
Bara menatap map pemberian Raka yang sedikit enggan ia buka, ia hanya menatap nanar map itu beberapa menit. Dia menghela nafas panjang kemudian membuka nya dengan jantung yang berdegub kencang.
"Jeno Saskara Julian 100% cocok dengan Bara Kenzo Julian." ucap Bara lirih dengan tubuh yang seakan-akan kehilangan tompangan.
"Ya tuhan, ternyata mereka anak ku."
Bara menengadahkan kepalanya meraup oksigen dalam-dalam, tubuhnya yang selalu kuat dan tegap perlahan luruh ke lantai. Tubuhnya perlahan bergetar dengan air mata yang membasahi wajahnya. Dadanya dipenuhi rasa sesak yang begitu hebat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aaarrrghhh," Dia memukul-mukul kakinya sendiri dengan tangan yang terkepal. Ingatan demi ingatan mulai memenuhi pikirannya.
"Arghhhh.. Haaaa..." Dadanya terasa sakit saat mengingat hari dimana ia membawa Kania ke dalam kehidupan pernikahannya, mungkin saja waktu itu Selin sudah hamil tapi dia malah bersikap bodoh dan nyaris tidak berakal.
"Arrrghhhhh!!" Hari dimana dia bertemu dengan Juna dan Jeno untuk pertama kalinya, kenapa dia tidak penasaran dengan singkatan kedua anak itu yang ternyata tersemat namanya. Otaknya terlalu gelap untuk menyadari jika mereka adalah kedua anaknya.
"Heuuu!!! Heuuu!! Hiks.. Hiks.." Tubuh Bara bergetar hebat menangis sejadi-jadinya hal yang belum pernah dia lakukan selama ini.
Bagaimana bisa dia berpikir jika Juna dan Jeno bukan anaknya, bagaimana bisa dia menelantarkan Ibu dan Anak yang sangat dia cintai. Bagaimana bisa dia berpikir bodoh dan mengambil keputusan gila yang akan disesalinya seumur hidup. Bagaimana bisa dengan tampang tanpa dosa dia muncul di depan Selin dan memohon agar Selin menerimanya.
"Haaahhh!!! Haaah!! Arghhh!!"
Bahkan kematian saja terlalu ringan untuk menghapus dosa-dosanya kepada Selin. Ditambah saat ini dia sudah gagal untuk melindungi Juna anak pertamnya yang ditabrak oleh orang yang dulu juga menjadi penyebab sakit hatinya Selin. Kania, dia adalah orang yang menjadi penyebab kehancuran Selin dan anak-anaknya. Dan orang yang menyebabkan Kania bersikap seperti itu adalah Bara. Jadi bisa disimpulkan jika dirinyalah penyebab atas semua kepedihan yang selin rasakan.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Bara tidak bisa membayangkan bagaimana kesusahannya Selin saat mengandung kedua anaknya tanpa kehadiran dirinya, bagaimana pedihnya menanggung malu hamil tanpa seorang suami. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya membesarkan dua orang putra yang umurnya sama. Tapi Selin berhasil, dia bisa hidup tanpa Bara, dia bisa menjadikan Juna dan Jeno anak yang pintar dan berbakti.
"Bagaimana bisa.. Bagaimana bisa.. Sel.." Bara bertanya-tanya dengan sedikit rasa kecewa.
Apakah Bara dimata Selin begitu rendah sampai-sampai wanita itu enggan mengakui jika dia adalah Ayah dari kedua anaknya. Tapi jika dipikir-pikir memang benar, dia terlalu rendah dan tidak pantas untuk menjadi Ayah Juna dan Jeno. Dia terlalu bodoh dan pengecut untuk menjadi ayah dari dua anak jenius itu.
__ADS_1
"Jika ini memang kinginanmu, aku akan wujudkan Sel. Jika kamu tidak ingin aku tahu mereka adalah anak-anak ku, aku akan wujudkan itu."
Harusnya jika pria itu menyayangi Selin dan kedua anaknya, bagaimana bisa Farel membiarkan Selin menanggung malu dan tidak berniat untuk menikahinya. Jika Farel benar-benar Farel menyayangi mereka kenapa dia membiarkan Selin berlari lagi kepada Pria brengsek seperti dirinya.
