
"Hallo Tan, maaf kemarin nggak mampir aku ada pekerjaan dadakan."
Kania datang ke rumah Bara seperti biasa. Dia duduk di samping Meta yang sedang asik membaca koran. Kedatangannya disambut hangat seperti biasa, memang Bara dan Meta sudah menganggap Kania sebagai keluarga.
"Iya nggak papa. Buka kulkas bolu buatan tante ada di sana." Meta menyuruh Kania untuk segera mencicipi bolu buatannya yang dibuatnya dengan Bara, sebenarnya ada baiknya juga Kania tidak datang saat ini. Karena jika ada Kania obrolan hati ke hati antara Bara dan dirinya belum tentu terjadi.
Kania langsung berjalan semangat ke arah kulkas. "Oh yang kemarin itu ya. Wah udah abis setengahnya, siapa yang makan?" Dia terkekeh karena untuk pertama kalinya bolu buatan Meta ada yang memakan selain dirinya.
"Bara," Jawab Meta yang berhasil membuat Kania berbinar.
"Wah Bara akhirnya pulang."
"Iya hubungan kami membaik."
"Syukurlah, aku bahagia mendengarnya." Kania memeluk Meta hangat penuh syukur, akhirnya Bara bisa sadar juga jika sebenarnya dia harua memilih Ibunya dari pada Selin.
"Kemarin Bara datang meminta restu untuk menikahi Selin."
Deg!
Kania membeku pelukannya melonggar, wajahnya langsung berubah pucat dengan tatapan penuh selidik dia bertanya kepada Meta. "Tante nggak ngasih restu kan?"
"Tante merestui mereka." Refleks tangan Kania mengepal dengan amarah yang menyelimuti hatinya. "Loh ko bisa Tante. Selin itu nggak pantas untuk Bara, dia wanita murahan Tan."
"Jangan bicara seperti itu Kan, semua orang pernah salah dan mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua."
"Tapi Tante..."
"Ikhlaskan Bara ya, Tante yakin kamu akan bertemu dengan seseorang yang sangat mencintai mu."
Kania menghela nafasnya kasar tidak mungkin dia akan marah-marah disini dan merusak citranya di depan Meta. "Iya Tante." Jawab Kania dengan hati yang menggerutu.
*****
"Arghhhhhhh!!!"
"Haaaaaaah!!"
Kania melempar semua peralatan make up nya dari meja rias. Berita tentang direstuinya Bara dan Selin membuat Kania semakin di selimuti kabut gelap kemarahan. Dia tidak habis pikir kenapa usahanya selama ini tidak membuahkan hasik, kenapa pesonanya tidak berhasil membuat hati Bara luluh kepadanya.
"Aku nggak akan membiarkan kamu bahagia Selin! Kamu nggak berhak mendapatkan Bara!" Ucap Kania dengan tatapan yang mengerikan.
Dia mengambil botol Parfum kemudian melemparkannya ke cermin. "Dasar wanita yang nggak tau Malu! Harusnya dari dulu Bara sudah menjadi milikku!!!"
Praaaak!!
"Aku tidak akan tinggal diam, kalo aku tidak bisa memiliki Bara, Maka siapapun nggak akan bisa memilikinya! Lihat saja nanti, hal apa yang sedang menunggu mu Selin!"
*****
Selin merasa terusik saat pipinya di kecup terus menerus. Ternyata benar saja saat ia membuka mata sudah terlihat Juna dan Jeno yang sedang duduk di samping kiri dan kanan nya yang setia menunggunya bangun.
"Good Morning Ndaaa..." Ucap mereka serempak dan langsung memeluk Selin.
__ADS_1
Selin terkekeh membalas pelukan mereka dengan mata yang terpejam. "Kemana kita hari ini?"
"Belanja bulanan!! Yeay!"
Selin meraih ponselnya untuk mengecek hari, dan benar saja hari ini jadwal mereka berbelanja. "Memangnya ini hari apa?.. Ternyata hari minggu."
Selin bangun kemudian menggulung rambutnya asal. "Okay, wah kalian sudah mandi?"
"Udah dong, ayo Bunda cepetan mandi. Kita mau siapin sarapan roti sama susu." Ucap Juna seperti orang dewasa.
Selin membuang pandangannya takjub atas sikap kedua anaknya. "Wohooo.. Sejak kapan kalian jadi rajin seperti ini," Ucap Selin gemas dengan tangan yang mencubit pipi kedua anaknya.
