Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 90 : Aku juga Sakit Hati


__ADS_3

Selepas Farel pergi. Bara bangkit dari tempat duduknya untuk membeli makanan favorit kedua anaknya, Bara tersenyum kecut saat menyadari jika dia memanggil Juna dan Jeno sebagai anaknya. Padahal dua anak itu entah mengakui dirinya atau tidak.


"Haaah..." Bara menghela nafas panjang kemudian hendak memesan. Tapi lagi-lagi dia mematung karena tidak tahu makanan apa yang di sukai oleh kedua anak itu. Bara mengacak rambutnya frustasi bingung harus bagaimana. Rasanya dia adalah orang yang paling bodoh di dunia ini, karena tidak mengenal kedua anaknya sendiri.


Bara berjalan keluar sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Anet. "Net..." Panggilnya saat sudah tersambung.


"Ya!!... Kenapa?"


Bara berjalan keluar kafe dengan perasaan yang sedikit sendu. "Makanan Favorit Juna sama Jeno apa..." Ucapnya serak.


Dari kejauhan Anet sudah menyadari jika pria itu tidak baik-baik saja. "Bar.. Lo kenapa?"


"Nggak, buruan jawab."


Bara mengangguk paham. "Mereka sukanya nasi goreng buatan Selin."


"Kalo cake?"


"Pokoknya semua rasa strawbery mereka suka.."


"Oke." Bara langsung kembali ke dalam dan memesan semua yang berasa strawbery.


*****


Juna dan Jeno saling bertatapan saat melihat banyaknya makanan yang tersaji di meja. Ruangan rawat sudah berubah hampir menjadi toko kue.


"Om mau buka toko?" Tanya Juna dengan penuh keheranan.


Bara terkekeh kemudian mengacak rambut Juna pelan. "Nggak. Semuanya buat kalian." Jawab Bara semangat.


Tiba-tiba Selin datang dari luar dengan tatapan syok dan keheranan. "Ya ampun.. Siapa yang mau buka toko?" Tanya nya penuh selidik.


Bara, Juna dan Jeno saling senggol menyenggol. "Ekhem.." Akhirnya mau tidak mau, sebagai pria tertua di sana, Bara harus menjawab pertanyaan Selin. "Nggak. Ini buat kita aja." Ucap Bara bersiap menerima omelan.


"Ini manis loh Bar, kamu mau bikin mereka diabetes."

__ADS_1


Entah kenapa protes Selin terdengar beda di telinga Bara, serasa ada sebuah pedang yang menghunus hatinya. Perkataan Selin sepertinya mempertegas jika Bara adalah Ayah yang tidak becus mengurus anak-anaknya. "Maksud kamu?" Ucap Bara dingin.


"Kan anak-anak nggak boleh makan yang manis-manis terlalu banyak. Nanti pertumbuhan mereka terhambat." Ucap Selin khas ibu-ibu.


"Makan aja yang kalian suka ya. Nanti kalo yang nggak sukanya kita bagi ke kamar sebelah. Terus makannya secukupnya aja." Bara menghela nafas panjang, padahal niatnya baik. Yakali dia menyuruh Juna dan Jeno menghabiskan itu semua, Bara hanya ingin Juna dan Jeno bisa memilih makanan yang mereka sukai, karena sampai detik ini pun Bara tidak tahu makanan favorit mereka yang sebenarnya.


"Iyaa..." Si kembar saling bertatapan saat merasakan aura perang dingin yang sudah terasa.


Bara bangkit dan mengusap kepala Juna dan Jeno secara bergantian. "Om pulang dulu ya.. Nanti Kak Raka yang jagain kalian."


Melihat Bara yang melewatinya begitu saja membuat Selin tersulut emosi. "Pulang?"


"Heemm.. Besok mau ada rapat dulu." Ucap Bara dingin dan melanjutkan langkahnya.


Selin menghela nafas sejenak kemudian berjalan tergesa untuk menyusul Bara. "Bar, kamu marah?" Ucapnya sambil meraih tangan Bara agar berhenti.


"Kamu masih nanya?" Bara menghentikan langkahnya kemudian berbalik ke arah Selin.


"Loh ko tiba-tiba marah sih?" Melihat respon Bara yang seperti itu Selin menjadi semakin kesal.


Selin mengepalkan tangannya penuh kekesalan. "Kebiasaan!. Pasti kabur! Kabur aja terus tinggalin aku!"


"Aku bilang besok mau kesini lagi Selin," Ucap Bara hangat tidak mau meladeni kekesalan Selin.


"Nggak, kamu lagi ngehindar dari pertanyaan aku! Kamu marah kan?"


"Aku nggak marah, aku capek mau istirahat dulu."


