
Bara menghela nafasnya panjang menatap ke arah bangunan yang sudah lama ini tidak ia datangi. Kehadirannya sangat di sambut baik oleh satpam, tapi Bara sudah memperingatkan untuk tidak membuat keributan. Dengan menguatkan hati dia keluar dari mobil dan berjalan perlahan ke arah pintu. Saat hendak menekan Bel ucapan Selin terngiang jelas di telinga Bara.
"Bar bagaimanapun Mama adalah Ibu mu, mau seburuk apapun dia, dia adalah orang yang sudah melahirkan mu dan pastinya sangat menyayangimu lebih dari siapa pun. Aku seorang Ibu, aku tau bagaimana pedihnya di jauhi oleh anak kita sendiri. Wajar saja jika Ibu mu tidak menyukai mu Bar, aku mohon bujuk dia untuk merestui kita. Aku ingin menikah dengan dipenuhi restu dan doa dari kedua orang tua kita."
Ting!
Dengan segenap hati Bara menekan bel rumahnya sendiri. Tidak harus menunggu lama, pintu besar itu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang sedang memakai apron di tubuhnya.
"Maaa..." Panggil Bara lirih.
Meta terlonjak kaget merasa tidak menyangka jika anak nya yang selama ini dia rindukan akhirnya pulang ke rumah. "Bara.. Ya ampun Nak, kenapa nggak bilang mau pulang ke rumah." Ucap Meta histeris kemudian memeluk Bara erat.
"Mampir aja," Bara enggan membalas pelukan Meta dan hanya berdiri kaku.
Tanpa menunggu lama, Meta langsung menarik Bara masuk ke dalam rumah dengan sumringah dan mau tidak mau Bara mengikutinya hingga sampai di dapur. "Mama lagi bikin bolu, Kania juga mau datang." Ucap Meta bangga.
Mendengar nama Kania disebut Bara menjadi sedikit kesal. "Ngapain dia kesini?"
"Kan dia emang suka ngejenguk Mama, dia udah Mama anggap kayak anak kandung sendiri." Ucap Meta yang sarat akan arti.
Bara terkekeh pelan kemudian tersenyum kecut. "Oh gitu ya.. Syukurlah Mama nggak kesepian."
Mera sedikit tersentak saat mendengar jawaban Bara yang terlihat sangat kecewa, akhirnya hanya gumaman yang dia keluarkan. "Hmmm.."
Bara duduk di meja makan dengan kedua tangan yang tertaut. "Maa.."panggil Bara lirih.
"Iya kenapa, kamu haus." Ucap Meta kemudian bersiap untuk menuangkan air, dia terlalu gugup bercampur bahagia karena akhirnya Bara bisa pulang ke rumah.
"Apa menurut Mama aku bahagia?" Ucap Bara yang berhasil membuat Meta membeku.
"Semenjak Kania pindah ke kantor kamu, kamu terlihat jauh bahagia dan kayak dulu lagi."
__ADS_1
"Mama benar," Ucap Bara sambil tersenyum getir.
Mendengar ucapan Bara hati Meta langsung melambung penuh rasa bangga. "Tuh kan kata Mama apa, Kania itu.."
"Tapi Mama keliru, Aku bahagia bukan karena Kania pindah ke kantor ku. Tapi Selin Ma.. Selin kerja disana.." Pungkas Bara.
"Jangan sebut nama itu.." Ucap Meta tegas dengan pandangan tidak suka dan kuat akan kebencian.
Bara menghela nafasnya panjang. "why do you hate him so much?.. Selama pernikahan apakah dia pernah menentang Mama, Nggak nurut sama Mama?.. Nggak Mah nggak!"
"Stop Bar!"
"Kenapa Ma?.. Bahkan saat dia dituduh yang aneh-aneh aja Dia masih bisa tersenyum, asalkan Mama tahu. Selama pernikahan ku, nggak pernah Selin ngeluh tentang Mama, nggak pernah dia cerita buruk tengang Mama. Tapi kenapa Mama sangat membencinya,"
"Dia udah ngerebut kamu dari Mama!, kamu satu-satunya keluarga Mama yang tersisa Bar. Mama nggak mau anak Mama direbut lagi sama Menantu."
Sejak Papa Bara meninggal, mereka hidup bertiga dengan Kakak Bara yang sudah meninggal akibat kejadian naas di masa lalu. Bagas meninggal saat mengantar istrinya keluar, kejadian itu memberikan trauma yang sangat mendalam bagi Meta maupun Bara.