"Lo pantas mati hari ini!" Ucap Farel dengan pandangan yang berkilat amarah.
"Lakuin kalo mampu," Ucap Bara tersenyum simpul.
******
Bara bersandar pada dinding dengan kaki yang ia luruskan, sudah lebih satu jam dia menangis dan merenung dibawah teriknya matahari. Dan sekarang hari sudah mulai menggelap, pandangannya jatuh pada kertas yang sedang di pegangnya. Dia menatap nanar kertas itu dengan perasaan yang sedikit tenang.
Perlahan pria itu bangkit dari duduknya dan hendak melangkah, namun tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang saat sebuah tinjuan mendarat di wajahnya.
Bugh!!
Terlihat Farel yang sudah dipenuhi amarah sedang menatap Bara dengan pandangan yang berkilat. Bara tersenyum sinis menatap Farel dengan perasaan yang sama-sama marah. Ternyata ini wajah pria yang selama ini sok-sokan berada di samping Selin dan mengaku-ngaku jadi Ayah kedua anaknya. Bara mengusap darah segar di sudut mulutnya kemudian menatap Farel dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Kalau kau berperan menjadi seorang ayah kenapa tidak melakukannya dengan baik sampai akhir brengsek!" Gumam Bara didalam hati dengan tangan yang terkepal.
******
Anet berjalan ke arah Selin dengan satu set pakaian di tangannya. "Ini baju lo.." Ucapnya ketus seperti biasa.
Selin menerima baju itu dengan ogah-ogahan, bukannya memberikan informasi Anet malah bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada yang teejadi. "Net pelakunya udah ketemu?" Tanyanya lirih berharap Anet akan menjawabnya.
"Udah.."
Kedua bolamata Selin langsung membulat sempurna dan tanpa ia sadari suaranya begitu melengking. "Siapa?!"
__ADS_1
Anet menghela nafasnya kesal kemudian menatap Selin dengan tatapan tajam. "Nggak penting, pokoknya lo fokus aja sama kesehatan Juna dan jaga diri baik-baik. Jangan sampai pingsan-pingsan lagi."
Selin ingin protes tapi ada fakta lain yang menarik perhatiannya. "Pingsan? Emang siapa yang pingsan?"
"Dih nggak tau diri banget, kemarin lo itu kirain tidur untung Bara ngerasa aneh ternyata lo bukannya tidur tapi pingsan. Bodoh banget sih, udah tau sekarang lo lagi di infus masih nggak sadar juga."
Selin memikirkan semua perkataan Anet yang memang benar, dirinya terlalu bodoh untuk menyadari keadaan. Sepertinya pikirannya terlaly eror untuk menyadari hal kecil itu. "Terus yang ganti baju gue siapa?"
"Suster lah." Jawab Anet kesal. "Tante Niera lagi di jalan mau kesini sama Farel."
Selin mengeleng-geleng pelan, dengan perlahan dia melepas infusan. "Ya ampun, lo kasih tau semua orang? Bisa-bisanya."
"Dih ya iyalah, ini bukan masalah sepele Selin. Kalian hampir mau meninggal! Bisa-bisanya lo nggak anggap ini serius!"
Selin tersenyum sendu sambil menoleh ke arah Jeno yang sedang asik mengajak Juna bermain, tapi lawan mainnya hanya tertidur pulas dan enggan membuka mata. "Shuut, udah dong jangan teriak-teriak."
"Hmmmm," Anet bergugam kemudian bersiap merebahkan tubuhnya di sopa.
Selin memutarkan pandangannya mencari sosok yang sudah membantunya tanpa merengek atau memarahinya. "Bara dimana?"
Anet berguling agar tidak melihat Selin. "Ada diluar, kayaknya dia mau pulang dulu."
Selin mangut-mangut paham dengan perasaan sedikit kesal karena bisa-bisanya pria itu meninggalkannya tanpa pamit sedikit pun. "Oh iya.." Ucapnya lirih sedikit kecewa.
*****
Halo Readers, dukung Karya ini dengan memberikan like, Komen dan Vote ya.. Jangan lupa baca kisah yang lain juga yang tentunya nggak kalah seru!!..
Happy Weekend!!
__ADS_1