Mendengar kata capek membuat Selin semakin tersulut, "Capek?.. Segitu aja udah capek.." Sindir Selin dengan perasaan kecewa.


Bara memejamkan matanya sejenak, sebenarnya dia hanya butuh waktu sendiri dulu sejenak. Tapi kenapa Selin malah terus-terusan memperumit. "Iya.. Aku capek.." Akhirnya karena sama-sama kesal Bara melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Selin.


"Brengsek!" Karena sudah terlalu kesal, bodoamat dengan kesopaan dan pandangan orang banyak, toh di taman hanya ada mereka berdua. Selin melepas sandalnya dan melemparnya dengan keras ke arah Bara.


Buk!!

__ADS_1


Bara terkekeh saat sendal itu mendarat di punggungnya, ternyata walaupun sudah memiliki dua anak sikap kenanak-kanakan Selin masih ada. Bara berbalik kemudian memungut sandal itu dan berjalan santai ke arah Selin. "Kamu tadi ngupat?"


"Iya! Kenapa! Aku kesel sama kamu yang baru nemenin kita gitu aja udah capek! Udah nyerah!" Ucap Selin langsung tertegun saat melihat Bara tiba-tiba berjongkok dan memasangkan sandalnya kembali dengan lembut. Yang membuat Selin ingin menangis tiba-tiba karena diperlakukan begitu manis padahal dia sudah marah-marah dan kasar.


"Liat aku?" Bara memegang kedua bahu Selin dan menatapnya hangat.


"Apa aku harus terus-terusan di sana? Di posisi kebingungan? Nggak bisa manggil anak ku dengan leluasa, nggak bisa meluk mereka seenaknya. Nggak bisa di panggil ayah oleh mereka?" Ucap Bara yang sarat akan kepedihan dan semakin membuat Selin termenung.


"Kamu pernah bayangin nggak Sel, perasaan aku gimana?. Dibohongi selama ini, dan sekarang aku kayak orang bodoh. Yang nggak tau makanan favorit mereka apa, yang bahkan aku inisiatif beliin mereka makanan aja udah di hujat abis-abisan sama kamu. Padahal aku berusaha Sel.."


"Bar.." Panggil Selin dengan kepala yang tertunduk.


"Kalo boleh jujur aku tuh sakit hati dibohongi selama ini, tapi tetep aja kalo didebatkan pasti aku yang kalah." Bara menghela nafas sejenak kemudian melanjutkan. "Kamu selalu bener, dan emang kenyataannya begitu. Aku ingin berpikir sejenak, harus bersikap bagaimana ke mereka."


"Sel.. Aku bingung.. Aku canggung.. Aku kayak orang bodoh.. Aku malu di depan mereka."


"Bahkan mereka juga pasti kebingungan, mereka pasti bingung mau mulai dari mana."


Selin mengangkat pandangannya dengan tatapan yang berkaca-kaca. "Bar.."


"Bahkan aku nggak bisa ngejamin kalo mereka nerima kehadiran ku, aku takut mereka terpaksa. Karena udah tau aku adalah Ayah mereka yang brengsek."


"Maafin aku.." Hanya itu yang bisa Selin ucapkan.


"Haaaah... Aku harus kayak gimana.. Aku bingung Sel... Aku bukan ayah yang baik buat mereka.."


Selin mengepalkan tangannya di satu sisi dia paham dengan perasaan Bara, tapi di sisi lain bukan hanya Bara yang tersakiti di sini. "Bar.. Maafin aku udah egois.. Tapi harusnya kamu tetap di samping kami bahkan dalam keadaan apapun.. Kamu harusnya selalu ada untuk kami itupun kalo kamu bener-bener sayang ke kita. Kamu pikir jadi aku mudah? Kamu pikir aku juga nggak mau istirahat dan pulang? Kamu pikir aku nggak mau nenangin diri aku setelah liat anak ku bersimbah darah di tabrak sama orang yang suka sama kamu, aku juga trauma! Aku juga sakit hati! Dan aku butuh kamu di sisiku!" Ucap Selin tegas dan penuh penekanan.


"Pulang aja, ikuti kata hatimu!" Selin kemudian berbalik dan meninggalkan Bara sendirian.


Bara menghela nafas panjang kemudian mengacak helaian rambutnya frustasi. Bukan ini yang dia harapkan, dia tidak mau ribut dengan Selin tapi lagi-lagi seperti ini.


Selin bersembunyi di tiang saat jaraknya dengan Bara sudah cukup jauh. "Hiks... Hiks.. Hiks.." Perlahan tubuhnya berjongkok dengan air mata yang mengalir.


*****

__ADS_1


Dukung karya ini dengan memberikan Like, Vite, Komen dan Share ke temen-temen kalian. Agar karya ini bisa dinikmati oleh orang banyak yupp.. :)


__ADS_2