Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 34 : Wanita makhluk dilindungi


__ADS_3

Tangan Bara terulur untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Selin. Setelah puas memborong jajanan mereka pergi ke rumah sakit walaupun sebelumnya ada drama perdebatan diantara mereka. Namun, Bara tetap teguh pada pendapatnya dan akhirnya Selin mengalah untuk menang.


Di perjalanan pulang Selin terlelap dengan tenang di kursi penumpang, dan sekarang dia sudah tertidur nyaman walaupun di atas sopa rumahnya. Karena Bara tidak berani jika harus membawa Selin naik ke kamarnya.


Bara melipat tangannya dan memperhatikan wajah Selin yang damai. Dia terkekeh karena hatinya sangat merindukan Selin, padahal saat ini Selin berada di hadapannya. Tapi rasa rindu itu tidak pernah pergi dari benaknya malah semakin hari semakin kuat.


Bara duduk lesehan di atas karpet sambil bersandar ke sopa, sekarang pandangannya tidak bisa beralih dari foto besar yang menampilkan Selin dan kedua anaknya. Entah kenapa melihat foto itu membuat hatinya terasa di remas dan begitu sesak. Seakan-akan dia tidak terima jika di foto itu tidak ada dirinya.


Bara memejamkan matanya dan yang terlihat adalah wajah menggemaskan si kembar, sejak Juna dan Jeno mengunjunginya di rumah sakit dia tidak bisa menghilangkan dua bocah itu dari pikirannya. Mereka seperti menari-nari di benaknya. Sebenarnya Bara heran dengan perasaan aneh yang akhir-akhir ini menghantuinya, apalagi dengan respon tubuhnya yang tidak bisa ia kontrol setiap bersentuhan dengan si kembar ada getaran aneh yang dirasakan serta air mata yang selalu menuntut ke luar tanpa bisa Bara cegah.


"Huuh, aku merindukan mereka." Gumam Bara dengan mata yang tertutup, sejak bertemu dengan Juna dan Jeno entah kenapa setiap detik di kehidupannya selalu merindukan mereka, selalu ingin berada di dekat dua bocah itu. Tapi sayangnya dia terlalu malu untuk berusaha lebih dekat dengan mereka.


"Bundaa," Ucap seseorang yang langsung menyadarkan Bara jika sekarang dia tidak sendirian.


Bara bisa melihat raut terkejut dari Juna yang sekarang sudah berada disampingnya sedang meneliti penampilan Selin yang menyedihkan. "Bunda kenapa? Ada apa dengan kakinya?" Tanya Juna dingin dengan tatapan menusuk ke arah Bara.


Bukannya menjawab Bara malah membeku di tempat saat Juna menatapnya dengan tajam. Dia merasa sedang bercermin dengan dirinya sendiri, tatapan itu entah kenapa sangat persis seperti tatapannya ketika sedang kecewa dan waspada.


"Ndaaa, Bang Nda kenapa?" Tanya Jeno menyusul masuk ke dalam ruangan.


Juna menggeleng lemah. "Abang nggak tahu, tanyakan saja pada Om Bara."


Jeno beralih menatap Bara dengan pandangan berkaca-kaca. "Oom," Panggilnya meminta penjelasan.


Bata termenung sebentar memikirkan jawaban seperti apa yang harus dia lontarkan. Perlahan Bara mendekati si kembar dan mengusap lembut kepala Jeno. "Bunda kalian baik-baik saja, dia cuma keseleo di kantor. Dan sudah di obati, tadi Om juga ke rumah sakit, kata dokter hanya terkilir biasa."


"Terus wajahnya kenapa?" Ucap Juna serius.


Bara menghela nafasnya berat ternyata ternyata dua anak ini terlalu pintar untuk di bodohi. Terpaksa Bara mulai menceritakan apa yang terjadi kepada Selin saat di kantor serta permasalahannya dengan Wira.


"Tuh kan kata Eno juga mendingan Bunda nggak usah kelja," Timpal Jeno saat Bara sudah menyelesaikan ceritanya.


Ucapan Jeno berhasil menampar Bara, dia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Selin dengan baik dan menjadi Bos yang tidak bisa melindungi karyawannya dengan baik. "Kalian tenang aja, Bunda kalian baik-baik saja. Dia sudah di bawa ke rumah sakit."


Mereka mengangguk paham kemudian menoleh pada beberapa kresek yang berjejer di bawah meja."Terus ini apa?"

__ADS_1


"Tadi sebelum pulang Bunda membeli oleh-oleh untuk kalian makan."


Anet menyusul masuk ke dalam rumah dengan santai. "Ada apa ribut-ribut?" Satu alisnya terangkat saat melihat kehadiran Bara. "Loh ada Pak Bara? Bukannya harusnya masih di rawat?"


"Jangan lebay Net, aku cuma keracunan." Jawab Bara singkat.


Anet mengabaikan jawaban Bara dia sibuk memperhatikan keadaan Selin, dia heran kenapa setiap jauh darinya Selin selalu mendapatkan masalah. "Selin kenapa?" Tanya Anet dengan tatapan tajamnya.


