Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 78 : Cincin Couple


__ADS_3

Selin dan Raka terkekeh bersamaan untuk menertawakan tingkah mereka sendiri. Dari kejauhan Bara yang sejak tadi memperhatikan mereka mendengus sebal kemudian bergegas ke arah Selin.


"Woy!! Lo ngapain goda-goda Selin manggil-manggil adek?!" Ucap Anet yang tiba-tiba datang mendahului Bara.


"Anet.." Ucap Selin sumringah.


Berbeda dengan Selin yang ceria, Raka malah memberikan tatapan kesal pada Anet. Dia masih belum terima di cium seenaknya oleh Anet, apalagi sampai saat ini belum ada permintaan maaf dari wanita itu. "Apaan sih, ikut campur aja."


"Kenapa kamu dari tadi berduaan sama Raka, Kak gue nggak nyangka lo cepu." Selin terlonjak dari tempat duduknya saat mendengarkan suara Bara yang baru saja datang.


"Ahahahaha, apaan sih. Kak Raka nggak macem-macem ko." Bukannya takut kepergok Selin malah tertawa terbahak-bahak. Selin tersenyum lebar menatap Bara, setelah mendengarkan ucapan Raka tentang Bara rasa sayang Selin menjadi semakin besar. Ia sadar mungkin ini adalah saatnya dia dan Bara bahagia tanpa dibayang-bayangi oleh masa lalu.


Mendengar Selin memanggil Raka dengan sebutan Kak, Bara langsung menajamkan pandangannya. "Aaa.. Apa?!! Kamu manggil Raka, Kaka?!"


Raka memutar bola matanya malas ke arah Bara. "Kenapa lo sirik?"


"Eh.. Eh.. Eh.." Dengan cepat Selin menahan Bara yang bercanda akan memukul Raka.


"Hahahaha."


Saat orang lain asik tertawa menertawakan tingkah mereka sendiri Anet masih berdiri di tempatnya dengan tatapan tajam ke arah Raka. "Lo awasnya godain Selin." Ucapnya penuh peringatan.


Raka tersenyum simpul kemudian mendekatkan kepalanya ke arah Anet. "Nggak akan, gue bisanya godain lo doang."


"Apaan sih lo! Dasar buaya buntung!"


Bara dan Selin saling berpandangan kemudian terkekeh melihat tingkah Raka dan Anet yang menggemaskan. "Udah ayo pulang," Ucap Selin kemudian menautkan tangannya pada lengan Bara.


Bara sedikit mematung kemudian menatap Selin dengan tatapan tidak bisa diartikan. Dia tersenyum hangat kemudian meraih tangan Selin untuk digenggamnya erat.


"Yuuu.." Jawab Bara yakin kemudian berniat melangkah. Tapi Selin malah mematung dan tidak beranjak dari tempatnya. "Kenapa diam aja hmm?" Ucap Bara lembut.


"Mau jalan kaki," Jawab Selin yang berhasil membuat Bara terkekeh.


Tangan Bara terulur untuk mengelus pucuk kepala Selin gemas. "Kalo udah lelah baru naik taksi?"


Selin langsung mengangguk paham. "Iyaaa... "


Ada pepatah yang mengatakan saat di mabuk cinta dunia itu serasa milik berdua dan yang lain ngontrak. Hal itu juga yang dirasakan oleh Selin dan Bara mereka saling di mabuk asmara dan mengabaikan kehadiran Anet dan Raka yang sejak radi beradu cekcok.

__ADS_1


*****


Selin berjalan berdampingan dengan Bara, mereka tersenyum penuh kebahagiaan dengan tangan yang saling bergenggaman erat. Tidak ada percakapan yang mereka lakukan, hanya diam membisu menikmati hangatnya udara di sore hari. Bara memasukan tangan Selin ke dalam saku mantelnya.


"Eh, ini apa?" Ucapnya saat tidak sengaja meraba ada sebuah kotak kecil di dalam saku Bara.


"Aaaa.. Ini buat aku ya?" Ucapnya kegirangan saat mengeluarkan kotak itu yang ternyata kotak cincin.


Tanpa meminta persetujuan Bara, Selin langsung membuka kotak itu. Matanya langsung berbinar dan menatap Bara dengan tatapan Menggoda. "Aaaaa... Cincin.. Kamu mau melamar ku ya? Mari kita menikah." Ucap Selin kegirangan kemudian tanpa malu langsung memasangkan cincin itu di jari manisnya.


