
Dengan perasaan yang masih kesal Selin membuka-buka buku menu dengan wajah sedik cemberut. Berbeda dengan Selin yang sedang kesal, Bara malah bertopang dagu dengan tatapan yang tidak beralih sedikit pun dari Selin. Bahkan dia terkekeh dan tersenyum lebar penuh kebahagiaan.
"Apa yang kamu suka?" Tanya Selin malas saat membuka-buka buku menu di tangannya.
"Kamu," Celetuk Bara yang langsung berhasil membuat Selin membeku dan tersipu malu.
Selin membuang wajahnya ke arah lain agar sembirat merah di wajahnya tidak terlihat. "Ish, benar-benar gila." Gumam Selin di dalam hati sambil menggigit sedikit bibirnya.
Bara berdiri dari duduknya sambil tersenyum hangat. "Udah jangan kesel lagi ya, aku sayang kamu, nggak usah ngekhawatirun apapun. Kamu punya aku dan aku punya aku." Ucap Bara dengan tangan yang terulur mengelus kepala Selin.
Selin mengangguk paham, pandangannya berubah berkaca-kaca merasa terharu. Ya begitulah wanita di perlakukan hanya seperti itu sudah luluh dan serasa milik berdua. "Mmmm," Gumam Selin sebagai jawaban dengan perasaan yang berangsur membaik.
"Malem besok kita ada pesta di hotel, setelah ini kita beli gaun buat kamu ya." Ucap Bara dengan tangan yang setia menggenggam tangan hangat Selin.
"Mmm, oke." Selin kembali mempeehatikan menu di hadapannya. "Kamu mau pesen apa?"
"Terserah kamu aja," Ucap Bara menyebalkan.
"Ish nyebelin banget, kamu belum makan kan dari pagi?!" Selin tahu di lihat dari gerak geriknya Bara sejak pagi belum makan, sepanjang hari dia hanya mengurung diri di ruangannya dengan berkas-berkas yang menumpuk nyaris menyentuh langit-langit kantor.
Bara terkekeh kemudian melipat kefua tangannya tidak berdosa. "Udah ko, dari tadi aku sarapan oksigen."
"Ih nyebeliin!" Selin memutar bolamatanya malas kemudian berdiri untuk mencubit lengan Bara dengan penuh kekesalan.
"Ahahahaha!" Bukannya meringis Bara malah tertawa penuh kebahagiaan.
"Ketawa mulu isssh.."
"Nggak papa dong.. Artinya aku bahagia deket sama kamu. Aku kangen dicubit kamu Sel, aku kangen liat wajah kesal kamu, aku kangen semua hal tentang kamu." Jawab Bara dengan penuh keseriusan.
Selin memtentyh kedua pipinya yangbterasa menghangat kemydian berusaha mengakihkan topik pembicaraan. "Kita pesen ayam geprek aja ya, katanya lemom tea di sini enak."
Bara sedikit menganga mendengar penuturan Selin yang menurutnya tidak masuk akal. "Ahahahaha."
__ADS_1
"Kenapa malah ketawa ish!" Dengus Selin bertambah kesal.
"Ya lagian. Apa hubungannya ice lemon tea enak jadi kita pesen ayam geprek hmm?" Bara menopang dagu dengan tatapan menggoda ke aeah Selin.
"Ya adalah, kan kalo makan pedes2 terus minumnya yang seger-seger jadi wenak pooool!" Ucapnya penuh keyakinan.
"Ahahaha, terserah kamu aja deh." Bara menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Selin menghela nafasnya panjang berharap stok sabarnya semakin bertambah. Melihat orang cengengesan disaat dirinya kesal memang nggak banget. "Ish terserah mulu, aku pesenin karbon dioksida baru rasa."
"Mana coba karbon dioksida nya?" Tanya Bara dengan tatapan menggoda.
Selin menggebrak meja kemudian mencondongkan tubuhnya tepat di depan hidung Bara. "Haaaaaaaaah!!"
Bara terdiam saat terpaan hawa yang datang dari mulut Selin masuk ke dalam indra penciuamannya. "Ih bau Naga tau." Bara menahan senyumannya karena dia yakin jika dia tertawa lagi, sudah dipastikan Selin akan mampret pergi meninggalkannya.
