Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 20 : Lomba Memindahkan Daun Bawang


__ADS_3

Selin tertawa terbahak-bahak dengan Juna dan Jeno di sampingnya. Mereka asik menertawakan wajah kesal Pak Wira yang berhasil mereka jahili.


Selin tersentak saat tiba-tiba tubuh Jeno terangkat ke udara. "Ndaaa!" Pekik Jeno histeris.


"Eh, eh, eh!" Selin siap-siap mengangkat tas selempang untuk memukul orang yang sudah mengangkat Jeno, tapi aksi Selin terhenti saat melihat wajah dari pelakunya.


"Hai," Sapa Farel santai sambil menciumi kedua pipi Jeno gemas.


"Farel!" Ucap Selin kesal.


"Daddy!!" Pekik si kembar saat menyadari kehadiran Farel.


Selin memukul lengan Farel penuh kekesalan akibat keusilannya jantung Selin hampir mau copot. "Ngagetin aja!"


Farel hanya terkekeh dan ikut berjalan di samping Selin. "Belanjanya fokus amat sih, kalian mau sekolah TK ya?"


"Iya Dad, biar tambah pinter." Jawab Jeno semangat sedangkan Juna hanya mengangguk santai.


Selin berjongkok agar Juna naik ke gendongannya, dia tidak ingin membuat Juna merasa lelah sendirian sedangkan Jeno asik-asik digendong oleh Farel. Tanpa banyak komentar Juna langsung naik ke gendongan Selin yang terlihat kesusahan.


"Padahal nggak usah repot-repot sekolah, kalian kan udah pada pinter." Timpal Farel yang langsung di balas tatapan tajam oleh Selin.


"Berisik, jangan hasut anak-anak ku. Kapan pulang? Bukannya lagi dinas keluar kota?" Tanya Selin penasaran, karena setahunya harusnya saat ini Farel masih berada di luar kota.


"Aku udah pulang kali Sel, kenapa aku telpon nggak di angkat-angkat? Padahal aku rindu sama dua kunyuk ini." Ucapnya sambil mengeratkan pelukan pada Jeno.


Juna yang sejak tadi diam saja akhirnya angkat bicara. "Hp Bunda kecopetan."


Tuk! Farel menghentikan langkahnya dan langsung menatap Selin penuh khawatir. "Loh ko bisa?!"


Selin terkekeh melihat raut cemas Farel yang menurutnya berlebihan. "Biasa aja kali liatnya, Udahlah ceritanya panjang nanti lagi aku cerita," Jawab Selin malas untuk bercerita apalagi kejadian itu terjadi saat dia melakukan tugas rahasia dari kantor. "Terus kamu tahu kita disini dari mana?" Tanya Selin mengalihkan pembicaraan agar Farel tidak terus-terusan kepo.


Farel mendengus kecewa karena lagi-lagi Selin menutupi yang terjadi pada dirinya. "Ya aku whatsApp mereka lah."


"Hmm, bisa-bisanya." Selin tidak habis pikir Farel akan mengusik kedua anaknya.

__ADS_1


Farel menoleh ke arah Selin. "Kita makan yu?"


"Yoooo!" Jawab Si kembar penuh semangat padahal Selin belum mengiyakan.


Jeno menatap Selin penuh permohonan. "Ndaa, boleh kan?"


Selin tersenyum kemudian mengangguk sebagai jawaban.


Kedua bola mata Jeno langsung berbinar bahagia. "Yeee!! Mari kita kemoon!!" Pekik mereka secara bersamaan.


Farel sengaja berlari kecil agar segera masuk ke dalam restoran. "Ayoo Ndaa!!!" Teriak Jeno agar Selin segera menyusul mereka.


*****


Selin duduk dengan santai karena si kembar sedang memesan makanan dengan Farel. Dari kejauhan Selin melihat Raka masuk ke dalam restoran yang sedang ditempatinya.


"Pak Raka," Panggil Selin sopan.


Merasa ada yang memanggil Raka langsung menoleh ke sumber suara. "Selin," Jawabnya santai.


Raka sedikit tertegun saat melihat Farel yang sedang menuntun dua anak yang dia ketahui adalah anak Selin. "Farel lo di sini?" Tanya Raka Santai karena dia sudah sangat kenal Farel.


Farel terkekeh melihat raut bingung Raka. "Iya ini lagi nganter dua unyil." Ucapnya sambil menoleh pada Juna dan Jeno. Juna dan Jeno langsung menyapa Raka dengan penuh kesopanan kemudian berjalan ke arah Selin.


"Idih nggak ya, kamu nya aja yang tiba-tiba datang." Tolak Selin keberatan karena dia samasekali tidak mengajak Farel untuk menemaninya belanja.


Raka yang tidak pernah tersenyum tiba-tiba tersenyum samar mendengar jawaban Selin. Sampai-sampai Selin membeku karena merasa aneh, biasanya Raka yang dia kenal adalah atasan yang hobi marah-marah dan sangat dingin seperti kulkas dua pintu.