Namun senyuman itu tidak bertahan lama, raut penuh kesedihan langsung tertampil di wajah Selin saat cincin itu terlalu longgar di jari manisnya. "Ini untuk siapa?" Ucapnya dengan suara parau dan pandangan yang berkaca-kaca.


Bara menghela nafasnya panjang kemudian menarik Selin ke sebuah taman. "Duduk," Ucapnya lembut.


Dengan pandangan yang berkaca-kaca Selin duduk kemudian menatap Bara sesak. "Cincin ini buat siapa? Hiks.. Hiks.." Ucap Selin dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya.


Bara hanya tersenyum santai kemudian berjongkok di hadapan Selin. "Suut.. Nggak boleh nangis. Siapa suruh maen buka-buka aja." Bara meraih tangan Selin kemudian mengeluarkan cincin itu dari jari manisnya.


"Ini cincin punya aku, yang punya kamu ada di sini." Ucap Bara sambil merogoh saku mantelnya yang lain dan mengeluarkan sekotak perhiasan kecil kemudian membukanya yang memperlihatkan sebuah cincin indah.


Selin menatap Bara dengan tatapan penuh haru. "Selin.. Mau kah kamu menikah dengan ku, dan menghabiskan waktumu seumur hidup untuk membangun keluarga kecil yang bahagia?"


Selin menutup mulutnya tidak percaya, air mata kesedihan berubah jadi air mata penuh haru. Tanpa berpikir lagi dia langsung mengangguk mengiyakan ajakan Bara. Bara tersenyum lebar kemudian menarik Selin ke dalam pelukannya. "Makasih Sel.." Ucap Bara penuh rasa syukur.


"Aku pasangin ini ke kamu ya," Ucap Selin dan memasangkan cincin itu di jari manis Bara.


Mereka saling menatap penuh haru, semoga kebahagiaan hari ini terus berlanjut dikemudian hari. "Peluk dong," Ucap Bara yang berhasil membuat Selin memicingkan bola matanya.


Selin berdiri kemudian naik ke atas kursi. "Eh mau ngapain?" Tanya Bara was-was karena kadang Selin suka bertingkah di luar nalar lalu ikut berdiri.


Greb! Bukannya menjawab Selin malah memeluk Bara, yang tentunya membuat pria bucin itu kehabisan kata-kata. Bara terkekeh dengan sikap Selin yang menggemaskan, kemudian membalas pelukan Selin dengan penuh kebahagiaan.


"Doakan aku, aku akan berjuang untuk mendapatkan restu dari empat orang."


Selin menatap Bara penuh tanda tanya. "Dari siapa aja?"


"Dari Ibu mu, Ibu ku, dan si kecil Juna dan Jeno."


Selin sontak tertawa terbahak-bahak. "Ahahahaha, aku doakan semoga berhasil."

__ADS_1


Bara kembali mengembangkan senyumannya kemudian mengeratkan pelukannya seperti tidak ada hari esok. "Makasih.. Kamu mau berjuang sama aku juga kan?"


"Nggak.. Aku mau duduk manis aja nunggu."


"Dih.. Ko nunggu aja."


"Ya iyalah, dimana-mana juga cowo yang berjuang."


"Nggak gitu juga Selin, kan sekarang zamannya emansipasi wanita."


"Nggak.."


"Yah jangan gitu dong, kalo aku nggak bisa meyakinkan si kembar gimana? Kita nggak jadi nikah dong."


"Ya nggak papa," Ucap Selin enteng.


"Lah ko gitu ngomongnya. Kan tadi kamu udah nerima lamaran aku."


"Ya tinggal batalin aja."


"Eh.. Nggak bisa gitu ya. Ucapan kamu udah di catat sama Malaikat."


"Ahahahaha.. Apaan sih.." Selin geleng-geleng kepala dengan pola pikir Bara.


"Bantuin nggak.." Ucap Bara mengancam dan mulai menggelitik Selin.


"Aduh.. Geli Bara.."


"Mau bantuin dulu atau nggak.."


"Ahahahah... Iya.. Iyaa.."


"Nah gitu dong.."


"Hihihi, iya bawel."


Mereka saling berpelukan dengan senyuman yang tidak luntur dari wajah keduanya. "Semangat Bar, aku tau ini nggak mudah." Gumam Selin dengan mata yabg terpejam di pelukan Bara.


******

__ADS_1


Happy Reading!


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2