Selin kembali duduk dengan wajah yang kembali di tekuk. "Sembarangan!"
"Ahahahaha, bercanda sayang. Gemes banget seeeeh. Udah ya jangan marah."
*****
Setelah Selin sudah selesai mengambil tumpukan sambal mereka mulai makan dalam hening. Bara menebgadahkan wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca, entah kenapa hatinya berubah menjadi sesak. Mungkin dia tidak menyangka momen seperti ini akan terulang.
"Kamu kenapa? Kepedesan?" Tanya Selin panik kemudian menyodorkan minum ke arah Bara.
Bara sesikit terisak dia memejamkan matanya dengan senyuman tengil menghiasi wajahnya. "Pedes banget, aku udah lama nggak makan pedes." Ucapnya berbohong dengan perasaan yang sesak.
Selin melamun di tempat duduknya dengan perasaan bersalah pada Bara. Harusnya tadi dia tidak memesan Ayam Geprek dan malah membuat Bara tersiksa karena kepedesan. "Maaaf," Ucap Selin dengab raut penuh penyesalan.
Bara terkekeh melihat raut rasa bersalah Selin. "Aku nggak papa ko, aku mau ke toilet dulu ya?" Ucap Bara yang langsung dibalas anggukan oleh Selin.
******
__ADS_1
Setelag selesai menenangkan dirinya Bara kembali menghampiri Selin kemudian menyantap makanannya.
"Kamu lagi apa? Serius banget." Tanya Bara karena sejak tadi Selin sibuk memaikan ponselnya.
"Ini lagi chatting sama anak-anak." Selin menjawab tanpa menoleh ke arah Bara.
Bara mengangguk paham. "Mereka lagi ngapain, udah pulang belum?"
Selin meletakan ponselnya dan mengambil gelas lemon tea miliknya. "Belum, masih ada pemotretan."
Drrt, drrt, drrt. Tak lama dari itu suara ponsel Selim bergetar. "Halo Net," Ucap Selin dengan ponsel yang didekatkan ke telinganya.
"Kekurangan model?"
Bara menghentikan kegiatannya dan ikut mendengarkan Selin penuh penasaran. "Ini Anet mau bicara," Selin memberikan ponselnya pada Bara.
"Bang bantu Anet, ini kekurangan model. Abang bisakan kesini terus gantiin model Anet." Bara sedikit terkekeh saat menyadari Anet memanggilnya Abang saat ada maunya.
Bara duduk sambil menyilangkan kakinya sambil bersandar ke sandaran kursi. "Aduh sorry Abang nggak ada bakat jadi Model."
"Pokoknya kesini aja dulu!" Ucap Anet tidak menerima penolakan.
Selin menautkan kedua alisnya penuh penasaran. "Kenapa?" Ucapnya berharap Bara akan memberikan jawaban.
Bara menghela nafasnya panjang kemudian meletakkan ponsel ke meja saat sambungan telpon sudah terpurus. "Mereka kekurangan model, dan Anet nyuruh aku ke sana." Ucap Bara dengan tatapan menerawang..
Di satu sisi dia sudah tidak mau terjun dalam dunia permodelan, tapi di sisi lain Bara merasa tidak tega kepada si kembar karena pastinya mereka belum bisa pulang saat partner model mereka belum ada.
Selin bisa membaca raut khawatir Bara, walaupun saat ini Selin sudah tidak sabar untuk shoping dan membeli gaun dengan Bara. Dia harus mengalah dari egonya dan membantu kedua anaknya yang pastinya sudah kelelahan. "Yaudah ke sana aja dulu, beli gaunnya nanti aja."
Bara menatap Selin dengan tatapan penub bersalah. Padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun, namun tetap saja perasaannya jadi tidak enak. "Oke." Akhirnya persetujuan keluar dari mulut Bara. Selin mengangguk dengan senyuman menghiasi wajahnya. "Ayo," Ajak Selin sambil menarik tangan Bara.
*****
__ADS_1
Happy Reading!
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)