"Udah selesai Pak?" Tanya Raka pada seseorang yang baru saja menghampiri mereka.


Refleks Selin menoleh ke orang yang diajak bicara oleh Raka. Senyuman ceria di wajah Selin perlahan meluntur saat melihat orang yang datang itu adalah Bara. Ternyata bukan hanya Selin yang terkejut, Bara pun sedikit mematung saat melihat kehadiran Selin bersama kedua anaknya. Tangan Bara perlahan mengepal saat menyadari jika Selin tidak sendirian melainkan ada Farel di sampingnya.


"Yaa, Eh Farel, Selin, kalian mau makan juga?" Tanya Bara sesantai mungkin pura-pura tidak menghiraukan suasana yang berubah menjadi canggung.


"Yaudah kita sekalian aja." Ajak Raka yang berhasil membuat kedua bola mata Selin membulat sempurna.

__ADS_1


"Boleh." Jawab Farel dengan tatapan tidak suka ke arah Bara.


Bara mengabaikan tatapan menusuk Farel dan lebih memilih tersenyum ke arah si kembar. Bara tertegun dengan hati yang sedikit sesak saat melihat respon si kembar tidak seperti bisanya, bahkan Jeno yang biasanya histeris saat bertemu dengannya berubah dingin seperti penuh dendam. Bara beralih menatap Selin meminta penjelasan, tapi sayangnya Selin malah berlalu begitu saja mengabaikan tatapan Bara.


*****


Farel dan Raka asik berbincang, maklum saja mereka adalah sahabat sejak bangku kuliah dan sudah lama tidak bertemu. Pastinya banyak sekali yang ingin mereka bicarakan sampai-sampai melupakan kehadiran Selin, Bara dan si kembar.


Saat yang lain sibuk berbincang, Bara hanya diam membisu memperhatikan Juna dan Jeno yang sedang sibuk memisahkan daun bawang dari Ramen yang di pesannya. Sangat persis seperti Bara yang sangat membenci daun bawang. Kemudian beralih menatap tiga Jus Strawbery miliknya, Juna dan Jeno. "Ternyata mereka menyukai Strawbery sama seperti ku." Gumam Bara di dalam hati.


Bara menghela nafasnya berat kemudian ikut memindahkan bawang di mangkuknya seperti yang Juna dan Jeno lakukan. Mereka asik memindahkan daun bawang dan mengabaikan keadaan sekitar yang terasa menyesakkan.


Selin menoleh ke arah Farel yang sedang sibuk mengobrol asik dengan Raka. Selin sedikit kesal dengan perubahan sikap Raka yang begitu asik saat di dekat Farel, kemudian Selin menoleh ke tiga orang laki-laki yang sedang lomba memindahkan daun bawang dari mangkuk. Selin menghela nafasnya panjang kemudian mendekat ke arah Jeno. "Kata Bunda juga apa jangan pesan yang ada bawangnya," Omel Selin yang berhasil menyindir ketiga laki-laki itu.


Melihat Jeno yang seperti kesusahan Selin langsung meraih sumpit di tangan Jeno. "Jeno sini Bunda aja, ini masih panas." Ucap Selin langsung mengambil alih.


Walaupun sibuk menyuapi Jeno selin sesekali memperhatikan Juna yang sengaja tidak memakan sayuran di mangkuknya. "Abang, sayurannya makan juga."


"Hati-hati, makannya pelan-pelan." Selin sibuk mengurus kedua anaknya sampai-sampai mengabaikan ramen miliknya yang sudah mulai dingin.


Ternyata setiap gerak gerik Selin tidak luput dari perhatian Bara. Dengan cepat Bara menghabiskan ramen miliknya, setelah habis dia beralih menarik ramen milik Selin. Dengan telaten Bara meniup-niup ramen itu agar tidak panas lalu mengangkat sumpit ke arah Selin.


"Buka mulut mu," Ucap Bara singkat.


Deg! Selin langsung membeku di tempat dengan pandangan penuh keheranan ke arah sumpit yang diangkat oleh Bara. "Maksudnya?" Tanya Selin keheranan.


"Ayo buka mulut mu tanganku sudah pegal," Ucap Bara dingin tidak ingin menerima bantahan.


Selin memejamkan kedua bola matanya dan langsung memakan mie yang disodorkan Bara. Dia tidak boleh munafik, perutnya memang sudah lapar sepertinya dia memang membutuhkan bantuan orang lain.


Melihat Selin yang menurut dan memakan mie yang diberikan olehnya, perlahan senyuman mulai menghiasi wajah Bara. Dengan telaten Bara menyuapi Selin yang sedang sibuk mengurus si kembar. "Apa dia selalu sibuk seperti ini setiap sedang makan?" Tanya Bara kepada dirinya sendiri membayangkan kehidupan Selin yang tidak diketahui olehnya.


*****


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)

__ADS_1


__ADS_2