
Selin mengucek matanya pelan saat mendengar suara grasak-grusuk dari luar kamarnya. Dengan sedikit malas dia berusaha bangun dan duduk di kasur untuk mengumpulkan nyawanya.
"Suprise!!"
Selin terlonjak kaget saat suara Juna dan Jeno tiba-tiba melengking ditelinga nya. Dan benar saja saat matanya terbuka sempurna Juna dan Jeno sudah duduk dihadapannya dengan wajah yang sumringah.
Bukannya merasa kesal, Selin malah merentangkan kedua tangannya lebar-lebar yang langsung disambut Juna dan Jeno dengan pelukan hangat. Selin tersenyum cerah kemudian mencium pucuk kepala anaknya secara bergantian.
"Wah kalian udah pulang? Uhhh Ndaa rindu banget." Ucap Selin gemas dan mempererat pelukannya.
"Kita jiga Rindu sama Bunda," Bisik Juna yang saat ini sedang pasrah di dalam pelukan Selin.
"Emmmmmm," Selin gemas sendiri dan malah mempererat pelukannya.
"Ndaa!! Ndaa!! Eno sesak." Ucap Jeno sambil meronta-ronta.
Selin terkekeh kemudian melerai pelukannya. "Ihh kalian gendutan tau!" Ucapnya sambil memperhatikan wajah tampan kedua anaknya yang terlihat menggemaskan.
"Yang bener Bun?" Tanya Juna sambil mencubit-cubit pipi Jeno.
Belum sempat Selin menjawab ada yang masuk ke kamar lebih dulu. "Ya iya, kan Ibu di sana ngasih mereka makan."
"Ibu.." Ucap Selin sumringah kemudian bergegas menghampiri wanita yang baru saja datang.
"Kabar mu sehat nak?"
"Alhamdulilah sehat Bu." Ucap Selin sambil memeluk dan mencium tangan wanita yang sudah melahirkannya.
Niera terkekeh melihat anaknya yang masih manja seperti cucunya. "Ayo cepetan mandi, Ibu bawa makanan di bawah." Ucap Niera yang langsung diangguki oleh ketiga orang yang berada di kamar.
*****
Selin bertopang dagu memperhatikan pemandangan Niera yang sedang mencuci piring yang berhasil menenangkan pikirannya. Bukannya membantu Selin malah asik bertopang dagu sambil tersenyum sendiri, namun ada sesuatu yang mengkilap dari jarinya. Selin menutup mulutnya sendiri saat menyadari jika saat ini dirinya sudah di lamar oleh Bara.
"Buu.." Panggil Selin lirih. "Bara kemarin lamar aku," Lanjutnya dengan perasaan was-was.
"Terus kamu terima?" Jawab Niera enteng.
"Emmm," Selin hanya tertunduk bingung.
Melihat anaknya yang tiba-tiba terdiam, Niera segera mencuci tangannya kemudian duduk di samping Selin.
Dengan penuh kelembutan Niera menggenggam tangan Selin. "Nak, semoga kamu bahagia. Ibu dukung semua keputusan kamu, Ibu tau Bara orang baik. Ibu sudah tau alasan Bara, dari dirinya sendiri. Memang kalian harus disatukan kembali," Ucap Niera yang berhasil membuat Selin penasaran.
"Kapan Bara cerita sama Ibu?"
"Beberapa minggu lalu, dia datang untuk menjenguk si kembar. Dan tentunya minta restu dari mereka untuk melamar mu."
Kedua bola mata Selin langsung membulat sempurna, pantas saha beberapa hari kebelakang dia sibuk di hubungi. "Apa?! Kok dia nggak cerita sama aku!"
__ADS_1
Melihat respon Selin yang berlebihan Niera hanga bisa geleng-geleng kepala. "Udah.. Jangan lebayy.. Semoga kamu bahagia ya nak."
Selin tersenyum malu kemudian kembali memeluk Ibu kesayangannya. "Makasih Bu, Maaf karena udah bikin Ibu malu. Makasih karena Ibu selalu ada buat Selin dan anak-anak."
"Ibu nggak peduli sama yang orang lain pikirkan, karena ibu yang paling tau sifat anak Ibu kaya apa. Ibu bangga padamu Selin, tetap jadi orang baik. Semoga kamu bahagia."
"Emmm, Makasih Bu." Selin memejamkan matanya penuh kenyamanan, rasanya ada beban besar yang akhirnya terangkat dari bahunya.
"Ibu nggak bisa lama-lama di jakarta, toko kue di sana lagi ramai pengunjung."
Selin melerai pelukannya dan menatap Niera sumringah. "Wah beneran?"
