
Dengan memberanikan diri, Bara berjalan menghampiri si kembar yang masih duduk lesehan di karpet menunggu Selin bangun.
"Kalian belum mandi?" Ucap Bara basa-basi kemudian duduk di samping mereka.
"Nunggu Bunda bangun dulu," Ucap Juna tanpa menoleh ke arah Bara.
Bara mengangguk paham. "Tapi kan Bunda kalian kakinya lagi sakit, dia nggak bisa mandiin kalian."
"Kita nunggu Nda bukan mau minta dimandiin, tapi mau mastiin kalo Ndaa baik-baik aja. Setelah itu kita baru bisa mandi," Ucap Jeno sedikit ketus.
Bara membeku sejenak saat menyadari sikap Jeno berubah kepadanya. Dia bertanya-tanya kenapa sikap Jeno yang awalnya sangat antusias di dekatnya berubah menjadi dingin dan penuh kebencian. "Anak pintar. Kalian bisa mandi sendiri?"
Walaupun malas Juna masih menjawab pertanyaan Bara. "Hmmm, kita harus mandiri biar nggak buat Bunda kecapean."
"Kalian mending mandi, biar Om yang nunggu Bunda kalian. Atau tante Anet. Pasti Bunda kalian pas bangun seneng deh, kalo kalian udah rapih." Bara tidak tega melihat wajah kelelahan dari dua bocah itu, mungkin jika mereka sudah mandi wajah mereka akan lebih fresh dan mood mereka jauh lebih baik.
Anet yang sejak tadi berdiri di pintu menggelengkan kepalanya penuh keheranan pada Bara. Bukannya niat Bara yang sebenarnya untuk meminta ijin menginap bukan malah basa basi membahas mandi. "Katanya Om Bara mau nginep boleh nggak?" Ucap Anet to the point.
Bara sedikit kesal pada Anet, kenapa wanita itu tidak bisa diajak kerjasama.
Jeno menatap serius ke arah Bara. "Kenapa mau nginep, rumah Om di jual?"
Bara terkekeh sejenak, tidak menyangka Jeno akan berpikiran sampai ke sana "Nggak, Om mau nungguin kalian sama bantu Bunda kalian yang lagi sakit. Ya itung-itung bukti tanggung jawab Om sekaligus permintaan maaf karena nggak bisa jagain Bunda kalian pas di kantor."
Anet memutar bola matanya malas. "Modus banget seh pakek tanggung jawab, tanggung jawab segala!"
"Berisik Net," Bara menoleh ke arah Anet dengan tatapan penuh peringatan.
Juna menyunggingkan senyum misterius di wajahnya, kemudian beralih menatap Jeno penuh arti. Walaupun Juna tidak melontarkan kata sedikit pun hanya saling berbagi pandangan. Tapi Jeno bisa menangkap maksud yang tersirat dari tatapan itu.
Jeno melipat tangannya di depan kemudian menatap Bara penuh "Boleh sih, tapi nggak segampang itu perguso!"
Bara menaikan satu alisnya penasaran. "Ada syaratnya!" Bara berpikir sejenak kemudian mengepalkan tangannya penuh keyakinan. "Syaratnya apa?"
"Om harus menang maen PS lawan Bos Anet." Jawab Juna to the poin.
"Kalo Om kalah, berarti Om harus menjemput kita di sekolah selama satu minggu. Sama traktir Es Krim setiap hari." Timpal Jeno dengan penuh semangat.
Bara mangut-manggut paham "Terus Kalo menang?"
__ADS_1
Juna mengangkat pandangannya ke arah Bara. "Om boleh nginep, dan nggak harus jemput kita."
Bara berpikir sejenak tentang tantangan si kembsr. "Jadi kalo Om kalah, Om masih bisa nginep?"
Jeno tersenyum sinis penuh arti. "Tergantung, liat aja nanti. Gimana, deal?" Ucapnya sambil mengulurkan tangan seperti orang dewasa.
Bara sedikit terkekeh melihat tingkah kedua anak ini yang sangat menggemaskan. "Deal!" Ucap Bara langsung membalas uluran tangan Jeno.
"Tunggu-tunggu, ko aku yang main tapi nggak ada dapet keuntungan apa pun." Ucap Anet penuh keberatan. Masa iya dia yang melawan Bara tapi dia tidak mendapatkan keuntungan apapun.
"Yaudah Net, kamu mau apa kalo saya kalah?" Tanya Bara dengan sedikit jengkel. Bisa-bisanya wanita tega menyudutkannya.
Kedua bola mata Anet berbinar bahagia. "Mau model cadangan, kalo misalkan model-model ku lagi berhalangan. Gimana deal?" Ucapnya dengan tangan yang terulur.