"Kita bicaranya di luar aja Net," Bara langsung bangkit dari duduknya dan melenggang ke luar Rumah.


Jeno bersandar pada Juna dengan tatapan sendu ke arah Selin. Melihat keadaan Bundanya yang seperti ini membuatnya sangat marah. Tapi dia tahu tidak ada yang bisa dilakukan olehnya, dia hanya bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. "Bang, apa yang harus kita lakukan. Aku nggak bisa diem aja," Ucap Jeno dengan tatapan sendu.


Mereka duduk berdampingan sambil memperhatikan Bundanya yang sedang tertidur. Helaan nafas saling bersautan tetkala mereka melihat luka-luka di beberapa tubuh Selin yang berhasil menyayat hati mereka.


Juna menepuk-nepuk bahu Jeno menyalurkan kekuatan. "Pelakunya Ibu-Ibu No, kita nggak bisa balas apapun. Dalam kamus kehidupan kita wanita adalah makhluk yang harus dilindungi, kaya harimau yang ada di sumatra." Jawab Juna dengan kedua matanya yang terasa berat.


Jeno mengangguk paham dengan perasaan sedikit kesal dengan prinsip mereka yang sidah di pegang sejak lama. "Hmmm, emang nggak ada cara lain gitu buat balas dendam?" Jeno masih berharap Juna akan mengeluarkan ide-ide cemerlang.


"Caranya banyak, tapi kita nggak bisa ngelanggar perinsip itu. Kalo Bunda tahu bisa-bisa kita di coret dari Kartu Keluarga." Jawab Juna lirih kemudian memejamkan kedua matanya.


Jeno menghela nafasnya berat lalu beralih menatap jendela yang menampilkan Bara yang sedang berbincang dengan Anet.


******


"Terus sekarang si brengsek itu ada dimana?" Tanya Anet dengan kemarahan yang berada di puncak.


"Mungkin masih di interogasi sama polisi. Raka yang mengurus semuanya." Ucap Bara dengan tatapan sendu.


Anet menoleh ke arah Bara. "Denger ya, kalo bajingan itu nggak mendapatkan hukuman yang setimpal gue yang akan turun tangan." Ucapnya penuh ancaman.


Bara manggut-manggut. "Tenang aja, Raka pasti bisa diandalkan."


Hening, Anet dan Bara sibuk dalam pemikiran mereka masing-masing. Perlahan Bara memperhatikan dua bocah yang berhasil menarik hatinya. "Mereka selalu pulang jam segini?"


Anet menggeleng singkat. "Nggak juga, harusnya jam sepuluh sebelasan udah pulang. Tapi tadi ada jadwal pemotretan sama jalan-jalan dulu di timezone."

__ADS_1


Bara tersenyum bangga pada Juna dan Jeno, di umur mereka yang baru seumur jagung, mereka sudah bisa membantu Selin dan menghasilkan uang sendiri. "Makasih ya Net," Ucap Bara penuh ketulusan.


"For What?"


Bara terkekeh sendiri, dia pun tidak menyangka akan berucap seperti itu. "Semuanya." Jawab Bara asal.


Anet mendengus sebal. "Gak Jelas banget." Anet bisa melihat raut kelelahan di wajah Bara. "Pulang Pak udah sore. Nggak lucu kalo misalkan pingsan disini gara-gara masih sakit."


"Please jangan panggil Pak. Lebih baik panggil Bara aja walaupun terkesan nggak sopan." Jawab Bara tidak terima.


"Banyak nawar banget Bang," Ucap Anet yang berhasil membuat kedua bola mata Bara berbinar.


"Net," Panggil Bara lirih.


"Hmmm."


"Asalkan kamu tahu. Aku lebih takut sama kamu dibanding sama Ibunya Selin."


Anet memutar bola matanya malas. "Jadi maksudnya gue kaya lebih tua dari ibu-ibu."


Bara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ish, pahamlah maksud ku apa."


"Net mau nanya," Tanya Bara yang langsung dihadiahi pelototan.


"Apa?! Dari tadi Net! Net! Net!. Gue jengah denger nya!"


Bara menyengir tanpa dosa. "Hehehe, aku boleh nginep disini nggak?. Rasanya aku nggak bisa tenang kalo pulang sekarang apalagi keadaan Selin nggak baik-baik saja."


"Idih lebay! Disini ada gue kali! Jangan modus!" Anet mendorong Bara agar segera bangkit untuk pulang.


"Hmmm, tapi kalian wanita Net." Kedua bola mata Bara menatap Anet penuh permohonan.


"Ada Juna sama Jeno tuh, mereka udah cukup." Anet bisa melihat tampang kecewa yang begitu kelas di wajah Bara. "Kalo mau nginep jangan sama gue minta ijinnya, gue nggak berhak. Sana ijin sama pemilik rumah!" Ucap Anet yang berhasil membuat mata Bara berbinar penuh harap.


******

__ADS_1


Yuk ramaikan kolom komentar biar author tambah semangat.


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2