"Iya, semenjak Bara mempromosikan ke rekan-rekannya pelanggan kita jadi semakin banyak."
Selin menghela nafas panjang lagi-lagi Bara melakukan sesuatu yang tidak diketahuinya. Ternyata selama ini diam-diam Bara selalu mengunjungi Ibunya tanpa memberitahu apapun. "Dia mempromosikan? Ko aku nggak tau."
"Kamu nggak harus tau juga Selin."
"Ihhh nyebelin, berarti diam-diam dia selalu ngehubungin Ibu dibelakang aku?" Selin memajukan bibirnya kesal.
"Yaa.. Bahkan sebelum kamu datang ke Jakarta."
"Uhukk!" Sontak Selin tersedak.
Dengan santai Niera memberikan Selin minum. "Minum. Dia pernah datang, tapi Ibu melarangnya datang. Lalu dia sering mengirim Ibu pesan."
Selin tersenyum haru, dia tidak menyangka ternyata dulu Bara masih peduli padanya dan mencarinya. "Ibu balas?" Tanya Selin dengan tatapan menerawang.
"Ya ampun Ibu.." Selin ternganga merasa tidak percaya jika Ibunya akan setegas itu pada Bara. Apa jangan-jangan kesuksesan Bara yang sekarang adalah hasil dari tantangan Ibu.
"Sel.. Kamu anak Ibu satu-satunya, Ibu nggak mau ngulang kesalahan yang sama. Menitipkan kamu pada orang yang belum siap entah itu dari mental ataupun materi."
Selin tidak bisa menahan air mata penuh harunya. "Hiks.. Hiks.. Makasih Bu," Selin kembali memeluk Ibunya dengan penuh rasa syukur.
"Iya Nak."
"Dasar anak itu," Gumam Selin memikirkan Bara.
*****
Seperti biasa sebelum tidur Selin akan mengecek si kembar terlebih dahulu dan benar saja ternyata Juna belum tidur. "Anak Bunda belum tidur hmm?"
Juna meletakkan bukunya dan menatap Selin dengan tatapan berkaca-kaca. "Belum Bun, Juna lagi asik baca dulu."
"Baca apa?"
"Novel.." Jawab Juna lirih.
"Novel apa sampai-sampai kamu berkaca-kaca kaya gitu?"
__ADS_1
"Hehe, ceritannya sedih. Juna nggak suka, tapi penasaran."
"Emang nyeritain apa?"
"Ibunya meninggal," Ucap Juna lirih.
Selin tersenyum lirih lalu menarik Juna agar tidur si pangkuannya. "Hmmm.. Juna mending sini, tidur di Bunda bukunya simpan."
"Oke."
Dengan lembut Selin menyisir Juna dengan jemari lentiknya. "Betah nggak sama Nenek?"
"Betah dong."
Selin mengangguk paham. "Ayo cepetan tidur, udah malem pasti Juna kelelahan. Biar besok kita bisa ngantar Nenek."
"Oke.."
"Ndaaa.." Panggil Juna serius.
"Hmmm.."
"Gimana kalo Nda meninggal duluan dan Juna sama Jeno masih di sini?" Tanya Juna yang berhasil membuat Selin merenung sejenak.
"Kalian akan tumbuh dewasa dan nggak butuh Nda lagi,." Jawab Selin lembut.
Juna menghela nafas kecewa dengan jawaban Selin. "Nggak pernah sedetik pun Juna berpikir nggak membutuhkan Bunda." Ucap Juna langsung duduk dan memeluk Selin erat.
Selin terkekeh lalu membalas pelukan Juna. "Huuuh.. Bunda sayang banget sama kalian."
"Ndaa.. Terus kalo Abang meninggal duluan Nda bakal tumbuh dewasa juga?"
Tangan Selin terulur untuk mengusap-usap belakang kepala Juna penuh kasih sayang. "Huss.. Jangan bilang gitu, Abang harus sehat panjang umur. Biar Nda ada temennya waktu tua."
"Hehehe, iya Abang janji bakal panjang umur sukses biar bisa membahagiakan Nda.."
"Aamiin, Janji ya?" Wanita itu mengangkat jari kelingkingnya yang langsung disambut oleh Juna..
"Janji."
"Muach. Ayo cepet tidur."
"Siap."
"Malam jagoan Nda.."
"Malam juga Nda.."
*****
__ADS_1
Readers ku tercinta, jangan lupa klik like, Vote and share ke temen-temen kalian ya. Biar cerita ini banyak pembacanya.. Love youu!!
BTW gais tanggal 4 Mei Otor ulang taun loh, nggak ada yang mau ngucapin gitu? Hehehe