Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 51 : A Sad Father's Day


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Bara sudah bangun dari tidurnya, dia sangat excited untuk datang ke sekolah Juna dan Jeno untuk pentas di acara Father Days. Tidak terasa setelah berlatih hampir satu minggu akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu dua jagoan tampan yang selalu membuatnya bahagia.


Dengan rambut yang masih meneteskan air dan handuk yang terlilit di pinggang, Bara menatap pantulan wajahnya dari cermin. Senyuman sendu terbit di wajah Bara, entah kenapa tiba-tiba hatinya sangat merindukan Selin yang beberapa hari sengaja ia hindari, bahkan bertegur sapa pun tidak. Bara sudah bertekad untuk tidak mencampuri urusan Selin lagi, tapi entah kenapa hatinya masih tidak rela bahkan saat ini saja hatinya sudah sangat sesak.


"Kamu adalah pria terbodoh Bar," Makinya pada diri sendiri. Harusnya dia masih mempunyai rasa malu untuk muncul di depan Selin. Tapi dengan tidak tahu malunya, setelah semua yang Bara lakukan pada Selin dia masih mempunyai keberanian untuk mengajak Selin bersama. "Dasar Pria Brengsek!" Ucap Bara sambil terkekeh melihat pantulan wajahnya di cermin.


Saat sudah bersiap-siap dan rapih, dengan cekatan Bara memasukan baju karate nya yang sudah rapih ke dalam ranselnya dan berjalan santai ke luar untuk segera pergi. Mobilnya mulai melaju membelah jalanan, sejenak dia menoleh ke kursi penumpang yang sudah berisi dua kotak hadiah untuk Juna dan Jeno, dan sebuket bunga indah untuk Selin yang sudah dia siapkan beberapa hari yang lalu. Walaupun hubungannya dengan Selin, nyaris berakhir setidaknya dia harus berpamitan dengan benar.


Bara menoleh ke arah jam tangannya yang sudah menunjukan pukul tujuh pagi, sudah pasti dia tidak akan ketinggalan karena acaranya baru mulai jam sepuluh siang nanti. Senyuman penuh kebahagiaan tidak henti-hentinya terbit di wajah tampannya, rasanya dia sudah tidak sabar tampil dengan si kembar. Dan membuktikan pada semua orang jika Juna dan Jeno mempunyai sosok Ayah yang bisa diandalkan, yang bisa membuat iri semua orang. "What? Ayah, Ayah yang mana Bar, jangan terlalu berharap." Ucap Bara kecut kemudian semakin menancap gas agar segera tiba.


Tring! Tring! Tring! Suara ponsel Bara berdering memecah keheningan, dengan semangat Bara merogoh saku bajunya dia sudah sangat yakin jika yang menelponnya pasti Juna dan Jeno. "Hallo Jagoan?" Jawab Bara dengan penuh kebahagiaan.


Terdengar kekehan dari sebrang sana, "Hallo Om Bara, udah bangun belum?" Tanya Jeno dengan suara khas baru bangun tidur.


"Juna! Jeno! Ko kalian tidur lagi, kirain Bunda udah mandi." Teriak seorang wanita diseberang sana yang masih bisa Bara dengar, mendengar omelan Selin di pagi hari membuat hati Bara sedikit tenang, setidaknya rasa sesak yang sejak tadi ia rasakan bisa perlahan terangkat.


"Iya Ndaaa!!.... Om ko nggak jawab, baru bangun tidur ya kayak Eno?"


Bara tersentak dari lamunannya yang sedang membayangkan asiknya keluarga bahagia dengan Selin yang bisa dia lihat setiap pagi. "Udah dong, malah Om lagi di jalan ke Sekolah biar nggak kesiangan." Jawab Bara penuh kebanggaan.


"Wahh beneraan!!! Om pagi banget berangkatnya padahal Eno sama abang baru bangun!" Jawab Jeno excited.


Bara tertawa pelan. "Bener dong! Kan Om nggak mau telat. Om udah nggak sabar tampil sama kalian."


"Yaudah kalo gitu Eno sama Abang mau mandi dulu, sampai jumpa di sana Om!"

__ADS_1


"Okay!! Mandi yang bersih ya yang harum, hati-hati mandi nya jangan sampai jatuh." Ucap Bara penuh nasihat.


"Siap Om Babay. Muaaach!"


Sontak Bara tertawa penuh kebahagiaan saat Jeno mencium nya dari kejauhan, Bara sudah terlalu lebay sampai-sampai dia merasakan ada sengatan semangat dan kebahagiaan yang menjalar di tubuhnya. "Ahahaha!! See you nanti Jagoan!" Pamit Bara kemudian mematikan sambungan telpon.


Sebelum ponselnya masuk ke dalan saku, terdengar panggilan telpon yang kembali masuk ke dalam ponselnya. Tring! Tring! Tring! Bara terkekeh, padahal baru saja dimatikan sepertinya Jeno sudah rindu padanya. Tanpa melihat siapa yang menelponnya Bara mengangkat telpon itu.


"Udah kangen aja ya Jen?" Ucap Bara saat panggilan telpon tersambung.


