
Raka menghela nafas panjang kemudian berjalan untuk menyusul Anet yang menciumnya sembarangan.
"Gila ya! Pakek nyosor-nyosor segala. Itumah demen namanya bukan akting." Ucap Raka kesal namun seketika termenung saat melihat pandangan Anet yang berkaca-kaca.
Anet tidak menjawab dia hanya menatap Raka dengan pandangan nanar dan hati yang sesaknya bukan main. Mungkin dia bisa berbohong kepada orang lain jika dirinya baik-baik saja, namun tetap saja sekuat apapun manusia dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Raka menahan tangan Anet. "Are you okay?" Ucapnya lirih.
Anet menghela nafas panjang untuk meringankan rasa sesak di dadanya. "Mmmm," Gumamnya sambil mengangguk.
Raka menatap Anet dengan tatapan yang sulit diartikan, dia membuka jas nya kemudian menyelimuti punggung Anet. "Yuu.." Raka mengulurkan tangannya dan tanpa berfikir panjang Anet langsung menggenggam tangan itu.
"Kemana?" Tanya Anet kebingungan.
Raka tidak menjawab dia sibuk menggandeng Anet menuju ke parkiran. Mereka berjalan bersebelahan menuju mobil, dengan suka rela Raka membuka kan pintu untuk Anet. Kemudian menyusulnya masuk ke dalam.
"Udah jangan di tahan, kalo mau nangis nangis aja." Ucap Raka saat sudah duduk di kursi kemudi.
Anet menatap keluar jendela dengan air mata yang sudah tidak bisa aia tahan lagi. "Hiks.. Hiks.. Hiks.." Dia terisak penuh kesedihan yabg berhasil membuat Raka mematung dengan perasaan tidak nyaman.
Raka menyadarkan pundungnya pada sandaran tempat duduknya, dia menghela nafas dengan perasaan yang sedikit aneh. Dengan sedikit gengsi dia melirik ke arah Anet yang sedang terisak dengan tubuh yang sedikit bergetar, baru kali ini Raka melihat wanita bar-bar itu terlihat sedih yang teramat dalam. Tanpa dia sadari tangannya terkepal merasa tidak rela melihat Anet tersakiti oleh pria brengsek itu.
Walaupun Raka tidak mengetahui persoalan Anet dengan jengan, tapi Raka cukup pintar untuk memahami keadannya.
"Hiks.. Hiks.."
"Huuuhh," Raka menegapkan punggungnya kemudian beralih menghadap ke arah Anet.
Dengan sedikit ragu-ragu tangannya terangkat untuk menyentuh bahu Anet.
Puk!
Puk!
Puk!
"Udah udah, pria brengsek tadi nggak panter lo tangisin. Di luar sana pasti masih banyak yang suka sama lo." Untuk pertams kalinya Raka berbicara penuh kelembutan kepada Anet.
"Heuuuu.. Heuuu.. Heuuu.." Bukannya mereda Anet malah semakin terisak.
Dengan perlahan Raka menarik Anet ke dalam pelukannya, "Semuanya akan baik-baik saja." Ucapnya sambil mengelus punggung Anet naik turun.
"Mmm.." Gumam Anet sambil menganggukkan kepalanya.
******
Setelah hampir setengaj jam Raka menenangkan Anet, sekarang wanita itu sedang sibuk mengoleskan make up ke wajahnya dengan raut yang sudah kembali sangar.
"Yu kesana lagi." Ajak Raka yang langsung mendapat tatapan tajam dari Anet.
__ADS_1
"Ngapain. Ya pulang lah." Ucapnya kesal.
"Kalo lo pulang gitu aja, akting lo keliatan bohong banget. Mereka nggak mungkin percaya," Bantah Raka tidak mau kalah.
Anet sedikit mematung kemudian memikirkan ucapan Raka yang sepertinya benar, akhirnya dia mengangguk setuju. "Hmm.. Yaudah. Ayo!"
Setelah selesai memoles wajahnya, Anet kembali masuk dalam dengan Raka yang setia di sampingnya. Pada saat mereka masuk pengantin sedang siap-siap melempar bunga, Raka dan Anet ikut bergabung dengan sedikit malas dan berdiri bersampingan dengan sedikit canggung.
"Satu!"
"Dua!"
"Tiga"
Pluk!
