubuh Selin bergetar menahan tangis.
"Ndaa.." Panggil Juna lirih yang sangat memilukan.
"Juna.. Tenang sayang kamu pasti baik-baik saja." Selin meraih tangan Juna sambil tersenyum hangat.
"Haaah... Haahh.." Juna hanya bernafas lirih dengan tatapan yang tidak beralih sedikitpun dari Selin.
"Lihat Bunda sayang," Tangan Selin terulur membelai pipi Juna lembut.
"Juna lihat Bunda..." Dengan air mata yang tidak berhenti Selin berusaha sekuat mungkin.
"Kamu akan baik-baik saja.... Teruslah bernafas.. Huuuuhh.. Huuuhh.." Dengan penuh kesabaran Selin membimbing Juna agar bisa bernafas dengan lancar.
"Kamu akan baik-baik saja... Kamu akan baik-baik saja.. Percaya sama Bunda ya hmm.. Mereka akan menyelamatkan mu.. Kamu anak yang hebat dan kuat."
Tangan Seling memegang erat tangan Juna dan yang satunya lagi menahan luka yang sejak tadi mengeluarkan darah. Dengan susah payah Juna memejamkan matanya sebagai jawaban.
"Abang nggak boleh ninggalin Ndaa sama Eno yaa.." Ucap Jeno sudah terisak di samping Selin.
"Abang kuat.. Abang pasti bisa.. Hiiikkkss.."
Juna tersenyum hangat kemudian mengangguk.
"Nda..." Panggil Juna lirih.
"Hmmm..."
"Abang sayang Nda sama Eno.." ucap Juna dengan nafas yang terputus putus sambil meringis menahan kesakitan.
"Hiks.. Hiks.." Selin hanya bisa terisak dengan pikiran negatif yang sudah membanjiri.
"Yang kuat yah Nak.."
Juna tersenyum hangat dengan pandangan yang perlahan terpejam.
"Heuuuu!! Heuuu!!! Heuuu!! Ngakk.. Nggakk.. Abang Bangun.."
*******
Author nggak bisa berkata-kata nyesek sampai jantung.. Hiks..
allo Readers..
__ADS_1
“Dukung Karya ini dengan membaca sampai akhir, tambah ke favorit, tinggalkan Like&komentar, hadiah serta Vote. .”