"Halo Pak, selamat pagi. Apakah ini dengan Bapak Pak Bara Julian?"


Bara menautkan kedua alisnya karena merasa asing, "Kania?" Bara menjauhkan ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya karena yang terdengar olehnya adalah suara pria asing. "Iya benar dengan saya sendiri," Ucap Bara heran kenapa ponsel Kania bisa di pegang oleh orang lain.


"Wanita bernama Kania Lesham mengalami kecelakaan mobil dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit," Ucap pria diseberang sana yang berhasil membuat rahang Bara menegang.


Bara memarkirkan mobilnya sejenak kemudian berpikir keras apa yang harus dilakukannya sekarang, "Argh! Argh! Argh!" Bara membanting banting setir dengan frustasi. Hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya.


Perlahan matanya terpejam untuk menenangkan pikirannya, dengan lemas Bara membenamkan kepalanya di atas setir. Kenapa keadaan selalu mencekiknya habis-habisan, baru saja dia mempunyai harapan dan semangat tentang masa depan tapi kenapa direnggut lagi. Bara tidak sanggup menghadapi raut kekecewaan Selin dan Si kembar, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan keadaan Kania yang sedang membutuhkannya.


"Apa yang harus aku lakukan ya tuhan, kamu keliru aku tidak sekuat itu. Tolong jangan memberikan cobaan yang sangat berat untuk ku.... Kamu keliru.. Aku tidak sekuat itu... Aku tidak sekuat itu.." Gumam Bara lirih dengan buliran air mata yang keluar dari pelupuk matanya tanpa Bara sadari.


Ting! Suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya, Bara mengecek lokasi Kania yang ternyata sangat berjauhan dengan tempatnya sekarang. "Arghhhh!" Pekik Bara frustasi.


"Maafkan aku Selin," Gumam Bara lirih kemudian memutar stir nya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


******


Selin mondar-mandir menunggu kedatangan Bara yang belum saja datang, padahal kata Jeno sejak tadi Bara sudah pergi tapi kenapa sampai sekarang batang hidungnya masih belum kelihatan. Bahkan mobilnya saja tidak terparkir di halaman. "Kemana sih dia," Ucap Selin frustasi kemudian membuka ponselnya untuk menghubungi Bara.


"Nomor yang anda telpon sedang tidak aktif," Selin menjauhkan ponselnya dan menatap hp nya nanar.


Selin mengacak rambutnya frustasi. Dia tidak tahu lagi harus menghubungi Bara sedangkan acara sudah hampir mulai, walaupun Selin sangat membenci Bara, tapi dia tahu Bara bukanlah orang yang melanggar janjinya tanpa ada alasan yang jelas. Tapi kenapa sekarang dia berbohong dan mengingkari janjinya pada si kembar. "Kamu dimana Bar," Gumam Selin putus asa.


Jeno yang sudah berganti baju berlarian ke arah Selin penuh harapan. "Ndaa, Om Bara udah ketemu?" Tanya Jeno sambil memeluk Selin.


Selin menatap nanar Jeno kemudian menoleh ke arah Juna yang sudah mengerti keadaan, kemudian menggeleng lemah. "Belum sayang, pasti sebentar lagi Om Bara datang. Kamu masuk aja ya, siap-siap." Ucap Selin penuh penghiburan padahal saat ini dia ingin menangis frustasi di pelukan si kembar.


"Oke Nda!" Jawab Jeno semangat kemudian pergi bersama Juna disampingnya.


Setelah kepergian Jeno, Selin langsung bergegas untuk mencari keberadaan Bara. Berdiam diri dan menunggu bukanlah pilihan yang tepat, saat ini Selin sedang memeriksa sudut ruangan dan kelas untuk menemukan Bara. Namun, sayangnya dia masih belum menemukan kehadiran Bara.


Bruk! Selin duduk di bangku kemudian menunduk pasrah. "Apa menyakitiku saja belum cukup untuk mu, kenapa Juna dan Jeno harus kau sakiti dan kecewakan juga." Gumam Selin di dalam hati dengan perasaan sesak.


Tring! Suara notifikasi pesan membuyarkan lamunan Selin, dengan perasaan malas Selin membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Saat melihat pesan itu sontak kedua bola mata Selin membulat sempurna dengan hati yang hancur sehancur-hancurnya, lidahnya berubah kelu dan pandangannya berkaca-kaca. "Dasar brengsek!" Ucap Selin dengan pandangan yang tidak beralih dari foto yang menampilkan Bara sedang berpelukan dengan Kania.


"Ini bukan hari Father Day, tapi fu*k Father!" Ucap Selin penuh amarah.


******


Ya ampun, Selin yang sabar ya. Mungkin keadaan bekum berpihak sama kalian. Author doakan semoga Bara tetap bisa dateng ya, walaupun terlambat.

__ADS_1


Menurut kalian Bara mending deteng atau nggak? Komen oke. :)


Jangan lupa klik tombol Vote, Komentar dan Share. Sambil nunggu cerita ini Up, Baca juga Tunangan Misterius Karya author yang lainnya :)


__ADS_2