"Sejak zaman dahulu kala." Timpal Juna sedramatis mungkin.
"Ahahahaha, yasudah bunda mau mandi dulu." Kedua anak itu mengangguk kemudian keluar dari kamar.
Selin bangkit untuk mengambil handuknya saat ia akan melangkah ke dalam toilet, terdengar ponselnya berdering dengan sedikit malas dia mengambil ponselnya yang tergeletak di kasur.
Dia tersenyum samar ternyata yang menelponnya Bara, dia seperti kembali menjadi ABG labil karena senyam senyum tidak jelas. "Haii.." Ucap Selin melambaikan tangannya saat video call.
Dari sebrang sana terlihat jika Bara sudah berpakaian rapi dan berada di dalam mobil. "Baru bangun ya?" Tanya Bara yang dijawab Selin dengan cengengesan.
"Aku ada di luar." Ucap Bara yang berhasil membuat Selin terdiam sejenak.
"Loh... Bukannya kemarin bilang hari ini mau rapat?"
"Coba liat ke balkon."
Selin langsung bergegas ke balkon untuk mengecek apakah Bara benar-benar sudah ada di halamannya atau belum. Tapi setelah dia memgecek dan mengedarkan pandangannya disekitar penjuru halaman mobil Bara tidak terlihat di sana. Raut Sumringah Selin langsung berubah masam.
"Ish nyebelinn!!!" Teriak Selin menggelegar.
Bara menatap Selin dengan tatapan hangat. "Cie udah nggak sabar ketemu ya?"
"Nggak!"
Wanita itu berjalan memasuki kamar dengan kaki yang dihentak-hentakkan.
"Masa tadi larinya buru-buru gitu hahahaha."
"Ish nyebelin!!!" Selin memasang wajah pasrah nya.
"Besok kita ketemu ya, sabar dulu." Ucap Bara yang berhasil membuat mood Selin kembali membaik.
"Emmm.."
"Hari ini mau kemana?"
"Mau belanja bulanan."
"Oke.. Aku transfer.."
"Ohooo..." Wanita itu bertepuk riang penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Melihat tingkah Selin yang mudah sekali berubah-ubah Bara hanya bisa geleng-geleng kepala. "Aku udah bilang belum sih?"
Selin menautkan alisnya penasaran. "Apa?"
"Kita udah direstuin.." Bisik Bara yang masih bisa terdengar jelas oleh Selin.
Selin membeku dengan pipi yang perlahan berubah merah, dengan cepat dia menjauhkan ponsel dari wajahnya dan berteriak pura-pura tidak mendengar. "Hah apa nggak kedengaran?!"
Bara memutar bola matanya malas sudah hapal betul dengan tingkah Selin saat sedang gugup. "Dih pura-pura tuli, tuli beneran baru tau rasa."
"Dih sembarangan kalo ngomong."
"Makanya jangan bohong nggak jelas." Ucap Bara di sebrang sana penuh nasihat.
Selin menunduk dan menyadari kesalahnnya karen berpura-pura tidak mendengar. "Yaudah Maaf!" ucapnya sedikit tidak ikhlas.
"Yaudah Dimaafin."
"Yaudah Sama-sama."
"Yaudah salam dulu." Bara memajukan tangannya ke ponsel untuk Selin salam.
Bara-Bara memang selalu ada aja, tingkahnya yang menyebalkan tapi selalu berhasil membuatnya tersenyum. "Ahahaha, apaan sih gak jelas banget."
"Ayo mandi dulu sana, si kembar udah nungguin pasti."
Terkadang kita tidak perlu sosok sempurna untuk menjadi pendamping kita.
"Iya."
"Dandannya jangan cantik-cantik."
Cukup dia yang bisa membuat my bahagia dan berarti lebih dari siapapun. Pasti kamu akan bahagia.
"Iya."
"Pakai baju lengan panjang."
"Iya."
Jika kamu sudah menemukan sosok seperti itu, sebisa mungkin jangan disia-siakan karena tidak semua orang diberi kesempatan kedua.
"Pakai jeans juga harus panjang."
"Iya bawel."
"Anak pintar."
******
Hallo Readers..
“Dukung Karya ini dengan membaca sampai akhir, tambah ke favorit, tinggalkan Like&komentar, hadiah serta Vote. .”
__ADS_1
Love You!!