Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)

Cinta Dan Luka (Bara Dan Selin)
Bab 83 : Fakta yang terpendam


__ADS_3

Suara ambulan menggema disepanjang jalan, dengan penuh harap Selin terus memegang tangan Juna yang saat ini sedang tidak sadarkan diri. Untungnya sekarang Selin sudah lebih tenang di banding tadi, saat ini dia harus menjadi ibu yang kuat untuk Juna dan Jeno.


Selin menoleh ke arah Jeno yang sedang menahan isak tangisnya karena tidak ingin membuat Selin semakin pilu. "Sini sayang, anak laki-laki boleh nangis ko." Selin mengusap kepala Jeno penuh kasih sayang.


"Ndaa.. Abang gimana hiks.. Hiks.." Ucap Jeno dengan tangan yang melingkar di tubuh Selin erat.


Hati Selin mencelos saat melihat keadaan Jeno yang saat ini lebih buruk darinya. Dengan penuh kasih sayang Selin memeluk Jeno dan mencium keningnya hangat untuk menyalurkan kekuatan. "Abang nggak bakal kenapa-kenapa, Eno nggak usah takut. Doain abang ya," Ucap Selin dengan suara yang parau karena menahan tangis.


Mereka saling berpelukan dengan hati yang dipenuhi rasa khawatir dan pikiran negatif dengan keadaan Juna. "Nak.. Jangan tinggalkan Bunda." Ucap Selin dengan tangan yang tidak terlepas sejak tadi.


Ambulan tiba di rumah sakit dan Juna langsung ditangani oleh dokter yang bertugas. Tidak henti-hentinya Selin berusaha mengatakan pada dirinya sendiri jika semuanya akan baik-baik saja. Dia harus kuat, tidak boleh lemah. Dia harus kuat untuk kedua anaknya.


Dari jauh terlihat Anet yang berlari dengan wajah sembap ke arah Selin dan Jeno yang sedang melamun sabil berpelukan. "Sel.. Juna gimana?"


Selin hanya menggeleng lemah sambil mengeratkan pelukannya pada Jeno. Anet yang paham akan situasi hanya mengepalkan kedua tangannya penuh geram pada dalang dibalik semua kejadian ini.


"Dasar nggak bermoral!" Gumamnya di dalam hati sudah tidak kuat ingin ikut ke kantor polisi tapi yang saat ini membutuhkannya adalah Selin.


Anet menghela nafasnya kemudian duduk di samping Selin dengan lemas, untuk pertama kalinya dia tidak gengsi menangis di hadapan Selin.


"Net, kalo mau nangis jangan disini." Ucap Selin penuh peringatan, karena dia tidak mau Jeno menjadi semakin sedih dan khawatir.


Anet mengangguk paham dan bersiap beranjak tapi sebelum dia pergi dokter yang menangani Juna keluar.


Selin langsung bergegas menghampiri dokter "Bagaimana keadaan anak saya dok?"


"Hmmm, cukup buruk. Dia kehilangan banyak darah.."


Tubuh Selin hampir limbung untungnya Anet sigap menahannya. "Sel.."


"Dia harus mendapatkan pendonor segera, Ibu bergolongan darah B bukan?"


Deg!

__ADS_1


Selin membeku di tempat dengan air mata yang menetes, Juna dan Jeno tidak mewarisi darahnya melainkan mewarisi golongan darah Bara. Selin menghela nafas panjang dengan perasaan yang kalut. "Bukan dok, saya O. Tapi sebentar lagi pendonor akan segera datang." Ucap Selin tegas sambil menatap Anet penuh arti.


"Net hubungi Bara secepatnya anaknya membutuhkan dia.. Hiks.. Hiks.." Anet mengangguk dan membawa Selin untuk duduk kembali.


Selin menatap layar ponsel dengan nanar, sambungan telpon belum juga terhubung dengan Bara. Sepertinya pria itu sedang sibuk rapat. Dengan tubuh ya bergetar menahan isak tangis Selin dibuat semakin frustasi. "Halloo..." Akhirnya telpon terhubung.


"Sel.. Ada apa kenapa dengan suaramu?" Ucap Bara diseberang sana penuh kekhawatiran.


"Hiks.. Bar.. Juna ditabrak oleh seseorang. Sekarang dia membutuhkan mu, tolong datang kesini dan donorkan darahmu. Tolong selamatkan anak kita Bar..."