Dengan pasrah Bara membalas uluran tangan Anet. "Hmm, deal sih. Tapi kalo Om menang, Om punya satu permintaan untuk kalian."
"Oke sip." Ucap mereka setuju.
******
Selin terganggu dari tidur lelapnya saat perutnya meminta stok makanan. Perlahan matanya terbuka lalu mencari letak ponselnya untuk melihat Jam. Selin memperhatikan badannya yang ternyata belum ganti baju.
Karena kesadarannya belum terkumpul semua, Selin bergegas membawa baju ganti dan masuk ke dalam toilet untuk membersihkan diri. Setelah selesai Selin duduk di meja rias sambil mengingat ingat sejak kapan kakinya terluka.
"Kapan kaki ku keseleo ya," Gumam Selin berusaha mengingat-ingat.
Saat kesadarannya sudah sempurna dan ingatannya kembali pada kejadian hari ini. Selin membeku lalu cepat-cepat melihat jam. "Ya ampun, Juna dan Jeno gimana?" Ucap Selin panik. Dia takut jika kedua anaknya belum ada yang menjemput atau sendirian di rumah dengan keadaan lapar karena tidak tega membangunkan dirinya.
"Shht," Dengan susah payah Selin cepat-cepat keluar kamar menuju kamar Juna dan Jeno.
"Juna, Jeno!!" Panggilnya berharap akan mendapat jawaban.
Ceklek!
Selin semakin syok saat kamar anaknya kosong. "Ya ampun, mereka dimana." Ucap Selin lirih dengan pandangan berkaca-kaca. Perasaan was-was dan pikiran negatif memutar hebat di otaknya.
Drap! Drap! Drap!
Dengan langkah pincang Selin berjalan cepat mengabaikan rasa sakit di kakinya yang terluka. Dengan tergesa Selin menuruni tangga, di dalam hati dia tidak henti-hentinya merapalkan doa semoga kedua anaknya baik-baik saja.
__ADS_1
"Aaa!" Pekik Selin.
Selin tersentak kaget saat kakinya tidak menginjak tangga dengan tepat dan tubuhnya terhuyung ke depan tanpa bisa di kontrol lagi. Bruk! Selin memejamkan matanya pasrah saat tubuhnya akan berbenturan dengan lantai atau terguling dari tangga.
Bruuuk!!
"Kamu baik-baik saja," Ucap seseorang lirih.
Perlahan kedua matanya terbuka saat merasakan tubuhnya di peluk oleh seseorang agar tidak terjatuh. Selin membeku ditempat saat menyadari jika orang yang menahannya adalah Bara. Sejenak dia mematung dengan pandangan terkunci oleh tatapan Bara yang penuh kekhawatiran. Setelah kesadarannya kembali Selin mengangguk singkat sebagai jawaban kemudian menjauhkan tubuhnya dari Bara.
Dengan susah payah Selin melanjutkan niatannya untuk mencari kedua anaknya dan mengabaikan kehadiran Bara. "Juna, Jeno!" Ucapnya terhenti saat melihat kedua anaknya sedang asik bermain PS dengan volume yang sangat besar. Pantas saja mereka mengabaikan panggilan Selin dari lantai atas.
Selin tersentak saat tubuhnya tiba-tiba melayang karena ada yang menggendong. "Hei lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri!" Pekik Selin menarik perhatian semua orang.
Bara mengabaikan protes Selin lalu cepat-cepat berjalan ke sopa dekat Juna dan Jeno bermain PS. Dengan perlahan dia meletakkan Selin ke atas sopa.
"Ndaaaa!!" Pekik Jeno kegirangan kemudian memeluk Selin erat.
"Bunda sudah bangun? Gimana tidurnya nyenyak nggak?" Tanya Juna saat menyusul memeluk Selin.
Selin mengangguk sebagai jawaban sambil memeluk kedua anaknya penuh kelegaan. "Kalian udah makan?"
"Udah, tadi Om Bara masak."
Selin menoleh ke Bara sejenak kemudian mengangguk paham.
"Ndaaa, Om Bara mau tanding PS sama tante Anet. Kalo Om Bara yang menang katanya dia mau nginep disini. Boleh nya Nda?" Ucap Jeno meminta persetujuan.
Sontak kedua bola mata Selin membulat sempurna. "Om Bara harus pulang sayang, dia sibuk dia pasti kelelahan." Tolak Selin halus.
Jeno menekuk bibirnya kecewa. "Yaaah, padahal Om Bara nya udah setuju. Kita udah deal-deal lan tadi Nda."
"Tenang aja kali Sel, gue nggak mungkin kalah." Jawab Anet penuh percaya diri.
"Ya liat saja nanti," Gumam Bara hang langsung di pelototi oleh Selin.
******
Yuk ramaikan kolom komentar biar author tambah semangat.
__ADS_1
Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)