Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 53 : Hadiah Pertunjukan yang terlambat


__ADS_3

Selin tersenyum samar saat melihat kedua anaknya begitu berbinar bahagia melihat kedatangan Bara yang sejak tadi mereka tunggu, tidak ada raut kecewa yang tertampil lagi di wajah si kembar, hanya raut kebahagiaan dan semangat yang begitu memancar yang bisa membuat iri setiap orang yang melihatnya.


Pandangan Selin jatuh pada Bara yang masih dipenuhi keringat tapi wajahnya tidak sedikit pun menyiratkan kelelahan, mungkin tadi dia berlarian dari tempat Kania ke sini. Mengingat Kania membuat Selin kembali sesak, perlahan kakinya mundur beberapa langkah dan bersiap membalikan badan.


"Apa akhirnya aku akan sendirian?" Gumam Selin di dalam hati, mungkin di saat Bara tahu jika Juna dan Jeno adalah anaknya, bisa saja dia merebut kedua anaknya dari sisinya. Dan setelah itu Bara akan menikah dengan Kania sang pujaan hati. Dan pada akhirnya Selin akan hidup seorang diri.


"Bunda!!!" Panggil si kembar yang barhasil membuat Selin keluar dari lamunannya.


Selin mengerjab-ngerjabkan matanya kemudian menoleh ke bawah pada si kembar. "Apa sayang," Ucap Selin kemudian berjongkok.


"Kita mau tampil, Bunda cepetan duduk di kursi penonton. Kan kita udah ada yang jaga, Om Bara!" Tunjuk mereka pada Bara yang saat ini sudah berdiri di sampingnya.


Selin mengangguk lalu menoleh sejenak ke arah Bara. "Titip mereka ya," Ucap Selin singkat kemudian berjalan keluar dari tempat tunggu.


Bara mematap nanar punggung Selin yang di matanya begitu terlihat rapuh, Bara tahu saat ini Selin sedang menahan amarah dan kekesalannya pada Bara, tapi dia berusaha meredam itu semua demi kebahagiaan kedua anaknya. "You're Extraordinary Person Selin, I Love You so Much!" Gumam Bara di dalam hati.


*****


Selin menunggu dengan tidak sabar sekaligus gelisah penampilan kedua anaknya yang sepertinya tidak akan lama lagi.


"Maaf terlambat nyonya!" Ucap Anet yang baru datang dan langsung duduk di samping Selin.


Selin tersentak kaget. "Ishh, ngagetin aja!" Ucapnya sambil menggeplak lengan Anet pelan.


Anet terkekeh puas. "Makanya jangan ngelamun aja, Btw Mereka belum tampilkan?"


Selin menoleh ke arah jam tangan di lengannya. "Belum, kayaknya sebentar lagi."


Anet mengangguk paham kemudian berbisik. "Bara jadi datang?"


Sontak Selin langsung menoleh ke arah Anet kemudian mengangguk lemah. "Mmm, datang walaupun terlambat." Ucap Selin dengan raut penuh kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya.


"Oh gitu ya," Anet mengangguk paham. Sekarang dia tahu alasan Selin melamun sejak tadi. Sepertinya Bara menyakiti perasaan Selin. Anet tersenyum samar kemudian mengusap-usap lengan Selin memberikan kekuatan.


"Udah ya jangan berisik, Gue lagi khusuk nonton nih." Ucap Selin dengan tatapan kembali ke tempat pentas.


Anet memutar bola matanya malas, perasaan sejak tadi dia tidak menganggu Selin. "Iss.."


"Penampilan yang selanjutnya, akan dipersembahkan oleh. Juna dan Jeno!" Ucap pembawa acara yang langsung mendapatkan tepuk tangan ricuh dari semua orang yang hadir.


Ternyata penampilan mereka bukan hanya ditunggu oleh Selin, melainkan semua penghuni sekolah beserta orang tuanya. Wajah mereka yang tampan dan pembawaan mereka yang asik di sekolah, dengan mudah membuat mereka digemari oleh semua orang. Apalagi di tambah dengan sosok Bara yang menjelma menjadi Ayah mereka.


Suara ricuh tepuk tangan semakin menjadi saat tiga orang tampan itu datang dengan aura yang memancar dari ketiganya. Selin heran sejak kapan karate begitu disukai semua orang, biasanya orang-orang yang menontonnya akan mengantuk dan menganggap membosankan. Tapi entah kenapa, pembawaan Bara, Juna dan Jeno berhasil memberikan suasana yang berbeda yang bisa membius semua orang.

__ADS_1


******


Setelah Trio Tampan selesai tampil, Juna dan Jeno langsung berlarian ke arah Selin. Dari kejauhan Selin bisa melihat kedua anaknya sedang menghampirinya, cepat-cepat dia bangkit dari kursinya dan ikut menghampiri si kembar dengan tangan di rentangkan. Bruuk!! Mereka saling berpelukan dengan hangat.


Jeno mendongak. "Ndaa, penampilan kita keren nggak?" Tanya nya dengan penuh antusias.


Selin mengangkat kedua jempolnya bangga. "Keren banget! Nda sampai terharu liat kalian. Nih liat, wajah Nda masih sembap kan?" Ucapnya sambil menunjuk wajah Selin yang masih di basahi air mata. Tadi saat kedua anaknya tampil Selin malah menangis penuh haru. Dia tidak bisa membendung air matanya saat melihat Juna dan Jeno begitu bersemangat tampil dengan Bara. Walaupun tidak secara langsung, akhirnya Juna dan Jeno bisa mendapatkan sosok Ayah yang pastinya sangat mereka rindukan.


