
Kania menatap pantulan wajahnya di cermin dengan tubuh yang bergetar, dia menatap kedua tangannya yang sudah berlumuran darah akibat pecahan kaca yang baru saja ia rusak.
"Hiks... Kenapa jadi Juna.. Bukannya Selin.." Ucapnya frustasi seperti orang gila.
"Aku harus cepat bergegas pergi, sebelum mereka menemukan ku." Ucapnya kemudian berlari ke wardrobe untuk mengemas pakaiannya.
Brag! Brag! Brag!
Terdengar sura pintu apartemennya diketuk brutal oleh seseorang. Kania semakin panik dan kalang kabut, "Bagaimana ini,"
"Saudara Kania! Buka pintunya atau kami terpaksa akan membukanya secara tidak hormat."
"Arggghh!! Arghhh!!"
Kania melempar semua barang-barangnya ke lemari kaca, dan membuat ruangan itu sudah tidak karuan.
Prang!!
Prang!!
Prang!!
Mendengar keributan dari luar, Polisi meminta petugas apartemen untuk segera membuka pintu.
"Jangan mendekat!!" Teriak Kania dengan kaca yang sudah ada di lehernya.
"Tenang Nona! Jauhkan kaca itu dari leher anda!"
"Pergi!! Kalian pergi!! Aku tidak melakukan hal yang salah!!" Teriak Kania dengan wajah frustasinya.
Brak!!!
Pintu kembali terbuka dan menampilkan Bara dengan tatapan dingin dan tajamnya ke arah Kania.
"Bar.." Panggil Kania penuh kepedihan.
Drap..
Drap..
Drap..
Bara berjalan dengan perlahan ke arah Kania tanpa menghiraukan kaca yang berserakan di lantai, pria itu langsung mencekal tangan Kania dan melempar kaca di tangannya.
Prang!!!
"Berjalan ke arah mereka, atau aku yang akan menyeret mu?!" Ucap Bara dengan tangan yang mencekal Kania erat.
"Hiks.. Bar sakit!!" Desis Kania saat genggaman ditangannya nyaris membuat urat nadinya putus.
__ADS_1
Bats!! Bara melepaskan genggamannya kemudian menatap Kania tajam. "Tanggung jawab atas semua perbuatan mu! Jangan berpikir untuk kabur atau melakukan hal yang aneh. Atau aku sendiri yang akan memberikan pelajaran kepada mu,"
"Bar.. Hiks.. Hiks.."
"Jangan memanggil namaku dengan mulut kotor mu itu, dan jangan bertingkah seolah-olah kau yang telah tersakiti. Seumur hidup ku aku tidak pernah menyangka kamu akan sebusuk itu Kania, kamu sudah berusaha melukai orang yang aku sayang. Dan sekarang anak ku sedang berjuang mempertahankan hidupnya, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan mu. Terima hukuman mu dengan penuh penderitaan.."
"Bar... Hiks.. Aku.. Aku.."
"Kau sudah tahu bukan mereka adalah anak kandung ku, tapi dengan teganya kamu memalsukan hasil ter DNA!!"
"Dimana otak warasmu Kania!! Dimana!!!!" Teriak Bara dengan sorot mata yang memerah menakutkan.
Para polisi cepat-cepat mengamankan Kania karena ditakutkan Bara akan berbuat hal-hal yang diluar kendalinya. Tanpa penolakan lagi, Kania pasrah diborgol dan mengikuti polisi yang membawanya entah kemana.
******
Saat semua orang sudah tidur, Bara perlahan berjalan masuk ke dalam ruang rawat Juna. Hatinya terhenyak saat melihat keadaan Selin yang begitu menyedihkan, matanya terlihat sangat lelah tapi dia harus tetap kuat dan tersenyum untuk kedua anaknya. Entah sudah berapa banyak kejadian yang selama ini Bara lewatkan dan membuat Selin sekuat ini.
Bara menengadahkan kepalanya dan mengusap wajahnya gusar. Drett!!. Bara menarik kursi kemudian duduk di samping Juna yang belun kunjung sadar juga. Perlahan tangannya terulur untuk menggenggam tangan Juna penuh kepedihan.
Bara memejamkan kedua matanya dengan air mata yang membasahi wajahnya, hatinya tidak henti-hentinya mengucapkan maaf. "Hiks.. Hiks.. Hiks.." Bara sudah tidak bisa menahan air mata penuh bersalahnya, sekaligus air mata penuh ketakutan.
Dia takut Juna akan meninggalkannya bahkan sebelum ia diberi kesempatan untuk menjadi seorang ayah yang baik untuknya, "Heuu.. Heuu.. Hiks.. Hiks.." Bara membekap mulutnya agar tangisannya tidak mengusik orang lain.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang.." Gumamnya penuh penyesalan di dalam hati.