Deg!


Hening. Tidak ada jawaban sedikitpun dari sana, hanya helaan nafas yang terdengar oleh Selin. Wanita itu menundukkan kepalanya dengan air mata yang semakin bercucuran, harusnya dia memberitahu Bara bukan dalam keadaan seperti ini. Harunya berita itu menjadi kebahagiaan untuk semua orang.


"Barr..." Panggil Selin dengan perasaan sedikit was-was takut Bara tidak akan datang karena rasa kecewa.


"Jangan khawatir aku akan segera ke sana!"


Selin menghela nafas lega karena Bara menerima permintaannya untuk menolong Juna yang sekarang sedang berada diujung tanduk kematian.


******


"Hallo..." Ucap seseorang di sebrang sana yang berhasil membuat hati Bara seperti teriris.


"Sel.. Ada apa kenapa dengan suaramu?"


"Hiks.. Bar.. Juna ditabrak oleh seseorang. Sekarang dia membutuhkan mu, tolong datang kesini dan donorkan darahmu. Tolong selamatkan anak kita Bar..."


Deg!


Bara membeku di tempat dengan keadaan hati yang sesak, untuk beberapa menit dia tidak bisa mencerna perkataan Selin yang membuatnya terkejut dan khawatir.


"Bar.."

__ADS_1


"Jangan khawatir aku segera ke sana," Ucap Bara dan langsung bergegas pergi dengan hatinya yang kalut.


*****


Drap! Drap! Drap!


Bara bergegas menghampiri Selin dengan keadaan hati yang tidak tenang. Hati Bara langsung mencelos saat melihat keadaan Selin dan Jeno yang jauh dari kata baik. Walaupun mereka tidak menangis dan hanya terlihat baik-baik saja hal itu malah lebih membuat perasaannya semakin sesak.


Bara sangka saat ini Selin sedang menangis hebat dan membutuhkan pelukannya, Bara kira wanita itu sudah tidak sadarkan diri. Tapi yang Bara lihat sekarang malah berbanding terbalik, wanita itu sedang tersenyum pada Jeno sambil menceritakan sebuah dongeng dengan mata yang terpejam.


Saat Bara hendak menghampiri Selin, Anet lebih dulu menariknya pergi. "Net.." Protes Bara.


"Jangan samperin mereka dulu, Juna lebih butuh kamu sekarang."


Bara mengangguk, tanpa berbicara sepatah katapun. Dia mengikuti Anet tanpa banyak protes dan Selama donor darah berlangsung, Bara hanya melamun memikirkan perkataan Selin pada saat di telpon dengan perasaan kecewa kepada Selin. Bagaimana bisa ia tega menyembunyikan fakta yang begitu besar dari dirinya.


"Benarkah mereka anak ku?" Gumam Bara di dalam hati dengan rada penyesalan yang begitu besar.


"Atau Selin berkata seperti itu karena aku sudah menganggap mereka sebagai anak ku sendiri?" Tanya Bara dengan perasaan gusar dan sulit di jelaskan dengan kata-kata.


"Ka.. Datang ke rumah sakit sekarang, ada yang harus kamu urus." Ucap Bara saat dia menelpon Raka melalui ponselnya.


******


Bara memperhatikan Selin dan Jeno yang sedang tertidur sambil berpelukan, terlihat raut kelelahan dari keduanya. Dengan perlahan Bara mengambil Jeno dari rangkulan Selin.


"Om Bala?" Ucap Jeno sedikit mengigau, Bara hanya tersenyum kemudian mengelus-elus Jeno agar tertidur kembali.


Melihat keadaan Selin yang jauh dari kata baik-baik saja membuat Bara semakin sesak, pandangannya turun ke telapak tangan dan baju Selin yang dipenuhi darah yang sudah mengering.


"Ya tuhan.." Gumam Bara di dalam hati dengan perasaan kecewa yang begitu dalam kepada dirinya sendiri. Dulu dia sudah gagal menjadi seorang suami, menjadi seorang pacar dan sekarang jika benar Juna dan Jeno adalah kedua anaknya Bara sudah gagal menjadi seorang Ayah.


Pria itu ikut duduk di samping Selin kemudian menarik kepala Selin agar bersandar di bahunya. "Semuanya akan baik-baik saja." Gumam Bara penuh harap dan doa.

__ADS_1


******


__ADS_2