"Eh!" Anet mematung karena tidak menyangka jika Bunga yang dilempar pengantin itu akan jatuh ke tangannya.
Di sampingnya Raka sudah menahan tawa dengan tatapan mengejek.
"Ahahhaha.. Selamat Net!" Teriak salah satu teman Anet.
Anet tidak menanggapi kericuhan banyak orang, yang sedang ia tatap saat ini yaitu Raka yang sedang memasang wajah mengejeknya. "Eh apan sih, nih buat lo!" Ucap Anet kemudian meletakkan buket itu ke tangan Raka.
"Buat lo aja!" Raka menolaknya dan kembali melempar itu pada Anet.
"Ciee!! Ciee!!"
Anet terkekeh kemudian membuah pandangannya karena malu. "Aduh.. Apaan sih.. Nih buat lo!" Ucap Anet memberikan buket bunga itu pada Raka, karena sudah bosan ribit akhirnya Raka dengan senang hati menerima buket bunga itu.
Cekrek!
Fotografer yang hadir disana langsung mengabadikan momen bahagia dua pasangan yang sedang melempar bunga dihadapannya.
******
Di tempat lain Selin dan Bara sedang sibuk menonton Tv dengan senack di pangkuan keduanya. "Kita udah lama ya nggak jalan-jalan." Celetuk Bara yang langsung disetujui oleh Selin.
"Iya kamu sibuk terus."
Bara menoleh ke arah Selin. "Maafin ya.. Kamu juga tau pekerjaan aku sebanyak apa."
"Iya iya." Jawab Selin acuh dan asik menonton serial tv di hadapannta.
"Besok kita nonton bioskop yu."
Selin sontak menoleh ke arah Bara dengan tatapan tidak percaya. "Serius emamg kamu nggak sibuk?"
"Ya nggak lah.. Ajak si kembar juga." Bara tersenyum lebar saat melihat raut wajah berbinar Selin yang sangat antusias.
__ADS_1
Selin menggeleng. "Mereka mau ke Oma nya."
"Wah beneran? Kapan? Biar aku yang antar." Tawar Bara penuh semangat, sudah lama dia tidak berjumpa dengan Ibu mertuanya itu.
"Nggak usah.. Kamu juga sibuk kan. Nanti malam kamu ada meeting lagi kan?"
Bara menghela nafas kecewa. "Ko kamu tau?"
"Tau dong, tadi nggak sengaja liat jadwal di hp kamu."
"Kayaknya aku nggak bisa datang meeting," Bara menghela nafasnya panjang.
"Kenapa?" Selin menatap Bara dengan tatapan iba.
"Aku kehabisan energi." Ceketuknya.
Selin memutar kedua matanya berusaha berfikir. "Lah ko.. Makan aja yang banyak sana." Ucapnya sambil menunjuk ke arha meja makan.
Bara menggeleng kemudian merebahkan kepalnya di pangkuan Selin. "Kan sumber energi aku itu kamu," Ucap Bara dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Apaan sii.." Selin membuang pandangannya dengan tangan yang menutup wajahnya.
"Ahahahha, salting." Bara tertawa lepas saat melihat tingkah Selin.
"Nggak! Tuh makan snack!" Ucap Selin kesal dan meletakkan snack di pangkuannya.
Bara bangkit dan menatap Selin lebih dekat. "Cie salting!"
"Diem nggak?!" Selin mendelik kesal.
Bara terkekeh kemudian merentangkan tangannya ke arah Selin. "Peluk dulu dong, charger energi." Bara merentangkan kedua tangannya di hadapan Selin.
"Hmmmm," Selin hanya berguman kemudian memabals pelukan Bara dengan penuh kasih sayang.
"Ihh seneng banget deh.." Bisik Bara lebay.
"Sejak kapan kamu jadi lebay gini," Selin mendelikkan matanya.
"Aku lebay juga kalo deket kamu doang," Jawab Bara masih semangat menggoda Selin.
Selin tersenyum simpul kemudian memejamkan matanya nyaman. "Semangat ya.."
Bara mengangguk. "Iya.. Sel.. Aku sangat banget sama kamu."
"Udah tau!" Celetuk Selin yang berhasil membuat senyuman di wajah Bara seketika pecah.
"Ahahaha!"
******
__ADS_1