Selin yang awalnya tertidur perlahan terusik karena mendengar suara isak tangis seseorang. Saat pandangannya perlahan terbuka, terlihat Bara sedang menangis dengan tubuh yang bergetar hebat di samping Juna yang masih terbaring.
"Haaah..." Selin menghela nafas panjang kemudian bergegas berjalan ke arah Bara kemudian memeluknya dari belakang.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.." Bara mematung saat mendengar isak tangis seseorang yang sedang memeluknya dari belakang.
Pria itu bangkit dari duduknya dan berbalik untuk membalas pelukan Selin dengan erat. "Hiks.. Hiks.. Kemana saja kamu.. Aku membutuhkan mu di sisiku.." Ucap Selin sambil terisak.
"Maaf.. Sel.. Tolong maaf kan aku.." Bara terisak.
Selin semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan tinggalkan aku lagi Bar.. Aku nggak sekuat dulu.."
Bara mengangguk. "Aku nggak akan ninggalin kamu.. Tolong percaya sama aku.. Hmm.."
Selin tersenyum dengan mata yang terpejam. "Pasti.."
*****
Selin tidur di pangkuan Bara dengan nyaman, tangan Bara tidak berhenti mengelus rambut Selin dengan lembut. "Ayo tidur..." Ucap Bara saat wanita itu tidak kunjung memejamkan matanya.
"Hmmm.. Bar.." Panggil Selin yang hanya di balas Bara dengan helaan nafas panjang. "Mmmm... Aku minta maaf.."
Bara terkekeh penuh tanda tanya. "Untuk?"
__ADS_1
"Selama ini tidak memberitahumu jika.."
"Jangan diteruskan.. Aku tidak kuat untuk mendengarnya.." Cegah Bara tidak kuat untuk mendengar itu dari Selin.
Selin menghela nafas penuh rasa bersalah. "Maaf.."
"Kesalahanmu memang tidak bisa ku maafkan, dan begitu menyakiti ku. Tapi jika dipikir-pikir semua keputusan mu sudah tepat, mungkin jika aku berada di posisi mu akupun akan melakukan hal yang sama. Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai seorang pria meninggalkan tanpa alasan yang jelas."
"Bar.. Jangan berkata seperti itu.."
"Sel.. Kesalahan ku lebih besar dari itu.. Kesalahan mu tidak sebanding dengan kebodohan ku selama ini..Kamu berhak marah.. Maki aku sesuka mu.. Asal jangan tinggalkan aku.."
Selin langsung bangun dari tidurnya dan menatap Bara antusias. "Benarkah? Aku bisa memukulmu semauku?"
"Tentu.. Lakukanlah.. Asal jangan tinggalkan aku."
Selin terkekeh. "Wajah mu kenapa?" Selin menyentuh wajah Bara yang sedikit lebam.
"Biasa.. Seorang pria.."
"Kamu berkelahi sama Farel ya?"
Tubuh Bara langsung menegang dan menoleh ke arah Selin tidak percaya "Hmmm.."
Selin tersenyum simpul kemudian menggenggam tangan Bara hangat. "Jangan ninggalin aku.. Jangan berhenti untuk memperjuangkan aku ya Bar.. Waktu ngobatin Farel aku denger pembicaraan kamu sama Anet, dan menyusul keluar untuk melihat mu."
Bara menautkan kedua alisnya dengan tatapan serius ke arah Selin.
"Awalnya aku ingin berlari dan mencegah mu pergi, tapi kamu terlihat sangat menyedihkan dan menolak kehadiran siapapun."
"Aku mohon.. Lain kali jangan seperti itu.. Biarkan aku menghampirimu kapan pun aku mau, jangan membuat benteng pembatas lagi.."
Bara tersenyum penuh syukur, karena Selin masih peduli dan mau menerimanya. "Mmm.. Aku terlalu malu dan merasa tidak pantas untuk mu..."
Selin menggeleng tidak setuju kemudin bersandar di dada bidang pria itu mencari posisi yang nyaman. "Lain kali kalo merasakan hal itu lagi, ingatlah aku Juna dan Jeno sangat membutuhkan mu, jadi jangan tinggalkan kami lagi.."
"Nggak akan... Terimakasih... Sel.."
"Kita harus kuat Bar.. Aku yakin kita bisa melewati semua ini bersama.."
"Mm... Terimakasih karena sudah menerima ku..."
"Terimakasih karena tidak meninggalkan kami lagi.."
Mereka saling memeluk dan entah sejak kapan mulai memasuki alam mimpi dengan perasaan yang sedikit lega.
*******
Dukung karya ini dengan memberikan Like, Vite, Komen dan Share ke temen-temen kalian. Agar karya ini bisa dinikmati oleh orang banyak yupp.. :)
__ADS_1