Jeno dan Juna tertawa mengejek. "Ahahaha, Nda bisa aja deh. Ndaa ayo foto sama Om Bara!" Ucap Bara yanv langsung menarik Selin dengan kuat agar segera beranjak.


"Ehhh," Pekik Selin kaget saat tangannya di tarik oleh Juna dan Jeno dengan sangat kuat. Selin terkekeh kemudian berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan si kembar.


"Ahahahaha," Mereka tertawa dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka, seakan-akan segala kepedihan yang awalnya mereka rasakan meluap begitu saja.


"Bunda ayo cepetan!" Teriak Jeno tidak sabar.


Dari kejauhan Bara sudah menunggu dengan dua kado dan satu buket bunga di pelukannya. Senyuman hangat terbit di wajah Bara, saat melihat pemandangan yang begitu membuatnya iri. Rasanya ia ingin bergabung dengan kebahagiaan Selin dan kedua anaknya, andai saja dulu dia tidak berlaku bodoh mungkin sekarang yang sedang berlari penuh kebahagiaan itu bukanlah tiga orang, melainkan empat orang ditambah dirinya yang sekarang menjadi penonton kebahagiaan keluarga kecil di hadapannya.


Setelah sampai, si kembar melepaskan genggamannya pada Selin berhamburan memeluk Bara. Bara terkekeh penuh kebahagiaan. Kemudian berjongkok untuk menerima pelukan si kembar, walaupun dengan susah payah. Setelah pelukan terurai, Bara memberikan kado ditangannya yang sudah di siapkan jauh-jauh hari. "Ini hadiah untuk Juna, karena udah tampil keren. Yang ini hadiah untuk Jeno yang nggak kalah keren dari Juna." Ucap Bara yang berhasil membuat kedua bola mata Juna dan Jeno berbinar bahagia.


"Wahh, beneran Om?" Ucap si kembar serempak.


"Ya bener dong," Bara terkekeh kemudian mengacak rambut mereka gemas.


"Eh," Selin sedikit terkejut karena tidak menyangka akan diberi hadiah. Bukannya menerima buket itu, Selin malah menatap bunga tangan Bara dengan pandangan menerawang.


Melihat Selin yang diam saja, Anet geram sendiri kemudian menyikut Selin dengan kuat. "Udah cepetan terima, nggak usah mikir." Ucapnya kesal.


Selin menatap tajam Anet, lalu menerima buket pemberian Bara yang menurutnya begitu indah. "Mmm, makasih."


"Om, kita juga punya hadiah untuk Om." Juna dan Jeno kembali muncul di bawah Bara.


"Masa sih?" Tanya Bara antusias.


"Om nya jongkok dulu," Perintah mereka yang langsung dituruti oleh Bara.


Greb! Tiba-tiba Juna dan Jeno kembali memeluk Bara dan melayangkan ciuman ke wajahnya. "Muach! Muach! Muach!"


"Ahahahaha," Bara tertawa bahagia sekaligus geli, kemudian membalas menciumi pipi gembul mereka berdua.


Jeno menoleh ke arah Selin. "Ndaa!! Mana hadiah buat kita?"


Selin memejamkan kedua matanya, menyalahkan dirinya sendiri karena lupa memberikan hadiah untuk kedua anaknya. "Nda belum sempat beli hadiah untuk kalian, maafin Bunda ya. Emang kalian mau apa?"

__ADS_1


"Kita mau piknik ke pantai!" Jawab Juna dan Jeno serentak.


Selin mengangguk setuju, toh sudah cukup lama juga mereka tidak liburan. "Okay! Kapan?"


"Besok! Kan kita semua libur." Ucap Juna dengan kedua mata yang berbinar.


"Oke, boleh." Selin terkekeh.


"Tapi bareng Om Bara!!!"


Selin langsung mematung dengan tatapan menoleh ke arah Bara. Sedangkan yang ditatap hanya mengangkat bahu dengan senyuman jahil menghiasi wajahnya.


Melihat respon Selin yang tidak bersahabat, Jeno bergelayutan di tangan Selin. "Ya Nda ya?? Please!! Kan tadi Ndaa udah setuju. Ya? Ya? Ya?"


Selin menghela nafasnya panjang kemudian mendelik ke arah Bara kesal. "Iya boleh, tapi kan Om Bara sibuk sayang." Ucap Selin berharap kedua anaknya berubah pikiran.


"Kata siapa?, besok Om free kok. Besok Om mau piknik sama kalian." Timpal Bara dengan tatapan kemenangan ke arah Selin.


"Yeeaaay!!"


Selin hanya menghela nafas pasrah.


"Ayo cepetan merapat, ini kameranya udah di setting!" Teriak Anet yang sejak tadi sudah siap untuk memfoto.


"Ayo sini Bun!!" Tarik Juna agar Selin berdiri di tengah-tengah dirinya dan Bara.


Selin langsung bergegas di samping Bara dengan Juna di samping Selin dan Jeno di samping Bara, Selin dan Bara sengaja berdiri agak berjarak.


"Satu!"


"Dua!"


"Tiga!"


"Aduuh!" Selin dan Bara terpekik kaget saat tiba-tiba Juna dan Jeno menyenggol mereka dengan kuat. Alhasil tubuh Bara dan Selin bertubrukan dengan tangan Bara yang refleks memegang bahu Selin agar tidak terjatuh. Berbeda dengan raut kedua orang tuanya yang kaget, Juna dan Jeno malah tersenyum penuh kebahagiaan ke arah kamera.


Cekrek!!!


******


Yuu, Vote Yuuu!!


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2