Tangan Meta terkepal erat dengan pandangan berkaca-kaca. "Stop! Pokoknya Mama nggak mau denger kamu cerita soal Selin!"
"Maaa.. Tolong sadar sedikit.. Sebenarnya Mama itu sayang sama Selin, hanya saja semenjak Kania datang ke keluarga kita Mama jadi kehasut sama Dia. Coba Mama ingat dulu Mama sayang banget sama Selin kan Hmm?"
Meta merenung sejenak memikirkan perasannya kepada Selin, dia tahu jika Selin adalah wanita baik tapi hatinya terlalu gengsi untuk mengakui itu semua. "Stop Bara!"
"Maa... Coba sebentar aja dengerin kata hati Mama.. Aku tau waktu dulu Selin ninggalin rumah ini Mama sedih, Mama kecewa sama aku. Dan asal Mama tau, tatapan penuh kebencian itu adalah tatapan penyesalan Mama karena berprilaku buruk sama Selin, tapi Selin nggak pernah ngebales Mama."
"Udah Bar.. Lebih baik kamu pergi dari pada harus membicarakan wanita itu."
Bara menghela nafasnya kecewa, ternyata perkataannya belum berhasil untuk menyadarkan ibunya dari hasutan Kania. "Oke.. Aku pergi.." Ucapnya sambil bangkit.
Meta membuang pandangannya karena tidak ingin beradu tatap dengan Bara, dia tidak ingin menerima dan mengakui isi hatinya sendiri. Baginya Selin adalah wanita paling buruk karena sudah merusak hubungan antara dirinya dan Bara.
__ADS_1
"Aku udah ngelamar Selin, mungkin sebentar lagi kita akan menikah."
Meta langsung membulatkan kedua bola matanya. "Bara dia udah punya anak dari orang lain! Dia itu bukan wanita baik-baik!" Ucap Meta dengan emosi yang memuncak.
"Akupun bukan pria baik-baik." Elak Bara pasrah.
Meta memijat kepalanya yang terasa pening.
Bara kembali meraih kedua tangan ibunya dengan penuh kelembutan, dengan perlahan Meta menatap ke arah Bara kembali. "Ma... Coba liat aku.. Aku Bara anak Mama.. Sampai kapan pun aku nggak bakal membenci Mama.. Mama dan Selin itu sama-sama berharga untuk aku, tolong pahami itu.."
"Aku mau tanya, Mama kangen nggak sama Bara?.. Asal Mama tau, penyebab kita berpisah bukan karena Selin, tapi karena aku kecewa. Selama ini Mama lebih mendengarkan hasutan Kania dari pada aku," Ucap Bara yang berhasil membuat Meta mengeluarkan air matanya.
"Maa.. Aku kasih kesempatan untuk memperbaiki semuanya, dan kita akan bahagia lagi.. Tolong tutup telinga Mama sejenak dari perkataan Kania."
"Tolong dengerin kata hati Mama sendiri, aku yakin yang paling tau Selin wanita baik-baik itu Mama.."
"Maa.. Mama pilih aku atau Kania? Mama lebih percaya sama aku atau sama Kania?"
Meta membisu dengan air mata yang sudah membasahi wajahna, jika dipikir-pikir ucapan Bara itu tidak ada yang salah. Selama ini dia sangat menyayangi Selin, namun semenjak Kania hadir. Meta terlalu sibuk mendengarkan perkataan negatif dari Kania, hingga ia lupa kata hatinya sendiri.
"Sama kamu Bar, hiks.. Hiks.."
Bara langsung sumringah dan memeluk Ibunya penuh rasa haru. "Makasih banyak Ma..Aku mau menikah, tolong restui aku Maa.." Ucap Bara dengan tubuh yang bergetar menahan tangis.
"Hmmm.. Iya nak.. Hiks.. Hiks.."
"Makasih Maa.. Aku udah maafin Mama.."
"Hiks.. Hiks.. Maafin Mama ya Nak.. Semoga kamu bahagia.. Mama doakan yang terbaik untuk kamu, jangan tinggalkan Mama lagi.. Mama nggak sanggup Bar.." Bara mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.
*****
__ADS_1
Hiks.. Akhirnya Bara akur juga sama Ibunya.. Author jadi ikut terharu ðŸ˜